Laporan Kebencanaan Geologi, 23 Oktober 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 17 - 28°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 18 - 30°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Cuaca berawan, angin lemah ke arah barat laut. Suhu udara sekitar 26 - 29°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 130 kali gempa Guguran
  • 16 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 5 mm, dominan 3 mm

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 21.5 - 39°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada tanggal 20 Oktober 2019 terjadi erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo 43 mm durasi sekitar 16 menit 34 detik.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur laut dan barat laut. Suhu udara sekitar 22.5 - 31.2°C. Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap putih tipis-tebal dengan tinggi 25-150 m dari kawah.

Melalui seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 19 mm, dominan 10 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 16:40 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang terekam oleh alat pemantau gunungapi dengan amplitudo maksimum 43 mm dan durasi 894 detik.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut. Suhu udara sekitar 13.5 - 32.7°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 10 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hybrid

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 26 - 30°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 700 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2019 tercatat:

  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 20 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2019 pukul 07:17 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 700 m dari atas puncak atau 1929 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke barat daya.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Suhu udara tidak tercatat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter dari puncak bergerak ke arah utara – barat.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 71 kali gempa Letusan
  • 116 kali gempa Hembusan
  • 20 kali gempa Guguran
  • 26 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 25 - 30°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang hingga kencang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 22 - 25°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna coklat dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 257 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-3 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 6 Oktober 2019 pukul 13:06 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:53 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.405 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 600 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah bara daya dan barat.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat laut. Suhu udara sekitar 9 - 20°C. Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah barat. Suhu udara sekitar 25.5 - 32.1°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Oktober 2019 tercatat:

  • 569 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 – 1 mm, dominan 0.5 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktiber 2019 dibandingkan September 2019, potensinya   relatif sama disebagian wilyah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Agam, Sumatera Barat

2. Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat

Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang curam, erosi sungai dan curah hujan tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.

Dampak:jalan terputus di Kabupaten Agam, Sumatera Barat; saluran irigasi jebol, 4 kotak sawah retak-retak, dan 2 kotak sawah tertimbun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
  • Area sawah yang terdampak agar untuk sementara tidak digunakan untuk bercocoktanam hingga saluran irigasi diperbaiki dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat.
  • Segera melakukan perbaikan saluran irigasi agar aliran air kembali lancar. Dalam melakukan proses pembersihan dan perbaikan agar mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap longsor susulan.
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan lereng terjal dengan kondisi yang serupa dengan lokasi gerakan tanah terutama yang terancam gerakan tanah.
  • Agar retakan pada sawah ditutup dengan material kedap air untuk mencegah resapan air melalui retakan, serta melakukan pemantauan terhadap retakan pada sawah. Jika retakan berkembang dan membesar, segera mengungsi dan melapor kepada pemerintah setempat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Kep. Mentawai, Sumatera Barat

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 22 Oktober 2019, pukul 06:49 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,65° BT dan 2,47° LS, dengan magnitudo M 5,5 pada kedalaman 18 km, dengan lokasi berjarak 49 km tenggara Tua Pejat, Kepulauan Mentawai. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 99,77° BT dan 2,48° LS dengan kekuatan M5,3 dan kedalaman 10 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,592° BT dan 2,665° LS, dengan magnitudo M 5,4 pada kedalaman 10 km.

BMKG juga melaporkan gempa bumi susulan yang terjadi 14 menit setelahnya (pukul 07:03 WIB) dengan magnitudo M5,0 yang berpusat di 99,64° Bt dan 2,47° LS, pada kedalaman 22 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di perairan barat Pulau Pagai Utara, Kepulauan Mentawai. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Gempa bumi ini merupakan gempa bumi interface yang terjadi pada bidang gesek antara kedua lempeng tersebut.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan informasi dari BMKG, guncangan gempa dirasakan di Mentawai dengan intensitas II-III MMI, serta di Painan dan Padang sebesar II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

2) Gempa bumi di baratlaut Kodi Sumba Baratdaya, NTT

Bersama ini, kami sampaikan laporan tanggapan terjadinya gempa bumi di sebelah Baratlaut Kodi Sumba Baratdaya

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, tanggal 22 Oktober 2019, pukul 29:13:49 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 9,58oLS dan 118,29oBT, dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km, berjarak 77 km baratlaut Kodi Sumba Baratdaya - NTT.

Menurut GFZ, pusat gempa bumi berada pada koordinat 9,52oLS dan 118,24oBT, dengan magnitudo 4,6 (mb) pada kedalaman 77 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Daerah sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh tersusun oleh batuan vulkanik berumur Tersier sampai Kuarter. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng Indo- Australia dan Eurasia.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.