Laporan Kebencanaan Geologi, 18 November 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

Hari ini, Senin, 18 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 09 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur, tenggara, barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 16-28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tornillo
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.

3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 20-32°C. Kelembaban 58-92%.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 18 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

(1) Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.

(2) Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 25 November 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara, timur dan barat laut. Suhu udara sekitar 25-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 190 kali gempa Guguran
  • 17 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 66 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.

(2) Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

(3) Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu hingga Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 20-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara dan barat daya. Suhu udara sekitar 20-36°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 16 kali gempa Guguran
  • 20 kali gempa Tektonik Jauh
  • 9 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:

(1)Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.

(2)Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.

(3)Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 200 m dari dasar kawah. Warna kolom abu teramati putih-hitam tebal.

Gunung api tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap putih tipis-tebal dengan tinggi 25-150 m dari kawah. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur laut, timur, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 24.5-31°C. Kelembaban 87-100%.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-7 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 16:50 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 200 m dari dasar kawah. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 November 2019 menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal dengan tinggi kolom erupsi 1000 m dari puncak. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah barat. Suhu udara sekitar 15-31.5°C. Kelembaban 17-90%. Tekanan udara 568.8-709.7 mmHg.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 14 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 52 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi:

1. Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.

2.Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.

3. Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik darikejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.

4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.

5. Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg)

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 November 2019 pukul 10:46 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 3.968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-700 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah tenggara. Suhu udara sekitar 26-31°C. Kelembaban 75-83%.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-20 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

(1)Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

(2)Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 November 2019 pukul 08:42 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 700 m dari atas puncak atau 1.929 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke tenggara.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat Jelas sampai kabut. Teramati asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis, sedang dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara - timur.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 66 kali gempa Letusan
  • 131 kali gempa Hembusan
  • 31 kali gempa Guguran
  • 46 kali tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 23 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 75-90%.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 30 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

(1) Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama

(2) Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin sedang hingga kencang ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-25°C. Kelembaban 49-60%.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 101 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

1. Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).

2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 1 November 2019 pukul 05:53 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 8-21°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah barat. Suhu udara sekitar 24.6-31.3°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2019 tercatat:

  • 600 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan Oktober 2019, potensinya cenderung meningkat disebagian wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat,, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh

Penyebab gerakan tanah diperkirakan adalah pelapukan tanah yang tebal, kemiringan lereng yang terjal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak:akses jalan lumpuh di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsor yang menutupi badan jalan. Pembersihan material longsor agar selalu memperhatikan keselamatan;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya untuk mitigasi gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di baratlaut Puncak Jaya, Papua

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 17 November 2019, pukul 00:46:03 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 3.09°LS dan 137.67°BT, dengan magnitudo 5.2 pada kedalaman 127 km, berjarak 44 km Baratlaut Puncak Jaya Papua. Menurut GFZ Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 3.33°LS dan 137.58°BT dengan magnituda 5.0 Mw pada kedalaman 76 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di darat. Daerah disekitar pusat gempa bumi tersusun oleh batuan berumur pra-Tersier, Tersier, dan Kuarter. Batuan berumur pra-Tersier dan Tersier tersebut sebagian telah mengalami pelapukan. Batuan pra-Tersier dan tersier yang telah mengalami pelapukan dan endapan Kuarter bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi, kedalaman pusat gempabumi dan mekanisme patahan yang berupa patahan normal, gempa bumi ini diduga terjadi akibat pensesaran pada slab Lempeng Pasifik.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban jiwa.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2) Gempa bumi di Perairan Utara Aceh

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 17 November 2019, pukul 08:29 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 95,11° BT dan 7,04° LU, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 63 km, berjarak 129 km baratlaut Kota Sabang, Aceh. USGS, menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 94,540° BT dan 7,193° LS pada kedalaman 10 km dengan magnitudo M5,2. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 94,39° BT dan 7,13° LU dengan magnitudo M5,1 dan kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut di perairan utara Provinsi Aceh (Laut Andaman). Kegempaan di wilayah ini dipengaruhi oleh aktivitas penunjaman Lempeng Samudera Indonesia ke bawah Lempeng Eurasia serta sesar2 aktif di Perairan Andaman - Nikobar. Wilayah Indonesia yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah bagian utara Provinsi Aceh, termasuk Pulau Sabang. Batuan di Wilayah Pulau Sabang didominasi oleh batuan vulkanik berumur Tersier hingga Kuarter, dan wilayah pesisir utara Aceh dominannya disusun oleh batuan sedimen dan batuan vulkanik berumur Kuarter. Guncangan gempa bumi pada umumnya akan dirasakan lebih kuat pada wilayah yg disusun oleh batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan akibat aktivitas sesar aktif di lokasi tersebut.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun gempa bumi berpusat di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu terjadinya tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi terkait intensitas guncangan maupun kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.