Laporan Kebencanaan Geologi 22 April 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu 22 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu tebal, tekanan lemah hingga sedang setinggi 50-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah timur, tenggara, selatan, dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 21 April 2018 tercatat:

  • 10 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Low Frekuensi
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali getaran banjir/lahar hujan dengan amplitudo 120 mm, durasi 4088 detik.
  • Getaran Tremor menerus dengan Amplitudo maksimum 5-75 mm dominan (30 mm).

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis dengan ketinggian 300 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat dan baratdaya. Rekaman seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 22 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. 
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2018 pukul 09.48 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 600-700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Dari Pos PGA Dukono suara gemuruh letusan terdengar lemah pada malam hari. Melalui seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Letusan
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait letusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 April 2018 pukul 17:23 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 100 kali Gempa Letusan
  • 76 kali Gempa Hembusan
  • 24 kali Gempa Guguran

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 April 2018 pukul 08:23 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gempa Bumi
1) Laporan perkembangan Tim Tanggap Darurat Gempa bumi Banjarnegara
Gempa bumi terjadi pada tanggal 18 April 2018, pukul 13:28:  WIB, dengan magnituda 4.4 SR pada kedalaman 4 km pada jarak 52 km utara Kebumen. Pasca kejadian gempa bumi telah terjadi gempa bumi susulan beberapa kali dengan magnituda yang lebih kecil.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan patahan di daerah Banjarnegara
Dampak gempa bumi:Korban jiwa 2 orang meninggal dan 21 luka luka. Total rumah rusak: 194 unit. Fasilitas Umum yang rusak 4 masjid  dan 1 sekolah, SMP 2 Kalibening.Lokasi terdampak pada 3 desa, yaitu Desa Kasinoman, Desa Kertosari, Desa Plorengan, Kec. Kalibening.
Kegiatan yang dilakukan Tim Tanggap Darurat sampai dengan tanggal 21 April sebagai berikut:

  • Hari ini Tim melakukan pengukuran mikrotremor dan sosialisasi di dusun Krompyong, desa Karsinoman. Hanya sebagian kecil rumah di dusun ini mengalami kerusakan tetapi ratusan penduduk mengungsi karena trauma. Di dalam sosialisasi kami memaparkan hal yang harus dilakukan sebelum dan pada saat gempa. Kami juga menunjukkan cara pemantauan gempabumi, juga menyarankan penduduk yang rumahnya masih kokoh untuk kembali ke rumah dan tetap waspada.
  • TIm berkoordinasi dengan Bupati, Kodim, Kapolres, dan Kalak BPBD Banjarnegara, di Posko Lapangan Sidakangen.
  • Tim melakukan wawancara dengan media
  • Tim mengikuti rakor BPBD, dan memaparkan hasil pemeriksaan.

BPBD meminta Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi teknis terkait bahaya gempabumi dan ancaman gerakan tanah


2) Gempa bumi di Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku
Informasi Gempabumi:Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 21 April 2018, pukul: 12:06:46 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 7,51° LS  dan 126,78° BT, dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 336 Km, berjarak 56 Km Timurlaut Maluku Barat Daya. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi terutama daerah Kep. Babar dan Pulau Moa. Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan gunung api Kuarter, sedimen dan metamorf Tersier sampai Pra Tersier. Sebagian besar endapan tersebut telah tersesarkan dan terlapukkan. Pada endapan yang terlapukkan dan tersesarkan diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan sumber gempabumi berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia yang menghujam ke arah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempabumi:Belum ada laporan mengenai kerusakan.Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.

3) Gempa bumi di perairan barat Aceh
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari sabtu , 21 April 2018, pukul 22:16 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 96,42° BT dan 1,77° LU, dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 53 km, berjarak 106 km tenggara Kabupaten Simeulue, Aceh. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 96,34° BT dan 1,68° LU, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 33 km. Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 96,252° BT dan 2,188° LU, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 38,8 km. 
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah Pulau Simeulue, Aceh dan Pulau Nias, Sumatera Utara. Kedua pulau tersebut disusun oleh batuan sedimen dan batuan karbonat berumur Tersier serta batuan berumur Pra Tersier, dimana sebagian batuan telah mengalami pelapukan. Batuan yang telah mengalami pelapukan tersebut bersifat urai, lepas, belum kompak sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa bumi:Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.


3. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Brebes , Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat 
  3. Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
  4. Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, , drainase air yang tidak berfungsi baik, erosi sungai serta dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya  terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan lalu lintas terganggu  di  Kabupaten Brebes ( Provinsi Jawa Tengah ) dan di. Kabupaten Solok  (Provinsi Sumatera Barat); satu  rumah ambruk di  Kabupaten  Mamuju,( Provinsi Sulawesi Barat ) dan di Kabupaten Balangan (Provinsi Kalimantan Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu tebal, tekanan lemah hingga sedang setinggi 50-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah timur, tenggara, selatan, dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 21 April 2018 tercatat:

  • 10 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Low Frekuensi
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali getaran banjir/lahar hujan dengan amplitudo 120 mm, durasi 4088 detik.
  • Getaran Tremor menerus dengan Amplitudo maksimum 5-75 mm dominan (30 mm).

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif menurun. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 15 April 2018 pukul 15:03 WITA terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaansecara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis dengan ketinggian 300 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat dan baratdaya. Rekaman seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 22 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 600-700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Dari Pos PGA Dukono suara gemuruh letusan terdengar lemah pada malam hari. Melalui seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Letusan
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait letusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 100 kali Gempa Letusan
  • 76 kali Gempa Hembusan
  • 24 kali Gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2018 pukul 09.48 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 April 2018 pukul 17:23 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 April 2018 pukul 08:23 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret 2018  akan  relaif potensinya menurun di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Brebes , Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat
  3. Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
  4. Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat
  5. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
  6. Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan
  7. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
  8. Kabupaten Kampar,Provinsi  Riau
  9. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
  10. Kota  Sungai Penuh, Propinsi Jambi
  11. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  12. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
  13. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  14. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  15. Kabupaten Gorontalo Utara,  Provinsi Gorontalo
  16. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur,
  17. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara,.

Kejadian Gerakan Tanah terbaru
1. Kabupaten Brebes , Provinsi Jawa Tengah 
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di Desa Mendala Kecamatan Siranpog Kabupaten Brebes, pada tanggal 21 April 2018 Pukul 15.00 WIB. Tepatnya pada Jalan provinsi penghubung Bumijawa Kabupaten Tegal dengan Sirampog Kabupaten Brebes. Tebing penahan kantor desa longsor pada pukul 15.00 WIB. Longsor terjadi setelah hujan deras menggurur daerah tersebut sejak pukul 13.00 WIB.Longsor dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 3 meter tersebut menutup sebagian badan jalan.
https://kumparan.com/portal-pantura/breaking-news-tebing-longsor-jalan-provinsi-tersendat
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan , tanah tebal dan dipicu curah hujan tinggi

2. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat 
Gerakan tanah di Desa Korongana, Kec. Simboro, Kab. Mamuju, pada tanggal 21 April 2018 pukul 14.00 WIB. Longsor didahului dengan hujan selama 4 jam yang menyebabkan rumah di jalan pattanan Endeng longsor. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
https://mamujupos.com/satu-rumah-di-simboro-amblas-diterjang-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan , batuan dan tanah  dipicu curah hujan tinggi

3. Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
Gerakan Tanah Terjadi di Desa Layap, Paringin kota, Balangan. 1 rumah ambruk terkena longsor. dan tidak ada korban dalam kejadian tersebut. warga bersama BPBD Balangan mengevakuasi isi rumah yang terkena longsor. Longsor di akibatkan karena curah hujan yang tinggi dalam waktu yang lama serta posisi tumah tersebut di bibir sungai.
https://www.instagram.com/p/Bh03kx6lmIM/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat, kelerengan , batuan dan tanah  pelapukan yang mudah tererosi, tebing sungai tergerus oleh arus sungai  yang meluap saat terjadinya curah hujan tinggi

4. Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di Nagari Kacang Kec. X Koto Dibawah Kab. Solok. Kejadian diperkirakan pukul 05.00 wib (20/04), titik longsor terjadi pada Km 27 Jalan Lintas Sumatera tepatnya di Tonggak Tujuh Jorong Tembok Nagari Kacang Kec. X Koto Dibawah Kab Solok. Akibatnya arus lalu lintas melalui jalan raya sepanjang pinggiran danau Singkarak sempat terganggu.Gerakan tanah juga  terjadi di jalan Kabupaten Lingkar Nagari Kacang Napa Jorong Tembok Nagari Kacang Kec.X Koto Dibawah Kab Solok. km 27 Tonggak 7, jalan raya tertutup sepanjang 20 meter menutupi seluruh badan jalan, menyebabkan arus lalu lintas pagi tadi macet total alias tidak bisa dilewati, karena tanah yang longsor tersebut menutupi badan jalan cukup tinggi akibatnya akses jalan menjadi licin dan berlumpur, tanah bercampur batuan gunung dan berlumpur diperkirakan akibat longsoran dari bukit di sisi kanan jalan, sehingga sebagian jalan yang tidak tertutup longsor apabila dilewati kendaraan pengendara harus berhati – hati, sedangkan akses lalu lintas pada jalan Kabupaten Lingkar Nagari.
https://tribratanews.sumbar.polri.go.id/index.php/2018/04/21/longsor-dibeberapa-titik-sempat-macetkan-arus-lalu-lintas-di-jalinsum-pinggiran-danau-singkarak/
Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau pada saat terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi: 

  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana maupun pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, diminta kewaspadaan tinggi, dan disarankan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
  • Pemilik rumah yang terancam longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Agar  membangun tanggul sementara untuk menghindari dampak tanah longsor yang lebih besar. 
  • Agar masyarakat untuk tidak membangun tempat tinggal karena selain melanggar garis sepadan sungai juga dapat membahayakan keselamatan jiwa.  
  • Pemilik rumah yang terancam longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana maupun pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, diminta kewaspadaan tinggi, dan disarankan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.