Laporan Kebencanaan Geologi 23 September 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu 23 September 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga tebal setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 22 September 2018 tercatat: 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

 

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal 
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 23 September 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat: 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

 

G. Krakatau (Lampung).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Angin lemah ke arah barat daya dan timur. Asap kawah berwarna putih tipis hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi mencapai 1000 m dari puncak. Teramati 56 letusan dengan tinggi 200-300 m, warna asap hitam. Pada malam hari dari CCTV teramati sinar api dan alira pijar ke selatan. Terdengar dentuman dan getaran lemah terdengar di Pos PGA.
Melalui seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat: 56 kali gempa letusan
Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 05:56 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dengan durasi sekitar 115 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 538 m di atas permukaan laut. Kolom abu bergerak mengarah selatan.

 

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal setinggi 80 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 22 September 2018 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Low Frekuensi

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal, tinggi asap 600 m dari puncak. Teramati 3 kali letusan dengan tinggi 600 m dari puncak, warna asap putih dan kelabu. Angin bertiup lemah ke timur.
Melalui seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat:

  • 7 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-15 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 September 2018 pukul 05:38 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah timur.

 

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.
Melalui seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat:

  • 111 kali Gempa Letusan
  • 92 kali Gempa Hembusan
  • 30 kali Gempa Guguran
  • 14 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  September 2018  yang dibandingkan bulan  Agustus 2018,   umumnya potensinya cenderung sedikit mengalsmi peningkatan di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera , Sulawesi , Bali , Nusa tenggara dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Penyebab:  Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air, pelunakan dan pembebanan massa tanah akibat akumulasi air, sistem drainase/saluran air permukaan yang kurang baik, minimnya pepohonan besar yang berakar dalam dan kuat yang dapat meningkatkan daya ikat tanah, curah hujan yang tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan satu bangunan bekas sekolah TK, masjid dan majlis taklim terancam di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di Barat laut Palu, Sulawesi Tengah
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 22 September 2018. Berdasarkan Informasi BMKG, gempa bumi terjadi pukul 06:20:33 WIB pusat gempabumi berada pada koordinat 0.83° LS dan 119,83° BT, dengan magnituda 5.1 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 9 km Baratlaut Palu, Sulawesi Tengah. Berdasarkan informasi GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 119.88°BT  dan 0.92°LS, dengan magnitudo 4,8 dan kedalaman 10 km.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di darat. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi disusun oleh batuan berumur tersier berupa sedimen, batuan beku, dan batuan malihan. 
Penyebab gempa bumi: Gempabumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berarah Barat Laut-Tenggara.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan mengenai kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi ini.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2) Gempa bumi di Baratdaya Jaya Wijaya, Papua
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada tanggal 22 September 2018, pukul 16:58:23 WIB, dengan informasi sebagai berikut:pusat gempa bumi berada pada koordinat 4,36°LS dan 138,67°BT dengan magnitudo 5.0 S.R. pada kedalaman 198 km, berjarak 42 km baratdaya Jayawijaya, Papua. Menurut USGS, gempa bumi berpusat pada 250 km arah tenggara dari Enarotali, atau pada koordinat 4,431°LS  dan 138.549°BT, dengan kedalaman 157,5 km dan magnitudo M 4,5.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di darat. Kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan melanda wilayah yang tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen, batuan gunung api, batuan beku  dan batuan malihan. Goncangan gempa bumi akan terasa pada batuan endapan kuarter dan batuan tersier terlapukkan karena rapuh dan lunak, sehingga memperkuat efek goncangan dan rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Dampak gempa bumi: Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada laporan kerusakan bangunan dan korban jiwa.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Penyebab gempa bumi: Gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif.

Rekomendasi:

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga tebal setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 22 September 2018 tercatat: 3 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding  hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal 
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 23 September 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat: 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 - 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 - 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 - 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 - 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi jelas hingga tertutup Kabut. Angin lemah ke arah barat daya dan timur. Asap kawah mencapai 200m di atas kawah. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, tinggi mencapai 1000 m dari puncak. Teramati 56 letusan dengan tinggi 200-300 m, warna asap hitam. Pada malam hari dari CCTV teramati sinar api dan alira pijar ke selatan. Terdengar dentuman dan getaran lemah terdengar di Pos PGA.
Melalui seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat: 56 kali gempa Letusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal setinggi 80 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 22 September 2018 tercatat:

  • 7 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-15 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal setinggi 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur.
Melalui seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat:

  • 7 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 15 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.
Melalui seismograf tanggal 22 September 2018 tercatat:

  • 111 kali Gempa Letusan
  • 92 kali Gempa Hembusan
  • 30 kali Gempa Guguran
  • 14 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
  3. G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 05:56 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dengan durasi sekitar 115 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 538 m di atas permukaan laut. Kolom abu bergerak mengarah selatan.
  4. G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  5. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 September 2018 pukul 17:05 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah timur.
  6. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  September 2018 yang dibandingkan bulan Agustus 2018  akan  cenderung sedikit mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi , Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Garut, Provinsi  Jawa Barat, 
  3. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan,
  4. Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur,
  5. Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan,
  6. Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan,
  7. Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
  8. Kota Jakarta Selatan Provinsi Jakarta,
  9. Kabupaten Tapanuli Selatan , Provinsi Sumatera Utara,
  10. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,
  11. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
  12. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat 
Bencana alam longsor terjadi di Kampung Nyalindung RT 01/03, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Kamis (20/9/2018).Longsor sepanjang 10 meter, tinggi 5 meter dan lebar 3 meter tersebut mengancam sebuah masjid dan majlis taklim. Kejadiannya sekitar pukul 17.00 WIB, saat itu hujan deras.Tidak ada korban jiwa atau yang mengungsi, hanya saja mengancam satu bangunan bekas sekolah TK, dibawahnya ada masjid dan majlis taklim.
Sumber: https://sukabumiupdate.com/detail/sukabumi/peristiwa/46089-Diguyur-Hujan-Longsor-Melanda-Nyalindung-Sukabumi 
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air, pelunakan dan pembebanan massa tanah akibat akumulasi air, sistem drainase/saluran air permukaan yang kurang baik, minimnya pepohonan besar yang berakar dalam dan kuat yang dapat meningkatkan daya ikat tanah, curah hujan yang tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi :

  • Segera melakukan pembersihan material longsoran di sekitar area gerakan tanah. 
  • Dilakukan penataan sistem drainase.
  • Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi longsor, mengingat curah hujan yang diprediksi masih tinggi, bila perlu mengungsi jika terjadi hujan lebat
  • Untuk ke depannya agar tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah, dan pemanfaatan lahan dengan pola tanam basah pada bagian atas dan kaki lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.