G. Semeru

G. SEMERU, JAWA TIMUR pdf_icon_transparent
1

G. SEMERU dilihat dari arah selatan


KETERANGAN UMUM   
NAMA GUNUNGAPI :

Gunungapi Semeru

NAMA LAIN :

Semeroe, Smeru, Smiru

NAMA KAWAH :

Jonggring seloko

LOKASI
:

a. Geografi : 08'06,5'LS dan 112°55'BT

b. Administrasi : Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.  

KETINGGIAN :
Puncak Mahameru 3676m dpl
Kubah lava Jonggring Seloko 3744,50m dpl  
TIPE GUNUNGAPI : Strato dengan kubah lava  
Kota Terdekat : Malang, Lumajang Probolinggo, Pasuruan 
POS PENGAMATAN :

G. Sawur 08°09'24,48"LS 112°59'09,42"BT
Ketinggian 1060m dpl

Argosuko 08°11'04,02"LS
112°53'14,58"BT Ketinggian 936m dpl   

PENDAHULUAN

Cara Mencapai Puncak

Pos Pengamatan G. Semeru dapat dicapai dari Kota Surabaya dengan dua arah yang berbeda, yaitu;
1. Surabaya-Lumajang-Pasirian-Candipuro-Pos PGA G. Sawur (5-6 jam)
2. Surabaya-Malang-Turen-Dampit-Candipuro-Ampelgading-Pos PGA G.Sawur ( 5-6 jam)

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi

Daerah di sekitar G. Semeru merupakan daerah pertanian yang subur. Di lereng timur dan tenggara yang merupakan daerah rawan bencana, terletak tanah pertanian dan permukiman dengan kepadatan penduduk lebih dari 850jiwa/km2.

Selain itu material pasir dan batu di sepanjang aliran sungainya merupakan kekayaan alam tersendiri. Derasnya kiriman material Semeru menyebabkan ketebalan pasir di sungai terus meninggi. Areal bahan tambang/galian pasir dan batu bangunan 82,50 ha dengan volume 5.976.625 m³. Areal pasir dan batu yang di eksploitasi baru 15 ha dengan volume 239.065 m³ atau hanya 4 % dari kapasitas yang tersedia. Lokasi penambangan pasir dan batu cukup banyak, diantaranya di sepanjang Kali Rejali, Kali Regoyo, dan Kali Glidig. Tepatnya berada di Kecamatan Candipuro, Pasirian, dan Tempursari.

Wisata

Kawasan G. Semeru termasuk dalam Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (KTN BTS) memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun, merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem unik yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat dan kehidupan di bawahnya.

G. Semeru merupakan gunung berapi tertinggi (3.676m dpl) di Pulau Jawa. Mahameru merupakan puncak tertinggi G. Semeru, dengan kawahnya yang menganga lebar yang disebut Jonggring Saloko. Karena merupakan gunung tertinggi, maka banyak menarik minat untuk pendakian.

Dikalangan pecinta alam baik pendaki lokal, regional, nasional, bahkan pendaki dari luar negeri. G. Semeru merupakan sasaran pendakian sepanjang tahun. Bahkan pada beberapa tahun terakhir setiap tanggal 17 Agustus G. Semeru dikunjungi ribuan pendaki. Beberapa obyek di sepanjang rute menuju G. Semeru yang biasa dilalui pendaki adalah:

- Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo (8 ha) terletak pada ketinggian 2390m dpl antara Ranu Pani dan Gn. Semeru. Secara historis geologis, Ranu Kumbolo terbentuk dari massive kawah G. Jambangan yang telah memadat sehingga air yang tertampung secara otomatis tidak mengalir ke bawah secara gravitasi. Ranu Kumbolo hingga saat ini merupakan potensi obyek wisata yang menarik. Daya tariknya antara lain bahwa pada lapangan yang relatif tinggi dari permukaan laut terdapat danau/telaga dengan airnya yang jernih sehingga banyak menarik wisatawan untuk mengunjungi tempat ini. Bagi para pendaki, Ranu Kumbolo, merupakan tempat pemberhentian/istirahat sambil mempersiapkan perjalanan berikutnya. Daya tariknya, di pinggir sebelah barat danau terdapat prasasti peninggalan purbakala. Diduga prasasti ini merupakan peninggalan jaman kejayaan Kerajaan Majapahit, namun hingga saat ini belum diperoleh kepastian.

Khusus di perairan danau, kita dapat menyaksikan kehidupan satwa migran burung belibis. Bagi para pengamat lingkungan, Ranu Kumbolo sebetulnya merupakan laboratorium alam yang cocok bagi kegiatan penelitian dan observasi lapangan yang sarat dengan kandungan ilmu pengetahuan. Fasilitas yang ada di Ranu Kumbolo yaitu Pondok Pendaki (70M2) dan MCK yang dimanfaatkan para pendaki untuk beristirahat, disamping terdapatnya lapangan yang relatif datar untuk sarana berkemah. Kebutuhan air dapat terpenuhi dari air danau.

- Padang Rumput Jambangan

Daerah padang rumput ini terletak di atas 3200m dpl, merupakan padang rumput yang diselang-selingi tumbuhan cemara, mentigi dan bunga Edelwis. Topografi relatif datar pada jalur pendakian ini, beberapa tempat yang teduh menampakkan sebagai tempat istirahat yang ideal untuk menikmati udara yang sejuk. Dari tempat ini terlihat G. Semeru secara jelas menjulang tinggi dengan kepulan asap menjulang ke angkasa serta guratan/alur lahar pada seluruh tebing puncak yang mengelilingi berwarna perak. Di tempat ini para pendaki maupun fotografer sering mengadakan atraksi keunikan dan gejala alam gunung api yang selalu mengeluarkan asap dan debu, merupakan suatu panorama alam yang menakjubkan.

- Oro - Oro Ombo

Daerah ini merupakan padang rumput yang luasnya sekitar 100ha berada pada sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit gundul dengan type ekosistem asli tumbuhan rumput. Lokasinya berada di bagian atas tebing yang bersatu mengelilingi Ranu Kumbolo. Padang rumput ini mirip sebuah mangkok berisikan hamparan rumput yang berwarna kekuning-kuningan, kadang-kadang pada beberapa tempat terendam air hujan.

- Cemoro Kandang

Kelompok hutan cemorokandang termasuk gugusan G. Kepolo (3.095m), terletak di sebelah selatan dari padang rumput Oro-Oro Ombo. Merupakan hutan yang didominasi pohon cemara (Casuarina junghuniana) dan paku-pakuan.

- Pangonan Cilik

Pangonan cilik merupakan kawasan padang rumput yang terletak di lembah G. Ayek-Ayek yang letaknya tidak jauh dari Ranu Gumbolo. Asal usul nama tersebut oleh masyarakat setempat dikarenakan kawasan ini mirip padang penggembalaan ternak (pangonan). Daya tarik dari kawasan ini adalah merupakan lapangan yang relatif datar di tengah-tengah kawasan yang di sekitarnya dengan konfigurasi berbukit-bukit gundul yang bercirikan rumput sebagai type ekosistem asli, sehingga memberikan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

- Kalimati

Kalimati merupakan tempat berkemah terakhir bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanannya menuju puncak Mahameru. Tempat ini biasa digunakan beristirahat dikarenakan terdapat sumber air (Sumber Mani) yang berjarak sekitar 500Km dari Kalimati. Disamping terdapat tanah lapang yang relatif datar juga sudah dibangun fasilitas Pondok Pendaki dan MCK. Suhu udara di Kalimati relatif dingin jika dibanding tempat lainnya, dikarenakan daerah kalimati merupakan lembah dari beberapa bukit/gunung-gunung di sekitarnya.

- Arcopodo

Arcopodo/Recopodo terletak pada pertengahan Kalimati dan G. Semeru. Di tempat ini terdapat dua buah arca kembar yang dalam bahasa Jawa dinamakan arco podo/reco podo. Disamping itu juga terdapat beberapa monumen korban meninggal atau hilang pada saat pendakian G. Semeru. Tempat ini sering pula dimanfaatkan pendaki untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya ke puncak Mahameru.

- Agrowisata Pedesaan

Agrowisata ini dapat dilakukan di kebun/ladang hortikultura milik penduduk setempat. Lokasi terdekat adalah kebun yang berada di sekitar danau Ranu Pani/Ranu Regulo, di Desa Ngadas, Wonokitri dan di sekitar Cemorolawang. Di ladang hortikultura ini pengunjung dapat melihat proses budidaya tanaman hortikultura yang dikembangkan masyarakat setempat serta menikmati hasil pertanian langsung dari ladang. Kemampuan/ketrampilan mereka dalam bertani di lahan dengan kemiringan tinggi juga merupakan pemandangan yang menarik.

- Wisata Danau

Wisata Danau merupakan kegiatan wisata utama yang dapat dikunjungi yaitu di sekitar Ranu Kumbolo, Ranu Pani dan Ranu Regulo. Ranu-ranu (danau) tersebut mempunyai pemandangan yang indah dan berhawa sejuk.

- Berkemah

Selain dari kegiatan tersebut, adakalanya kunjungan dilaksanakan dengan cara berkemah di dalam kawasan TN-BTS selama beberapa malam secara rombongan. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh pengunjung yang berasal dari generasi muda (pecinta alam, pelajar, mahasiswa, karang taruna, dll).

Lokasi yang disediakan untuk kegiatan berkemah di dalam kawasan TN-BTS antara lain terdapat di Camping Ground Cemorolawang, Nongkojajar, Ranu Pani, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan.