Laporan Kebencanaan Geologi, 07 September 2019

Logo_ESDM

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. Dari kemarin hingga pagi ini, terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 6 September 2019 tercatat:

  • 17 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap Kawah tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf pada 6 September 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada  7 September 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:-Nihil
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G.Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 25 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tinggi.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tinggi.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat:

  • 117 kali gempa Guguran
  • 23 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih tipis dengan tinggi kolom asap mencapai 50 m dari kawah.
Melalui seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Hembusan
  • 3 kalai gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 15 mm, dominan 5 mm

Rekomendasi:  Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 September 2019 pukul 20:34 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 58 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-I. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 6 September 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Low Frequensi
  • 5 kali gempa Hybrid

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.-  Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 6 September 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulknik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 2 mm, dominan 0,5 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 18:31 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak. Abu bergerak ke arah timur.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 sampai 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu bergerak ke arah  selatan dan timur dengan intensitas tipis,sedang,dan tebal.
Melalui seismograf tanggal 6 September 2019  tercatat:

  • 85 kali gempa Letusan
  • 61 kali gempa Hembusan
  • 29 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplitude 1 – 5 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 09:36WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1625 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Harmonik dengan amplitude 4 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 500 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat:

  • 143 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 2 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.  

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Dari kemarin hingga pagi ini  gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat: Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm
Rekomendasi: -  Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut).  Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Melalui CCTV teramati asap putih-tebal dengan tinggi 20 - 120 m dari dasar kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019  tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 3 kalai gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 25 mm, dominan 5 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas. 
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. Dari kemarin hingga pagi ini, Gunungapi  terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 6 September 2019 tercatat:

  • 132 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 5 mm, dominan 3 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2019 dibandingkan Agustus 2019, potensinya potensinya  mulai mengalami peningkatan  disebagian  wilyah indonesia . Wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Gresik,Provinsi  Jawa Timur
  2. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat

Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, erosi sungai dan curah hujan tinggi sebagai pemicu gerakan tanah
Dampak: kompleks pemakaman rusak berat dan akses jalan desa terganggu.di Kabupaten Gresik,Provinsi  Jawa Timur;  turap kali jebol dan mengancam badan jalan di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.
  • Untuk sementara agar menutup retakan dengan material kedap air atau terpal untuk mencegah air meresap ke dalam retakan yang dapat mempercepat pergerakan.
  • Melakukan pemantauan perkembangan retakan. Jika retakan berkembang secara cepat agar segera mengungsi dan menjauhi area retakan serta melapor kepada aparat desa setempat.
  • Aktivitas ziarah agar tidak dilakukan sesaat setelah hujan. Jika kondisi tanah sudah kering ziarah dapat dilanjutkan dengan tetap waspada terhadap retakan tanah di sekitar pemakaman.
  • Menghindari kegiatan yang mengganggu kestabilan lereng seperti melakukan pemotongan lereng yang terlalu terjal tanpa disertai perkuatan lereng.
  • Segera memperbaiki turap dengan fondasi yang lebih dalam dari dasar sungai agar erosi dapat berkurang.
  • Memasang pembatas atau tanda di sepanjang area longsor untuk mencegah pengguna jalan dan warga mendekati area longsoran.
  • Tidak berhenti atau memarkir kendaraan di sekitar lokasi bencana atau di daerah berlereng terjal yang kondisinya serupa dengan lokasi gerakan tanah.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.


3. Gempa Bumi
Gempa bumi di baratdaya Sarmi, Papua
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 6 September 2019, pukul 03:43:36 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 138,86°BT dan 2,713°LS dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman 27 km, berjarak 41 km Baratdaya Sarmi-Papua. Informasi dari GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada di darat, pada koordinat 138,80°BT dan 2,81°LS, dengan magnitudo M 4,7 pada kedalaman 10 km.
Kondisi Geologi Daerah Terkena Gempa Bumi: Pusat gempa bumi berada di darat. Lokasi gempa bumi tersusun oleh batuan yang berumur Pratersier, Tersier hingga Kuarter, terdiri dari batuan sedimen dan batuan gunung api, batuan beku, malihan dan bancuh. Sepanjang pesisir tersusun oleh endapan aluvium yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi sehingga bisa memperkuat efek guncangan gempa.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini disebabkan sesar aktif yang berkembang di daerah tersebut.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan dan korban jiwa.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai  gempa bumi dan tsunami.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.