G. Tandikat

G. TANDIKAT, SUMATERA BARAT pdf_icon_transparent
TANDIKAT


KETERANGAN UMUM

  
Nama Lain :

Tandikai, Tandike.

Nama Kawah :

A. B dan K

Lokasi   
a.Geografi :

0°25'57" LS, 100°19'01,69" BT

b.Administrasi

: Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat.
Ketinggian : 2438 m dml, 1740 m dari Kota Padang
Tipe Gunungapi : Strato Volcano
Kota Terdekat : Padang, Bukittinggi, Padang Panjang
Pos Pengamatan : Desa Ganting, Kec.Sepuluh Koto, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat.
Koordinat 00° 25' 10,2" LS, dan 100° 25' 9,6" BT
Elevasi: 1247mdpl

 

PENDAHULUAN

Cara Mencapai Puncak

Pendakian dilakukan dari arah timur dari Kampung Ganting melalui Lalo, melalui jalan setapak sampai ke Puncak, dengan waktu tempuh 6 jam (Hamidi 1970), juga dapat dicapai dari sebelah barat laut dari kampung Malalak, kemudian tiba di Rimbo Piatu dengan merintis jalan untuk sampai di Puncak (Kemerling 1919)

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi

Hasil erupsi G. Tandikat pada masa lampau banyak menghasilkan batuan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan bangunan, sebagai bahan material dasar untuk pembangunan gedung, jalan raya dan lainya. Selain itu dengan dipeliharanya hutan lindung di G. Tandikat, sumberdaya alam berupa tempat tersimpannya cadangan air tanah, untuk irigasi, air minum di kota-kota dan lainnya. Juga terdapat beberapa mata air panas sebagai sumber mineral untuk kesehatan. Sumberdaya panas bumi di daerah ini belum diexplorasi, padahal sumberdaya alam ini sangat murah dan sangat bermanfaat untuk keperluan energi listrik dan industri.

WISATA

G. Tandikat mempunyai pemandangan yang indah sebagaimana layaknya sebuah gunungapi, dapat dijadikan objek tujuan wisata.Di sekitar G. Tandikat ini terdapat perkebunan markisa, mata air panas, air terjun serta kawasan hutan lindung dan banyak tempat tempat yang baik untuk dikunjungi sebagai tujuan wisata.

SEJARAH LETUSAN

Diketahui telah terjadi dua kali letusan dalam sejarah yaitu letusan tahun 1889 dan letusan 1914

Letusan 1889

Kegiatan dari kawah B ini terjadi pada 19 Pebruari petang hari. Di atas puncaknya tampak tiang asap tinggi dan nyala api, terasa getaran gempa bumi dan terdengar suara letusan. Hujan abu jatuh di sekitarnya. Pada 20 Pebruari, di malam hari memperlihatkan agak kuat, diselingi beberapa istirahat pendek dan panjang. Sampai 17 April 1889 G. Tandikat masih mengeluarkan tiang asap, kadang-kadang dengan hujan abu.. Pada 27 Maret 1889 juga G. Marapi kegiatanya mulai meningkat. Pada 29 Maret 1889 abu yang jatuh di atas jalan kereta api antara Padang Panjang - Bukittinggi dengan ketebalan sampai 1 cm. Kepulan tiang asap terlihat lagi pada 3 dan 4 Desember 1889 yang pada pagi hari kelihatan jelas dari Bukittinggi.

Letusan 1914

Pada 31 Mei kira-kira pukul 9 malam terjadi letusan. Material letusan berjatuhan di sekitar puncak. Menurut Administratur Veen ( Natuurk. Tijdschr. Nederl. Ind. 1915, p. 188 ) terjadi leleran lava yang mengalir di bagian puncaknya saja. Menurut Kemmmerling ( 1921, p.26 ), yang terjadi bukan leleran lava tetapi lemparan bom gunungapi pijar.

Karaker Letusan

Berdasarkan produk yang dihasilkan G. Tandikat dari peta Geologi Gunungapi menurut Zainuddin dkk, menunjukan bahwa hasil endapan G. Tandikat tidak ditemukan adanya endapan piroklastik jatuhan, hanya ditemukan aliran piroklastik dan aliran lava. Data letusan yang tercatat hanya abu tipis dan tampak di sekitar kawah. Karakter letusannya cenderung bertipe strombolian dan aliran lava yang terkadang menghasilkan pula aliran piroklastik.