G. Lokon

G. LOKON, Sulawesi Utara pdf_icon_transparent
1

KETERANGAN UMUM   
Nama Kawah :

Tompaluan

Lokasi : a. Geografi: Lokon 01o 21,5' LU dan 124o 47,5' BT
Empung 01o 22' LU dan 124o 47,5' BT
b. Administrasi: Kota Tomohon, Sulawesi Utara
Ketinggian :  Lokon 1579,5 m dml
Empung 1340 m dml
Tompaluan 1140 m dml
Kota Terdekat :  Tomohon, Tondano, Manado
Tipe Gunungapi :  Strato
Pos Pengamatan :  Desa Kakaskasen, Kota Tomohon (01o 20' 38,76" LU dan 124o 50' 21,90" BT) ketinggian 826 m dpl

 

PENDAHULUAN

Cara Mencapai Puncak

Pendakian menuju Kawah Tompaluan yang merupakan pusat kegiatan G. Lokon saat ini dimulai dari Kakaskasen atau Kinilow, Perjalanan ditempuh selama 1,5 jam dengan menyusuri lembah (sungai kering) Pasahapen.

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi

Sumberdaya alam yang utama berupa produk erupsi gunungapi, yaitu batu (lava) dan pasir (lahar). Batuan lava tersebar di bagian timur G. Lokon, disekitar Pasahapen, kini telah dikelola/ditambang oleh masyarakat maupun perusahaan swasta untuk keperluan bangunan maupun jalan. Begitu pula dengan pasir yang berasal dari lahar, pada aliran sungai Pasahapen.

Wisata

Geowisata yang ditawarkan adalah areal perkemahan (camping ground) dan mendaki gunung (hiking) atau jalan - jalan di sekitar lereng, yang merupakan areal perkebunan rakyat. Areal perkemahan di lereng bagian timur, di sekitar lembah Pasahapen atau pada jalur/route pendakian ke kawah. Air bersih dapat diperoleh pada mata air di bagian hilir Kali Pasahapen atau air yang tergenang pada kali tersebut (jika musim hujan). Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh lk. 1,5 jam jalan kaki dari desa Kakaskasen I atau lk. 2 jam dari jalan raya Manado - Tomohon.

2

SEJARAH KEGIATAN

Tahun 

Kegiatan

1829 Maret, terjadi eksplosif uap di pelana (Graafland, 1901).
1893 29 Maret, Menurut kakak beradik Sarasin (1901), telah bekerja dua buah "boccaï" sejumlah batu dilontarkan demikian pula bom siput selama berbulan-bulan.
1930 Agustus, (Steup, 1931).
1942 3 september, erupsi abu, (Djatikoesoemo, 1952).
1949 Menurut Sudrajat (1952) mulai ada kenaikan tingkat kegiatan pada 14 September dengan erupsi kecil, tetapi erupsi sebenarnya mulai pada 2 Juli 1951 untuk berlangsung terus-menerus hingga akhir 1951.
1952 Kegiatan erupsi sebagai lanjutan dari dalam 1951. Erupsi agak besar terjadi pada 27 dan 28 Mei. Kegiatan baru menurun dan berhenti dalam November.
1953 Kegiatan masih terjadi.
1958 Kegiatan erupsi mulai pada 19 Pebruari dengan sebuah erupsi kecil yang memuntahkan lapili di sekitar kawah. Kemudian erupsi terjadi pada 4, 16 - 17 Maret, 3 - 4 Mei. Kegiatannya berlangsung sepanjang tahun.
1959 Kegiatan erupsi sejak Pebruari 1958, dilanjutkan dalam 1959, berlangsung terus sampai berakhir pada 23 Desember. Selama satu tahun ini terjadi erupsi abu diselingi erupsi kuat yang melontarkan batu. Hujan abu turun di sekitarnya. Dalam Agustus, September dan November tidak terjadi erupsi.
1961 Pada 19 Mei, Setelah istirahat lk. 2 tahun, terjadi lagi erupsi abu. Kegiatannya berlangsung terus sepanjang tahun. Erupsi abu kuat yang besar terjadi 2 kali yakni pada 24 Oktober dan 20 November.
1962 Tidak ada keterangan lebih lanjut.
1965-
1966
Kenaikan kegiatan.
1969 Fasa eruptiva mulai pk. 00.10 pada 27 November. Esok harinya eksplosif pk. 21.57 menyebabkan erupsi abu setinggi 400 m. Hujan pasir belerangan . Kegiatan bertambah pada akhir tahun. Siswowidjoyo (1970) mengatakan, bahwa luncuran awan panas sepanjang lembah Pasahapen lk. 2 km jauhnya ke arah Kinilow.
1970 Dari April hingga Desember terjadi erupsi abu.
1973 September, peningkatan kegiatan.
1974 28 Januari, Erupsi abu.
1975 Pembentukan kubah lava.
1976 2 Januari, terjadi erupsi, sumbat lava dihancurkan.
1977 8 Maret, 5, 6, 27 April, 8, 13, 15, 17 Mei, 8, 13 - 15 September, terjadi erupsi, sinar api.
1982 Peningkatan kegiatan, asap bertambah tebal.
1983 Hembusan asap.
1986 Erupsi freatik, lahar ke S. Pasahapen. Terjadi erupsi, 24 Maret, 5, 7, 12, 27 April, 18 Mei, Juni, 14 Juli setinggi 3000 m. Agustus erupsi abu kecil. 4 September dengan tinggi erupsi 1500 m.
1987 6 Januari, 11, 21 Maret, 10, 13 Mei, Erupsi abu
1988 21 April, 17, 18, 21 Juli, Erupsi abu
1989 21 Agustus, 5 September, terjadi erupsi.
1990 21 April, 5 Mei, terjadi erupsi.
1991 12 Januari, 6, 28 Maret, 10 - 11, 17, 26 - 28 Mei, 1 - 30 Juni, 4 - 7. 9. 11 Juli, Erupsi abu 19 September, 24 Oktober, terjadi erupsi dan pertumbuhan kubah lava. 25 Oktober, awan panas ke S. Pasahapen sejauh 1000 m, tinggi asap 2000 m. 26 - 31 Oktober, 1, 6, 12, 17, 20, 24 November, 1 Desember, terjadi erupsi.
1993 April, kegiatan meningkat berupa gempa tremor. Juni - September, kegiatan meningkat berupa swarm gempa vulkanik.
1997 12 Desember, terjadi erupsi freatik di dasar kawah, membentuk lubang dengan diameter lk. 5m.
2000 7 Juli, terbentuk lubang baru di dasar kawah. Lubang yang berdiameter lk. 7 m, berbentuk seperti sumur memancarkan cahaya merah.
2001 28 Januari pukul 19.20 WITA, terjadi erupsi disertai oleh lontaran material pijar (bom vulkanik) yang jatuh di sekitar Kawah Tompaluan. 26 Maret, pukul 14.40 WITA terjadinya erupsi abu. Erupsi ini disertai dengan suara gemuruh/dentuman. Warna asap hitam tebal dengan tinggi asap lk. 1000 meter di atas bibir kawah, kemudian tertiup angin ke arah timur dan utara. Pada erupsi kali ini tidak disertai dengan lontaran material pijar. 20 Mei, pukul 20.14 WITA terjadi erupsi dari kawah Tompuluan tinggi abu erupsi sekitar 900 meter di atas bibir kawah. Warna abu erupsi kelabu hitam dan tertiup angin ke arah utara, erupsi disertai dengan lontaran material pijar setinggi 400 meter dan jatuh di sekitar kawah.
2002 9 Februari, pukul 14.10 wita, terjadi erupsi abu. Hembusan asap berwarna hitam tebal mencapai tinggi 1000 m tertiup angin ke arah tenggara. Endapan abu tersebar di sekitar Desa Kakaskasen III, Talete I, Talete II, Rurukan dan sebagian di sekitar Tondano dengan ketebalan antara 0,5 - 2 mm. 10 April, pukul 23.00 wita terjadi erupsi. Dalam suasana gelap terlihat lontaran material pijar dan jatuh kembali ke dalam kompleks kawah. Asap erupsi mencapai tinggi 1000 m di atas bibir kawah. 12 April, pukul 18.16 wita erupsi susulan terjadi. Dalam suasana yang sudah mulai redup terlihat lontaran material pijar dan jatuh kembali ke dalam kompleks kawah. Asap erupsi mencapai tinggi 1000 m di atas bibir kawah. 13 April, pukul 06.30 dan 08.03 terjadi erupsi abu. Asap erupsi berwarna kelabu setinggi antara 50 - 75 m di atas bibir kawah. 23 Desember, pukul 05.32 terjadi erupsi abu. Asap erupsi berwarna kelabu mencapai tinggi 800 m di atas bibir kawah.
2003 Februari - April, terjadi 30 kali erupsi, 9 kali diantaranya disertai abu dengan ketinggian lebih dari 1000 m berwarna abu-abu kehitaman. Erupsi terbesar terjadi pada 23 Februari, ketinggian abu erupsi mencapai 2500 m. Erupsi berakhir 1 April.
2007 Pada akhir bulan Desember terjadi peningkatan kegiatan

Karakter Erupsi

Berdasarkan catatan sejarah erupsi, pada umumnya erupsi G. Lokon berupa erupsi abu disertai lontaran batu pijar, kadang-kadang mengeluarkan lava pijar dan awan panas. Erupsinya berlangsung beberapa hari.

Bila terjadi erupsi besar, maka bahaya utama erupsi G. Lokon atau bahaya primer (bahaya langsung akibat erupsi) adalah luncuran awan panas, lontaran piroklastik (bom vulkanik, lapili, pasir dan abu) dan mungkin aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung dari erupsi) adalah lahar hujan yang terjadi setelah erupsi apabila turun hujan lebat di sekitar puncak.

Gejala G. Lokon menjelang meletus pada umumnya berupa menebalnya asap kawah, tingginya berfluktuasi antara 400 - 600 m di atas bibir kawah. Makin lama asap tersebut makin menebal dan suatu saat akan berubah warna menjadi kelabu, yang menandakan bahwa material berukuran abu sudah terbawa keluar.

 3   4

Erupsi G. Lokon Desember 2002 (Farid, 2002)Kondisi Kawah Tompaluan 7 Agustus 2009

Perioda Erupsi

Sebelum tahun 1800 selang waktu erupsi sangat lama (400 tahun), tetapi sesudah 1949 menunjukkan peningkatan frekuensi yang sangat tajam, selang waktu erupsi bervariasi antara 1 - 4 tahun, rata-rata 3 tahun. Erupsi besar terakhir terjadi tahun 1991.