Laporan Kebencanaan Geologi 27 Mei 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu 27 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 26 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Tornillo
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 58 kali gempa Hembusan

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 26 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Tanggal 27 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 75 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut.Melalui rekaman seismograf pada 26 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 3 kal gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA: VONA terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:34 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 500 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 300 - 500 meter dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 26 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 14:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 26 Mei 2018 tercatat:

  • 108 kali gempa Letusan
  • 94 kali gempa Hembusan
  • 46 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei  2018 yang dibandingkan bulan  April  2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah 
  2. Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara
  3. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara

Penyebab : Penyebab longsor diperkirakan kemiringan lereng terjal, struktur geologi, tanah pelapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan jalur transportasi terputus  di Kabupaten Pekalongan (Provinsi Jawa Tengah) ,  di Kabupaten Pakpak Bharat (Provinsi Sumatera Utara) serta di Kabupaten Deli Serdang (Provinsi Sumatera Utara)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Informasi gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 26 Mei 2018, pukul 03:15 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat  7,20°LS dan 106,88°BT (30 km sebelah BaratDaya Kota Sukabumi, Jawa Barat), dengan magnitudo M4,4 pada kedalaman 6 km. 
Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di darat di wilayah Kabupaten Sukabumi bagian selatan. Wilayah sekitar pusat gempa bumi disusun oleh batuan batuan sedimen, batuan karbonat dan batuan gunungapi berumur Tersier. Batuan berumur Tersier yang telah terlapukan pada umumnya bersifat urai dan dapat memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan pergerakan sesar aktif di lokasi tersebut. 
Dampak gempa bumi: Berdasarkan informasi BMKG guncangan gempa bumi dirasakan di Sukabumi, Sagaranten, Pelabuhan Ratu, dan Cisaat dengan intensitas II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena berpusat di darat. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi.

2) Gempa bumi di Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 26 Mei 2018, pukul 05:23:43 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 128,41° BT dan 7,71° LS, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 188 km, berjarak 229 km Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut, Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan Aluvium, endapan sedimen Kuarter, endapan gunungapi Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan Kuarter diperkirakan guncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi antara Lempeng Eurasia dan Indo-Australia.
Dampak gempa bumi:Belum ada laporan mengenai korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 26 Mei 2018 tercatat

  • 2 kali gempa Tornillo
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 58 kali gempa Hembusan

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 26 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Tanggal 27 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 75 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut.Melalui rekaman seismograf pada 26 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 3 kal gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Begitu banyak Malta escorts disini
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 500 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 300 - 500 meter dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 26 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 26 Mei 2018 tercatat:

  • 108 kali gempa Letusan
  • 94 kali gempa Hembusan
  • 46 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.
  3. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:34 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.
  4. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 14:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
  5. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Mei 2018 yang dibandingkan bulan  April 2018  akan  relatif potensinya sama  di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara
  3. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara
  4. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  5. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra Utara
  6. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  7. Kabupaten Mandailing Natal (Madina),  Provinsi Sumatera Utara
  8. Kabupaten Pinrang,  Provinsi Sulawesi Selatan
  9. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 
  10. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu
  11. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
  12. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  13. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,
  14. Kabupaten Empatlawang, Provinsi Sumatra Selatan
  15. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan,
  16. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,
  17. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur,
  18. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara,
  19. Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah
  20. Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan,
  21. Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan,
  22. Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah 
Hujan lebat yang mengguyur Pekalongan, Jawa Tengah, hari ini menyebabkan tanah longsor di dua kecamatan. Tanah longsor terjadi di Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang hingga menyebabkan jalur transportasi terputus. Longsor di Kecamatan Petungkriyono di ruas Jalan Kasimpar-Yosorejo, tepatnya di Blok Jembatan Kali Bisu Kasimpar, pada hari ini sekitar pukul 14.30 WIB. Akibatnya Akses jalan dua Kecamatan Tidakbisa dilalui
Sumber berita:  https://news.detik.com/berita/4039043/longsor-di-pekalongan-akses-jalan-2-kecamatan-tak-bisa-dilalui 
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah pada badan jalan. Penyebab longsor diperkirakan kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

2. Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara
Badan jalan lintas Sumatera (Jalinsum) menghubungkan Kabupaten Pakpak Bharat (Sumatera Utara) dengan Kota Subulussalam dan Kabupaten Singkil, Aceh Selatan (Provinsi Aceh) putus total akibat longsor. Akibatnya, arus lalulintas dari dua arah lumpuh total. Longsor terjadi pada hari Sabtu (25/5/2018) malam, longsor tepatnya di Desa Buludidi, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe (STTU Jehe), Kabupaten Pakpak Bharat.
Sumber http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2018/05/26/38415/longsor_jalinsum_pakpak_bharat_subulussalam_singkil_putus_total/ 
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah pada badan jalan. Penyebab longsor diperkirakan kemiringan lereng terjal, struktur geologi, tanah pelapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

3.Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara
Longsor terjadi di Desa Bandarbaru, Kecamatan Sibolangit menuju Penen Kecamatan Biru-biru, Deli Serdang. Akibatnya Jalan tida bisa dilalui kendaraan roda empat, sehingga transportasi untuk mengangkut hasil pertanian harus memutar jauh.Bencana longsor Tanah longsor ini sudah terjadi empat hari sebelumnya, namun masih belum dapat dilewati dan semakin meluas karena curah hujan yang tinggi.
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/713599/longsor-memutus-dua-kecamatan-di-deliserdang 
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran pada badan jalan. Penyebabnya diperkirakan saluran drainase atau gorong-gorong pecah sehingga lereng tergerus air dan tembok penahan longsor serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
  • Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan sesaat setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta pengguna jalan harap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu
  • Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
  • Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat.
  • Masyarakat pengguna jalan harus waspada dan berhati-hati terhadap potensi longsoran susulan;
  • Masyarakat disekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
  • Perkuatan lereng diperlukan untuk memperkual lereng agar tidak mudah longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.