Laporan Kebencanaan Geologi 27 September 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu, 27 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah putih tipis teramati dengan tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan, teramati kolom abu putih keabuan tebal mencapai ketinggian 3000 m di atas puncak condong ke timur-tenggara. Erupsi diikuti oleh awanpanas letusan yang meluncur sejauh 1000-1500 m ke arah tenggara dan selatan. Terekam 44 kali guguran lava dan secara visual teramati meluncur sejauh 500-1000 m ke arah tenggara-timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 September 2017 Pukul 23:44 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 5460 m di atas permukaan laut atau 3000 m di atas puncak, condong ke arah Timur-Tenggara.

G. Agung (Bali):
Adanya peningkatan aktivitas vulkanik dari kegempaan yang terus meningkat maka status Gunung Agung (3142 m dpl) di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Peningkatan kegempaan masih terjadi signifikan pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis dengan tinggi 50-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, pada tanggal 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal. Pada 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Pada 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 25 September 2017, terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 27 September 2017 Pukul 00:00 WITA hingga 06:00 WITA, terekam 106 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 165 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 27 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.
VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 September 2017 Pukul 05:27 WITA, terkait dengan meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik yang sangat signifikan. Material abu letusan belum teramati.

G. Dieng (Jawa Tengah):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dieng (2565 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal dengan tekanan lemah setinggi 10-60 m di atas puncak. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Utara, Timur dan Timurlaut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 9 kali Gempa Hembusan dan Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.1-0.2 mm (dominan 0.1 mm).
Hasil monitoring suhu:Suhu Kawah SileriMin 93.3°C, Max 93.5°C, rata-rata 93.4°C.Suhu Tanah Kawah SileriMin 68.5°C, Max 69.3°C, rata-rata 68.8°C.Suhu Kawah TimbangMin 60.5°C, Max 61.3°C, rata-rata 60.9°C.Suhu Tanah Kawah TimbangMin 17.7°C, Max 18.5°C, rata-rata 18.0°C.
Rekomendasi:

  • Sehubungan dengan adanya peningkatan aktifitas vulkanik di kawah Sileri, maka masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawah Sileri dalam dalam jarak 1000 meter dari bibir kawah.
  • Masyarakat yang berada di dalam radius 1 km dari bibir kawah Sileri, yaitu yang bermukim di Desa Kepakisan dan dusun sekalam( Kecamatan Batur ) agar diungsikan sementara ke tempat yang aman.
  • Masyarakat tidak melakukan aktifitas di Kawah Timbang, adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan.
  • Masyarakat agar Waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari 1 ( satu ) meter karena dari tempat tersebut masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S.

VONA: Belum ada VONA yang dikirim karena manifestasi abu di permukaan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 11 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 400-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Utara-Baratlaut.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 25 September 2017 pukul 07:40 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 94 kali erupsi/letusan, 81 kali hembusan dan 3 kali guguran lava. Visual aktivitas puncak  tidak teramati karena tertutup kabut. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

  • Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,
  • Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat   kemiringan lereng terjal, drainase air yang tidak berfungsi dan , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan dipicuh oleh curah hujan deras.
Dampak :

  • Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi di kecamatan Cisalak, kabupaten Subang menyebabkan  tiga rumah warga mengalami rusak berat dan penghuni rumah itu harus mengungsi.
  • Bencana gerakan tanah/tanaj longsor terjadi di Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya,Jawa Barat. Meski tidak menimbulkan korban,namun akibat peristiwa ini,tujuh desa menjadi Terisolir,karena akses jalan tidak bisa dilalui akibat tertutup material longsor.
  • Bencana gerakan tanah/ tanah longsor terjadi di Jalan Gunungkarang Kecamatan Cibeureum, Sukabumi. Tembok badan jalan yang memisahkan sawah dengan badan jalan roboh sepanjang 15 meter dengan tinggi satu meter. Dampak sebagian badan jalan tertutup material tanah. 
  • Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi di kabupaten Bogor  menyebabkan enam  bangunan rusak 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

3. Gempa Bumi

  1. Gempa Bumi di Timurlaut Kotamobagu, Sulawesi Utara
  2. Gempa bumi di perairan barat daya Bengkulu


Gempa Bumi di Timurlaut Kotamobagu, Sulawesi Utara
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 26 September 2017, pukul 05:07:04 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0.76°LU dan 124.36° BT dengan magnitudo 5.0 SR pada kedalaman 197 km berjarak 6 km Timurlaut Kotamobagu, Sulawesi Utara.
Dampak Gempa Bumi: Belum ada laporan mengenai kerusakan atau pun korban jiwa. Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Penyebab Gempa Bumi: Diperkirakan pusat gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas tektonik Lempeng Laut Maluku yang menunjam ke arah barat Sangihe.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.



Gempa bumi di perairan barat daya Bengkulu
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 26 September 2017, pukul 12:46 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,43° BT dan 5,59° LS, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 219 km barat daya Bengkulu. GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempabumi berpusat di koordinat 101,37° BT dan 5,71° LS dengan magnitudo 5,0 mb dan kedalaman 10 km.
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa bumi: Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut, G. Agung*, Bali); 
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Dieng*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan, teramati kolom abu putih keabuan tebal mencapai ketinggian 3000 m di atas puncak, condong ke timur-tenggara. Erupsi diikuti oleh awanpanas letusan yang meluncur sejauh 1000-1500 m ke arah tenggara dan selatan. Terekam 44 kali guguran lava dan teramati meluncur sejauh 500-1000 m ke arah tenggara-timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas. Asap dari kawah tidak teramati. Melalui rekaman seismograf, pada tanggal 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal. Pada 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III. Pada 27 September 2017 Pukul 00:00 WITA hingga 06:00 WITA, terekam 106 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 165 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 27 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dieng (Jawa Tengah)
Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaitu Kawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.
Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai meningkat lagi secara signifikan sejak tanggal 13 September 2017. Saat ini teramati asap putih tipis mengepul mencapai ketinggian 10-80 m. Angin bertiup lemah ke arah Utara. Pengamatan visual Gunungapi Dieng dari periode Bulan Juni 2017 hingga 14 September 2017 pukul 22.30 WIB, terekam 24 kali gempa Tektonik Jauh, 173 kali gempa Tektonik Lokal (2 x terasa MMI IV; 1 x terasa MMI II), 51 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 10 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 12 kali gempa Tornillo, 485 kali gempa Hembusan, 1 kali gempa Letusan, dan gempa Tremor Menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal dengan tekanan lemah setinggi 10-60 m di atas puncak. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Utara, Timur, dan Timurlaut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 9 kali Gempa Hembusan dan Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.1-0.2 mm (dominan 0.1 mm).
Hasil monitoring suhu:Suhu Kawah SileriMin 93.3°C, Max 93.5°C, rata-rata 93.4°C.Suhu Tanah Kawah SileriMin 68.5°C, Max 69.3°C, rata-rata 68.8°C.Suhu Kawah TimbangMin 60.5°C, Max 61.3°C, rata-rata 60.9°C.Suhu Tanah Kawah TimbangMin 17.7°C, Max 18.5°C, rata-rata 18.0°C.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dieng terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo maupun Batang tentang penanggulangan bencana erupsi Dieng.

Gunungapi Dukono (Hakmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 11 kali erupsi/letusan dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-12 mm (dominan 1 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Utara-Baratlaut. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 94 kali erupsi/letusan, 81 kali hembusan dan 3 kali guguran lava. Visual aktivitas puncak tidak teramati karena tertutup kabut.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll
VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 26 September 2017 Pukul 23:44 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 5460 m di atas permukaan laut atau 3000 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur-Tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 26 September 2017 Pukul 05:27 WIB terkait dengan meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik yang sangat signifikan. Material abu letusan belum teramati.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 25 September 2017 pukul 07:40 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Utara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
  4. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  5. Kota Sorong, Provinsi  Papua Barat
  6. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  7. Kabupaten Tagulandang , Provinsi Sulawesi Utara
  8. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  9. Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat
  10. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara
  11. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.  


Kejadian Gerakan Tanah terbaru:

1. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat

Bencana banjir bandang dan longsor melanda kampung Pasir Jambe RT. 03/01 desa Gardusayang kecamatan Cisalak, Subang, Selasa (26/9/2017). Peristiwa tersebut menyebabkan  tiga rumah warga mengalami rusak berat. Selain itu, bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi sekitar pukul 18.30 Wib membuat sejumlah rumah lainnya terendam. Longsor dan banjir bandang tersebut membuat tiga rumah milk Ujang Dedi, Edi dan Endang mengalami kerusakan yang cukup parah. Akibat kerusakan yang cukup parah tersbut, mereka yang menghuni rumah itu harus mengungsi ke rumah keluarga atau kerabat. 
http://www.mediajabar.com/daerah/inalillahi-banjir-bandang-landa-kecamatan-cisalak-subang.html
Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat   kemiringan lereng terjal,, kurangnya vegetasi pada bagian hulu sungai,  dan , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan dipicuh oleh curah hujan deras
Rekomendasi  : 

  • Membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Menata aliran air permukaan pada • Agar tidak membangun di sepanjangn sepadan sungai
  • Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
  • Menjaga kelestraian tumbuhan di tebing jalan dan menanam pohon berakar kuat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

 

2.  Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Akibat diguyur hujan,  tebing setinggi kurang lebih 20 meter dengan lebar 20 meter yang berada di Kampung   Male-er Desa Pusparaja Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya,Jawa Barat,selasa(26/09/2017) sekitar pukul 01.00 WIB. Meski tidak menimbulkan korban, namun akibat peristiwa ini, tujuh Desa Di Kecamatan Cigalontang ,yakni Desa Nangtang,Tanjung Karang,Kersamaju,Sirna Galih,Puspamukti,Pusparaja. Dan Cigalontang Gunung menjadi Terisolir,karena akses jalan tidak bisa dilalui akibat tertutup material longsor.  Sumber berita  http://indofakta.com/news_12233.html, https://wartapriangan.com/2017/09/26/tebing-setinggi-puluhan-meter-longsor-tujuh-desa-di-tasikmalaya-terisolir/ 

Penyebab gerakan tanah:tanah longsor diperkirakan  akibat   kemiringan lereng terjal, drainase air yang tidak berfungsi dan , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan dipicuh oleh curah hujan deras

Rekomendasi  : 

  • Pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan
  • Membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.
  • Menjaga kelestraian tumbuhan di tebing jalan dan menanam pohon berakar kuat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat


3. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan longsor di sejumlah titik Kota Sukabumi. Longsor terjadi  pada Ahad (24/9) siang   di Jalan Gunungkarang RT 02 RW 09 Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum.Tembok badan jalan yang memisahkan sawah dengan badan jalan roboh sepanjang 15 meter dengan tinggi satu meter. Dampak sebagian badan jalan tertutup material tanah.  
sumber berita : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/09/26/owvplr-longsor-mulai-terjang-sejumlah-titik-di-sukabumi
Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat   kemiringan lereng terjal, drainase air yang tidak berfungsi dan , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan dipicuh oleh curah hujan deras
Rekomendasi  : 

  • Pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan
  • Membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Menata aliran air permukaan agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.
  • Menjaga kelestraian tumbuhan di tebing jalan dan menanam pohon berakar kuat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat

 

4. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Hujan yang mengguyur dua hari lalu, menyebabkan banjir dan longsor di beberapa titik. Senin (25/09/2017). Seperti di Desa Laladon, dan Ciomas Rahayu, Kecamatan Ciomas. Lima bangunan rusak akibat  Di Desa Laladon, ada empat bangunan. Tiga rumah satu musala hancur karena longsor. Adapun rumah yang rusak merupakan milik Asep (55), Ujang (50), Umang (60). ketiganya merupakan warga RT01/01, desa laladon, kecamatan Ciomas, kabupaten bogor. Sedangkan di Desa ciomas rahayu, satu rumah milik sugiono (60) warga RT 03/07 juga mengalami kerusakan akibat longsor. Di tempat lain, hujan yang menguyur wilayah Bogor menyebabkan satu kampung di Desa Sirnasari RT 05/01, tergenang air hingga setengah meter. Genangan ini terjadi akibat saluran irigasi di kampung itu meluap.
sumber berita : http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2017/09/26/waspada-bencana-longsor-mengancam-wilayah-kabupaten-bogor-bagian-barat/
Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat   kemiringan lereng terjal, drainase air yang tidak berfungsi dan , berkurangnya vegetasi  dibagian hulu sungai, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan dipicuh oleh curah hujan deras
Rekomendasi  : 

  • Pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan
  • Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Menata aliran air permukaan.
  • Menjaga kelestraian tumbuhan di bagian hulu sungai  dan menanam pohon berakar kuat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.