Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Rencana Lahan Relokasi Di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat berdasarkan Surat Permohonan Kajian Geologi dari BPBD Kabupaten Bandung yang bernomor 360/1541/BPBD/2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut : 

A. Lokasi Gerakan Tanah Desa Patengan, Kecamatan Rancabali 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kawasan Wisata Kawah Rengganis, tepatnya di RT.03 RW.06 Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat  107° 22' 33,3" BT dan 7° 10' 16,9" LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin 27 November 2017 pukul 03.05 WIB dini hari.

 

2,  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi daerah bencana gerakan tanah ini pada bagian atas berupa lereng perbukitan agak terjal dengan kemiringan lereng 10 - 15°. Sedangkan pada bagian tengah sampai ke bawah sangat terjal dengan kemiringan 38° – 45°. Dibagian bawah merupakan kawasan Wisata Kawah Rengganis yang merupakan pedataran. Elevasi lokasi gerakan tanah di ketinggian 1794 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana hasil pelapukan dari Breksi Vulkanik. Menurut Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa tahun 1996 termasuk batuan penyusun tersebut termasuk kedalam satuan Lava  Lava dan Lahar Gunung Patuha (Qv (p,l)) yang berumur Kuarter. Tanah pelapukan yang cukup tebal 3 – 5 meter, memiliki sifat sarang, sangat gembur dan kontak dengan bagian bawahnya yang merupakan batuan segar berupa Breksi Vulkanik. Pada saat pemeriksaan, umumnya kondisi tanah permukaan sangat basah (jenuh air), sehingga kondisi lahan menjadi kurang stabil.
  • Keairan, Kondisi air di wilayah ini sangat melimpah, sehingga tanah pelapukan sangat basah (jenuh). Menurut informasi dari masyarakat, sebelum kejadian longsor, kondisi air di bagian atas yaitu areal perkebunan sangat melimpah sehingga air menjenuhi tanah dan mengalir ke bagian tebing terjal, sumber air ini berasal dari aliran mata air, debit mata air bertambah besar pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama. Pada lokasi ini terdapat saluran air yang dibuat oleh tembok beton namun penempatannya tidak tepat karena berada di atas lereng yang seharusnya menjauhi lereng. Dibagian bawah lokasi longsoran terdapat Sungai Cibuni yang berada di Kawasan Kawah Rengganis.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas atau bagian Barat berupa perkebunan teh. Dibagian tengah atau sejajar dengan tebing merupakan kebun campuran. Di bagian Bawah atau sebelah Timur merupakan areal pemukiman yang termasuk kedalam Kawasan Wisata Kawah Rengganis, dimana terdapat 4 (empat) unit rumah milik warga yang terancam karena berada tepat dibawah tebing yang mengalami longsor.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung bulan November 2017 (Pusat Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di Kawasan Wisata Kawah Rengganis, tepatnya di RT.03 RW.06 Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat  107° 22' 33,3" BT dan 7° 10' 16,9" LS merupakan lereng sangat terjal dengan kemiringan 32° - 45°. Jeni gerakan tanah termasuk kedalam jenis longsoran bahan rombakan yang mempunyai arah gerak N 105° E. Dimensi longsoran mempunyai lebar sekitar 20 meter dan panjang 50 meter. Terdapat retakan dibagian atas dekat mahkota longsoran dengan arah retakan N 15° E dan lebar retakan 5 – 20 cm yang berada pada koordinat 107° 22' 33,3" BT dan 7° 10' 16,9".

Menurut informasi warga setempat dan pengamatan lapangan, dampak bencana gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 4 (empat) unit rumah terancam.
  • Sebagian Kawasan Wisata Kawah Rengganis terancam, terutama yang berada di bagian Barat (bagian bawah longsoran).

  

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Kelerengan yang sangat terjal dengan kemiringan 32° - 55° sehingga memungkinkan tanah untuk mudah bergerak.
  • Sistem aliran air permukaan yang kurang baik, sehingga air permukaan mudah menjenuhi tanah yang gembur.
  • Tanah pelapukan yang sangat tebal (>3 meter) yang lolos air/porous, gembur dan bersifat lepas (loose) yang berada di atas lapisan batuan yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan tekanan pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan di bawahnya berupa Breksi Vulkanik yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan yang sangat terjal di bagian atas, maka terjadi longsoran bahan rombakan di bagian atas.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Melakukan penataan air permukaan secara keseluruhan di wilayah ini.
  • Retakan pada tanah harus segera ditutup dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk kedalam lapisan tanah.
  • Pemukiman dan Kios yang berada tepat dibawah longsoran harus direlokasi ketempat yang lebih aman dari ancaman bencana gerakan tanah.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka disekitar lereng yang terjal dan dibagian atas harus ditanam pepohonan yang berakar kuat dan dalam agar dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Agar dipasang rambu-rambu peringatan terhadap adanya gerakan tanah terutama pada Kawasan Wisata Kawah Rengganis dan masayarakat/wisatawan yang memasuki Kawasan Wisata agar waspada.
  • Pemantauan terhadap gerakan tanah di Kawasan Wisata Kawah Rengganis harus terus menerus dilakukan, jika gerakan tanah terus berkembang, maka aktifitas Kawasan Wisata Kawah Rengganis harus ditutup sementara.

 

B. Rencana Lahan Relokasi Desa Patengan, Kecamatan Rancabali

 1. Lokasi Rencana Relokasi Gerakan Tanah :

Lokasi rencana lahan relokasi akibat bencana gerakan tanah berada di RT.03 RW.06 Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Tidak jauh dari lokasi gerakan tanah, berada pada bagian Barat Daya. Rencana lahan relokasi terdiri dari tiga area lahan yang jaraknya saling berdekatan. Lahan rencana relokasi yang pertama secara geografis terletak pada koordinat: 107° 22' 27.86" BT - 107° 22' 30.31" BT dan 07° 10' 20.10" LS - 07° 10' 17.562" LS berada di ketinggian 1792 meter diatas permukaan laut. Luas area relokasi ini ialah 0,283 hektar. Lokasi yang kedua secara geografis terletak pada koordinat: 107° 22' 23.20" BT - 107° 22' 25.37" BT dan 07° 10' 25.62" LS - 07° 10' 23.54" LS berada di ketinggian 1775 meter diatas permukaan laut. Luas area relokasi ini ialah 0,235 hektar. Lokasi yang terakhir yaitu lokasi yang ketiga secara geografis terletak pada koordinat: 107° 22' 24.08" BT - 107° 22' 25.52" BT dan 07° 10' 27.76" LS - 07° 10' 26.05" LS berada di ketinggian 1770 meter diatas permukaan laut. Luas area relokasi ini ialah 0,182 hektar.

Lahan ini rencananya dipersiapkan untuk merelokasi rumah korban yang terancam gerakan tanah yang berada di bagian bawah kawasan wisata Kawah Desa Patengan. Penduduk yang akan direlokasi sebanyak 4 rumah.

 

2. Kondisi daerah rencana relokasi :

  • Morfologi : Morfologi calon lahan relokasi dan sekitarnya merupakan lahan pedataran - landai dengan kemiringan lereng antara 5º sampai 10º. Kemiringan agak terjal berada di lembah sisi Timur area relokasi yang di dasar lembahnya terdapat Kawasan Wisata Kawah Rengganis..
  • Geologi : Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, 1972) daerah bencana terdiri dari breksi, lahar, lava yang dikelompokkan dalam Hasil Gunungapi Tua (Qob). Tanah pelapukan berupa pasir lempungan, dengan warna coklat kemerahan, lunak, dan poros, dengan ketebalan <3 meter.
  • Tata Guna Lahan : Tataguna lahan relokasi dan sekitarnya berupa perkebunan teh, ada pohon kayu campuran dan sebagian ada semak belukar. Di bagian tengah terdapat jalan yang menghubungkan antara Kawasan Wisata Kawah Rengganis dan jalan perkebunan. Lokasi rencana lahan relokasi yang pertama dan kedua merupakan lahan datar yang sekarang digunakan untuk area parkir. Lokasi yang ketiga merupakan perkebunan teh.
  • Keairan : Sumber air untuk lahan relokasi cukup berlimpah,karena dibagian atas terdapat sumber mata air. Sumber air memiliki debit yang cukup melimpah walaupun musim kemarau.
  • Kondisi Gerakan Tanah : Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah calon lahan relokasi yang pertama dan kedua terletak pada Zona Kerentanan Gerakan Tanah rendah, artinya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai. Pada daerah calon relokasi yang ketiga terletak pada Zona Kerentanan Gerakan Tanah rendah - menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Potensi Bencana :

Di tiga lokasi ini tidak dijumpai jejak-jejak gerakan tanah baik dalam dimensi kecil maupun dimensi besar.

 

4. Kesimpulan dan Rekomendasi :

Berdasarkan kondisi Geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ketiga lokasi ini dapat dijadikan lahan relokasi dengan pengembangan menjauh dari lereng agak terjal yang berada di bagian Timur dan Tenggara lahan relokasi.
  • Untuk lahan calon relokasi yang ketiga dikarenakan jaraknya sangat dekat dengan lereng terjal dibagian Timur dan sebagian termasuk kedalam Zona Kerentanan Tanah Menengah, maka dianjurkan untuk memperhatikan drainase agar tidak langsung meresap ke permukaan tanah dan memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Berdasarkan analisis peta situasi lahan relokasi, lahan yang dapat digunakan untuk relokasi adalah lokasi pertama seluas 0,283 hektar, lokasi kedua 0,235 hektar dan lokasi ketiga 0,182 hektar .

Untuk menghindari terjadinya gerakan tanah pada masa yang akan datang, maka direkomendasikan, antara lain:

  • Tidak mengubah tata guna lahan pada lereng bagian Timur dan Tenggara lahan relokasi;
  • Pematangan lahan berupa pemotongan lereng harus memperhatikan faktor kestabilan lereng, dilakukan dengan sistem terasering;
  • Penataan aliran air permukaan (drainase) dan pembuangan dari air rumah tangga dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air yang cepat sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah. Air langsung dibuang ke sungai utama;
  • Penanaman pohon yang berakar kuat dan dalam di areal pemukiman dan sekitar perkebunan teh yang berdekatan dengan calon lahan relokasi
  • Pemukiman paling tidak berjarak 50 meter menjauh dari lereng terjal di bagian Timur dan Tenggara.

 

 

LAMPIRAN

 

Rengganis 1 (221217)

Gambar 1. Lokasi gerakan tanah di Kawasan Wisata Kawah Rengganis, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Rengganis 2 (221217)

Gambar 2. Peta Geologi Lokasi Bencana di Kawasan Wisata Kawah Rengganis, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH 

DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

 BULAN NOVEMBER 2017

Rengganis 3 (221217)

Keterangan :

Rengganis 4 (221217)

 

Rengganis 5 (221217)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung, Jawa Barat di Bulan November 2017

 

Rengganis 6 (221217)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kawasan Wisata Kawah Rengganis, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Rengganis 7 (221217)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Kawasan Wisata Kawah Rengganis, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Rengganis 8 (221217)

Gambar 6. Peta Situasi Rencana Relokasi, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Bara

 

Rengganis 9 (221217)

Foto 1. Lokasi gerakan tanah berada pada lereng yang sangat terjal dengan kemiringan lereng 32° - 55° sehingga memungkinkan tanah untuk mudah bergerak. Dibawah longsoran merupakan Kawasan Wisata Kawah Rengganis yang terdapat 4 unit rumah yang terancam dan harus direlokasi.

 

Rengganis 10 (221217)

Foto 1. Lokasi gerakan tanah berada pada lereng yang sangat terjal dengan kemiringan lereng 32° - 55° sehingga memungkinkan tanah untuk mudah bergerak. Dibawah longsoran merupakan Kawasan Wisata Kawah Rengganis yang terdapat 4 unit rumah yang terancam dan harus direlokasi.

 

Rengganis 11 (221217)

Foto 3. Terdapat longsoran kecil yang berada di  jalan menuju Kawasan Wisata Kawah Rengganis yang merupakan lereng terjal.

 

Rengganis 12 (221217)

Foto 4. Litologi daerah sekitar lokasi bencana gerakan tanah merupakan hasil pelapukan dari Breksi Vulkanik termasuk anggota Lava dan Lahar Gunung Patuha (Qv (p,l)).

 

Rengganis 13 (221217)

Foto 5. Rencana lahan relokasi 1 yang berada di ketinggian 1792 mdpl dengan luas 0,283 hektare. Pada saat ini ini digunakan untuk lahan parkir. Termasuk kedalam ZKGT rendah namun lokasinya dekat dengan lokasi gerakan tanah.

 

Rengganis 14 (221217)

Foto 6. Rencana lahan relokasi 2 yang berada di ketinggian 1775 mdpl dengan luas sekitar 0,235 Hektare. Termasuk kedalam ZKGT rendah dan lokasinya cukup aman karena jauh dari lereng terjal.

 

Rengganis 15 (221217)

Foto 7. Rencana lahan relokasi 3 yang merupakan perkebunan teh, jaraknya berdekatan dengan rencana lahan relokasi 2. Termasuk kedalam ZKGT rendah - menengah

 

Rengganis 16 (221217)

Foto 8. Koordinasi dilokasi rencana lahan relokasi yang pertama dengan Aparat Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Jawa Barat.