Laporan Kebencanaan Geologi 13 Agustus 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu, 13 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunung Api
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Tidak teramati hembusan asap putih. Angin bertiup ke arah Tenggara dan Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi letusan sebanyak 5 kali, kolom abu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 700-2800 m dari puncak. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Erupsi disertai guguran lava meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 1000-1500 m dan tidak diikuti awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: -Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 13 Agustus 2017 Pukul 01:43 WIB, terkait letusan selama 208 detik. Tinggi dan arah sebaran kolom abu tidak teramati karena kabut.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 100-300 m condong ke  Baratdaya dan Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 96 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 11 Agustus 2017 pukul 11:52 WIT. Tinggi kolom abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Selatan - Baratdaya.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu tertutup kabut sepanjang hari sehingga tidak teramati tinggi kolom erupsi, namun dari rekaman kegempaan tercatat 81 kali letusan.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi; tanah lapukan / timbunan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air dan kurang berfungsinya drainase/saluran air.
Dampak :1. Gerakan tanah / tanah longsor berupa tanah amblas di jalur jalan yang terus mengancam puluhan rumah warga di Lingkungan Tambahan,Kelurahan Pamatang Raya,Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun.

Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.• Warga pemilik rumah yang sudah mendekati daerah longsoran  agar mengungsi ke tempat yang aman hingga ada arahan dari pemerintah setempat.• Menata aliran air permukaan pada lereng atas dan bawah agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.• Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.• Perkuatan lereng/ retaining wall atau lereng dilandaikan dan pada bagian bawah lereng ditembok/difondasi yang kuat hingga mencapai lapisan keras• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor.• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Barat Laut Maluku Tenggara Barat
Informasi Gempabumi;Gempabumi terjadi pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 14:22:34 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempabumi berada pada koordinat 131,10° BT dan 6,11° LS (160 km BaratLaut Maluku Tenggara Barat), dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi;Pusat gempabumi berada di dasar laut Perairan Laut Banda,  daratan terdekat adalah Pulau Serua dan Kepulauan Tanimbar yang terdiri dari Batuan Berumur Tersier sampai Kuarter. Batuan Tersier terdiri atas batuan sedimen karbonat yang sudah tersesarkan. Sedangkan, Batuan Kuarter yang berada di pesisir barat Kepulauan Tanimbar terdiri atas batuan karbonat dan bancuh yang bersifat lepas. Goncangan gempabumi akan terasa lebih kuat di daerah yang disusun oleh batuan kuarter yang bersifat lepas dan tidak terkonsolidasi, karena sifat batuan yang demikian akan memperkuat efek goncangan gempabumi.
Penyebab gempabumi;Berdasarkan posisi dan kedalamannya, gempabumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas penunjaman Lempeng Indo-Australia di bawah Laut Banda.
Dampak gempabumi;Sampai laporan ini dibuat tidak ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat goncangan gempabumi ini. Gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami karena energi tidak cukup menghasilkan gelombang tsunami.
Rekomendasi;• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL:
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  • 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
  • Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
  • Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak sering berkabut. Kepulan asap putih tebal tidak teramati karena kabut. Angin bertiup ke Tenggara dan Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf  teramati erupsi letusan sebanyak 5 kali, kepulan abu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 700-2800 m. Erupsi disertai guguran lava meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 1000-1500 m dan tidak disertai awan panas guguran. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 02-03 Agustus 2017 dilakukan pada Tanggal 06 Agustus 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 23700 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 100-300 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Baratdaya dan Barat. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 96 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-20 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual gunungapi tertutup kabut sepanjang hari sehingga tinggi dan arah sebaran kolom abu tidak teramati. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan:- Letusan 81 kali- Hembusan 54 kali- Guguran  22 kali- Tremor Harmonik 1 kali dengan amplitudo maksimum 3 mm.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll
*VONA terakhir yang terkirim:
  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 13 Agustus 2017 Pukul 01:43 WIB, terkait dengan letusan selama 208 detik. Tinggi dan arah sebaran kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut.
  2. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 11 Agustus 2017 pukul 11:52 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Selatan - Baratdaya.
  3. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.




Bandung 13 Agustus 2017;
PVMBG Badan Geologi, KESDM