Laporan Kebencanaan Geologi 9 April 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 9 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu intensitas tipis - tebal, tekanan lemah setinggi 50-200 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah barat dan barat daya. Melalui rekaman seismograf pada 8 April 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Low Frekuensi

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - sedang setinggi 200 - 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan timur. Rekaman seismograf tanggal 8 April 2018 tercatat:

  • 16 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 9 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan tekanan sedang ketinggian 600-700 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 8 April 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 3 kali Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 8 April 2018 tercatat:

  • 106 kali Gempa Letusan
  • 58 kali Gempa Hembusan
  • 29 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2018 yang dibandingkan bulan Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

2.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur

3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

4. Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau

5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

6. Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi yang dipicuh curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan enam rumah warga rusak, 12 unit kendaraan rusak dan satu warga meninggal dunia di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat);satu jembatan utama penghubung antar desa retak di Kabupaten Trenggalek (Provinsi Jawa Timur); akses jalan terputus di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat) dan di Kabupaten Kuansing (Provinsi Riau); 4 rumah rusak dan akses transportasi terhambat di Kabupaten Cianjur (Provinsi Jawa Barat);talud rusak dan akses jalan di Kabupaten Kebumen (Provinsi Jawa Tengah)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Perairan Barat Lampung, Lampung

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 8 April 2018, pukul 23:04:15 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 103,87° BT dan 6,47° LS, dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 142 km barat daya pesisir barat Lampung. Berdasarkan GFZ Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 103,88° BT dan 6,55° LS, dengan magnitudo M4,8 pada kedalaman 76 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut dan berdekatan dengan provinsi Lampung. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan batuan vulkanik berumur Tersier dan Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Liwa, Lampung dengan intensitas III-IV MMI. Gempa bumi ini tidak memicu tsunami. Belum ada informasi kerusakan dan korban jiwa.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

II. DETAIL

1. Gunung Api

  1. Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
  2. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  3. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  4. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);
  5. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu intensitas tipis - tebal, tekanan lemah setinggi 50-200 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah barat dan barat daya. Melalui rekaman seismograf pada 8 April 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Low Frekuensi

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, namun pada tanggal 6 April 2018 pukul 01.37 terjadi erupsi dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - sedang setinggi 200 - 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan timur. Rekaman seismograf tanggal 8 April 2018 tercatat:

  • 16 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 9 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan tekanan sedang ketinggian 600-700 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 8 April 2018 tercatat:

- 3 kali Gempa Letusan

- 3 kali Tektonik Jauh

- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 8 April 2018 tercatat:

  • 106 kali Gempa Letusan
  • 58 kali Gempa Hembusan
  • 29 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2018 yang dibandingkan bulan Maret 2018 akan relaif potensinya menurun di seluruh indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir terjadi di:

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

2.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur*,

3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

4. Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau*,

5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*,

6. Kebumen, Provinsi Jawa Tengah*,

7. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat,

8. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan,

9. Kabupaten Aceh Timur, Aceh,

10.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung,

11.Kota Tanggerang, Provinsi Banten,

12. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,

13. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,

14. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,

15. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung,

16. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung,

17.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,

18.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Sebanyak enam rumah warga yang berada di Kampung Cisarua, RT 04 RW 05, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, rusak diterjang tanah longsor dan banjir bandang. Longsor terjadi saat hujan deras mengguyur Kecamatan Sukamakmur sekira pukul 18.40 WIB pada Sabtu 7 Maret 2018.

Banjir bandang dan longsor itu karena luapan air dari Kali Cisarua akibat hujan deras Sabtu kemarin. Data sementara, ada enam bangunan rumah warga yang rusak berat. musibah tersebut juga menelan 12 unit kendaraan. Tidak hanya itu, longsor serta banjir bandang memutus jalan yang menghubungkan Sukamakmur dengan Cipanas di Kabupaten Cianjur.

Akibat kejadian tersebut, seorang nenek bernama Mari (70) meninggal dunia karena tertimbun tanah longsor. Sementara enam warga lainnya yakni Entos, Mista, Amir, Olih, Diman, dan Yanto bisa selamat.

Sumber : https://news.okezone.com/read/2018/04/08/338/1883706/banjir-bandang-dan-longsor-terjang-bogor-1-orang-meninggal

Penyebab tanah longsor diduga akibat lereng yang terjal dengan curah hujan yang tinggi di atas normal.

2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur

Tingginya intensitas curah hujan di Trenggalek mengakibatkan tanah longsor. Imbasnya, satu jembatan utama penghubung antar desa retak parah. Tanah longsor yang terjadi di Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek, mengakibatkan tebing sepanjang 10 meter dengan tinggi dua meter di belakang perkampungan warga ambrol.

Selain tanah longsor hujan yang berlangsung selama lebih dari tiga jam tersebut juga mengakibatkan salah satu jembatan utama penghubung desa di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan mengalami retak parah. Retakan terjadi pada kedua sisi jembatan serta bagian bawah, sehingga infrastruktur tersebut tidak dapat difungsukan untuk akses sepeda motor maupun mobil.

 

Sumber : https://news.detik.com/jawatimur/3960034/akibat-longsor-di-trenggalek-satu-rumah-rusak-dan-jembata retak?utm_source=twitter&utm_medium=oa&utm_content=detiksby&utm_campaign=cmssocmed

Penyebab infrasrtuktur yang rusak akibat curah hujan tinggi yang menyebabkan aliran sungai dalam kota mengalami peningkatan yang signifikan.

3. Kabupaten Bogor, Provinsi iJawa Barat

Akses jalan penghubung antara RT 1 dan 4 RW 6 Kampung Baru Desa Neglasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor amblas akibat longsor pada Sabtu malam (7/4/2018). Curah hujan yang cukup tinggi kemarin malam menjadi penyebab longsor dan amblasnya jalan tersebut.

Longsoran tanah itu menutupi sebagian aliran sungai Cihideung Ilir.

Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2018/04/08/tanah-longsor-di-desa-neglasari-tutupi-aliran-sungai-cihideung-ilir

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan tinggi pada hari sabtu malam.

4. Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau

Jalan nasional yang menghubungkan Sumbar-Riau via Teluk Kuantan menuju Kiliran Jao dan sebaliknya terancam putus akibat turap penahan tebing amblas atau longsor dikawasan tanjakan Bukit Betabuh desa Kasang kecamatan Kuantan Mudik, Minggu ( 8/4/2018 ) siang. Hal ini terjadi akibat wilayah Kuansing dan sekitarnya diguyur hujan lebat dari Sabtu ( 7/4/2018 ) malam hingga Minggu siang.

Turap jalan yang amblas sepanjang lebih kurang 100 meter tersebut terletak pada tanjakan tertinggi diarea perbukitan Bukit Betabuh .

Sumber : http://kuansingterkini.com/berita/detail/7761/2018/04/08/longsor-di-bukit-betabuh,-jalan-sumbar-riau-dan-lintas-tengah-sumaera-terancam-putus?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Penyebab gerakan tanah diduga akibat hujan lebat yang mennguyur daerah Bukit Betabuh dari Sabtu malam hingga minggu siang.

5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Hujan deras yang mengguyur kota Cianjur menyebabkan bencana banjir bandang hingga longsor terjadi di sejumlah kampung, Sabtu (7/4/2018). peristiwa bencana alam ini terjadi pada Sabtu sekitar pukul 18.30 WIB. Bagian belakang 4 rumah di Kampung Pamoyanan, RT 02 RW 05, tergerus luapan air Sungai Cianjur. Begitupun di RT 002, RW 021, Kekurahan Pamoyanan, Kecamatan/Kabupaten Cianjur, bagian belakang dua rumah tergerus air. Sedang di Kampung Hutan Wangun, Desa Wangunjaya, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, tanah longsor menutupi badan jalan yang mengakibatkan akses dari Kecamatan Naringgul menuju Kecamatan Cidaun lumpuh.

Bencana alam juga terjadi di wilayah Polsek Pacet. Hujan mengakibatkan benteng atau tebing milik Hotel Princes tepatnya di Kampung Bojong, RT 03 RW 02, Desa Batulawang, Kecamatan Pacet, Cianjur, ambrol tergerus longsor. Sedang di Lembah Koi Kampung Tugaran, RT 03 RW 12, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, telah terjadi pohon tumbang dan tanah longsor yang menutupi akses jalan.

Longsor juga terjadi di Jalan Raya Ciherang, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, tepat di seberang Jalan Rindu Alam 3 dan bersampingan dengan Lembah Bukit Lestari. Tembok setinggi 2 meter dan lebar 4 meter rubuh. Longsoran hanya sampai bibir jalan sehingga tidak memakan jalan.

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/04/08/16531241/banjir-dan-longsor-terjang-cianjur-sejumlah-rumah-rusak-dan-1-mobil-hanyut.

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan tinggi di atas normal.

6.Kabupten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

Hujan deras disertai angin yang mengguyur wilayah Kecamatan Sadang telah mengakibatkan tanah longsor dibeberapa titik pada Sabtu, (7/4)sore. Salah satu titik longsor terjadi pada tebing yang terletak di jalan raya Sadang tepatnya di kawasan hutan Buncing masuk Desa Seboro.

Material longsor dengan luas sekitar 15 x 5 meter telah menutup separo jalan utama. Selain longsoran tanah, hujan yang disertai angin juga mengakibatkan satu buah pohon pinus tumbang dan melintang menutup jalan raya.

Pada waktu yang hampir bersamaan longsor juga menimpa bangunan talud di pinggir depan rumah Budi Prasetyo (55) warga Dukuh Krajan Rt.05/01 Seboro, dengan luas material longsor 15 x 8 meter.

Sumber :https://tribratanews.jateng.polri.go.id/2018/04/08/longsor-kembali-melanda-wilayah-kecamatan-sadang/

Penyebab longsor diduga akibat hujan lebat disertai angin yang terjadi pada sabtu malam.

Rekomendasi :

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing tersebut.
  • Pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya tanah longsor.
  • Penataan dan perbaikan sistem pengaliran air permukaan (Drainase) dengan mengarahkan aliran air melalui saluran yang kedap.
  • Pelandaian lereng dengan mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
  • Warga pengguna jalan di Desa Neglasari, Kecamatan Dramaga agar berhati-hati saat melintas daerah tersebut.
  • Menormalisasi atau membersihkan material longsor yang menutupi aliran sungai Cihideung Ilir
  • Membuat patok/tanggul sementara untuk menahan amblesan/longsor
  • Pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya tanah longsor
  • Pengendara mobil dan kendaraan berat agar mengindari jalur tersebut dan mencari jalur alternative lain untuk menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan.
  • Warga yang bertempat tinggal di daerah sekitar longsor untuk mengungsi ke tempat yg lebih aman, dan tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
  • Normalisasi arus lalu lintas dengan segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan.
  • Pembersihan material longsoran agar dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan. Kegiatan ini hendaknya tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.