Laporan Kebencanaan Geologi 02 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Jumat 02 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 01 Februari 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 02 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • Nihil Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • Nihil Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap di kawah utama dengan ketinggian 100-500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur dan baratdaya. Letusan dengan tinggi kolom abu 1500 m di atas puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 500-1500 m ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 01 Februari 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Letusan
  • 30 kali Gempa Guguran
  • 12 kali Gempa Low-Frequency
  • 9 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dalam.
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 01 Februari 2018 pukul 21:42 WIB, terkait letusan selama 417 detik. Tinggi kolom abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak  condong ke arah selatan.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan di kawah utama dengan ketinggian 100-300 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Melalui seismograf tanggal 01 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan nihil.
  • Gempa Tektonik Lokal 1 kali (Tidak terasa).

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2018 pukul 19:27 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Pada 30 Januari 2018 rekorder seismograf merekam :

  • 45 kali gempa letusan
  • 32 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 01 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :

  • 1 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Badung, Provinsi  Bali
  2. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kelerengan, material tanah bersifat porous dan labil, drainase tidak ada / tidak berfungsi, serta tingginya curah hujah sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah sehingga lereng menjadi tidak stabil. 
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  4 ekor ternak babi tewas di Kabupaten Badung (Prov. Bali); lalu lintas terganggu di  Kabupaten Blitar (Prov. Jawa Timur)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempabumi Wakatobi  - Sulawesi Tenggara
Informasi Gempabumi:Gempabumi terjadi pada hari kamis 1 februari. 2018 pukul 13:22:02 WIB, dengan pusat gempabumi terletak di perairan  laut banda Menurut BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat -4.79. LS dan 125.18.BT, dengan magnituda 5,1 SR pada kedalaman 110 km, berjarak 185 km timurlaut Sulawesi Tenggara.
Penyebab Gempabumi: diperkirakan berasosiasi dengan subduksi di Laut Banda pada Zona Benioff. 
Dampak gempabumi: Belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan.Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi  susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut dan hujan. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 01 Februari 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 02 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • Nihil Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • Nihil Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-400 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur dan baratdaya. Letusan dengan tinggi kolom abu 1500 m diatas puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 500-1500 m ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 02 Februari 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Letusan
  • 30 kali Gempa Guguran
  • 12 kali Gempa Low-Frequency
  • 9 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik
  • Nihil Gempa  Vulkanik Dangkal
  • Nihil Gempa  Vulkanik Dalam
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan/letusan di kawah utama dengan ketinggian 100-300 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Melalui seismograf tanggal 01 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-24 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan nihil.
  • Gempa Tektonik Lokal 1 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Pada 30 Januari 2018 rekorder seismograf merekam :

  • 45 kali gempa letusan
  • 32 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 01 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :

  • 1 kali Gempa Fase Banyak.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:55 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 01 Februari 2018 pukul 21:42 WIB, terkait letusan selama 417 detik. Tinggi kolom abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak condong ke arah selatan.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2018 pukul 19:27 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Badung, Provinsi  Bali
  2. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  3. Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten
  4. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta
  5. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
  6. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  8. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  9. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur
  10. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  11. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur
  12. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  13. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
  14. Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  15. Kabupaten  Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  16. Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  17. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  18. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  19. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
  20. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur
  21. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  22. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta
  23. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
  24. Kabupaten, Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara
  25. Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah
  26. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I.Yogyakarta.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Badung, Provinsi Bali
Akibat curah hujan tinggi senderan jalan ditanah milik Wayan Ngempi di Banjar Batulantang,Desa Sulangai,Petang longsor.Kamis(1/2/1018) sekitar pukul 06.00 Wita. Akibat kejadian tersebut kandang babi milik Wayan Ngempi tertimbun tanah longsor dimana dalam kandang tersebut berisi 16 ekor babi dengan rincian 4 ekor babi mati dan sisanya 12 ekor ditemukan masih hidup. Kapolsek Petang AKP Ketut Edi Susila membenarkan kejadian tanah longsor yang menimpa kandang babi milik Wayan Ngempi,akibatnya korban menderita kerugian mencapai Rp.50 juta.
Sumber: https://www.mediapelangi.com/kapolsek-petang-cek-lokasi-tanah-longsor-di-desa-sulangai/
Jenis gerakan tanah diperkirakan longsoran. Gerakan tanah diperkirakan dikontrol kelerengan, tanah pelapukan tebal serta saluran drainase yang kurang baik dan dipicu curah hujan yang tinggi sebelun dan atau saat terjadinya geran tanah.

2. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Jalan penghubung Blitar-Malang di Desa Banjarsari. Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, mengalami tanah retak pada Kamis (1/2/2018) pukul 07.00. Hal tersebut terjadi akibat hujan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut semalaman. Retakan ini bisa semakin lebar apabila tidak segera diperbaiki yang akan mengganggu lalu lintas. kejadian itu tepatnya di sekitaran jembatan sungai Kalilegi di desa tersebut. Setelah dicek di seberang jalan (selatan jalan ) prlengsengan dengan ukuran 25 x 15 meter mengalami longsor. Akibat pelengsengan longsor tersebut, jalan Blitar-Malang menjadi retak sepanjang 6 meter.
Sumber; http://m.jatimtimes.com/baca/166251/20180201/120608/diguyur-hujan-jalur-blitarmalang-di-kecamatan-selorejo-retak/
Gerakan tanah yang terjadi berupa retakan dan longsoran. Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang curam, curah hujan yang tinggi, dan penataan drainase yang kurang baik.

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat yang tinggal, yang beraktivitas dan melintas di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama;
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran;
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.;
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng;
  • Dilarang melakukan pemotongan lereng tegak dan memperhatikan aspek keteknikan tanah dan batuan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Segera memberi dinding penahan erosi pada tebing sungai agar tidak mudah tererosi;
  • Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga ada perkuatan pada lereng dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat;
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.