Konferensi Pers Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Di Wilayah Pantai Selatan Jawa

 

IMG_9032

 

Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia. Sebagai konsekuensi logis, Indonesia rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Dalam setahun, rata-rata dapat terjadi gempa bumi besar dengan kekuatan M7,0-7,9 sebanyak 2 kali, serta gempa bumi kekuatan lebih besar dari M8,0 setiap 5 – 6 tahun sekali. Tak ayal di Indonesia sering kali terjadi gempa bumi merusak yang menimbulkan bencana. Dalam kurun waktu 27 tahun (1990-2017) setidaknya telah terjadi 166 gempa bumi merusak dan 16 diantaranya memicu terjadinya tsunami, serta telah menyebabkan lebih dari 277 ribu korban jiwa. Jika di rata-ratakan, dalam setahun bisa terjadi 6-7 kejadian gempa bumi merusak di Indonesia, namun pada tahun 2016 dan 2017 jumlah kejadian gempa bumi merusak mencapai 16 kejadian.

Tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia membentuk zona subduksi Sunda, yang merupakan sumber gempa bumi utama, di sepanjang perairan selatan Jawa. Gempa bumi menengah-besar pada kedalaman dangkal berpotensi memicu kejadian tsunami. Hal ini menyebabkan wilayah pantai selatan Jawa rawan terhadap bencana tsunami. Padatnya penduduk di wilayah pesisir selatan jawa meningkatkan risiko bencana tsunami di wilayah tersebut. Untuk itu, upaya mitigasi bencana tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa perlu dilakukan dan ditingkatkan.

Sejarah mencatat, sejak awal abad ke 20, pantai selatan Jawa telah dilanda oleh 20 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempabumi. Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) Banyuwangi (1818, 1925, 1994).

Pada dekade 1990an dan 2000an, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo 7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal. Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala Mw7.7.

 

IMG_9042

Upaya mitigasi 

Upaya mitigasi bencana tsunami dilakukan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dengan langkah sebagai berikut:  

Penelitian endapan tsunami bertujuan untuk mengetahui jejak landaan tsunami yang pernah terjadi sebelumnya. Penelitian paleotsunami di Pangandaran, Purworejo dan Gunung Kidul, menunjukkan adanya kandidat endapan tsunami. Hal ini menggambarkan telah terjadinya tsunami di pantai Selatan Jawa pada masa lampau.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tsunami dibuat dengan pemodelan numerik dengan mempertimbangkan potensi gempa bumi maksimum yang mungkin terjadi di lepas pantai suatu daerah. Peta KRB Tsunami wilayah Pantai Selatan Jawa yang telah tersedia: Banten, Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap, Purworejo, Kulon Progo, Gunung Kidul, Pacitan, Jember dan Banyuwangi.

Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan ketahanan masyarakat menghadapi tsunami. Badan Geologi mengirim Tim Tanggap Darurat ke lokasi, jika ada kejadian tsunami. Tujuan pengiriman tim ini adalah untuk memetakan dampak dan seberapa jauh landaan tsunami.

Kewaspadaan menghadapi bahaya tsunami

Berdasarkan hasil kajian ilmiah yang didukung dengan sejarah kejadian bencana tsunami membuktikan bahwa wilayah selatan Jawa merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan risiko tinggi terhadap bencana tsunami. Hal tersebut sebaiknya tidak dihadapi dengan kepanikan, namun sebaiknya dijadikan sebagai kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dan semua pihak dalam melakukan upaya mitigasi bencana tsunami.

Pantai rawan tsunami adalah pantai yang berhadapan langsung dengan sumber gempa bumi, dengan kondisi sebagai berikut: Pantai landai, Pantai berbentuk teluk, Pantai tanpa penghalang alami (misalnya tidak ada: vegetasi pantai, pulau, pulau karang, dll), dan ada Muara sungai (lebar, dalam dan bentuk sungai lurus). 

Setelah mengetahu tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap tsunami, diikuti dengan upaya mitigasi bencanan tsunami baik yang bersifat struktural maupun non-struktural seperti: 1) Mendirikan bangunan di luar jangkauan terjangan tsunami dan mengetahui tatacara penyelamatan diri, 2) Membangun\mempertahankan hutan pantai dan gumuk pasir yang secara alamiah berfungsi sebagai pemecah gelombang atau membuat bangunan pemecah gelombang, 3) Membuat pelatihan tata cara menghindari tsunami, 4) Perda / RTRW / RUTR berwawasan bencana tsunami dan 5) Sistem peringatan dini tsunami.

 

IMG_9018