Laporan Kebencanaan Geologi 27 Desember 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 27 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2017 tercatat:

  • 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)]
  • 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 16 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Tremor Harmonik
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 27 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku pada radius 8-10 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan NORMAL dan masih tetap AMAN.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, sehingga hembusan asap dari arah kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali gempa letusan pada pukul 11:37 dan 19:52 WIB disertai Awan Panas Guguran  dengan tinggi kolom abu 1500 m diatas puncak dan jarak luncur awan panas guguran 2500 m ke arah tenggara-timur, dan 58 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran 500 m ke arah timur-tenggara.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 200-300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 26 Desember 2017 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-8 mm (dominan 1 mm).
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Desember 2017 pukul 07:45 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 300-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 26 Desember 2017 tercatat:

  • 106 kali gempa letusan
  • 70 kali gempa Hembusan
  • 28 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut, sehingga tinggi asap kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 26 Desember 2017 tercatat:

  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tornillo
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara

2. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

3. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

4. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat

5. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten

6. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

7. Kabupaten Tapanuli Selatan , Provinsi Sumatera Utara

Penyebab

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, tembok penahan tidak kuat,  drainase air  yang tidak berfungsi / tidak ada, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak

Gerakan tanah mengakibatkan  jalan  tertutup dan lalu lintas terhambat di Kabupaten Mandailing Natal (Provinsi Sumatera Utara),  Kabupaten Agam ( Provinsi Sumatera Barat),  Kota Padang (Provinsi Sumatera Barat) dan Kabupaten Tapanuli Selatan  (Provinsi Sumatera Utara)  ; menutup saluran irigasi di Kabupaten Tabanan (Provinsi Bali); Wisata Air Terjun Curug Putri ditutup sementara di Kabupaten Padeglang (Provinsi Banten);  satu sekolah rusak di Kabupaten Klungkung (Provinsi Bali)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Baratlaut Maluku Tenggara Barat, Maluku.

Informasi Gempa Bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 26 Desember 2017, pukul 10:45:10 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 129,82° BT dan 7,14° LS, dengan kekuatan 5,0 SR pada kedalaman 159 km, berjarak 176 km barat laut Maluku Tenggara Barat, Maluku.

Penyebab gempa bumi:

diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman di Laut Banda.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);

c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).

Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2017 tercatat:

  • 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA
  • 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 16 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Tremor Harmonik
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 27 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, sehingga hembusan asap dari arah kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali gempa letusan pada pukul 11:37 dan 19:52 WIB disertai Awan Panas Guguran  dengan tinggi kolom abu 1500 m diatas puncak dan jarak luncur awan panas guguran 2500 m ke arah tenggara-timur, dan 58 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran 500 m ke arah timur-tenggara.

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 200-300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 26 Desember 2017 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-8 mm (dominan 1 mm).
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 300-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 26 Desember 2017 tercatat:

  • 106 kali gempa letusan
  • 70 kali gempa Hembusan
  • 28 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.

Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut, sehingga tinggi asap kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 26 Desember 2017 tercatat:

  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tornillo
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Desember 2017 pukul 07:45 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara*,

2.  Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat*,

3. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali*,

4. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat*,

5. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten*,

6. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali*,

7. Kabupaten Tapanuli Selatan , Provinsi Sumatera Utara*,

8. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat ,

9.  Kabupaten Kampar, Provinsi Riau ,

10. Kabupaten Majene, Sulawesi Barat,

11. Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara,

12. Kabupaten  Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,

13. Kabupaten  Batang,  Provinsi Jawa Tengah,

14. Kabupaten  Banjarnegara,  Provinsi Jawa Tengah ,

15.  Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur,

16. Kabupaten Magelang  , Provinsi Jawa Tengah,

17 .Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Sumatera Barat,

18. Kabupaten Muara Enim , Provinsi Sumatera Selatan,

19. Kabupaten Pacitan , Provinsi Jawa Timur,

20. Kabupaten Bantul, Provinsi  DI. Yogyakarta,

21. Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur,

22. Kabupaten Magelang,  Provinsi Jawa Tengah,

23. Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan,

24. Kabupaten Magetan , Provinsi Jawa Timur,

25. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur,

26. Kabupaten Madiun,  Provinsi Jawa Timur,

27. Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI. Yogyakarta,

28. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara

Longsor akibat hujan menutup jalan menuju 4 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Kasat Lantas Polres Madina, AKP Herliandri, Senin 25 Desember 2017 malam mengatakan, tanah longsor terjadi di wilayah Kecamatan Batang Natal, Madina tepatnya di Kawasan Desa Bulu Soma Km 38-39. Akibatnya, jalan penghubung 4 kecamatan yakni Lingga Bayu, Sinunukan, Natal, Muara Batang Gadis dan kecamatan Batahan atau yang sering disebut warga wilayah Pantai Barat terputus. Jalan diperkirakan tertimbun tanah longsor setebal 1,5 meter dan panjang 30 meter. Longsor diduga karena derasnya curah hujan yang menghantam tanah pegunungan.

Sumber Berita https://news.okezone.com/read/2017/12/25/340/1835775/jalan-penghubung-4-kecamatan-di-mandailing-natal-tertutup-longsor

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan tanah timbunan yang tebal dan labil mudah tererosi , drainase air yang tidak berfungsi / tidak ada, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

2. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

Tanah longsor menimbun badan jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Agam dengan Pasaman, Sumatera Barat, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan pada Selasa sekitar 03.00 WIB. Salah seorang warga Palembayan, Hakim (38) di Lubukbasung, Selasa, mengatakan, longsor berada di Jorong Bamban, Nagari Ampek Koto Palembayan, Kecamatan Palembayan dengan jarak dari pusat kecamatan sekitar dua meter."Jalan ini merupakan penghubung antara Kecamatan Palembayan-Palupuh atau Palembayan Kabupaten Agam menuju Kabupaten Pasaman," katanya.

Sumber Berita: https://m.antaranews.com/berita/673428/longsor-timbun-jalan-penghubung-agam-pasaman

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan tanah timbunan yang tebal dan labil mudah tererosi , drainase air yang tidak berfungsi / tidak ada, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

3. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

Hujan yang terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan saluran irigasi di Subak Sanggulan, di Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan tertutupi longsor pada Minggu (24/12) sekitar pukul 23.00 Wita. Material longsor menutup saluran irigasi sepanjang 3,5 meter. Kasi Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan I Putu Trisna Widiatmika menerangkan, laporan longsor baru diterimanya Senin pagi. “Tebing longsor dari ketinggian 6 meter menutup saluran irigasi. Sehingga airnya sempat tersendat. Lokasinya di dekat perumahan," ujarnya, Senin (25/12/2017).

Sumber Berita : http://bali.tribunnews.com/2017/12/25/tebing-6-meter-longsor-di-subak-sanggulan-bpbd-kerahkan-alat-berat

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yg tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh, tataguna lahan dan kemiringan lereng yang cukup curam

4. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat

Intensitas hujan yang tinggi sejak tiga hari terakhir menyebabkan ruas jalan lintas yang menghubungkan Kota Padang dengan Solok atau tepatnya di Sitinjau Lauik mengalami longsor. “Tepatnya di kelok S kawasan panorama Sitinjau Lauik. Material longsor berupa tanah dan batu-batu besar menutupi separo badan jalan,” kata Joni Amir, Komandan Regu A BPBD Kota Padang, Selasa (26/12/2017).Ia mengatakan akibat longsor di kelok S tersebut, arus lalu lintas dari Padang menuju Solok, Sijunjung, Dharmasraya, Jambi dan daerah sekitarnya maupun sebaliknya terganggu.

Longsor yang menutupi setengah badan jalan dengan materian tanah dan batu-batu besar itu terjadi sejak Selasa dinihari tepatnya di Kelok S Sitinjau Lauik Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan.

Sumber berita : http://padangkita.com/longsor-di-sitinjau-lauik-akses-padang-solok-terganggu/

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan tanah timbunan yang tebal dan labil mudah tererosi , drainase air yang tidak berfungsi / tidak ada, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

5. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten

Gerakan tanah /tanah longsor  terjadi pada Senin (25/12/2017) sekitar pukul 14:00 WIB di Gunung Pulosari Desa Cilentung, Kecamatan Pulosari  Kabupaten Pandeglang. Tebing longsor yang berada di kawasan GN Pulosari sepanjang 70 meter, tidak ada korban jiwa dalam bencana itu, namun akibat longsor tersebut mebuat pendaki gunung atau wisatawan merasa panik dan ketakutan.  Wisata Air Terjun Curug Putri sementara ditutup untuk umum.

https://www.bantennews.co.id/pasca-longsor-wisata-air-terjun-gunung-pulosari-ditutup-sementara/

Penyebab di perkirakan akibat kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tinggi, vegetasi yang tidak mampu menahan laju erusi dan dipicuh curah huna yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerkan tanah

6. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

Hujan lebat yang mengguyur wilayah Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Senin (25/12) sekitar pukul 10.00 Wita.  mengakibatkan senderan longsor. Materialnya langsung menghantam tembok bagian selatan ruang belajar kelas III SDN 2 Batunggul hingga roboh sepanjang sekitar 4 meter dan tinggi 2,5 meter. Hal itu juga mengakibatkan atap sekolah mengalami kerusakan, hanya tergolong ringan. Menyusul hal tersebut, proses belajar-mengajar untuk sementara dipindahkan.

Sumber : http://www.balipost.com/news/2017/12/26/32628/Senderan-Longsor,Tembok-Sekolah-Roboh.html

Penyebab di perkirakan akibat kemiringan lereng , tembok penahan yang tidak kuat , drainase air yang tidak berfungsi / ada mengakibatkan air terakumulasi di tembok  penahan, tanah pelapukan yang tebal dan labil dipicuh curah hujan tang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah

7. Kabupaten Tapanuli Selatan , Provinsi Sumatera Utara

Gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada selasa (26/12) sekira pukul 05.00 wib di desa aek nabara Kecamatan Marancar Kabupaten Tapsel (SUMUT).  Tebing setinggi 80 meter dan lebar 15 meter  longsor dan longsoran tanah tersebut menutupi seluruh badan jalan setinggi 1,5 meter dan panjang 50 meter dan sehingga memutuskan jalan penghubung antara Kecamatan Marancar dengan Kecamatan Sipirok.

https://www.google.co.id/amp/s/www.sidaknews.com/amp/akibat-longsor-di-marancar-akses-jalan-menuju-kecamatan-sipirok-terputus/

Penyebab di perkirakan akibat kemiringan lereng , tanah pelapukan yang tebal dan labil dipicuh curah hujan tang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah

*Rekomendasi:

•Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.

•Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar tempat bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

•Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.

•Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalulintas kembali lancar.

•Melandaikan lereng, dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.

•Mengatur drainase dan Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.

•Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.

•Memasang rambu rambu daerah rawan longsor

•Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

•Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.