Laporan Kebencanaan Geologi, 29 Oktober 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Cuaca mendung dan hujan, angin bertiup lemah ke arah baratdaya dan barat. Suhu udara sekitar 17 - 24°C. Gunungapi jelas hingga tertutup Kabut 0-II hingga 0-III. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal, tinggi 50-300m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Low Frekuensi
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Cuaca cerah dan berawan, angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 21 – 35°C. Gunungapi jelas hingga tertutup kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis dengan tinggi 50m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 29 Oktober 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

Nihil

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Cuaca berawan dan mendung, angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 27 - 31°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-I. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang, tinggi 50m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 188 kali Gempa Guguran
  • 19 kali Gempa Hembusan
  • 7 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 9 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.

Cuaca cerah dan berawan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratdaya. Suhu udara sekitar 20 - 34°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan tinggi 10-20m di ata puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 20 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 4 kali Gempa Tektonik jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada tanggal 27 Oktober 2019 terjadi erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo 47 mm durasi sekitar 1 menit 23 detik.

Cuaca cerah, berawan dan mendung, angin lemah ke arah baratlaut, barat dan timurlaut. Suhu udara sekitar 24 - 30°C. Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap kawah utama berwarna putih tipis, tinggi 25-50m di atas kawah.

Melalui seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

- Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 41 mm, dominan 3 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Oktober 2019 pukul 19:36 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang terekam oleh alat pemantau gunungapi dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 1 menit 21 detik.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah, berawan, angin bertiup lemah hingga sedang kearah utara, timur, barat dan baratlaut. Suhu udara sekitar 14 – 30,6. Gunung jelas, tertutup kabut 0-I hingga kabut O-III. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal, tinggi asap 50m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 7 kali Gempa Guguran
  • 28 kali Gempa Hybrid
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Cuaca cerah, berawan, mendung hingga hujan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratlaut. Suhu udara sekitar 26 - 30°C. Gunungapi tertutup Kabut 0-I. Asap kawah utama tidak teramati

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 15 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Oktober 2019 pukul 09:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1929 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke selatan.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Cuaca cerah, berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter dari puncak bergerak ke arah utara – barat.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 68 kali gempa Letusan
  • 144 kali gempa Hembusan
  • 23 kali gempa Guguran
  • 33 kali Tremor Harmonik
  • 2 kali Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Cuaca cerah, mendung hingga hujan, angin bertuo lemah utara. Suhu udara sekitar 26 - 31°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi asap 50-200m di atas puncak

Melalui rekaman seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca mendung, angin bertiup sedang hingga kencang ke arah baratdaya dan barat. Suhu udara sekitar 22 - 23°C. Gunungapi jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati

Melalui rekaman seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 91 kali gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-4 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 6 Oktober 2019 pukul 13:06 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:53 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.405 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 600 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah bara daya dan barat.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan, baratdaya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 10 - 22°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi 50 - 200 meter dari puncak. Tercium bau belerang ringan – sedang dari Pos

Melalui rekaman seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm dominan 1 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung /wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Cuaca cerah dan berawan, angin bertiup lemah ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23,5 – 29,7°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-I. Asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis, tinggi asap 25-50m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 28 Oktober 2019 tercatat:

  • 254 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 – 3 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktiber 2019 dibandingkan September 2019, potensinya   relatif sama disebagian wilyah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga di wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.            Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh

2.            Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

Dampak: jalan terhambat di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh dan satu rumah rusak di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Membersihkan material longsoran terutama yang menutup badan jalan dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing;
  • Masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau lereng yang terjal agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Pemilik rumah yang rumahnya mengalami kerusakan akibat longsor harap mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman dari bencana tanah longsor karena masih berpotensi terjadinya gerakan tanah terutama pada saat hujan turun cukup deras dan durasi yang cukup lama.
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Mengatur drainase atau aliran permukaan dengan baik.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.