
I. SUMMARY
Hari ini, Kamis 5 September 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini, terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.
Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 150 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
- 8 kali gempa Tektonik Jauh
Melalui rekaman seismograf pada 5 September 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G.Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.
Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.
Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati kolom asap putih tipis-sedang dengan tinggi kolom asap mencapai 100 m dari kawah.
Melalui seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 September 2019 pukul 20:34 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 58 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100 - 500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 18:31 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak. Abu bergerak ke arah timur.
Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 sampai 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu bergerak ke arah selatan dan timur dengan intensitas tipis,sedang,dan tebal.
Melalui seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 09:36WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1625 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.
Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 500 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.
Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.
Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Melalui CCTV teramati asap kawah utama dengan bertekanan sedang dengan warna putih sedang-tebal dengan tinggi kolom asap mencapai 180 m dan kolom abu dengan tinggi kolom abu mencapai 110 dari dasar kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.
Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Asap nihil.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Rekomendasi:
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2019 dibandingkan Agustus 2019, potensinya potensinya mulai mengalami peningkatan disebagian wilyah indonesia . Wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
2.Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penyebab longsor diperkirakan karena: Perubahan tata guna lahan, kemiringan lereng yang terjal dan pemotongan lereng/ gangguan lereng akibat penambangan penambangan batu belah. yang tidak mengikuti kaidah penambangan.
Dampak: Jalan makam amblas di di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Dua penambang timah konvensional tewas di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunungapi dipantau secara menerus 24 jam/hari. Tingkat aktivitas saat ini:
a. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu: G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
b. 18 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu: G. Merapi, G. Marapi, G.Kerinci, G.Semeru, G.Bromo, G.Rinjani, G.Sangeangapi, G.Rokatenda, G.Lokon, G.Gamalama, G.Gamkonora, G.Ibu, G.Dukono, G.Ili Lewotolok, G.Banda Api, G.Anak Krakatau, G.Tangkuban Parahu, dan G. Slamet.
c. Sisanya 47 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung (2.460 m dpl) - Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung mengalami erupsi sejak tahun 2013, erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Erupsi Gunungapi Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunungapi Agung selain bersifat eksplosif, juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.
Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 150 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis..
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Melalui rekaman seismograf pada 5 September 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunungapi Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).
Pada periode Februari-Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih tipis dengan tinggi kolom asap mencapai 100 m dari kawah.
Melalui seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100 - 500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 sampai 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu bergerak ke arah selatan dan timur dengan intensitas tipis,sedang,dan tebal.
Melalui seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Terasa
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).
Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G.Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 500 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm
Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)
Gunungapi Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Erupsi G. Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Erupsi terakhir sebelum tahun ini terjadi pada 6 Oktober 2013.
Secara visual, aktivitas 2 (dua) minggu terakhir didominasi oleh erupsi abu dan hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 15 - 150 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna kelabu dan putih (intensitas tipis hingga tebal).
Pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB erupsi terjadi dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Pada 1 Agustus 2019 Pkl 20:46 WIB terjadi erupsi freatik dengan tinggi kolom abu 180 m dari dasar kawah. Erupsi susulan terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah. Pada tanggal 2 Agustus 2019 erupsi susulan mulai pukul 00:43WIB, serta erupsi terakhir pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.
Secara seismik, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh tremor erupsi yang menerus dengan amplitudo maksimum 50 mm. Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan erupsi abu dan asap putih. Secara deformasi, dalam 1 (satu) bulan terakhir Gunungapi Tangkuban Parahu mengalami inflasi kecil namun meningkat terus. Secara geokimia gas, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan telah terjadi peningkatan kandungan gas vulkanik H2S dan SO2 pada tanggal 10 Juli 2019. Kandungan gas vulkanik semakin meningkat pada tanggal 13 Juli 2019. Periode pengukuran gas terakhir tanggal 1 dan 8 Agustus 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih cenderung naik. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Melalui CCTV teramati asap putih sedang-tebal dengan tinggi kolom asap mencapai 180 m dan abu dengan tinggi kolom abu mencapai 110 m dari dasar kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pkl. 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. Aktivitas vulkanik G. Slamet terakhir terjadi pada Maret hingga Agustus 2014, berupa kenaikkan aktivitas diikuti erupsi menghasilkan material abu dan lontaran material pijar di sekitar kawah (Tipe letusan strombolian).
Dari kemarin hingga pagi ini, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Asap nihil.
Melalui rekaman seismograf tanggal 4 September 2019 tercatat:
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 September 2019 pukul 20:34 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 58 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 18:31 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak. Abu bergerak ke arah timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 09:36WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1625 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.
(10) G. Kerinci, Jambi
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.
(11) G. Bromo, Jawa Timur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37 mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.
(12) G. Tangkuban Parahu, Jawa Barat
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.
(13) G. Slamet, Jawa Tengah
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.
Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2019 dibandingkan Agustus 2019 , potensinya mulai mengalami peningkatan disebagian wilayah Indonesia. Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai karena mulai meningkat potensi terjadinya gerakan tanah utamanya di wilayah Aceh, sumatera bagian utara, Sumatera bagian Barat , Sulawesi Tengah , Sulawesi Selata dan. Papua.serta yang berada di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:
1. Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur*,
2.Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung*,
3. Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara,
4. Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan,
5. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,
6. Kabupaten Sleman, Provinsi D.I.Yogyakarta,
7.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,
8.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah,
9. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam satu minggu terjadi di ;
1.Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
Jalan menuju makam para keluarga Wali Songo di Bukit Putri Cempo, di Kabupaten Gresik, Jawa Timur longsor, Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu, 4 September 2019. Gerakan tanah ini mengakibatkan jalan menuju makam bergerak sedalam 3 meter, dan tanah disekitar wilayah juga bergerak.
Tipe gerakan tanah diperkirakan nendatan atau rayapan. Penyebab longsor diperkirakan karena: Perubahan tata guna lahan, kemiringan lereng yang terjal.
2.Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Dua penambang timah konvensional tewas di Kecamatan Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung korban tertimpa longsoran tanah dan terkubur lebih dari lima jam.
Sumber:https://www.kompas.tv/article/53852/2-petambang-timah-tewas-tertimbun
Gerakan tanah diperkirakan berupa runtuhan/jatuhan batu akibat penambangan batu belah. Faktor penyebab pemotongan lereng/ gangguan lereng akibat penambangan yang tidak mengikuti kaidah penambangan.
Rekomendasi: