Laporan Kebencanaan Geologi 26 Mei 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 26 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 25 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dan intensitas tipis dengan tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 25 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Tanggal 26 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dan intensitas sedang hingga tebal dengan tinggi 75 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf pada 25 Mei 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hybrid
  • 6 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:24 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah berwarna putih bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 100 - 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratlaut. Melalui seismograf tanggal 25 Mei 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Letusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Mei 2018 pukul 06.55 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 25 Mei 2018 tercatat:

  • 120 kali Gempa Letusan
  • 97 kali Gempa Hembusan
  • 48 kali Gempa Guguran

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Purbalingga,

Provinsi Jawa Tengah

2. Kabupaten Dairi, Provinsi

Sumatra Utara

3. Kabupaten Sukabumi,

Provinsi Jawa Barat

4. Kabupaten Mandailing Natal

(Madina), Provinsi Sumatera

Utara

5. Kabupaten Pinrang, Provinsi

Sulawesi Selatan

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi baik, adanya gangguan pada lereng dengan adanya penambangan dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum terjadinya longsor.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan 1 (satu) orang luka-luka di Kabupaten Purbalingga, (Provinsi Jawa Tengah); 1 (satu) orang meninggal dunia di Kabupaten Dairi (Provinsi Sumatra Utara);3 (tiga) rumah rusak berat dan 8 jiwa (3 KK) mengungsi di Sukabumi (Provinsi Jawa Barat);14 desa terancam terisolir di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) (Provinsi Sumatera Utara);akses jalan dari kabupaten menuju kec. Batulappa terputus di Kabupaten Pinrang (Provinsi Sulawesi Selatan).

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Merapi, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 25 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

 

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dan intensitas tipis dengan tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 25 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Tanggal 26 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dan intensitas sedang hingga tebal dengan tinggi 75 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf pada 25 Mei 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hybrid
  • 6 kali gempa Hembusan

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 100 - 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratlaut. Melalui seismograf tanggal 25 Mei 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Letusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati dengan jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 25 Mei 2018 tercatat:

  • 120 kali Gempa Letusan
  • 97 kali Gempa Hembusan
  • 48 kali Gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.

(3) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:24 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah berwarna putih bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.

(4) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Mei 2018 pukul 08:59 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

(5) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Mei 2018 pukul 06.55 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018 akan relatif potensinya sama di seluruh indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah*,

2.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra Utara*,

3.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,

4.Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara*,

5.Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan*,

6.Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi,

7.Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu,

8.Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi,

9.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah,

10.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,

11.Kabupaten Empatlawang, Provinsi Sumatra Selatan,

12.Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan,

13.Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh

14.Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur,

15.Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara,

16. Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah,

17. Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan,

18. Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan,

19. Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat,

20. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.   Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

Gerakan tanah terjadi pada pemandian umum di Desa Majapura RT 1 RW 6, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah pada Rabu, 23 Mei 2018. Bencana gerakan tanah terjadi pada tebing setinggi 6 meter dengan panjang longsoran kurang lebih 25 meter dengan lebar longsoran sekitar tiga meter yang mengakibatkan 1 (satu) orang luka-luka.

Sumber : http://radarbanyumas.co.id/tebing-setinggi-6-meter-di-desa-majapura-bobotsari-longsor/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas di tebing di atas pemandian umum dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum terjadinya longsor.

2.     Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra

Gerakan tanah terjadi pada lokasi penambangan Galian C yang terletak di daerah Lae Renun, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra Utara Kamis, 24 Mei 2018 sekitar pukul 11.00 WIB. Bencana gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran batuan pada tebing galian C yang mengakibatkan 1 (satu) orang meninggal dunia.

Sumber : http://revolusi.news/tertimpa-longsor-pekerja-batu-tutup-usia/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat gangguan pada lereng dengan adanya penambangan yang menyebabkan lereng menjadi curam dan tidak stabilserta sifat batuan yang bersifat lepas.

3.     Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi di Kampung Cisuren RT 023 RW 007 dan Kampung Sampalan RT 016 RW 06, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat pada Kamis, 24 Mei 2018 malam hari. Bencana gerakan tanah ini mengakibatkan 3 (tiga) rumah rusak berat dan 8 jiwa (3 KK) mengungsi.

Sumber : https://sukabumiupdate.com/detail/sukabumi/peristiwa/41353-Tiga-Rumah-Petani-Diterjang-Longsor-di-Lengkong-Sukabumi

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas di tebing di atas pemukiman dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum terjadinya longsor.

4.     Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara

Gerakan tanah terjadi di ruas jalan Desa Tebing Tinggi dan Desa Parmompang, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Madina, Provinsi Sumatera Utara pada Jum’at, 25 Mei 2018. Pada ruas jalan tersebut ada badan jalan longsor dan nyaris putus serta di tempat lainnya tebing setinggi 20 meter yang longsor juga menutup badan jalan. Bencana ini mengakibatkan 14 desa terancam terisolir. Ke 14 desa tersebut yakni, Desa Tebing Tinggi, Desa Parmompang, Desa Gunung Baringin, Desa Tanjung, Desa Tanjung Julu, Desa Pagur, Desa Ranto Natas, Desa Pardomuan, Desa Huta Bangun, Desa Sirangkap, Desa Huta Tinggi, Desa Banjar Lancar dan Desa Aek Nabara, Kecamatan Panyabungan Timur.

Sumber : https://www.metro-online.co/2018/05/jalan-longsor-14-desa-di-madina-ini.html

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas pada tanah badan jalan dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor.

5.     Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan

Gerakan tanah terjadi pada ruas jalan di Kecamatan Batu Lappa, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan pada Jum’at, 25 Mei 2018. Bencana gerakan tanah diperkirakan berupa amblasan pada badan jalan sekitar 30 meter yang mengakibatkan akses jalan dari kabupaten menuju kec. Batulappa terputus.

Sumber : http://pusatkrisis.kemkes.go.id/Tanah%20Longsor-di-PINRANG-SULAWESI%20SELATAN-25-05-2018-60

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas pada tanah badan jalan dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor.

Rekomendasi:

  • Masyarakat setempat yang beraktivitas di sekitar lokasi pemandian umum dan sekitarnya yang terkena material longsoran, dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemandian umum dengan saluran kedap air agar air permukaan (run off) tidak menggenang dan meresap ke dalam tanah.
  • Membuat tembok penahan tebing di atas pemandian umum dengan teknis konstruksi yang baik.
  • Kegiatan penambangan agar dilakukan tata cara yang aman dalam penambangan batu.
  • Dalam kegiatan penambangan diperlukan adanya perencanaan yang matang mengenai tata cara teknis penambangan yang aman, sehingga penambangan tidak merusak lingkungan dan terjaminnya keselamatan kerja bagi penambang.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di bawah tebing yang longsor tersebut, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman dengan saluran kedap air agar air permukaan (run off) tidak menggenang dan meresap ke dalam tanah.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas jalan tersebut.
  • Agar masyarakat pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.