Laporan Kebencanaan Geologi, 16 November 2019

Logo_ESDM

Hari ini, Sabtu, 16 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 09 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur, tenggara, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 16-26°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 14 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 17-30°C. Kelembaban 58-87%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:- 13 kali gempa Tektonik Jauh
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- nihil kegempaan
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 25 November 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 27-30°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 40 kali gempa Guguran
  • 24 kali gempa Terasa
  • 168 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25-3 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu hingga Hitam.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 10-20 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 19-36°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 5 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Terasa
  • 105 kali gempa Tektonik Jauh
  • 18 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 50 m dari dasar kawah. Warna kolom abu teramati putih-hitam tebal.
Gunung api tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap putih tipis-tebal dengan tinggi 25-150 m dari jawah. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 24.5-31°C. Kelembaban 87-95%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat

  • 1 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 16:50 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 200 m dari dasar kawah. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 9 November 2019  menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal dengan tinggi kolom erupsi 1500 m dari puncak.  Kolom erupsi bergerak ke arah barat. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 10-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 14-31°C. Kelembaban 29-95%. Tekanan udara 568-709 mmHg. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 17 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 6 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik darikejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg)

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 November 2019 pukul 06:21 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 4.468  meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.500 meter di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 10 November 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 400-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 25-32°C. Kelembaban 75-83%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 18 kali gempa Terasa
  • 50 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 12:44 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1629 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke timur dan utara.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Gunung api terlihat Jelas sampai kabut. Teramati  asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis, sedang  dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara - timur.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 49 kali gempa Letusan
  • 96 kali gempa Hembusan
  • 11 kali gempa Guguran
  • 10 kali  tremor Harmonik
  • 210 kali gempa Tektonik Jauh
  • 10 kali gempa Terasa

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 83-90%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Terasa
  • 116 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan cokelat dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100-300 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-24°C. Kelembaban 58-68%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 54 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 1 November 2019 pukul 05:53 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 8-20°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23.7-31.7°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:

  • 624 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat,, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kota  Padang, Provinsi Sumatera Barat
Faktor penyebab pemotongan lereng/ gangguan lereng akibat penambangan. Muncul retakan tanah di tebing yang kemudian menimbulkan longsor dengan luas area 25 meter persegi,” ujarnya.
Dampak: dua orang meninggal dan satu masih hilang di lokasi penambangan di Kota  Padang, Provinsi Sumatera Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/ Penambang disekitar lokasi harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan ataupun pada saat penggalian/penambangan;
  • Mewaspadai munculnya retakan pada tebing pada saat penambangan
  • Perlu sosialisasi potensi bencana longsor terhadap penambang terutama rawan longsor pada area penambangan, penambangan yang berwawasan lingkungan dan kaidah teknis penambangan;
  • Penambangan yang tanpa ijin dan tanpa kaidah penambangan yang benar sebaiknya ditutup
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu
  • Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing
  • Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.



3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di Perairan Baratlaut Aceh 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Jum'at, 15 November 2019, pukul 01:30 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 94,46° BT dan 6,81° LU, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 175 km, berjarak 139 km baratlaut Kota Sabang, Aceh. USGS, Amerika Serikat, menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 94,775° BT dan 7,030° LS pada kedalaman 126,1 km dengan magnitudo M5,0. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 94,76° BT dan 7,02° LU dengan magnitudo M5,2 dan kedalaman 132 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut di perairan utara Provinsi Aceh (Laut Andaman). Wilayah Indonesia yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah bagian utara Provinsi Aceh, termasuk Pulau Sabang. Batuan di Wilayah Pulau Sabang didominasi oleh batuan vulkanik berumur Tersier hingga Kuarter, dan wilayah pesisir utara Aceh dominannya disusun oleh batuan sedimen dan batuan vulkanik berumur Kuarter. Guncangan gempa bumi pada umumnya akan dirasakan lebih kuat pada wilayah yg disusun oleh batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan posisi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan akibat aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi: Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami. Belum ada informasi terkait intensitas guncangan maupun kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

2) Gempa bumi di perairan baratdaya Bengkulu 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 15 November 2019, pukul 14:06:53 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,74° BT dan 4,54° LS, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 78 km, berjarak 101 km baratdaya Bengkulu. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,77° BT dan 4,47° LS, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 47,5 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di perairan Sumatera sebelah barat daya Bengkulu. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan melanda wilayah pesisir barat Bengkulu yang tersusun oleh batuan berumur Kuarter berupa batuan aluvium, gamping, dan endapan rawa. Guncangan gempa bumi akan terasa pada batuan terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi. 
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di sebelah barat kepulauan Sumatra. 
Dampak gempa bumi: Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Bengkulu dengan intensitas II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.
Hari ini, Sabtu, 16 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 09 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur, tenggara, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 16-26°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Low Frequency
- 14 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.
Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 17-30°C. Kelembaban 58-87%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 13 kali gempa Tektonik Jauh
Melalui rekaman seismograf pada 16 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- nihil kegempaan
Rekomendasi:
(1) Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
(2) Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.
Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 25 November 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 27-30°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 40 kali gempa Guguran
- 24 kali gempa Terasa
- 168 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus, amplitudo 0.25-3 mm (dominan 0.5 mm)
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat. 
(2) Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
(3) Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu hingga Hitam.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 10-20 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 19-36°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Terasa
- 105 kali gempa Tektonik Jauh
- 18 kali gempa Harmonik
Rekomendasi:
(1)Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.     
(2)Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu.     
(3)Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.
Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 50 m dari dasar kawah. Warna kolom abu teramati putih-hitam tebal.
Gunung api tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap putih tipis-tebal dengan tinggi 25-150 m dari jawah. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 24.5-31°C. Kelembaban 87-95%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- Tremor Menerus, amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 16:50 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 200 m dari dasar kawah. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.
Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 9 November 2019  menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal dengan tinggi kolom erupsi 1500 m dari puncak.  Kolom erupsi bergerak ke arah barat. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 10-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 14-31°C. Kelembaban 29-95%. Tekanan udara 568-709 mmHg. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Low Frequency
- 17 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
- 6 kali gempa Vulkanik Dalam
- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
1. Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
2.Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
3. Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik darikejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
5. Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg)
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 November 2019 pukul 06:21 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 4.468  meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.500 meter di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat.
Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 10 November 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 400-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 25-32°C. Kelembaban 75-83%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan/Erupsi
- 18 kali gempa Terasa
- 50 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:
(1)Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
(2)Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 12:44 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1629 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke timur dan utara.
Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Gunung api terlihat Jelas sampai kabut. Teramati  asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis, sedang  dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara - timur.
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 49 kali gempa Letusan 
- 96 kali gempa Hembusan
- 11 kali gempa Guguran
- 10 kali  tremor Harmonik
- 210 kali gempa Tektonik Jauh
- 10 kali gempa Terasa
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 83-90%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 9 kali gempa Terasa
- 116 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
(1) Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
(2) Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan cokelat dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100-300 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-24°C. Kelembaban 58-68%. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 54 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
1. Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 1 November 2019 pukul 05:53 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.
Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 8-20°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.
Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23.7-31.7°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 15 November 2019 tercatat:
- 624 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 3 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat,, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kota  Padang, Provinsi Sumatera Barat
Faktor penyebab pemotongan lereng/ gangguan lereng akibat penambangan. Muncul retakan tanah di tebing yang kemudian menimbulkan longsor dengan luas area 25 meter persegi,” ujarnya.
Dampak: dua orang meninggal dan satu masih hilang di lokasi penambangan di Kota  Padang, Provinsi Sumatera Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:
Masyarakat/ Penambang disekitar lokasi harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan ataupun pada saat penggalian/penambangan;
Mewaspadai munculnya retakan pada tebing pada saat penambangan
Perlu sosialisasi potensi bencana longsor terhadap penambang terutama rawan longsor pada area penambangan, penambangan yang berwawasan lingkungan dan kaidah teknis penambangan;
Penambangan yang tanpa ijin dan tanpa kaidah penambangan yang benar sebaiknya ditutup
Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu
Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.
3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di Perairan Baratlaut Aceh 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jum'at, 15 November 2019, pukul 01:30 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 94,46° BT dan 6,81° LU, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 175 km, berjarak 139 km baratlaut Kota Sabang, Aceh. USGS, Amerika Serikat, menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 94,775° BT dan 7,030° LS pada kedalaman 126,1 km dengan magnitudo M5,0. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 94,76° BT dan 7,02° LU dengan magnitudo M5,2 dan kedalaman 132 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di laut di perairan utara Provinsi Aceh (Laut Andaman). Wilayah Indonesia yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah bagian utara Provinsi Aceh, termasuk Pulau Sabang. Batuan di Wilayah Pulau Sabang didominasi oleh batuan vulkanik berumur Tersier hingga Kuarter, dan wilayah pesisir utara Aceh dominannya disusun oleh batuan sedimen dan batuan vulkanik berumur Kuarter. Guncangan gempa bumi pada umumnya akan dirasakan lebih kuat pada wilayah yg disusun oleh batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan posisi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan akibat aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:
Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami. Belum ada informasi terkait intensitas guncangan maupun kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
2) Gempa bumi di perairan baratdaya Bengkulu 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 15 November 2019, pukul 14:06:53 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,74° BT dan 4,54° LS, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 78 km, berjarak 101 km baratdaya Bengkulu. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,77° BT dan 4,47° LS, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 47,5 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di perairan Sumatera sebelah barat daya Bengkulu. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan melanda wilayah pesisir barat Bengkulu yang tersusun oleh batuan berumur Kuarter berupa batuan aluvium, gamping, dan endapan rawa. Guncangan gempa bumi akan terasa pada batuan terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi. 
Penyebab gempa bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di sebelah barat kepulauan Sumatra. 
Dampak gempa bumi:
Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Bengkulu dengan intensitas II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.