Laporan Kebencanaan Geologi 26 Desember 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Selasa 26 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 200-500 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2017 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 19 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 26 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku pada radius 8-10 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan NORMAL dan masih tetap AMAN.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, sehingga hembusan asap dari arah kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timurlaut-tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali gempa letusan dan 40 kali gempa guguran, serta getaran banjir/lahar hujan terekam selama 79 menit.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Desember 2017 Pukul 09:08 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 100-150 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 25 Desember 2017 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-8 mm (dominan 2 mm).
  • 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Desember 2017 pukul 07:45 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 25 Desember 2017 tercatat:

  • 98 kali gempa letusan
  • 63 kali gempa Hembusan
  • 27 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut. Tinggi asap teramati setinggi 10 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 25 Desember 2017 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau

Penyebab:  Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil,  drainase air  yang tidak berfungsi / tidak ada, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak: 30 KK, puluhan rumah  dan tiang listrik terancam longsor  serta  jalan Desa tertutup di  Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat; Jalan amblas dan lalu lintas terhambat di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Baratdaya Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Senin, 25 Desember 2017. Berdasarkan informasi dari BMKG, Gempabumi terjadi pada pukul  19:47:38 WIB, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126,65° BT dan 3,89° LU, dengan kekuatan 5,1 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 18 km Baratdaya Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Sedangkan menurut USGS, Amerika Serikat, pusat gempa bumi berada pada koordinat 126,607° BT dan 3,975° LU dengan magnitudo 5,0 M pada kedalaman 49,8 km.
Penyebab gempa bumi: diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman (subduksi) lempeng Filipina ke bawah lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi: 

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.



II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 200-500 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2017 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 19 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 26 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, sehingga hembusan asap dari arah kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timurlaut-tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali gempa letusan dan 40 kali gempa guguran, serta getaran banjir/lahar hujan terekam selama 79 menit.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 100-150 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 25 Desember 2017 tercatat

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-8 mm (dominan 2 mm).
  • 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 25 Desember 2017 tercatat:

  • 98 kali gempa letusan
  • 63 kali gempa Hembusan
  • 27 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut. Tinggi asap teramati setinggi 10 m diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 25 Desember 2017 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Desember 2017 Pukul 09:08 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Desember 2017 pukul 07:45 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
  3. Kabupaten Majene, Sulawesi Barat,
  4. Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara,
  5. Kabupaten  Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,
  6. Kabupaten  Batang, Provinsi Jawa Tengah,
  7. Kabupaten  Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  8. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
  9. Kabupaten Magelang  , Provinsi Jawa Tengah,
  10. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Sumatera Barat
  11. Kabupaten Muara Enim , Provinsi Sumatera Selatan
  12. Kabupaten Pacitan , Provinsi Jawa Timur
  13. Kabupaten Bantul, Provinsi  DI. Yogyakarta
  14. Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur
  15. Kabupaten Magelang,  Provinsi Jawa Tengah
  16. Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan
  17. Kabupaten Magetan , Provinsi Jawa Timur,
  18. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur
  19. Kabupaten Madiun,  Provinsi Jawa Timur
  20. Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI. Yogyakarta
  21. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  22. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur,
  23. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  24. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  25. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa,
  26. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur,
  27. Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DI. Yogyakarta. 

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kabupaten Majalengka, Jawa Barat
Hujan deras yang mengguyur wilayah Majalengka selatan beberapa pekan terakhir menyebabkan longsor di Blok Desa Sindangpala Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka. Longsor terjadi di Sawah Bengkok Desa tepatnya di Blok Sawah Wetan yang dibawahnya terdapat puluhan rumah warga di RT 002," kata H. Wahyudin tokoh masyarakat setempat, Minggu (24/12/2017). Wahyudin mengatakan terdapat lebih dari 30 KK di RT 002 RW 003 Blok Desa Sindangpala Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka yang merasa khawatir dan terancam dengan adanya longsor di Sawah Wetan yang tepat diatas pemukiman warga. "Material longsor sempat menutupi jalan desa, bahkan tiang listrik pun terancam tumbang, kami sudah laporkan ke PLN dan Instantsi terkait agar segera ditanggulangi sebelum akibat yang tidak diinginkan," ungkap dia.
Sumber berita: http://www.tintahijau.com/nusantara/jabar/12212-longsor-ancam-puluhan-rumah-di-desa-sindangpala-majalengka
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

2. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
Gerakan Tanah di Jalan di Desa Binamang Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar Senin (25/12/2017).sekitar pukul 04.00 WIB  mengakibatkan jalan tersebut  ambrol.  Jalan yang ambrol setinggi 1 meter dengan panjang sekitar 20 meter di Kilometer 4 Pematang Kuras Desa Binamang . Jalan ini selain merupakan akses menuju tempat destinasi Candi Muara Takus. juga merupakan jalur yang menghubungkan ke Desa Pongkai, Koto Tuo, Koto Tuo Barat, Gunung Bungsu dan enam sesa di Kecamatan Koto Kampar Hulu. Akibatnya, lalu lintas terhambat dan para wisatawan terpaksa harus menunggu hingga jalan bisa dilalui dengan sempurna. Baik roda dua, roda empat dan bus wisata terpaksa harus antre.
Sumber : https://news.okezone.com/read/2017/12/25/340/1835614/hati-hati-jalan-menuju-candi-muara-takus-ambrol
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan tanah timbunan  yang tebal dan labil mudah tererosi ,  drainase air  yang tidak berfungsi / tidak ada, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar tempat bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. 
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalulintas kembali lancar.
  • Melandaikan lereng, dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
  • Mengatur drainase dan Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Memasang rambu rambu daerah rawan longsor
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.