Laporan Kebencanaan Geologi 27 Januari 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

 

Hari ini, Sabtu 27 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):

 

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).

 

Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 26 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 11 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-20 mm (dominan 2 mm).

 

Tanggal 27 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 12 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-8 mm (dominan 21 mm)

 

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

 

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

 

 

G. Sinabung (Sumatera Utara):

 

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

 

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50-70 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur, tenggara, barat. Guguran material pijar dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah timur-tenggara.Melalui rekaman seismograf pada 26 Januari 2018 tercatat:

  • 64 kali Gempa Guguran
  • 13 kali Gempa Low-Frequency
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Hembusan

 

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

 

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

 

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Januari 2018 pukul 08:39 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan-baratdaya.

 

G. Dukono (Halmahera):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

 

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200-600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Letusan teramati setinggi 600 m diatas puncak.  Melalui seismograf tanggal 26 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-14 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 3 kali.
  • Gempa Tektonik Jauh 1 kali

 

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

 

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Januari 2018 pukul 10:13 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

 

G. Ibu (Halmahera):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

 

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik.  Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah timur. Pada 26 Januari 2018 rekorder seismograf tidak dapat merekam gempa dengan baik karena mengalami kerusakan (carrier off).

 

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

 

 

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.

 

Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 26 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

 

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

 

2. Gerakan Tanah

 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

 

Gerakan tanah terakhir terjadi :

 

1.            Kabupaten Blitar, Provinsi  Jawa Timur

2.            Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah

3.            Kabupaten  Lumajang, Provinsi Jawa Timur

4.            Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

 

 

Penyebab  :

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kelerengan, tanah pelapukan yang bersifat porus dan labil   , tanah dan batuannya bersifat lepas dan mudah tererosi, drainase tidak berfungsi yang  dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah dan gempa bumi.

 

Dampak  :

Gerakan tanah / tanah longsor tiga rumah rusak berat di Kabupaten Blitar (Provinsi  Jawa Timur); akses jalan tertutup, jembatan rusak , sau orang luka , 66 rumah rusak dan satu rusak berat  di Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah); lalu lintas transportasi terganggu di Kabupaten Lumajang (Provinsi Jawa Timur); satu rumah rusak diKota Bogor (Provinsi  Jawa Barat)

 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi

 

1). Laporan Perkembangan Gempa bumi Lebak

 

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 23 Januari 2018, pukul 13:34 WIB dengan M 6.1, kedalaman 61 km (update BMKG) dan menimbulkan kerusakan di daerah Lebak, Pandeglang dan sekitarnya. Gempa bumi ini juga dirasakan di area yang cukup luas seperti Jakarta, Bandung, Bogor dan Cibinong. Gempa bumi utama ini diikuti oleh gempa bumi susulan yang magnituda lebih kecil.

 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi - Badan Geologi mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke lokasi pada tanggal 24 Januari 2018. Berikut ini laporan kegiatan Tim tanggal 26 Januari 2018:

 

1) Pengukuran mikrotremor dilakukan di Kp. Gempol dan Kp. Tarikkolot di Desa Sawarna dan di Muara Binuangeun. Kp. Gempol merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak paling besar akibat Gempa Lebak 23 Januari 2018, sedangkan di Kp. Tarik Kolot gempabumi hanya menyebabkan retakan kecil pada beberapa bangunan. Di Kec. Muara Binuangeun, getaran gempa terasa kuat namun tidak menimbulkan kerusakan, sejumlah genteng terjatuh dari sejumlah rumah.

 

2) Di ketiga tempat tersebut, goncangan gempabumi terasa kuat dengan gerakan naik-turun.

 

3) Melakukan pengukuran mikrotremor di Kp. Tarikkolot dan Kp. Gempol (Desa Sukawarna) serta di Muara Binuangeun. Kampung Gempol merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak terbesar Gempa bumi Lebak. Sementara di Kp. Tarik kolot, gempabumi tidak memberikan dampak signifikan, hanya menyebabkan retakan kecil pada rumah. Sedangkan di Muara Binuangeun, tidak diketemukan adanya kerusakan.

 

 

2). Gempa bumi di Halmahera Selatan

 

Informasi Gempa Bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 26 Januari 2018, pukul 17:43:46 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126.85° BT dan 1.12° LS, dengan kekuatan 5,4 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 106 km  baratlaut Halmahera Selatan, Maluku Utara.

 

Penyebab gempa bumi:

Dipeekirakan berasosiasi dengan aktivitas kelurusan zona subduksi Punggungan Mayu.

 

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

 

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

 

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

 

a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);

 

c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

 

Gunungapi Agung (Bali).

 

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung.

 

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).

 

Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 26 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 11 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-20 mm (dominan 2 mm).

 

Tanggal 27 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 12 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-8 mm (dominan 21 mm)

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

 

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

 

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50-70 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah timur, tenggara, barat. Guguran material pijar dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah timur-tenggara.Melalui rekaman seismograf pada 26 Januari 2018 tercatat:

  • 64 kali Gempa Guguran
  • 13 kali Gempa Low-Frequency
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Hembusan

 

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.

 

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

 

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

 

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

 

 

Gunungapi Dukono (Halmahera).

 

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

 

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200-600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Letusan teramati setinggi 600 m diatas puncak.  Melalui seismograf tanggal 26 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-14 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 3 kali.
  • Gempa Tektonik Jauh 1 kali

 

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

 

 

Gunungapi Ibu (Halmahera).

 

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

 

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik.  Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah timur. Pada 26 Januari 2018 rekorder seismograf tidak dapat merekam gempa dengan baik karena mengalami kerusakan (carrier off).

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

 

 

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

 

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.

 

Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut sehingga pengamatan secara visual asap kawah tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 26 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

 

 

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

 

 

VONA terakhir yang terkirim:

 

(1) G. Agung, Bali.

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

 

(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Januari 2018 pukul 08:39 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah selatan-baratdaya.

 

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Januari 2018 pukul 10:13 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

 

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

 

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

 

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah

 

Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

 

1.  Kabupaten Blitar, Provinsi  Jawa Timur*,

2. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah*,

3. Kabupaten  Lumajang, Provinsi Jawa Timur*,

4. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

5.Kabupaten Badung, Provinsi Bali,

6.Kabupaten Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah,

7.Kabupaten Malang,  Provinsi Jawa Timur,

8.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,

9.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,

10.Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali,

11. Kabupaten  Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,

12. Kabupaten  Bangli, Provinsi Bali,

13. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,

14. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,

15. Kabupaten Tabanan , Provinsi Bali,

16. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur,

17. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah,

18. Kabupaten Sleman, Provinsi DI.Yogyakarta,

19. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah,

20.Kabupaten Wonosari, Provinsi DI.Yogyakarta,

21. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,

22. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,

23.Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta,

24.Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur,

25.Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah,

26.Kota Yogyakarta, Provinsi D.I. Yogyakarta,

27.Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,

28.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah,

29. Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

 

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

 

1.   Kabupaten Blitar, Provinsi  Jawa Timur

 

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Blitar, menyebabkan sebuah tebing setinggi 15 meter longsor dan menimpa tiga bangunan rumah milik warga di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Jumat (26/1/2018). pemilik rumah sempat lari saat longsor terjadi. Namun akibat kejadian ini, rumah warga tersebut dalam kondisi hancur dan tidak bisa dihuni kembali.

Tiga bangunan rumah tinggal milik Parno (60), warga Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Jumat pagi rusak parah. Tebing setinggi 15 meter yang berada di atas rumah tersebut longsor pascahujan deras yang mengguyur wilayah ini sejak Kamis, 25 Januari 2018, kemarin. longsor terjadi pada malam hari saat korban tertidur. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun rumah korban hancur dan tidak bisa ditempati untuk sementara. Kini warga bersama sejumlah petugas dari Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polisi bahu-membahu membersihkan puing-puing reruntuhan tanah. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

 

Sumber  : http://www.inews.id/daerah/jatim/tanah-longsor-timbun-3-bangunan-rumah-milik-warga-di-blitar

 

Penyebab gerakan tanah adalah kemeiringan lereng yang dipicu oleh hujan deras yang terjadi sejak satu hari sebelumnya.

 

2. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah

 

Hujan lebat yang terjadi di wilayah Kabupaten Wonogiri, Jumat 26 Januari 2018 telah menyebabkan bencana alam di sejumlah tempat. Di Desa Temboro, Kecamatan Karang Tengah, ada 33 rumah rusak, satu diantaranya roboh tertimpa longsoran tanah. Di Desa Ngambarsari, Kecamatan Karang Tengah, ada empat rumah mengalami kerusakan, akses jalan dari Desa Karangtengah ke Desa Purwoharjo tertutup longsoran di dua tempat.

Desa Sidorejo Kecamatan Tirtomoyo, dua rumah rusak. Di Desa Hargorejo, Tirtomoyo dua rumah rusak. Di Desa Wiroko, Tirtomoyo, jembatan Wiroko ( arah Desa Banyakprodo – Desa Wiroko ) terputus akibat banjir dan jembatan Dungserni (Arah Dlepih – Wiroko ) mengalami longsor. Di Desa Sukoharjo, Tirtomoyo satu rumah mengalami kerusakan.

Di Desa Dlepih, Tirtomoyo, fasilitas umum jaringan listrik tertimpa pohon bambu. Di Desa Hargosari, Tirtomoyo, satu rumah warga mengalami kerusakan dan akses jalan Desa Sukoharjo – Hargosari tertimpa longsoran besar di sebelah atas jembatan Plumbon sehingga mobilitas tertutup. Di Desa Sukoharjo, Tirtomoyo satu rumah mengalami kerusakan tertimpa longsoran dan di Desa Tanjungsari tercatat ada sembilan rumah dan dua rumah tergenang banjir.

Di wilayah Kecamatan Jatiroto, bencana alam terjadi di Desa Brenggolo satu rumah terancam longsor, akses jalan tertutup sembilan rumah terisolir. Di wilayah Kecamatan Giriwoyo, bencana alam terjadi di Desa Pidekso 1 rumah mengalami keruskan akibat tertimpa longsoran tanah dan satu orang warga mengalami luka-luka. Dan di Desa Tukulrejo satu rumah tertimpa longsoran.

Di wilayah Kecamatan Batuwarno bencana alam ada di Desa Sendangsari empat rumah mengalami kerusakan, di Desa Selopuro satu rumah mengalami kerusakan, di Desa Tegiri tujuh rumah mengalami kerusakan. Juga titik ruas jalan Batuwarno – Sendangsari terkikis longsor dan tertutup material longsoran ( longsor di lima titik dan satu titik tertimpa longsoran).

Bencana alam juga ditemukan di wilayah Kecamatan Selogiri. Di Desa Pare satu rumah mengalami kerusakan tertimpa longsoran tanah.

 

Sumber : https://www.fokusjateng.com/2018/01/26/tanah-longsor-di-wilayah-wonogiri-rusak-rumah-dan-tutup-akses-jalan-warga/

 

Penyebab gerakan tanah adalah kemiringan lereng yang terjal dan pelapukan batuan serta dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.

 

3. Kabupaten  Lumajang, Provinsi Jawa Timur

 

Hujan deras yang mengguyur di kawasan Gunung Semeru, menyebabkan tanah longsor dan pohon tumbang di Dusun Sidoddadi Desa Ranupane Kecamatan Senduro, Jum'at (26/1/2018).

Akibat tanah longsor, Jalur Lumajang-Malang yang melintasi Desa tertinggi di Pulau Jawa itu tutup total. Warga bersama petugas BPBD langsung melakukan evakuasi material longsoran. tinggi curah hujan di kawasan Gunung Semeru menyebabkan tanah menjadi gembur dan mudah longsor. Selain itu, debit air sungai juga mengalami peningkatan intensitas.

 

Sumber  : https://nasional.inilah.com/read/detail/2433212/hujan-jalur-ke-ranupane-tertutup-tanah-longsor

 

Penyebab gerakan tanah adalah tanah yang gembur, kemiringan lereng yang terjal yang dipicu oleh tingginya curah hujan.

 

 

4. Kota Bogor, Jawa Barat

 

Waktu Kejadian : Jumat, 26 Januari 2018 (Pukul 04.30 WIB).

Lokasi Kejadian : Wilayah Kp. Cilungbang Lebak RT 001/RW 001, Kel. Situ Gede, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor.

Nama Pemilik : Rumah milik Ibu Mimin (65) 2 KK/7 Jiwa.

Dampak Kejadian : Tebingan longsor terletak di belakang rumah bagian dapur milik Ibu Mimin dan berdampak ke tembok dapur yang retak.

Kondisi saat ini : Terpal sudah dipasang oleh Tim TRC-PB BPBD Kota Bogor dilokasi kejadian.

 

Sumber : https://bpbd.kotabogor.go.id/index.php/bencana/detail/526/Tanah-Longsor-di-Kelurahan-Situ-Gede-Bogor-Barat

 

Penyebab Kejadian : Tanah longsor di sebabkan oleh Gempa pada tempo hari sehingga terdapat retakan ditebing, kejadian di perparah oleh hujan dengan intensitas sedang yang membuat tebing tidak kuat dan terjadilah longsor.

 

 

*Rekomendasi:

 

 

  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana maupun pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
  • Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
  • Mewaspadai retakan - retakan akibat gempa utamanya saat curah hujan tinggi dan segera berpindah sementara ke lokasi yang lebih aman.
  • Agar warga terdampak longsoran dipindahkan ke lokasi yang lebih aman;
  • Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan;
  • Melakukan monitoring dan segera melaporkan jika ada potensi longsor;
  • Membangun penahan erosi, jika tidak,  agar tidak membangun pemukiman di dekat tebing  / lereng ;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas jalan tersebut;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.