Laporan Kebencanaan Geologi 28 Agustus 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Senin,  28 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis mencapai ketinggian 50-1000 m dari puncak, condong ke arah Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 1 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 2000 m di atas puncak, condong ke Timur. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke arah Tenggara dan Timur. 
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 27 Agustus 2017 Pukul 08:05 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 2000  di atas puncak, condong ke arah Timur.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-300 m condong ke Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 106 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 26 Agustus 2017 pukul 07:34 WIT. Tinggi kolom abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratdaya.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi putih kelabu mencapai 300-400 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017 pukul 10:27 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena kemiringan lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan tinggi.
Dampak : 1. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di  Kabupaten Simalungun mengakibatkan 30 rumah terancam. 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

3. Gempa Bumi
Kejadian Gempa bumi 27 Agustus 2017:

  1. Gempa bumi di barat daya Pacitan, Jatim
  2. Gempa bumi di barat daya Waropen, Papua.


Gempa bumi di barat daya Pacitan
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 27 Agustus 2017, pukul 07:02:20 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 111.03° BT dan 10.57° LS, dengan magnitudo 5,6 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 265 km barat daya  Pacitan, Jatim.
Gempa bumi ini terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise dengan mekanisme sesar normal.
Dampak gempa bumiGempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi: 

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


Gempa bumi di barat daya Waropen, Papua
Gempabumi terjadi pada hari Minggu, tanggal27 Agustus 2017, pukul  08:5529 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat3,12° LS  dan 136,20° BT, dengan magnitudo 5,1SR pada kedalaman 10 Km, berjarak 60 Km barat daya Waropen Papua. 
Dampak gempabumi:Belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa. 
Penyebab gempabumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar yang berlokasi di sekitar pusat gempa bumi. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. 
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.



II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut);
  2. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
  3. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Kepulan asap putih tipis teramati mencapai ketinggian 50-1000 m condong ke arah Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 1 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom mencapai 2000 m di atas puncak, condong ke Timur. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke arah Timur dan Tenggara. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 02-03 Agustus 2017 dilakukan pada Tanggal 06 Agustus 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 23700 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-300 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 106 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-16 mm (dominan 1 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 300-400 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak.

Kegempaan:

  • Letusan 73 kali- Hembusan 38 kali
  • Guguran  15 kali
  • Tremor Harmonik 11 kali
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.


Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll
VONA terakhir yang terkirim:

  • G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 26 Agustus 2017 Pukul 08:19 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 1500 m di atas puncak,  condong ke arah Selatan.
  • G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 25 Agustus 2017 pukul 07:35 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratdaya.
  • G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017 pukul 10:27 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan Agustus  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Beberapa wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan utamanya   di wilayah Aceh dan Sumatera Barat, Sumatra Utara. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,  
  2. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur,  
  3. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, 
  4. Kabupaten lima puluh kota, Provinsi Sumatera Barat, 
  5. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, 
  6. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, 
  7. Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, 
  8. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat, 
  9. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 
1. Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Tanah longsor terjadi di Lingkungan Tambahan, kelurahan Pematang Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun,Sumatera Utara. Gerakan tanah terjadi sejak Januari 2017 dan terus berkembang hingga saat ini (saat berita dipublikasi). Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dengan tubuh longsoran yang semakin besar hingga tinggi 20 meter dan lebar kurang lebih 50 meter. Gerakan tanah ini mengakibatkan 30 rumah terancam. Gerakan tanah ini terjadi karena kemiringan lereng yg curam dan dipicu oleh curah hujan tinggi.
Sumber : http://hariansib.co/view/Marsipature-Hutanabe/179014/Longsor-di-Tambahan-Raya-Simalungun-Melebar--30-Rumah-Warga-Terancam.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
Rekomendasi :

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi bencana dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan turun deras dan lama karena berpotensi terjadi longsor susulan.
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu memantau longsoran, apabila terdapat retakan harap selalu dipantau perkembangan retakan, serta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila retakan terus berkembang.
  • Membangun  drainase dengan konstruksi yang kedap air dan mengatur pola drainase supaya tidak masuk ke tubuh longsoran
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat sekitar 
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.



3. Gempa Bumi
Gempa bumi di barat daya Pacitan, Jawa Timur:
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 27 Agustus 2017, pukul 07:02:20 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 111.03° BT dan 10.57° LS, dengan magnitudo 5,6 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 265 km barat daya  Pacitan, Jatim.
Kondisi geologi daerah: terdekat pusat gempa bumiPusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di sebalah barat daya Pacitanu. Daerah yang berdekatan dengan pusat  gempabumi tersusun atas batuan sedimen berumur Tersier dan batuan vulkanik berumur Kuarter. Getaran gempabumi terasa pada batuan vulkanik yang bersifat urai dan tidak terkompaksi sehingga bersifat memperkuat efek goncangan.
Penyebab gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise.
Dampak gempa bumi: Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Informasi dari pos pengamatan G. Raung, getaran gempa bumi terekam pada alat pencatat gempa namun guncangannya tidak dirasakan (intensitas I MMI). Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


Gempa bumi di barat daya Waropen, Papua:
Informasi Gempa bumi: Gempabumi terjadi pada hari Minggu, tanggal27 Agustus 2017, pukul  08:5529 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat3,12° LS  dan 136,20° BT, dengan magnitudo 5,1SR pada kedalaman 10 Km, berjarak 60 Km barat daya Waropen Papua. 
Kondisi geologi daerah: terdekat pusat gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di darat. Wilayah di sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen, batuan gunungapi, batuan beku  dan batuan malihan. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan endapan Kuarter dan batuan Tersier terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi. 
Dampak gempabumi: Sampai tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai dampak gempa bumi ini.
Penyebab gempabumi: Berdasarkan posisi dan kedalamannya, gempabumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar yang berlokasi di sekitar pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami karena pusat gempa berada di darat. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.