Laporan Kebencanaan Geologi, 12 Agustus 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Senin 12 Agustus 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun.Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 12 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G.Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 12 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

- Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100 - 150 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 76 kali gempa Guguran
  • 12 kali gempa Hembusan
  • kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

- Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Agustus 2019 pukul 23:04 WIB. Tinggi kolom asap tidak teramati.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis. Guguran lava teramati dari CCTV dengan jarak luncur 500 – 800 meter ke hulu kali Gendol.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidakTeramati.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Juli 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut-0II. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian lk. 200 - 800 meter dari puncak

Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 118 kali gempa Letusan
  • 77 kali gempa Hembusan
  • 26 kali gempa Guguran
  • 47 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi tertutup kabut 0-II. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Low Frekwensi
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 15 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 - 200 meter dari atas puncak, bertekanan kuat dengan warna putih – coklat dan intensitas tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 161 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, tinggi asap 200 meter dari dasar kawah, tinggi kolom abu 50 – 100 meter dari dasar kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 50 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pkl. 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih intensitas tipis, tinggi asap 50 m dari atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 292 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di baratdaya Pariaman, Sumatera Barat

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 11 Agustus 2019, pukul 04:11:09 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99.33° BT dan 0.86° LS, dengan magnitudo M5.3 pada kedalaman 28 km, berjarak 93 km baratdaya Pariaman, Sumatera Barat. Sedangkan informasi dari USGS mencatat gempa bumi pada koordinat 99.362° BT dan 0.757° LS dengan magnitudo M5.6 pada kedalaman 51.1 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah kepulauan Mentawai dan pesisir barat Sumatera Barat yang pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter. Batuan berumur Kuarter serta batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak dapat bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini dirasakan di Pos PGA G. Tandikat pada skala III MMI. Belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

2) Gempa bumi di tenggara Enggano, Bengkulu

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 11 Agustus 2019, pukul 09:11:08 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102.82° BT dan 7.27° LS, dengan magnitudo M5.3 pada kedalaman 10 km, berjarak 222 km tenggara Enggano, Bengkulu. Sedangkan_GFZ, Potsdam_, Jerman mencatat gempabumi terjadi berada pada koordinat 102.95° BT dan 7.19° LS dengan magnitudo M5.2 pada kedalaman 10 km. Gempabumi ini diikuti oleh gempabumi dengan magnitudo M5.2 (BMKG) pada pukul: 11:38:59 Wib berada pada koordinat 102.76° BT dan 7.36° LS, dengan kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah Pantai barat Kabupaten Lampung Barat. Daerah tersebut pada umumnya disusun oleh endapan aluvium berupa kerikil, pasir, lanau dan endapan sungai; dan batuan sedimen berumur Mio-Pliosen yang terdiri dari batugamping dan batugamping pasiran, bersifat masiv. Pada batuan yang berumur Kuarter serta batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak dapat bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini terekam tetapi tidak dirasakan di Pos PGA G. Kaba. Belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunungapi dipantau secara menerus 24 jam/hari. Tingkat aktivitas saat ini:

a. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu: G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

b. 18 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu: G. Merapi, G. Marapi, G.Kerinci, G.Semeru, G.Bromo, G.Rinjani, G.Sangeangapi, G.Rokatenda, G.Lokon, G.Gamalama, G.Gamkonora, G.Ibu, G.Dukono, G.Ili Lewotolok, G.Banda Api, G.Anak Krakatau, G.Tangkuban Parahu, dan G. Slamet.

c. Sisanya 47 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Gunungapi Sinabung (2.460 m dpl) - Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung mengalami erupsi sejak tahun 2013, erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Erupsi Gunungapi Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunungapi Agung selain bersifat eksplosif, juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 12 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- Nihil

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 12 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100 - 150 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 76 kali gempa Guguran
  • 12 kali gempa Hembusan
  • kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Gunungapi Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis. Guguran lava teramati dari CCTV dengan jarak luncur 500 – 800 meter ke hulu kali Gendol.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidakTeramati.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2019 tercatat:

- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut-0II. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian lk. 200 - 800 meter dari puncak

Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

- 118 kali gempa Letusan

- 77 kali gempa Hembusan

- 26 kali gempa Guguran

- 47 kali gempa Tremor Harmonik

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G.Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi tertutup kabut 0-II. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Low Frekwensi
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 15 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 - 200 meter dari atas puncak, bertekanan kuat dengan warna putih – coklat dan intensitas tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 161 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)

Gunungapi Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Erupsi G. Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Erupsi terakhir sebelum tahun ini terjadi pada 6 Oktober 2013.

Secara visual, aktivitas 2 (dua) minggu terakhir didominasi oleh erupsi abu dan hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 15 - 150 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna kelabu dan putih (intensitas tipis hingga tebal).

Pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB erupsi terjadi dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Pada 1 Agustus 2019 Pkl 20:46 WIB terjadi erupsi freatik dengan tinggi kolom abu 180 m dari dasar kawah. Erupsi susulan terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah. Pada tanggal 2 Agustus 2019 erupsi susulan mulai pukul 00:43WIB, serta erupsi terakhir pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.

Secara seismik, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh tremor erupsi yang menerus dengan amplitudo maksimum 50 mm. Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan erupsi abu dan asap putih. Secara deformasi, dalam 1 (satu) bulan terakhir Gunungapi Tangkuban Parahu mengalami inflasi kecil namun meningkat terus. Secara geokimia gas, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan telah terjadi peningkatan kandungan gas vulkanik H2S dan SO2 pada tanggal 10 Juli 2019. Kandungan gas vulkanik semakin meningkat pada tanggal 13 Juli 2019. Periode pengukuran gas terakhir tanggal 1 dan 8 Agustus 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih cenderung naik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, tinggi asap 200 meter dari dasar kawah, tinggi kolom abu 50 – 100 meter dari dasar kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 50 mm

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pkl. 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. Aktivitas vulkanik G. Slamet terakhir terjadi pada Maret hingga Agustus 2014, berupa kenaikkan aktivitas diikuti erupsi menghasilkan material abu dan lontaran material pijar di sekitar kawah (Tipe letusan strombolian).

Dari kemarin hingga pagi ini visual, Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih intensitas tipis, tinggi asap 50 m dari atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2019 tercatat:

  • 292 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Agustus 2019 pukul 23:04 WIB. Tinggi kolom asap tidak teramati.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Juli 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.

(11) G. Bromo, JawaTimur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

(12) G. Tangkuban Parahu, Jawa Barat

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

(13) G. Slamet, Jawa Tengah

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.