Laporan Kebencanaan Geologi 10 Oktober 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa, 10 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah tidak teramati karena kabut. Angin ke arah barat dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan sebanyak 1 kali. Kolom abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 2000 m dari puncak. Erupsi tidak diikuti awan panas guguran. Terekam 33 kali guguran lava dan secara visual tidak teramati karena kabut.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Oktober 2017 Pukul 16:11 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, condong ke arah timur.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level IV atau AWAS,  terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Aktivitas kegempaan G. Agung (3142 m dpl) masih tetap tinggi dan fluktuatif pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.

Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 09 Oktober 2017 terekam 317 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 484 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 10 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 73 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 135 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 4642 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 90 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 400-700 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barah barat.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 09 Oktober 2017 pukul 08:58 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Tinggi kolom tidak teramati. Angin ke barat. Seismograf dalam perbaikan. Melalui rekaman seismograf pada 08 Oktober 2017 (pk. 11:00-15:00 WIT) tercatat:

  • 38 kali erupsi/letusan,
  • 30 kali hembusan,
  • 1 kali guguran lava.
  • 11 kali tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Tinggi kolom asap putih tipis tekanan lemah 50-500 m condong ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Oktober 2017 tercatat:

  • Hembusan 139 kali.
  • Hybrid/Fase Banyak 1 kali
  • Vulkanik Dangkal 18 kali.
  • Vulkanik Dalam 111 kali.
  • Tektonik Lokal
  • 16 kali (10 kali terasa).

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Lewotolo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal :  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

  1. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi  Jawa Timur
  2. Kabupaten Tanggamus, Provinsi  Lampung
  3. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  5. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  kelerengan yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air  dan drainase air  yang tidak berfungsi dengan baik.

Dampak :

  1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten Banyuwangi merusak dua rumah milik warga dan 17 rumah terancam.
  2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten Tanggamus , Lampung  mengakibatkan jalan tidak bisa dilewati kendaraan.
  3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten  Cianjur mengakibatkan  akses jalan  belum dapat dilalui kendaraan.
  4. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten  Magelang  menyebabkan talud bahu jalan  sepanjang 35 m dengan ketinggian 15 m longsor dengan lebar longsoran ±2 m.
  5. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat mengakibatkan irigasi Cipisitan mengalami kerusakan, sehingga aliran persawahan terganggu di 3 desa.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 

Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung, Sumut, G. Agung, Bali);
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  3. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati berkabut. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan 1 kali. Kolom abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian dari puncak 2000 m. Erupsi tidak disertai adanya awan panas guguran. Guguran lava terekam 33 kali. Arah dan jarak luncuran tidak teramati karena kabut.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan sering berkabut disertai hujan lebat di malam hari. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 1500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.
  • 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.
  • 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  4 kali terasa.
  • 04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  tidak ada terasa.
  • 05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 07 Oktober 2017 terekam 309 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 536 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 44 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 09 Oktober 2017 terekam 317 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 484 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 10 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 73 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 135 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 90 kali erupsi/letusan. dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-26 mm (dominan 2 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400-700 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati tinggi asap putih kelabu tekanan sedang 300-600 m. Seismograf dalam perbaikan. Melalui rekaman seismograf pada 09 Oktober 2017 (pk. 11:00 - 15:00 WIT) tercatat:

  • 38 kali erupsi/letusan,
  • 30 kali hembusan,
  • 1 kali guguran lava
  • 11 kali tremor harmonik.

Arah dan jangkauan luncuran guguran lava tidak teramati karena puncak tertutup kabut.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Lewotolo sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.

Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati tinggi asap putih tipis tekanan lemah 50 m. Angin ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 09 Oktober 2017 tercatat:

  • Hembusan 139 kali.
  • Hybrid/Fase Banyak 1 kali.
  • Tremor Harmonik nihil.
  • Vulkanik Dangkal 18 kali
  • Vulkanik Dalam 111 kali
  • Tektonik Lokal 16 kali (Terasa 10 kali)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Lewotolo terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 09 Oktober 2017 Pukul 06:11 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah barat.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA terkait dengan asap putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 2242 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Condong ke arah barat. Material abu letusan belum teramati.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 09 Oktober 2017 pukul 08:58 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah barat.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Lewotolo, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan bulan September 2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :

  • Kabupaten Banyuwangi, Provinsi  Jawa Timur,
  • Kabupaten Tanggamus, Provinsi  Lampung,
  • Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
  • Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Sleman, Provinsi DIY,
  • Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur,
  • Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Timur,
  • Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali,
  • Kabupaten Klungkung , Provinsi Bali,
  • Kabupaten  Bengkalis , Provinsi Riau,
  • Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,
  • Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
  • Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung,
  • Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

 

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi  Jawa Timur.

Sebuah bukit di Dusun Sumbergondo RT 02 RW 03, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore Minggu (8/10) longsor setelah diguyur hujan. Longsoran bukit tersebut merusak dua rumah milik warga. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, selain dua rumah yang terdampak longsor tersebut, ada sekitar 17 rumah yang kemungkinan besar terkena dampak. “Dua rumah yang terkena dampak longsor yaitu milik Mad Yahya dan Musliha. Pihak pemerintah desa dibantu pihak kepolisian, koramil dan warga membantu membersihkan dan melakukan pencegahan longsor susulan yang kemungkinan bisa berdampak lebih besar, ” ungkap Thoyib, Kepala Dusun Sumbergondo.

(Sumber berita: http://www.kabarbanyuwangi.info/diguyur-hujan-bukit-di-glenmore-longsor-rusak-rumah-warga.html)

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama dan kemiringan lereng yang cukup curam sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Warga yang terdampak gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat
  • Memperbaiki saluran drainase dengan saluran yang kedap air.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

2. Kabupaten Tanggamus, Provinsi  Lampung.

"Longsor terjadi pada Minggu (8/10) sekitar pukul 17.00 Wib, mengakibatkan longsor di 3 titik jalan utama Pekon Tigineneng yang menghubung Kecamatan Kota Agung Timur dan Kecamtan Limau”, kata Kapolsek Limau Iptu Rukmanizar mewakili Kapolres Tanggamus. Lanjut Kapolsek, akibat curah hujan yang tinggi longsor kembali terjadi pada pukul 20.00 WIb yang mengakibatkan jalan tidak bisa dilewati kendaraan. “Masyarakat yang akan melintas jalan setempat, kalau hujan lebat turun jangan melintasi jalan sepanjang 2 Km antara Ketapang dengan Tigineneng karena banyak tebing curam. Tunggu hujan reda beberapa saat baru lewat karena khawatir ada lonsor dari atas bisa terbawa kelaut”, himbaunya. Polda Lampung. Anggota Polsek Limau Bripka Sumantri dan Babinsa Koramil bersama warga setempat membersihkan material longsor yang menutupi badan jalan di Jalan Pekon Tegineneng Kecamatan Limau Kabupaten Tanggamus, Senin (9/10/17) pagi.

(Sumber berita: http://tribratanews.polri.go.id/?p=270065)

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
  • Membangun tembok penahan atau retaining wall yang dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan pondasi yang dalam dan kuat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

3. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Jalur utama antar desa dan kecamatan di Desa Panyindangan, Kecamatan Cibinong, Cianjur tertutup longsor yang disertai pergerakan tanah. Akibatnya akses menuju wilayah tersebut hingga saat ini belum dapat dilalui kendaraan. "Longsor yang menutup sebagian besar badan jalan membuat akses utama jalan tidak dapat dilalui akibat longsor yang terjadi di Desa Panyindangan. Akibatnya aktifitas dan roda perekonomian warga terhambat, menuju atau keluar dari wilayah kami," kata Camat Cibinong Acep Junaedi pada Antara, Senin (9/10/2017). Dia menjelaskan, satu hari sebelumnya wilayah tersebut diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi selama beberapa jam, sehingga mengakibatkan tanahnya labil mulai mengalami pergerakan hingga berujung longsor."Longsor tidak mengakibatkan korban jiwa atau melanda perkampungan, namun akses jalan dari Desa Panyindangan Cibinong menuju Jalan Desa Srinagalih Sindangbarang tertutup total. Kami berharap dinas terkait segera membersihkan material yang menutup jalan," katanya. Pihaknya mencatat terdapat 15 titik longsor disepanjang Jalan Desa Panyindangan, sehingga menutup akses menuju kawasan tersebut atau sebaliknya keluar dari wilayah tersebut menuju desa dan kecamatan lain.

(Sumber berita: http://www.kabarbanyuwangi.info/diguyur-hujan-bukit-di-glenmore-longsor-rusak-rumah-warga.html)

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing.
  • Membangun tembok penahan atau retaining wall yang dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan pondasi yang dalam dan kuat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Terjadi tanah longsor pada hari Senin 09 Oktober 2017, pukul 10.30 WIB di Dsn. Semawang, Desa Balerejo, Kec. Kaliangkrik , Kab. Magelang. hujan deras  dari sore hingga malam hari di wilayah Kecamatan Kaliangkrik  yang menyebabkan talud bahu jalan  Kalegen-B alerejo yang berada di Dusun Semawang, Desa Balerejo, Kecamatan Kalingkirk sepanjang 35 m dengan ketinggian 15 m longsor dengan lebar longsoran ±2 m. BPBD melakukan assessment pada lokasi kejadian bencana.

(Sumber berita: http://bpbdjateng.info/aktivitas-/laporan-bencana/53-longsor/6555-tanah-longsor-di-kab-magelang.html?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+bpbdjateng%2FHKyl+%28Beranda%29)

Rekomendasi :

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Segera memperbaiki bangunan talut yang rusak dan membersihkan material longsoran karena material longsoran tersebut berpotensi menjadi longsor susulan.
  • Perbaikan bangunan talut atau pembersihan material longsoran yang dilakukan oleh pemda dan penduduk setempat agar jangan dilakukan pada saat dan setelah hujan.
  • Pada lokasi bencana agar dipasang rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar masyarakat lebih waspada, terutama di musim hujan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

5. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan data yang diterima Warta Priangan,  longsor tersebut mengakibatkan irigasi Cipisitan mengalami kerusakan, sehingga aliran persawahan terganggu di 3 desa diantaranya Desa Mekarsari, Muktisari dan Karang Ampel. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun Jalan Dusun Padasuka sepanjang 100 meter dan Irigasi Cipisitan rusak. Aparat TNI beserta aparat desa saat ini sedang berkoordinasi dilapangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

(Sumber berita: https://wartapriangan.com/2017/10/09/tebing-setinggi-40-meter-di-ciamis-longsor/)

Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh, tata guna lahan dan kemiringan lereng yang cukup curam.

Rekomendasi :

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Saluran irigasi segera dibangun kembali dengan konstruksi yang kuat, fondasi sampai tanah/batuan yang keras
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi bencana dan sosialisasi kepada warga petani terkait ancaman longsor dan upaya mitigasinya.