G. Ijen - Geologi

 

GEOLOGI

G. Ijen terletak di bagian ujung timur Pulau Jawa mulai dari selat Bali sampai daerah Bondowoso meliputi luas 500 km2, terdiri dari endapan vulkanik antara lain abu gunungapi, lapili, bom gunungapi dan leleran lava. Letusan yang menghancurkan puncak gunungapi di pegunungan Ijen adalah G. Raung dan G. Ijen.

2

Peta Geologi Gunungapi Ijen (Syarifudin M. Z., 1978)

Morfologi  

Daerah Ijen dan sekitarnya terdiri dari dataran tinggi, bukit-bukit gunungapi dalam kaldera, lereng dan dataran yang merupakan daerah pengendapan. Kemmerling (1921, hal 15) membagi morfologi Ijen menjadi lima satuan yaitu :
a. Runtuhan gunungapi Ijen tua, G. Kendeng dan G. Ringgih (2000 m).
b. Kelompok gunungapi sebelah timur, termasuk G. Merapi, Kawah Ijen, G. Papak, Widodaren dan Pawenan.
c. Kelompok gunungapi sebelah selatan termasuk G. Rante, Cilik (1600 m).
d. Kelompok gunungapi sebelah barat termasuk Gunung Jampit, merupakan bendungan jebol dari Gunungapi Raung dan Suket.
e. Dataran tinggi Ijen dengan kelompok gunungapi parasit yang terdiri dari kumpulan gunungapi yang terletak ditengah-tengah. Dataran tinggi Ijen dan gunungapi kecil seperti Gunung Kukusan, Deleman, Pendil dengan kawahnya sedalam 100 m; Gunung Kenteng, Panduan, Anyar dan Gunung Lingker.

Gunung api Ijen dibagi menjadi tiga satuan morfologi Reksowirogo (1971), yaitu ;
1. Tanah Tinggi Ijen
Tanah tinggi Ijen terdiri dari puncak-puncak gunung, dataran dan bukit-bukit. Di dalam daerah ini terdapat gunungapi yang masih aktif maupun yang sudah padam (tidak ada lagi kegiatan volkanik). Gunungapi yang masih aktif diantaranya Kawah Ijen dan Gunung Raung, sedangkan gunungapi padam disantaranya Gunung Blau, Pawenan, Papak, Widodaren, Lempuyangan, Rante, Lebu agung, Kukusan, Delaman, Pedot, Cilik, Pendil, Jampit, Genteng, Anyar, Lingker, Melaten dan Merapi.

Dataran di tanah tinggi.

Batas-batas dataran tersebut adalah disebelah utara Gunung Pendil, Blawan, Blau dan Gunung Rante disebelah barat laut. Dataran ini sebagian besar terdiri dari perkebunan kopi Blawan, Jampit dan Kali Sat.

Bukit-bukit di Tanah Tinggi.

Terdiri dari puncak-puncak tinggi dab hulu sungai. Puncak tinggi hampir semuanya gunungapi parasit yang terjadi setelah terbentuknya kaldera Ijen yang meliputi Kawah Ijen, Gunung Ranti, Pawenan, Merapi, Ringgih, Widodaren, Kukusan dan Papak. Sungai yang berhulu langsung di tepi kawah Ijen adalah sungai Banyupait dan Bendo.

2. Daerah sekitar Lereng

Merupakan daerah pengikisan yang letaknya sebelah utara gunung antara ketinggian 1550 m sampai 150 m, sebelah timur dari ketinggian 800 m sampai dengan 100 m dan sebelah selatan dari ketinggian 1400 m sampai 300 m.

3. Daerah dataran

Merupakan daerah pengendapan yang terdiri dari pesawahan, perkampungan, tegalan, perkebunan, kota dan sungai.

Batuan G. Ijen

Erupsi G. Ijen mengeluarkan gas, material piroklastik yang terdiri dari pasir, abu dan bom gunungapi yang semuanya bersifat batuapungan. Jenis batuan gunungapi Ijen menurut Brouwer (dalam Kemmerling,1921) terdiri dari andesit augit hipersten.

Struktur Geologi 

Kawah Ijen dan G. Merapi merupakan dua gunungapi kembar (Taverne, 1926, hal.99), sedangkan Neuman Van Padang (1951, hal. 157) menulis bahwa Kawah Ijen dibentuk oleh gunungapi kembar dengan G. Merapi yang telah padam, yang terdapat di tepi timur dari pinggir kaldera besar Ijen. Kawah Ijen berbentuk elips karena perpindahan pipa kepundan. Dinding kawah yang terendah terletak di sebelah barat dan merupakan hulu Kali Banyupait. Sekarang kawah berukuran 1160 m x 1160 m pada ketinggian antara 2386 dan 2148 m diatas muka laut. Danau kawah Ijen berukuran 910 m x 600 m pada ketinggian 2148 dan kedalaman 200 m. Volume air danau sekitar 30 juta m3 (Takano,dkk, 1996).

Komplek Solfatara  

Komplek solfatara G. Ijen terdapat di sebelah tenggara dan merupakan bagian dari dinding danau itu sendiri. Batuan yang terdapat di areal solfatara sudah teraltrasi secara intensif yang didominasi warna putih sampai kuning. Suhu gas solfatara yang diukur dengan thermokopel pada bulan Agustus 2001 mencapai 200 - 202 °C.

Di komplek solfatara G. Ijen yang semula terdapat lima lubang solfatara besar, yaitu solfatara I, II, III IV dan IV (Penomoran Vulkanologi). Sekarang, Agustus 2001, jumlah solfatara bertambah menjadi delapan buah. Pegawai solfatara PT Candi Ngrimbi memberi nama solfatara menjadi solfatara Kodim, Tahar, Goblog, Tugu dan Taham serta untuk satu solfatara baru diberi nama Sarinem dan yang dua belum diberi nama.