Laporan Kebencanaan Geologi, 2 November 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

Hari ini, Sabtu, 2 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 

Cuaca cerah, berawan, mendung dan hujan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 17 - 24°C. Gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis hingga tebal dengan tinggi 50 -300 m di atas puncak. 

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2019 tercatat :

  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Hybrid
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Cuaca cerah dan berawan, angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 17 – 28°C. Gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis dengan tinggi 50 m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2019 tercatat :

  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat : Nihil

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Cuaca berawan, mendung dan hujan, angin bertiup lemah ke timur laut. Suhu udara sekitar 15 - 25°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut . Teramati asap kawah utama berwarna putih tebal, tinggi 150 m di atas puncak.Leleran lava 1.000 m, guguran lava pijar ke arah kali Sense Nanitu Sesepw 1.000-1.500 m dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 01 November 2019 tercatat :

  • 101 kali Gempa Guguran
  • 15 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Hybrid
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 6 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor dengan amplitudo 0.25-1 mm, dominan 0,5mm

Rekomendasi :

Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut :

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.

Cuaca cerah, berawan, mendung dan hujan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratlaut. Suhu udara sekitar 20 - 34°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan tinggi 10-20 m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 01 November 2019 tercatat :

  • 18 kali Gempa Guguran
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 6 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA :

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada  tanggal 29 Oktober 2019  terjadi erupsi  yang terekam di seismogram dengan amplitudo 41 mm durasi sekitar 4 menit 57 detik.

Cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup lemah ke arah utara, timur, barat daya dan barat laut, suhu udara sekitar 24 – 31,8°C. Gunungapi tertutup kabut. Melalui CCTV teramati asap berwarna putih tebal tinggi 25-150 m dari dasar kawah.

Melalui seismograf tanggal 01 November 2019 tercatat :

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 4 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi :

  • Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Oktober 2019 pukul 10:49 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang terekam oleh alat pemantau gunungapi dengan amplitudo maksimum 41 mm dan durasi 4 menit 57 detik.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah, berawan dan mendung, angin bertiup lemah hingga sedang kearah timur, utara dan timur. Suhu udara sekitar 15 – 27oC. Gunung jelas hingga tertutup kabut.Asap kawah tidak teramati

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2019 tercatat :

  • 17 kali Gempa Guguran
  • 5 kali Gempa Hybrid
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 m di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 m di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Cuaca cerah, berawan, dan mendung, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 26 - 30°C. Gunungapi jelas, tertutup kabut. Asap kawah utama bertekanan lemah, berwarna putih hingga kelabu, tebal, tinggi 100-200 m  di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2019 tercatat :

  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 14 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA :

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Oktober 2019 pukul 09:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1929 m di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke selatan.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Cuaca cerah, berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 m dari puncak bergerak ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2019 tercatat :

  • 65 kali Gempa Letusan
  • 71 kali Gempa Hembusan
  • 53 kali Gempa Guguran
  • 56 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA :

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Cuaca berawan dan mendung, angin bertiup lemah ke arah utara. Suhu udara sekitar 26 - 32°C. Gunungapi terlihat jelas, tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas  sedang, tinggi asap 25-50 m di atas puncak

Melalui rekaman seismograf tanggal 01 November 2019 tercatat :

  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 20 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah dan mendung, angin bertiup sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 21 - 24°C. Gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati bertekanan sedang, berwarna putih dan coklat, tebal, tinggi 300-500 m

Melalui rekaman seismograf tanggal 01 November 2019  tercatat :

  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanil Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-3 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Oktober 2019 pukul 17:21 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah bara daya dan barat.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur laut, timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 11 - 22°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih tipis dengan tinggi 50 - 200 m dari puncak. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 01 November 2019 tercatat :

  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm dominan 1 mm

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. 

Cuaca cerah, berawan, mendung dan hujan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23 – 29°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis, tinggi asap 25-100 m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 01 November 2019 tercatat :

  • 464 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 – 3 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.-  Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatarsa Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten Aceh Selatan,  Provinsi Aceh
  4. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana

Dampak : retakan berpotensi longsor mengancam 50 rumah yang dihuni 60 kepala keluarga atau 240 jiwa di  Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat; mengancam pemukiman di Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah; lalu lintas terhambat di Kabupaten Aceh Selatan,  Provinsi Aceh; satu rumah rusak di Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi :

  • Segera dilakukan penanganan retakan dengan melakukan penutupan dan dipadatkan
  • Mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari retakan
  • Masyarakat yang bermukim di lokasi terdampak agar meningkatkan kewaspadan dan mengungsi ke tempat yang aman jika gerakan tanah terus berkembang
  • Ke depannya disarankan tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah, dan pemanfaatan lahan dengan pola tanam basah pada bagian atas dan kaki lereng
  • Melakukan pemantauan mandiri terhadap perkembangan retakan. Jika terjadi perkembangan yang cepat agar segera dilaporkan kepada pemerintah setempat
  • Melakukan pemantauan mandiri terhadap perkembangan retakan. Jika terjadi perkembangan yang cepat agar segera dilaporkan kepada pemerintah setempat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.