Laporan Kebencanaan Geologi 11 Oktober 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY :


1. Gunung Api
 

G. Sinabung (Sumatera Utara):
 

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah tidak teramati karena kabut. Angin ke arah barat dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan sebanyak 1 kali. Kolom abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 2000 m dari puncak. Erupsi tidak diikuti awan panas guguran. Terekam 33 kali guguran lava dan secara visual tidak teramati karena kabut.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi: 

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Oktober 2017 Pukul 16:11 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, condong ke arah timur.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS),  terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Aktivitas kegempaan G. Agung (3142 m dpl) masih tetap tinggi dan fluktuatif pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.  Melalui rekaman seismograf tercatat:-08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.-09 Oktober 2017 terekam 317 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 484 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.-10 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 73 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 135 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.
 

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 4642 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 21 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 800-1000 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barah barat.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

 Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 10 Oktober 2017 pukul 07:29 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2229 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya-barat.

G. Ibu (Halmahera):
 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Tinggi kolom tidak teramati. Angin ke barat. Melalui rekaman seismograf pada 10 Oktober 2017 tercatat:-58 kali erupsi/letusan,-47 kali hembusan,-1 kali guguran lava.-17 kali tremor Harmonik

Rekomendasi:

 Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

 Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Tinggi kolom asap putih tipis tekanan lemah 10-200 m condong ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 10 Oktober 2017 tercatat:-Hembusan 427 kali.-Hybrid/Fase Banyak 26 kali-Vulkanik Dangkal 83 kali.-Vulkanik Dalam 409 kali.-Tektonik Lokal 237 kali (64 kali terasa).

Rekomendasi:

 Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA:

 Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

 

  1. Kabupaten Bandung, Provinsi  Jawa Barat.
  2. Kabupaten  Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat. 
  3. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.
  4. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
  5. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat
  6. Kabupaten Agam , Provinsi Sumatera Barat

 

Penyebab:

 Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  kelerengan yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air , rumah di bangun di dekat tebing dan disepadan sungai, vegetasi di hulu sungai yang tidak mampu menahan aliran sungai dan drainase air  yang tidak berfungsi dengan baik.

Dampak :

 

  1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat,  menimpa rumah milik warga sekitar
  2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Ruas jalan provinsi di, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, , menyebabkan  gangguan  arus lalu lintas jalan yang menghubungkan Tegalbuleud dan Cidolog.
  3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Gianyar, menyebabkan  material tanah dan bongkahan batu menutup seluruh badan jalan menuju Museum Blanco itu. 
  4. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menimpa area pesawahan, material longsor juga menimbun akses jalan yang menghubungkan dua desa. Kegiatan ekonomi warga pun lumpuh total. 
  5. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Pasaman Barat mengakibatkan 13 unit rumah di Jorong Kampung Baru, Nagari Batahan, Kecamatan Ranah Batahan ambruk dihantam abrasi Sungai Batahan dan banjir. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, akan tetapi kerugian ditaksir ratusan juta.
  6. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten Agam , Provinsi Sumatera Barat mengakibatkan  Jalan di Kecamatan Palembayan, Agam longsor lagi. dan arus lalulintas terganggu.

 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 

Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi

  1. Gempa bumi di Baratlaut Maluku Tenggara Barat
  2. Gempa bumi di Pulau Lembata, NTT 

 

1.  Gempa bumi di BaratLaut Maluku Tenggara Barat

Informasi Gempa bumi,

  1. Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 10 Oktober 2017, pukul 07:04:58 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,02° BT dan 6,56° LS dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman 169 km berjarak 184 km BaratLaut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. 
  2. Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 11 Oktober 2017, pukul 01:56:41 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 131,03° BT dan 6,75° LS dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 114 km berjarak 94 km BaratLaut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. 


Dampak gempa bumi,

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Penyebab gempa bumi,

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia di bawah Laut Banda. 

Rekomendasi,

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

 

2. Gempa bumi di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur

Informasi Gempa bumi,

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 10 Oktober 2017, sebanyak tiga kali, yaitu pada pukul 02.19 Wita (M 4,3), pukul 02.27 Wita (M 4,6), dan pukul 06.23 Wita (M 4,9).Pusat gempa bumi pertama berada di darat atau 11 km arah Barat Laut Kota Lembata dengan koordinat 8.37°LS dan 123.46°BT pada kedalaman 10 km. Gempa bumi kedua lokasinya di laut atau 35 km arah Barat Laut Kota Lembata dengan koordinat 8.15°LS dan 123.47°BT pada kedalaman 11 km.Sementara gempa bumi ketiga berpusat di darat 23 km arah barat laut Kota Lembata dengan koordinat 8.26°LS dan 123.47°BT pada kedalaman 10 km.

Dampak gempa bumi,

Saat gempa terjadi, masyarakat dilaporkan panik dan berlari keluar rumah. Peta tingkat guncangan BMKG, menunjukkan intensitas II-III skala MM di wilayah Lembata dan sekitarnya. 

Gempa bumi ketiga (M 4,9) menimbulkan guncangan pada III-IV skala MMI di wilayah Lembata dan sekitarnya. Informasi dari media Kompas.com, terdapat empat rumah yang rusak di Kecamatan Ile Ape dan satu rumah rusak di Kecamatan Ile Timur Baru.

Penyebab gempa bumi,

 Diperkirakan berasosiasi dengan Sesar aktif yang terdapat di Pulau Lembata.

Rekomendasi,

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang  mengikuti arahan dari informasi dari petugas BPBD.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

 

II. DETAIL
 

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung, Sumut, G. Agung, Bali); 
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati berkabut. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan 1 kali. Kolom abu tidak teamati karena tertutup kabut. Erupsi tidak disertai adanya awan panas guguran. Guguran lava terekam 27 kali. Arah dan jarak luncuran tidak teramati karena kabut.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

 

Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan sering berkabut disertai hujan lebat di malam hari. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 1500 m di atas puncak.

 

  • Melalui rekaman seismograf tercatat:
  • 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.
  • 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.
  • 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  4 kali terasa.
  • 04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  tidak ada terasa.
  • 05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 07 Oktober 2017 terekam 309 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 536 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 44 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 09 Oktober 2017 terekam 317 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 484 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 10 Oktober 2017 terekam 227 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 455 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 11 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 40 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 117 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa (MMI II).

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 21 kali erupsi/letusan. dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-15 mm (dominan 2 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 800-1000 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Seismograf dalam perbaikan.

Melalui rekaman seismograf pada 10 Oktober 2017 tercatat :

 

  • 58 kali erupsi/letusan,
  • 47 kali hembusan,
  • 1 kali guguran lava.
  • 17 kali tremor Harmonik

 

Arah dan jangkauan luncuran guguran lava tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati tinggi asap putih tipis tekanan lemah 10-200 m. Angin ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 10 Oktober 2017 tercatat :

 

  • Hembusan 427 kali.
  • Hybrid/Fase Banyak 26 kali
  • Vulkanik Dangkal 83 kali.
  • Vulkanik Dalam 409 kali.
  • Tektonik Lokal 237 kali (64 kali terasa).

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

 

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

 

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 10 Oktober 2017 Pukul 09:34 WIB, tinggi asap tidak teramati karena tertutup kabut.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA terkait dengan asap putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 2242 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Condong ke arah barat. Material abu letusan belum teramati.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 10 Oktober 2017 pukul 07:29 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2229 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah baratdaya-barat.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan bulan September 2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor    diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Bandung, Provinsi  Jawa Barat,
  2. Kabupaten  Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat,
  3. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali,
  4. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,
  5. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat,
  6. Kabupaten Agam , Provinsi Sumatera Barat,
  7. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi  Jawa Timur,
  8. Kabupaten Tanggamus, Provinsi  Lampung,
  9. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  10. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
  11. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat,
  12. Kabupaten Sleman, Provinsi DIY,
  13. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur,
  14. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Timur,
  15. Kabupaten Pangandaran , Provinsi Jawa Barat,
  16. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali ,
  17. Kabupaten Klungkung , Provinsi Bali ,
  18. Kabupaten  Bengkalis , Provinsi Riau .

 

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bandung, Provinsi  Jawa Barat.

Intensitas hujan tinggi yang turun di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (9/10) sore menyebabkan gerakan  tanah di Kecamatan Ibun dan mengakibatkan tanah longsor. Tanah longsor tersebut terjadi di Kampung Pasir Rincang RT 02/02, Desa Dukuh, Kecamatan Ibun, sekitar pukul 19.30 WIB. Dimensi gerakan tanah tercatat  dengan panjang 15 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 6 meter menimpa rumah milik warga sekitar Tini. Kronologi kejadian, saat korban sedang tiduran di kamar, terdengar suara dari kamar kosong (di sebelah kamarnya) dan ketika dilihat ternyata kamar kosong tersebut sudah jebol oleh tanah. Tanah tersebut berasal dari sawah yang berada di pinggir atas rumahnya. 

(Sumber berita: https://news.detik.com/berita/d-3677193/1-rumah-rusak-akibat-terkena-longsor-di-bandung)

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama,  tata guna lahan yang tidak tepat dengan persawahan diatas pemukiman , drainase pengaran sawah yang tidak baik  mengakibatkan lereng dipersawah menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Warga yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat
  • Memperbaiki saluran drainase dengan saluran yang kedap air.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

2. Kabupaten  Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat.

Ruas jalan provinsi di Kampung Cihuni, Desa Rambay, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, putus setelah tertimbun longsor, Selasa (10/10/2017). Meski tidak memakan korban jiwa, bencana akibat guyuran hujan hampir semalaman tersebut sempat menghambat arus lalu lintas. Material longsor berupa tanah dan bebatuan dari tebing setinggi 20 meter itu menimbun jalan selebar tiga meter. Tidak ada korban jiwa, namun jalan yang menghubungkan Tegalbuleud dan Cidolog ini sempat putus. Tapi kini sudah bisa dilalui sepeda motor. Longsor subuh tadi ini akibat tebing tak kuat menahan volume air hujan yang mengguyur beberapa jam.

(Sumber berita: http://poskotanews.com/2017/10/10/jalan-provinsi-di-sukabumi-putus-tertimbun-longsor/)

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Membangun tembok penahan atau retaining wall yang dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan pondasi yang dalam dan kuat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat
 

 

3. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Pasca hujan lebat yang terus mengguyur Gianyar, warga di kampung turis Ubud digegerkan dengan bencana tanah longsor yang terjadi di tikungan pada Jalan Penestanan, Ubud, Selasa (10/10) dini hari. Tidak ada korban jiwa dari kejadian ini, hanya material tanah dan bongkahan batu menutup seluruh badan jalan menuju Museum Blanco itu. Informasi dihimpun bencana tanah longsor ini diduga terjadi pada Selasa dini hari sekitar pukul 04.00 wita. Petugas BPBD Gianyar pun sudah mendatangi lokasi tersebut pada Selasa pagi. Namun karena material longsor berupa tanah dan bongkahan batu besar, mereka terpaksa harus menunggu alat berat untuk evakuasi.Selama proses itu, bencana ini pun sempat menggangu jalannya arus lalu lintas. Petugas kepolisian yang menerima laporan ini juga turun ke lokasi, melakukan pengaturan arus menuju titik bencana tersebut.  

(Sumber berita: http://www.balipost.com/news/2017/10/10/24408/Longsor-Sempat-Membuat-Jalur-Menuju...html

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
  • Membangun tembok penahan atau retaining wall yang dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan pondasi yang dalam dan kuat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

 

4. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Diguyur hujan deras, tebing setinggi 100 meter di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, longsor, Selasa dini hari, 10 Oktober 2017.  Selain menimpa area pesawahan, material longsor juga menimbun akses jalan yang menghubungkan dua desa. Kegiatan ekonomi warga pun lumpuh total. 

(Sumber berita: http://news.liputan6.com/read/3123977/tebing-di-tasikmalaya-longsor-aktivitas-ekonomi-lumpuh-total

Rekomendasi :

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Pada lokasi bencana agar dipasang rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar masyarakat lebih waspada, terutama di musim hujan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

 

5. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat

Akibat hujan deras yang mengguyur Pasaman Barat dalam 2 hari terakhir berturut-turut, 13 unit rumah di Jorong Kampung Baru, Nagari Batahan, Kecamatan Ranah Batahan ambruk dihantam abrasi Sungai Batahan dan banjir, Senin (9/10). Sementara ratusan rumah warga lainnya terendam banjir. . Kondisi rumah warga ada yang hanyut, ada juga mengalami rusak berat. Ke-13 rumah tersebut 11 unit berada di Jorong Kampung Baru dan 2 unit di Jorong Air Napal. Simpang Tolang Baru, Paraman Sawah, Kampung Baru dan Air Napal. Kerusakan pada kejorongan lain adalah pada areal pertanian.Di kejorongan tersebut ratusan rumah terendam. Ratusan hektare tanaman jagung mengalami gagal panen. Saat ini Korban sudah kita relokasi ke tempat yang aman terlebih dahulu. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, akan tetapi kerugian ditaksir ratusan juta.

(Sumber berita: http://hariansinggalang.co.id/banjir-dan-abrasi-di-pasaman-barat-13-rumah-rusak-berat/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh, vegetasi dibagian hulu sungai yang tidak mampu menahan limpahan air  dan kemiringan lereng yang cukup curam, dan rumah rumah yang dibangun didekat tebing -sungai.

Rekomendasi :

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Saluran irigasi segera dibangun kembali dengan konstruksi yang kuat, fondasi sampai tanah/batuan yang keras
  • Saluran air permukaan /drainase  segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi bencana dan sosialisasi kepada warga petani terkait ancaman longsor dan upaya mitigasinya
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

 

6. Kabupaten Agam , Provinsi Sumatera Barat

Jalan di Kecamatan Palembayan, Agam longsor lagi. Kali ini terjadi di Kampung Tabu, Nagari Sipinang. Yang longsor itu adalah jalan inventaris provinsi, menimpa jalan inventaris kabupaten yang berada di bawah. Akibat bencana itu arus lalulintas terganggu. Kejadian , longsor pada hari  Minggu (8/10). Longsor membawa separuh badan jalan. Air hujan itu menggenang di parit atau drainasi yang tidak berfungsi dengan baik. Air hujan yang menggenang itu masuk kedalam tanah (Leacing) menelusuri pori-poti tanah. Warga berharap Pemerintah Kabupaten dan Relawan turun tangan membantu, kalau-kalau kondisi itu akan semakin memburuk. Longsor tersebut diperkirakan akibat  hujan lebat dengan curah yang begitu tinggi itu terjadi semenjak sabtu hingga minggu.

Sumber  :  http://hariansinggalang.co.id/jalan-di-palembayan-longsor-lalulintas-terganggu/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan serta membiarkan air melimpas dan mengalir disi tebing jalan yang curam
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
  • Membangun tembok penahan atau retaining wall yang dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan pondasi yang dalam dan kuat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.