Laporan Kebencanaan Geologi 12 Mei 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 12 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga berkabut, teramati asap kawah berwarna putih sedang - kelabu dengan ketinggian 50-300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah utara, baratlaut dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 13 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik.
  • 1 kali Getaran Banjir /Lahar dengan amplitudo 35 mm, durasi 2797 detik.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 12 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Mei 2018 pukul 18.26 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Terjadi erupsi Gunungapi Merapi pada tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB dengan durasi kegempaan 5 menit. Asap erupsi berwarna kelabu tebal dengan ketinggian kolom mencapai 5500 m di atas puncak, terbawa angin ke arah selatan - timur. Erupsi berlangsung satu kali dan tidak diikuti erupsi susulan. Melalui rekaman seismograf pada 11 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Guguran
  • 3 kali Gempa Tektonik

Rekomendasi :

  • Pemerintah Daerah dan masyarakat pada umumnya agar segera melakukan upaya penanggulangan bahaya abu vulkanik agar gangguan kesehatan dan kerugian yang lain akibat abu vulkanik dapat diminimalisir.
  • Letusan freatik masih mungkin terjadi kembali di waktu yang akan datang. Masyarakat yang bermukim di sekitar G. Merapi untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya abu.
  • Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar di luar radius 2 km, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

G. Marapi (Sumatera Barat):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Marapi (2891 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan. Asap kawah tidak teramati di atas puncak. Melalui seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki Gunungapi Marapi pada radius 3 Km dari kawah/puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Mei 2018 pukul 08:10 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 6891 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 500-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 18:09 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur. Melalui seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 74kali Gempa Letusan
  • 62 kali Gempa Hembusan
  • 28 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 11 Mei 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 05:52:13 WIB, pusat gempa bumi berada pada koordinat 3,45° LU dan 126,97°BT dengan magnituda 5,0 SR pada kedalaman 10 km berjarak 71 Km Baratlaut tenggara Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Wilayah Kep. Talaud dan sekitar pusat gempa bumi disusun oleh batuan vulkanik berumur Kuarter, batuan sedimen berumur Tersier. Batuan vulkanik Kuarter bersifat urai/lepas sehigga memperkuat efek goncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Punggungan Mayu, akibat tumbukan antara mikro kontinen Halmahera dan kerak Samudera Sulawesi

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini dirasakan di pos PGA Awu dengan intensitas MMI I. Belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2) Gempa bumi di Baratlaut Sumbawa, NTB

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 11 Mei 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul: 14:33:13 WIB, pusat gempa bumi berada pada koordinat 7,81°LS dan 117,31°BT dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 277 km, pada jarak 93 km Baratlaut Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Daerah paling dekat dengan pusat gempabumi tersusun dari batuan vulkanik dan batugamping berumur Tersier. Batuan berumur Tersier yang belum terdeformasi dan belum lapuk pada umumnya bersifat keras, kuat dan kompak.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Australia ke bawah busur kepulauan Nusa Tenggara.

Dampak Gempa bumi:

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami. Belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa.

3) Gempa bumi di Maluku Tenggara Barat, Maluku

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 11 Mei 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 15:57:31 WIB, pusat gempa bumi berada pada koordinat 6,66° LS dan 129,83°BT dengan magnituda 5,2 SR pada kedalaman 183 km berjarak 195 Km barat laut Maluku Tenggara Barat, Maluku

Kondisi geologi daerah terdekat:

Pusat gempa bumi berada di laut, terasa di daerah sekitar yang disusun oleh batuan vulkanik dan aluvium berumur Kuarter serta batuan sedimen berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan sehingga bersifat, urai, lepas, dan bersifat memperkuat efek goncangan gempa.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan zona subduksi di selatan Laut Banda.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPPD.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

3. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku

Penyebab :Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan ruas jalan utama antar kabupaten di wilayah itu tak dapat dilewati kendaraan apapun karena seluruh badan jalan tertutupi pepohonan dan material longsor di (Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi*, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga berkabut, teramati asap kawah berwarna putih sedang - kelabu dengan ketinggian 50-300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah utara, baratlaut dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 13 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali Gempa Tremor Non Harmonik.
  • 1 kali Getaran Banjir /Lahar dengan amplitudo 35 mm, durasi 2797 detik.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif menurun. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 15 April 2018 pukul 15:03 WITA terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaansecara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 12 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Gunung Merapi secara administratsi terletak di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Terjadi erupsi Gunungapi Merapi pada tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB dengan durasi kegempaan 5 menit. Asap erupsi berwarna kelabu tebal dengan ketinggian kolom mencapai 5500 m di atas puncak, terbawa angin ke arah selatan - timur. Erupsi berlangsung satu kali dan tidak diikuti erupsi susulan. Melalui rekaman seismograf pada 11 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Guguran
  • 3 kali Gempa Tektonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

G. Marapi (Sumatera Barat):

Gunungapi Marapi di Sumatera Barat merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering dalam intensitas yang kecil, namun tanpa didahului oleh gejala peningkatan aktivitas vlkanik yang signifikan. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan. Asap kawah tidak teramati di atas puncak. Melalui seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Agam dan Kabupaten Batusangkar tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Marapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 500-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-5 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur. Melalui seismograf tanggal 11 Mei 2018 tercatat:

  • 74kali Gempa Letusan
  • 62 kali Gempa Hembusan
  • 28 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Mei 2018 pukul 18.26 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

(3) G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut.

(4) G. Marapi, Sumatera Barat.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Mei 2018 pukul 08:10 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 6891 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

(5) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 18:09 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

(6) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.