Laporan Kebencanaan Geologi 30 September 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

 

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu, 30 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah putih tipis teramati dengan tinggi 50-1000 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan, teramati kolom abu putih keabuan tebal mencapai ketinggian 2000 m di atas puncak condong ke timur dan barat. Erupsi diikuti oleh awanpanas guguran yang meluncur sejauh 2000 m ke arah tenggara-timur dan selatan. Terekam 60 kali guguran lava dan secara visual teramati meluncur sejauh 500-1000 m ke arah tenggara-timur dan selatan.Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 September 2017 Pukul 05:42 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, condong ke arah Barat.

G. Agung (Bali):

Adanya peningkatan aktivitas vulkanik dari kegempaan yang terus meningkat maka status Gunung Agung (3142 m dpl) di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Peningkatan kegempaan masih terjadi signifikan pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis dengan tinggi 50-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, pada tanggal 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal. Pada 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Pada 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 25 September 2017, terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 30 September 2017 Pukul 00:00 WITA hingga 06:00 WITA, terekam 43 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 135 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 September 2017 Pukul 07:45 WITA, terkait asap putih tipis menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3242 mdpl atau 100 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dieng (Jawa Tengah):

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dieng (2565 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal dengan tekanan lemah setinggi 10-70 m di atas puncak. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Utara, Timur, dan Timurlaut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali Gempa Hembusan.

Hasil monitoring suhu:

Suhu Kawah Sileri

Min 93.1°C, Max 93.3°C, rata-rata 93.2°C.

Suhu Tanah Kawah Sileri

Min 59.9°C, Max 59.6°C, rata-rata 59.3°C.

Suhu Kawah Timbang

Min 58.9°C, Max 60.7°C, rata-rata 60.1°C.

Suhu Tanah Kawah Timbang

Min 17.7°C, Max 18.3°C, rata-rata 18.0°C.

Rekomendasi:

-Sehubungan dengan adanya peningkatan aktifitas vulkanik di kawah Sileri, maka masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawah Sileri dalam dalam jarak 1000 meter dari bibir kawah.

-Masyarakat yang berada di dalam radius 1 km dari bibir kawah Sileri, yaitu yang bermukim di Desa Kepakisan dan dusun sekalam( Kecamatan Batur ) agar diungsikan sementara ke tempat yang aman.

-Masyarakat tidak melakukan aktifitas di Kawah Timbang, adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan.

-Masyarakat agar Waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari 1 ( satu ) meter karena dari tempat tersebut masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S.

VONA:

Belum ada VONA yang dikirim karena manifestasi abu di permukaan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 24 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 400-800 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 27 September 2017 pukul 07:50 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratdaya.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf pada 29 September 2017 tercatat 124 kali erupsi/letusan, 93 kali hembusan dan 44 kali guguran lava. Visual aktivitas puncak  tidak teramati karena tertutup kabut.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: 

Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1. Kabupaten Banjarnegara., Provinsi Jawa Tengah

2. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat   kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang tinggi  dengan durasi yang cukup lama, drainase air yang tidak berfungsi dan , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air.

Dampak :

1.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menyebabkan lalu lintas terganggu,dan rumah rusak.

2.            Bencana gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di Kabupaten Bandung Barat menyebabkan satu rumah rusak.

3.            Bencana  gerakan anah / tanah longsor di Kabupaten Sukabumi mennyebabkan lalu lintas terhambat dan rumah mengalami kerusakan.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 

Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

II. DETAIL

1. Gunung Ap

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut, G. Agung*, Bali);

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Dieng*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api);

d. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50-1000 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan, teramati kolom abu putih keabuan tebal mencapai ketinggian 2000 m di atas puncak, condong ke  timur dan barat.  Erupsi diikuti oleh awanpanas guguran yang meluncur sejauh 2000 m ke arah tenggara-timur dan selatan. Terekam 60 kali guguran lava dan teramati meluncur sejauh 500-1000 m ke arah tenggara-timur dan selatan.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas. Asap dari kawah teramati putih tipis dengan tinggi 50 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, pada tanggal 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal. Pada 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III. Pada 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 30 September 2017 Pukul 00:00 WITA hingga 06:00 WITA, terekam 43 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 135 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

*Gunungapi Dieng (Jawa Tengah)

Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaitu Kawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:

-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.

-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.

Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai meningkat lagi secara signifikan sejak tanggal 13 September 2017.

Pengamatan visual Gunungapi Dieng dari periode Bulan Juni 2017 hingga 14 September 2017 pukul 22.30 WIB, terekam 24 kali gempa Tektonik Jauh, 173 kali gempa Tektonik Lokal (2 x terasa MMI IV; 1 x terasa MMI II), 51 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 10 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 12 kali gempa Tornillo, 485 kali gempa Hembusan, 1 kali gempa Letusan, dan gempa Tremor Menerus.

Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis dengan tekanan lemah setinggi 10-70 m di atas kawah. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Utara, Timur dan Timurlaut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali Gempa Hembusan.

Hasil monitoring suhu:

Suhu Kawah Sileri

Min 93.1°C, Max 93.3°C, rata-rata 93.2°C.

Suhu Tanah Kawah Sileri

Min 59.9°C, Max 59.6°C, rata-rata 59.3°C.

Suhu Kawah Timbang

Min 58.9°C, Max 60.7°C, rata-rata 60.1°C.

Suhu Tanah Kawah Timbang

Min 17.7°C, Max 18.3°C, rata-rata 18.0°C.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dieng terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo maupun Batang tentang penanggulangan bencana erupsi Dieng.

*Gunungapi Dukono (Hakmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 24 kali erupsi/letusan dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-10 mm (dominan 1 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400-800 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Selatan dan Barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf pada 29 September 2017 tercatat 124 kali erupsi/letusan, 93 kali hembusan dan 44 kali guguran lava. Visual aktivitas puncak tidak teramati karena tertutup kabut.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 29 September 2017 Pukul 05:42 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat

(2) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 29 September 2017 Pukul 07:45 WITA terkait dengan asap putih tipis menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3242 mdpl atau 100 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 27 September 2017 pukul 07:50 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratdaya.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 1. Kabupaten Banjarnegara., Provinsi Jawa Tengah*,  2. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat*,  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,   4. Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan,  5. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,  6. Kabupaten Trenggalek, Provinsi  Jawa Timur,  7.  Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah,  8. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,      9. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah,  10. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,   11. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,   12. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,  13. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,   14. Kota Sorong, Provinsi  Papua Barat , 15. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 16. Kabupaten Tagulandang , Provinsi Sulawesi Utara,      18. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 15. Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.            Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

Dua kejadian tanah longsor dilaporkan terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, akibat hujan yang terjadi pada hari Jumat, Tanah longsor itu terjadi di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, dan Desa Sokaraja, Kecamatan Pagentan. Tanah longsor di Desa Clapar terjadi pada tanggal 29 September sekitar pukul 16.30 WIB dan sempat menutup ruas jalan penghubung Madukara dan Pagentan. Ruas jalan tersebut dapat dilalui kendaraan kembali . Sementara di Desa Sokaraja RT 01 RW 01, kata dia, tebing fondasi rumah Sugito (70) dengan ketinggian 3 meter dan lebar 6 meter dilaporkan longsor pada pukul 18.10 WIB setelah terjadi hujan lebat sejak pukul 18.10 WIB. Akibat kejadian tersebut, lanjut dia, dinding rumah bagian belakang ambruk dan lantai rumah retak-retak.

Sumber  : http://www.antaranews.com/berita/655547/bpbd-dua-kejadian-tanah-longsor-di-banjarnegara

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanha yang labil di daerah kemiringan lereng,   rumah dibangun di dekat tebing, drainase yang kurang baik dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi

Rekomendasi :

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
  • Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah di jalur jalan rawan longsoruntuk meningkatkan kewaspadaan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

2. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Longsor terjadi di salah satu rumah milik warga bernama Ade, Kamis (28/9/2017). Ia adalah warga Kampung Cibarengkok, RT 2 RW 13, Desa Nyalindug, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Akibat kejadian tersebut, bagian dapur Ade jebol diterjang longsor,  akibat terdorong longsoran tebing setinggi delapan meter.

http://www.prfmnews.com/berita.php?detail=akibat-longsor-dapur-ade-jebol-

Penyebab kejdian gerakan tanah / tanah longsor , diperkirakan akibat rumah di bangun di dekat tebing, drainase yang kurang baik , tanah pelapukan yang yang poros dan mudah menyerap air  serta dipicuh curah hujan yang tinggi

Rekomendasi :

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
  • Segera membersihkan material gerakan tanah dengan tetap menjaga kewaspadaan terhadap kejadian longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

kejadian gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di tiga titik wilayah di Kabupaten Sukabumi. Peristiwa ini terjadi karena derasnya hujan yang mengguyur wilayah Sukabumi dalam beberapa hari terakhir. Longsor di Kecamatan Kabandungan menimpa jalan desa sepanjang 25 meter pada Rabu sekitar pukul 08.00 . Tepatnya terjadi di Kampung Cisasah RT 02 RW 08 Desa Tugubandung. Jalan yang terkena longsor ini berada di lintasan Jalan Cisasah-Walang Sari Kalapanunggal. Kejadian longsor kedua ujar Yana terjadi di Kampung Cigoong RT 14 RW 05, Desa Pulosari, Kecamatan. Kalapanunggal pada Rabu sekitar pukul 13.15 WIB. Longsor tersebut menerjang tebing penahan tanah (TPT) dengan panjang 5 meter dan lebar 8 meter. Selain menimpa TPT kata dia longsor juga mengancam satu unit rumah milik warga atas nama Aca. Longsor yang ketiga  terjadi pada Kamis di  jalan perumahan Cipalabuhan RT 25 RW  06, Desa Buniasih,  Kecamatan Tegalbuleud, Bencana longsor terang dia menimpa satu unit rumah panggung milik Suryana.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/09/29/ox19lh409-hujan-deras-akibatkan-longsor-di-tiga-titik-wilayah-sukabumi

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanha yang labil di daerah kemiringan lereng,   rumah dibangun di dekat tebing, drainase yang kurang baik dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi

Rekomendasi :

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
  • Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah di jalur jalan rawan longsoruntuk meningkatkan kewaspadaan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.