G. Sirung - Geologi

 

GEOLOGI

Stratigrafi

Belum banyak ahli geologi yang memetakan secara rinci stratigrafi komplek G. Sirung. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lomblen skala 1 : 250.000, Y. Noya dan S. Koesoemadinata (1990) menjelaskan bahwa batuan tertua yang tersingkap di P. Pantar adalah intrusi granodiorit (Tmd) yang berumur akhir Miosen Tengah, yang menerobos batuan yang lebih tua yang tidak tersingkap di permukaan P. Pantar. Kemudian kegiatan gunungapi dan pengendapan sedimen terus berlangsung menghasilkan Formasi Alor (Tmpa) pada kala Miosen Atas berupa lava, breksi, dan tufa pasiran gampingan.

Produk gunungapi tua (QTv) diendapkan pada kala Plio-Plistosen yang berupa lava, breksi, aglomerat, tufa, pasir gunungapi, dan tufa pasiran berbatuapung. Kegiatan vulkanisme itu terus berlangsung sampai sekarang yang menghasilkan endapan gunungapi muda. Salah satu gunungapi yang aktif sampai sekarang adalah Gunungapi Sirung yang menghasilkan endapan-endapan gunungapi muda.

Batuan yang menyusun Kompleks Gunungapi Sirung secara umum didominasi oleh aliran lava yang kemudian terbongkar oleh erupsi besar yang menghasilkan endapan piroklastik dan diakhiri oleh erupsi freatik yang menghasilkan endapan freatik. Produk lava ini menyebar sampai sejauh lebih dari 5 km sehingga lerengnya tampak seperti perisai.

Bagian lereng timur yang mempunyai bentuk agak landai seperti perisai dibentuk oleh dominasi aliran lava encer bersifat basaltik yang keluar berulang-ulang. Lereng bagian barat mempunyai banyak kerucut-kerucut gunungapi yang telah padam seperti Puncak Delaaki (938 m dpl), Puncak Taupekki (1344 m dpl), Puncak Boyali (1080 m dpl), dan Puncak Mauta (1023 m dpl). Kerucut-kerucut ini dibangun oleh produk lava dan piroklastik.

Endapan-endapan di sekitar G. Sirung dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu endapan vulkanik tua yang berumur Kuarter Bawah, endapan gunungapi Pra Kaldera Sirung, Pembentukan Kaldera Sirung dan Paska Kaldera Sirung.

Struktur Geologi

Bagian barat Kaldera Sirung dibatasi oleh jalur patahan besar yang menyebabkan terpecah-pecahnya suatu daerah yang dulunya bersatu. Patahan ini disebabkan oleh pergeseran terus menerus dalam arah baratdaya-timurlaut. Pada jalur patahan ini tumbuh Puncak Sirung yang sekarang berdiri sendiri sebagai kerucut gunungapi. Akibat patahan-patahan sekunder terjadi maka Puncak Sirung bagian dalam menjadi terbuka.

Gunungapi Sirung bertipe pseudo aspite (Hartmann, 1934) dan oleh karena banyak lava cair bersifat basaltik mengalir ke arah timur dan lava agak kental bersifat basaltik andesitik mengalir ke arah barat yang diselingi oleh endapan piroklastik, maka Gunungapi Sirung bertipe campuran antara vulkanik dan aspite (Reksowirogo, 1972).

Gunung Sirung adalah hasil vulkanisme muda yang terbentuk di daerah lemah berarah timurlaut-baratdaya. Dalam zaman terakhir (recent) seluruh pegunungan vulkanis muda ini mengalami pengangkatan. Bukti pengangkatan tersebut telah tertutup oleh bahan-bahan erupsi terakhir (Hartmann, 1934).

3

Peta Geologi G. Sirung