Laporan Kebencanaan Geologi 20 Oktober 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 20 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah teramati setinggi 50-200 m. Angin ke arah Timur dan Tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan sebanyak 1 kali. Kolom letusan teramati berwarna kelabu setinggi 500 m di atas puncak condong ke arah Timur. Letusan disertai Awan Panas sejauh 1500 m ke arah ke Tenggara-Timur dan 1000 m ke arah Selatan-Tenggara. Teramati 34 kali guguran lava sejauh 100-2000 m ke arah Timur, Tenggara dan Selatan.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Oktober 2017 Pukul 19:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level IV atau AWAS, terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Aktivitas kegempaan G. Agung (3142 m dpl) masih tetap tinggi dan fluktuatif pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 300-500 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.

Melalui rekaman seismograf tercatat:

-18 Oktober 2017 terekam 4 kali Tremor Non-Harmonik, 266 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 676 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 102 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 4 kali Terasa (MMI I-II).

-19 Oktober 2017 terekam 4 kali Tremor Non-Harmonik,  245 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 608 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 113 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali Terasa (MMI I).

-20 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA) terekam 1 kali Tremor Non-Harmonik, 39 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 72 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 4642 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih kelabu bertekanan lemah dengan intensitas tebal setinggi 300-400 m. Melalui rekaman seismograf, tercatat 20 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara-Timurlaut.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Oktober 2017 pukul 08:03 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Utara-Timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati dengan ketinggian berkisar 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah Utara dan Timur. Melalui rekaman seismograf pada 18 Oktober 2017 tercatat:

-57 kali Erupsi/letusan

-43 kali Hembusan

-10 kali Guguran Lava

-3 kali Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan Barat. Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2017 tercatat:

-140 kali Hembusan

-5 kali Tremor Non-Harmonik

-1 kali Tornillo

-10 kali Vulkanik Dangkal

-35 kali Vulkanik Dalam

-8 kali Tektonik Lokal dan 1 kali Terasa (MMI I)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1.  Kabupaten Probolinggo, Provinsi JawaTimur

2. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

3. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah

4. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

5. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

6.  Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali

7.  Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

8. Kabupaten Badung dan Gianyar, Provinsi Bali

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat kemiringan lereng yang terjal,pemukiman dibangun di dekat tebing , kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang tinggi  dengan durasi yang cukup lama, erosi lateral sungai, drainase air yang tidak berfungsi.

Dampak :

1.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Probolinggo,  Jawa Timur mengakibatkan  jalan desa sekitar ikut terputus  dan akses warga terhambat serta  hanya bisa di lalui roda dua saja.

2.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Pacitan , Jawa Timur, mengakibatkan  lima rumah warga di Kecamatan Sudimoro,  dua diantaranya rusak parah dan tidak bisa dihuni lagi.

3.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor  pada jalur jalan   di Kabupaten, Banyumas, Jawa Tengah mengakibatkan kendaraan harus lewat secara bergantian.

4.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Malang, Jawa Timur  mengakibatkan longsoran tanah  hampir menutup jalan dan memutus jalur Malang-Lumajang dan 4 rumah warga  terdampak longsor.

5.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur mengakibatkan  30 rumah warga rusak , jalan ambles, tidak ada korban jiwa maupun korban luka pada peristiwa bencana alam ini, tetapi satu keluarga harus diungsikan ke rumah tetangga.  Selain merusak rumah, sejumlah fasilitas umum dan gedung sekolahan juga mengalami kerusakan karena tertimpa material longsoran yakni gedung sekolah taman kanak-kanak di Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, serta gedung SMP PGRI Tulakan.

6.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Jembrana , Provinsi Bali mengakibatkan 10 titik longsor, 6 di bahu jalan dan 4 titik berada diarea pemukiman yang  memutuskan jalan desa dan mengisolir 30 kepala keluarga  serta  1 rumah rusak bagian dapur.

7.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur mengakibatkan lalu lintas  terhambat.

8.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Badung dan Gianyar, Provinsi Bali mengakibatkan akses jalan desa tertutup longsor

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 

Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1.  Kabupaten Probolinggo, Provinsi JawaTimur

2. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

3. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah

4. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

5. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

6.  Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali

7.  Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

8. Kabupaten Badung dan Gianyar, Provinsi Bali

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat kemiringan lereng yang terjal,pemukiman dibangun di dekat tebing , kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang tinggi  dengan durasi yang cukup lama, erosi lateral sungai, drainase air yang tidak berfungsi.

Dampak :

1.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Probolinggo,  Jawa Timur mengakibatkan  jalan desa sekitar ikut terputus  dan akses warga terhambat serta  hanya bisa di lalui roda dua saja.

2.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Pacitan , Jawa Timur, mengakibatkan  lima rumah warga di Kecamatan Sudimoro,  dua diantaranya rusak parah dan tidak bisa dihuni lagi.

3.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor  pada jalur jalan   di Kabupaten, Banyumas, Jawa Tengah mengakibatkan kendaraan harus lewat secara bergantian.

4.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Malang, Jawa Timur  mengakibatkan longsoran tanah  hampir menutup jalan dan memutus jalur Malang-Lumajang dan 4 rumah warga  terdampak longsor.

5.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur mengakibatkan  30 rumah warga rusak , jalan ambles, tidak ada korban jiwa maupun korban luka pada peristiwa bencana alam ini, tetapi satu keluarga harus diungsikan ke rumah tetangga.  Selain merusak rumah, sejumlah fasilitas umum dan gedung sekolahan juga mengalami kerusakan karena tertimpa material longsoran yakni gedung sekolah taman kanak-kanak di Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, serta gedung SMP PGRI Tulakan.

6.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Jembrana , Provinsi Bali mengakibatkan 10 titik longsor, 6 di bahu jalan dan 4 titik berada diarea pemukiman yang  memutuskan jalan desa dan mengisolir 30 kepala keluarga  serta  1 rumah rusak bagian dapur.

7.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur mengakibatkan lalu lintas  terhambat.

8.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor    di Kabupaten Badung dan Gianyar, Provinsi Bali mengakibatkan akses jalan desa tertutup longsor

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di baratdaya Kab. Simeulue, Aceh

Informasi Gempa bumi,

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 20 Oktober 2017, pukul 04:18:43 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 95,83° BT dan 2,56° LU, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 25 km, berjarak 23 km baratdaya Kab. Simeulue, Aceh. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 95,72° BT dan 2,63° LU, dengan magnitudo M 4,7 pada kedalaman 10 km. USGS, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 95,873° BT dan 2,665° LU, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 31,2 km.

Penyebab gempa bumi,

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dampak gempa bumi,

Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi,

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut, G. Agung*, Bali);

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);

d. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut. Asap kawah teramati setinggi 50-200 m. Angin ke arah Timur dan Tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan sebanyak 1 kali. Kolom letusan teramati berwarna kelabu setinggi 500 m di atas puncak condong ke arah Timur. Letusan disertai Awan Panas sejauh 1500 m ke arah ke Tenggara-Timur dan 1000 m ke arah Selatan-Tenggara. Teramati 34 kali guguran lava sejauh 100-2000 m ke arah Timur, Tenggara dan Selatan.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

 

 

*Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan sering berkabut disertai hujan lebat di malam hari. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian maksimum 1500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

-19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.

-20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.

-27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.

-02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.

-03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  4 kali terasa.

-04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  tidak ada terasa.

-05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-07 Oktober 2017 terekam 309 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 536 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 44 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.

-08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.

-09 Oktober 2017 terekam 317 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 484 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-10 Oktober 2017 terekam 227 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 455 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-11 Oktober 2017 terekam 282 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 445 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 28 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan satu kali gempa terasa.

-12 Oktober 2017 terekam 7 kali Gempa Tremor Non-Harmonik, 344 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 562 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 57 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-13 Oktober 2017 terekam 1 kali Gempa Tremor Non-Harmonik, 230 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 536 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 61 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 2 kali terasa (MMI I-III).

-14 Oktober 2017 terekam 6 kali Gempa Tremor Non-Harmonik, 283 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 764 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 89 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 6 kali terasa (MMI I-III).

-15 Oktober 2017 terekam 270 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 474 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 44 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) tidak terasa.

-16 Oktober 2017 terekam 134 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 409 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) tidak terasa.

-17 Oktober 2017 terekam 220 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 408 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 52 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) tidak terasa.

-18 Oktober 2017 terekam 266 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 676 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 102 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 4 kali Terasa (MMI I-II).

-19 Oktober 2017 terekam 4 kali Tremor Non-Harmonik,  245 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 608 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 113 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali Terasa (MMI I).

-20 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA) terekam 1 kali Tremor Non-Harmonik, 39 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 72 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

*Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 20 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah dengan ketinggian 300-400 m di atas puncak dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-12 mm (dominan 2 mm). Angin bertiup lemah ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Empat hari lalu, tinggi kolom erupsi/letusan teramati berkisar 300-600 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 18 Oktober 2017 tercatat:

-57 kali Erupsi/letusan

-43 kali Hembusan

-10 kali Guguran Lava

-3 kali Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

*Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.

Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati asap putih tipis sedang tekanan lemah setinggi 20-50 m. Angin ke arah Timur dan Barat. Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2017 tercatat:

-140 kali Hembusan

-5 kali Tremor Non-Harmonik

-1 kali Tornillo

-10 kali Vulkanik Dangkal

-35 kali Vulkanik Dalam

-8 kali Tektonik Lokal dan 1 kali Terasa (MMI I)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Oktober 2017 Pukul 18:33 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3460 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Oktober 2017 Pukul 19:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Oktober 2017 pukul 08:03 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan September    2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor    diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1.  Kabupaten Probolinggo, Provinsi JawaTimur*,

2. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur*,

3. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah*,

4. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

5. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur*,

6.  Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali*,

7.  Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur*,

8. Kabupaten Badung dan Gianyar, Provinsi Bali*,

9. Kabupaten Purbalingga , Provinsi  Jawa Tengah,

10.  Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,

11. Kabupaten Cilacap , Provinsi  Jawa Tengah,

12.  Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali,

13. Kabupaten Banyumas, Provinsi  Jawa Tengah,

14. Kabupaten  Pacitan, Provinsi  Jawa Tengah,

15.  Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,

16. Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah,

17. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,  1

8. Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.  Kabupaten Probolinggo, Provinsi JawaTimur

Hujan deras yang terjadi selama beberapa jam mengakibatkan longsor di desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo,  Jawa Timur. Akibatnya sejumlah jalan desa sekitar ikut terputus akibat kejadian ini, Rabu (18/10).

Akibat longsor tersebut, ada kurang lebih 14 titik longsor di daerah ini  yang mengakibatkan akses warga yang akan menuju dan hendak meninggalkan Kecamatan Tiris terhambat dan hanya bisa di lalui roda dua saja. Belum ada korban jiwa akibat longsor tersebut. Berdasarkan laporan yang saya terima, ada sedikitnya 14 titik longsor.

.

Sumber:

http://reportasenews.com/longsor-probolinggo-lumpuhkan-akses-jalan-jember-dan-lumajang/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan terjadi ketidakstabian kelerengan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.

Rekomendasi :

•             Segera membersihkan material longsoran

•             Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•             Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

2. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

Sebanyak lima rumah warga di Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan mengalami kerusakan setelah diterjang material tanah longsor pada Kamis (19/10/2017) pukul 02.00 WIB. Bencana alam tanah longsor tersebut terjadi dikarenakan hujan yang terus mengguyur kawasan tersebut.

Sehingga diduga tidak mampu menahan debit air dibeberapa titik terjadi longsor yg merusak rumah warga. Akibatnya, lima rumah warga rusak, dua diantaranya rusak parah dan tidak bisa dihuni lagi.

Sumber:

https://pacitanku.com/2017/10/19/5-rumah-warga-sudimoro-diterjang-tanah-longsor-2-rusak-berat/

Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta rumah yang terlalu dekat dengan lereng. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.

Rekomendasi :

•  Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.

•  Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

3. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah

Sejumlah titik  titik di ruas jalan nasional baik di jalur tengah maupun selatan di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mulai berlubang. Bahkan, di jalur tengah penghubung antara pantura ke jalur selatan tepatnya di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon mengalami longsor, sehingga kendaraan harus lewat secara bergantian.

Dengan kondisi itu, satu lajur jalan sepanjang 50 meter ditutup, sehingga kendaraan dari arah Tegal atau pantura maupun dari arah Yogyakarta, Purworejo, Kebumen dan Cilacap atau selatan harus bergantian.

Sumber:

http://mediaindonesia.com/news/read/128025/diguyur-hujan-deras-sejumlah-titik-di-jalan-nasional-berlubang-dan-longsor/2017-10-19

Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dipicu oleh intensitas curah hujan tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)

Rekomendasi :

•             Segera membersihkan material longsoran

•             Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•             Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

4. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Rabu (18/10) malam, mengakibatkan terjadi bencana tanah longsor.

Tanah longsor pertama terjadi pada pukul 20.30 WIB di Jalan Raya Desa Tamanasri. Volume tanah 85 persen hampir menutup jalan dan memutus jalur Malang-Lumajang. Terjadi tanah longsor di Jalan Raya Desa Tamanasri atau barat Balai Desa Tamanasri dengan dampak macetnya arus lalu lintas Malang-Lumajang dengan volume tanah 85 persen menutup badan jalan. Satu jam berselang, longsor kembali terjadi. Kali ini longsor terjadi di Jalan Raya Desa Simojayan, Desa Mulyoasri dan Desa Tamanasri. Paling parah longsor yang menerjang permukiman warga pada pukul 23.30 WIB. Ada 4 rumah warga yang terdampak longsor

Sumber:

https://malangtoday.net/malang-raya/kabupaten-malang/tanah-longsor-terjang-kabupaten-malang-4-rumah-warga-rusak/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan dan  dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran aliran bahan rombakan.

Rekomendasi :

•             Segera membersihkan material gerakan tanah dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•             Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.

•             Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng atau membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

5. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

Hujan deras disertai angin kencang selama beberapa hari Minggu-Rabu (15-18/10/2017) menyebabkan terjadinya tanah longsor di puluhan titik di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan. Bencana tanah longsor merusak 30 rumah warga di tiga kecamatan di Pacitan. Wilayah yang terdampak bencana alam ini ada di Kecamatan Kebonagung, Tulakan, dan Ngadirojo. Dampaknya ada sebanyak 30 rumah yang mengalami kerusakan atau terkena material longsoran. Tiga puluh rumah tersebut antara lain 20 rumah yang terdampak ada di Kecamatan Ngadirojo, empat rumah di Kecamatan Kebonagung, dan enam rumah di Kecamatan Tulakan.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka pada peristiwa bencana alam ini, tetapi satu keluarga yang terdiri dari tiga orang di Desa Bodag harus diungsikan ke rumah tetangga. Hal ini karena rumah mereka rusak parah. Selain merusak rumah, sejumlah fasilitas umum dan gedung sekolahan juga mengalami kerusakan karena tertimpa material longsoran yakni gedung sekolah taman kanak-kanak di Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, serta gedung SMP PGRI Tulakan. Dampak longsor lainnya, jalan utama Tulakan-Ngadirojo ambles dan jalan raya Slorok-Pacitan terhambat. Akibatnya, pengguna jalan yang ingin melintasi jalan tersebut harus berhati-hati saat melintas.

Sumber:

http://www.solopos.com/2017/10/19/tanah-longsor-merusak-30-rumah-di-pacitan-861237

Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dipicu oleh intensitas curah hujan tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris)

Rekomendasi :

 

•             Segera membersihkan material longsoran

•             Pemilik rumah diharapkan mengungsi dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi

•             Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•             Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

6.  Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali

Bencana longsor menerjang Desa Penyaringan, Mendoyo, Jembrana (Kamis 19/10). Setidaknya 10 titik longsor, 6 di bahu jalan dan 4 titik berada diarea pemukiman. Longsor memutuskan jalan desa dan mengisolir 30 kepala keluarga di Desa tersebut. Selain itu terjadi longsor di desa banjarkerta, Wanagiri Kauh, Selemandeg kamis 19/10 pukul 06.00. 1 rumah rusak bagian dapur.

Sumber:

http://denpostnews.com/2017/10/19/longsor-juga-terjadi-di-penyaringan/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan pelapukan tinggi dan  dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.

Rekomendasi :

•             Warga yang terkena longsor segera mengungsi ke tempat yang aman

•             Segera membersihkan material gerakan tanah dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•             Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.

•             Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng atau membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

7.  Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Sejumlah titik tanah longsor terjadi dikawasan Malang Selatan, Jawa Timur pada Kamis (19/10/2017) setelah  hujan turun selama beberapa hari terakhir. Longsor juga terjadi di Desa Ringinsari RT 05 dan RT 13, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Ditempat ini, jalan penghubung antar dusun putus setelah diterjang tanah longsor.

Kondisi jalan dan jembatan yang dilalui air, ambles sedalam tiga meter lebih. Sekdes Ringinsari, Mustain mengatakan, pihaknya berharap jalan penghubung segera diperbaiki. Hal itu dikarenakan jalan tersebut menjadi akses transportasi satu-satunya oleh ribuan warga desa. Selain itu,  longsor juga terjadi di Dusun Sidodadi, Desa Ringinsari RT 12. Tebing longsor hingga menimbulkan tumpukan tanah disamping areal masjid Al Aqso. Longsor badan jalan juga terjadi di selatan pasar Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Jalan lintas kecamatan di Wonorejo yang menghubungkan Kecamatan Gedangan dan Sumbermanjing Wetan, juga dipenuhi longsoran tanah. Jalan Raya Propinsi di kawasan Druju atau Jurang Pletes, juga terkena longsor.

Sumber:

http://www.kbknews.id/2017/10/19/malang-selatan-dilanda-longsor/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan kelerengan, pelapukan tinggi dan  dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.

Rekomendasi :

•             Evaluasi pembuatan irigasi sesuai syarat kestabilan lereng

•             membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

8. Kabupaten Badung dan Gianyar, Provinsi Bali

Setelah kabupaten jembrana alami tanah longsor dan banjir bandang di beberapa titik. Kali ini hujan deras yang mengguyur terus menerus di Bali mengakibatkan sebuah bukit di kabupaten Badung longsor. Kendati tidak mengakibatkan adanya korban jiwa. Namun longsornya bukit di Desa Pangsan itu membuat akses jalan desa tertutup lumpur Rabu (18/10) sekitar pukul 15.00 WITA. Selain di Desa Pangsan, peristiwa serupa juga terjadi di Desa Sekar Mukti, Kecamatan Petang

 

Di kabupaten lain diwilayah Tampaksiring, Gianyar juga terjadi bencana longsor di dua titik. Masing-masing di jalan raya Banjar Malet, Manukaya dan jalan raya di Banjar Saraseda, Tampaksiring yang merupakan akses masuk ke objek wisata Tirta Empul dan Istana Kepresidenan. Di lokasi ini tidak hanya lumpur, tetapi sejumlah bebatuan kapur berukuran besar berjatuhan menutupi badan jalan.

Sumber:

https://www.merdeka.com/peristiwa/giliran-badung-dan-gianyar-tertimbun-longsor-akibat-hujan-deras.html

Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dipicu oleh intensitas curah hujan tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Jatuhan Batu dan Longsoran Bahan Rombakan (Debris)

Rekomendasi :

•             Segera membersihkan material longsoran

•             Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah

•             Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•             Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.

•             Meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana gerakan tanah.

•             Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.