Laporan Kebencanaan Geologi, 2 Desember 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

Hari ini, Senin, 2 Desember 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 75-150 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah tenggara. Suhu udara sekitar 27-31°C.

Sinar api teramati dengan tinggi lk 10-25 m. Guguran lava dari puncak Kawah Utama ke arah Kali Nanitu, Kali Sense, Kali Pangi sejauh 1000-1500 m, sesekali ke Kali Beha barat sejauh lk. 800 m. Asap dari Kawah II berwarna putih tipis dengan tinggi lk. 25 m.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 184 kali gempa Guguran
  • 19 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Harmonik
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.

(2) Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

(3) Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 09 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 17-24°C.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.

3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-30°C. Kelembaban 65-91%.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

- 6 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 2 Desember 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

(1) Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.

(2) Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.

Gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan. Suhu udara 20-33 °C. Volume curah hujan 13.2 mm per hari.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Desember 2019 tercatat:

  • 14 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

(1)Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.

(2)Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.

(3)Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 200 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Hitam.

Gunung api tertutup Kabut. Dari CCTV kawah teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25 meter dari dasar kawah. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur, barat daya dan barat laut. Suhu udara sekitar 26-31.6°C. Kelembaban 84-91%.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-5 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 18:32 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 207 m di atas permukaan laut atau sekitar 50 m di atas puncak. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 1000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah utara, timur, tenggara dan barat. Suhu udara sekitar 15-29.2°C. Kelembaban 21-90%. Tekanan udara 567-708.1 mmHg.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Guguran
  • 9 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

1. Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.

2. Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.

3. Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.

4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.

5. Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 November 2019 pukul 10:54 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 3.968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23-29.9°C.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 721 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

(1)Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

(2)Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 01 Desember 2019, pukul 14:36 WIT., terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1.629 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke timur.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat jelas sampai tertutup kabut. Teramati asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis, sedang dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 71 kali gempa Letusan
  • 157 kali gempa Hembusan
  • 58 kali gempa Guguran
  • 33 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 November 2019 pukul 18.21 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1585 m di atas permukaan laut atau sekitar 250 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 26-32°C. Kelembaban 76-92%.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 15 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

(1) Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama

(2) Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 23-25°C. Kelembaban 68-70%.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 87 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

1. Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).

2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 2 November 2019 pukul 06:12 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 7-20°C.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 29.9°C.

Melalui rekaman seismograf pada 01 Desember 2019 tercatat:

  • 154 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2019, potensinya terus   meningkat di sebagian wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga   di wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat dan sebagian Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Wilaya Kalimantan Barat bagian Selatan, Kalimantan Tengah bagian Utara, Kalimantan Utara bagian Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi tenggara bagian Utara, Bali, Sumbawa, Timor Barat, Maluku dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

3. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab gerakan tanah adalah kemiringan lereng yang curam dan kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak: tembok penahan roboh di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali; kobong pesantren rusak di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat; mengancam pemukiman dan SD rusak di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

•             Pembersihan material longsor agar dilakukan dengan memperhatikan situasi dan kondisi arus aliran sungai karena dikhawatirkan masih terjadi erosi dan menyebabkan longsor baru

•             Pemukiman harus mengikuti izin dan kaidah teknis pebuatan bangunan yang cocok dan tahan erosi

•             Pembuatan penahan lereng (talud) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek.

•             Segera menutup retakan dengan material kedap air, mengatur aliran air jangan sampai masuk ke retakan

•             Masyarakat yang berada disekitar lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan

•             Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing.

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di tenggara Seram Bagian Timur, Maluku

Informasi Gempa Bumi:

Terjadi gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 1 Desember 2019 pukul 02:49:22 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 4.28°LS dan 131.19°BT dengan magnitudo 5.2 pada kedalaman 76 km, berjarak 152 km tenggara Seram Bagian Timur, Maluku. USGS mencatat gempabumi terjadi di 4.371°LS dan 131.250°BT dengan M 4.8 pada kedalaman 42.7 km. GFZ mencatat gempabumi terjadi di 4.35°LS dan 131.21°BT dengan M 4.9 pada kedalaman 71 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Lokasi terdekat dengan pusat gempa bumi adalah Pulau Seram dan pulau-pulau kecil disekitar tenggara Pulau Seram. Lokasi tersebut umumnya tersusun oleh bancuh berumur Pratersier dengan sifat batuan sudah lapuk dan mudah longsor. Batuan karbonat berumur Tersier yang umumnya mudah longsor karena sudah terlipatkan dan tersesarkan. Batuan lapuk dan bersifat lepas umumnya akan memperkuat efek guncangan gempa bumi sehingga guncangan gempa bumi akan lebih terasa.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan subduksi di Busur Banda.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan korban dan kerusakan yang diakibatkan oleh gempa ini. Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Rekomendasi:

1)            Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPPD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

2)            Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.