Laporan Kebencanaan Geologi, 08 September 2019

Logo_ESDM

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. Dari kemarin hingga pagi ini, terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Low Frequensi
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan
Melalui rekaman seismograf pada  8 September 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G.Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:

  • 77 kali gempa Guguran
  • 26 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih tebal dengan tinggi kolom asap mencapai 25 m dari kawah.
Melalui seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 3 kalai gempa Low Frequency
  • 2 kalai gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 7 mm, dominan 3 mm

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 September 2019 pukul 20:34 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 58 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:

  • 19 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.  Teramati Letusan dengan tinggi 100 - 400 meter dengan warna asap putih, kelabu.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:

  • 102 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 20 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 September 2019 pukul 18:34 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 meter di atas permukaan laut atau sekitar 200 meter di atas puncak. Abu bergerak ke arah timur.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 sampai 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu bergerak ke arah  selatan dan timur dengan intensitas tipis,sedang,dan tebal.
Melalui seismograf tanggal 7 September 2019  tercatat:

  • 94 kali gempa Letusan
  • 86 kali gempa Hembusan
  • 28 kali Tremor Harmonik dengan amplitude 1 – 3 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 09:36WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1625 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50 meter dari puncak..
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Harmonik 

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 400 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:

  • 102 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Harmonik
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 2 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.-  Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.  

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Dari kemarin hingga pagi ini  gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian  100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut).  Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Melalui CCTV teramati asap putih sedang-tebal. dengan tinggi kolom asap 200 meter dan kolom abu dengan tinggi kolom abu 50-200 m diatas dasar kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019  tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 2 - 50 mm, dominan 30 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas. 
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. Dari kemarin hingga pagi ini, Gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak..
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:

  • 47 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 4 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:  

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2019 dibandingkan Agustus 2019, potensinya potensinya  mulai mengalami peningkatan  disebagian  wilyah indonesia . Wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, saluran drainase yang kurang baik, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak:1 (satu) orang luka ringan, 1 (satu) rumah rusak dan jalan setapak rusak di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana serta pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama pada waktu hujan;
  • Warga yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
  • Membuat saluran drainase yang kedap air;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.


3. Gempa Bumi
Gempa bumi di baratlaut Raja Ampat, Papua Barat 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 7 September 2019, pukul 04:14 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 130,5° BT dan 0,07° LS, dengan magnitudo 5,4 pada kedalaman 10 km, berjarak 18 km barat laut Raja Ampat, Papua Barat. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,66° BT dan 0,10° LS, dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman 10 km. Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,562° BT dan 0,131° LS, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di darat. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa pada umumnya disusun oleh batuan ofiolit dan batuan sedimen berumur Tersier yang dapat bersifat lapuk, urai, dan lepas, sehingga memperkuat efek guncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan posisi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif di daerah tersebut.
Dampak gempa bumi: Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Raja Ampat dengan intensitas II-III MMI dan Sorong I-II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini, terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tornillo
- 1 kali gempa Low Frequensi
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
- Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.
Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
Melalui rekaman seismograf pada  8 September 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
-  Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G.Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- 9 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
-  Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.
Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- 77 kali gempa Guguran
- 26 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 1 mm
Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
-  Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
-  Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.
Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih tebal dengan tinggi kolom asap mencapai 25 m dari kawah.
Melalui seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Hembusan
- 3 kalai gempa Low Frequency
- 2 kalai gempa Vulkanik Dangkal
- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 7 mm, dominan 3 mm
Rekomendasi:
-  Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 September 2019 pukul 20:34 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 58 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:
- 19 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Hybrid
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
-  Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
-  Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
-  Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.
Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.  Teramati Letusan dengan tinggi 100 - 400 meter dengan warna asap putih, kelabu.
Melalui rekaman seismograf pada 7 September 2019 tercatat:
- 102 kali gempa Letusan
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 20 mm, dominan 2 mm
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 September 2019 pukul 18:34 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 meter di atas permukaan laut atau sekitar 200 meter di atas puncak. Abu bergerak ke arah timur.
Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 sampai 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu bergerak ke arah  selatan dan timur dengan intensitas tipis,sedang,dan tebal.
Melalui seismograf tanggal 7 September 2019  tercatat: 
- 94 kali gempa Letusan
- 86 kali gempa Hembusan
- 28 kali Tremor Harmonik dengan amplitude 1 – 3 mm
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 09:36WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1625 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50 meter dari puncak..
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 7 kali gempa Tektonik Jauh
- 5 kali gempa Harmonik 
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
-  Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.
Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 400 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- 102 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Harmonik
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 2 mm, dominan 1 mm
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
-  Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.  
Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini  gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian  100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.
Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut).  Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.
Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Melalui CCTV teramati asap putih sedang-tebal. dengan tinggi kolom asap 200 meter dan kolom abu dengan tinggi kolom abu 50-200 m diatas dasar kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019  tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 5 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 2 - 50 mm, dominan 30 mm
Rekomendasi:
-  Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas. 
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.
Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini, Gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak..
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 September 2019 tercatat:
- 47 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 4 mm, dominan 2 mm
Rekomendasi:
-  Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
-  Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2019 dibandingkan Agustus 2019, potensinya potensinya  mulai mengalami peningkatan  disebagian  wilyah indonesia . Wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, saluran drainase yang kurang baik, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak:1 (satu) orang luka ringan, 1 (satu) rumah rusak dan jalan setapak rusak di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:
Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana serta pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama pada waktu hujan;
Warga yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
Membuat saluran drainase yang kedap air;
Memasang rambu peringatan rawan longsor;
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.
3. Gempa Bumi
Gempa bumi di baratlaut Raja Ampat, Papua Barat 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 7 September 2019, pukul 04:14 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 130,5° BT dan 0,07° LS, dengan magnitudo 5,4 pada kedalaman 10 km, berjarak 18 km barat laut Raja Ampat, Papua Barat. 
Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,66° BT dan 0,10° LS, dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman 10 km. 
Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,562° BT dan 0,131° LS, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di darat. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa pada umumnya disusun oleh batuan ofiolit dan batuan sedimen berumur Tersier yang dapat bersifat lapuk, urai, dan lepas, sehingga memperkuat efek guncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan posisi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif di daerah tersebut.
Dampak gempa bumi:
Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Raja Ampat dengan intensitas II-III MMI dan Sorong I-II MMI. 
Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. 
Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini. 
Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. 
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.