Evaluasi Data Pengamatan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, Hingga 5 November 2015

Bersama ini kami sampaikan hasil evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Rinjani, Nusa Tenggara Barat hingga 5 November 2015 pukul 06:00 WITA sebagai berikut:

  

I. Pendahuluan

  1. Secara geografis, G. Rinjani terletak pada posisi koordinat 8°25’ LS dan 116°28’ BT. Puncak G. Rinjani berada pada ketinggian 3726 m di atas permukaan laut. Pusat aktivitas G. Rinjani saat ini berada di G. Barujari yang berada di dalam Kaldera Rinjani pada posisi koordinat 8°24’ LS dan 116°25’ BT dengan ketinggian 2376 m di atas permukaan laut. Kawah aktif G. Barujari saat ini terletak 300 m timur laut puncak G Barujari.
  2. Secara administratif G. Rinjani termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  3. Gunungapi Rinjani diamati secara visual dan instrumental (seismik dan CCTV) dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
  4. Data pengamatan G. Rinjani diolah dan dianalisis oleh ahli gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengevaluasi tingkat aktivitas gunungapi serta mengestimasi potensi ancaman bahayanya sehingga menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi.
  5. Sejarah perkembangan tingkat aktivitas gunungapi:
  • Pada 2 Mei 2009 pukul 16:30 WITA, tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu
  • Pada 19 November 2010 pukul 17:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal). Hal ini didasari oleh penurunan aktivitas kegempaan dan aktivitas permukaan yang teramati secara visual.
  • Pada 25 Oktober 2015 pukul 13:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu.

  

II. Hasil Pengamatan 

2.1 Visual

  1. Pada rentang waktu 25 – 31 Oktober 2015: secara umum cuaca cerah - berawan, angin tenang – sedang dari timur, suhu udara 21 – 28 °C, kelembaban udara 78 – 80 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah putih tebal dengan tinggi 800 – 900 m di atas G. Barujari.
  2. 1 November 2015: secara umum cuaca cerah, angin tenang, suhu udara 21 – 27 °C, kelembaban udara 80 - 81 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah coklat – kelabu tebal dengan tinggi 600 – 1500 m di atas G. Barujari.
  3. 2 November 2015: secara umum cuaca cerah - mendung, angin tenang – lemah dari utara, suhu udara 20 – 28 °C, kelembaban udara 81 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah coklat sedang – tebal dengan tinggi 500 - 700 m di atas G. Barujari.
  4. 3 November 2015: secara umum cuaca cerah - berawan, angin tenang - sedang dari timur, suhu udara 20 - 31 °C, kelembaban udara 82 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah putih - coklat sedang – tebal dengan tinggi 600 - 1000 m di atas G. Barujari.
  5. 4 November 2015: secara umum cuaca cerah, angin tenang - dari timur, suhu udara 20 - 34 °C, kelembaban udara 80 - 84 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah putih kecoklatan sedang – tebal dengan tinggi 700 - 2000 m di atas G. Barujari.
  6. 5 November 2015 hingga pukul 06:00 WITA: secara umum cuaca cerah, angin tenang, suhu udara 21 °C. Gunungapi tampak jelas, teramati asap kawah putih - kelabu tebal dengan tinggi 1000 - 1600 m di atas G. Barujari.

(terlampir di Gambar 1)

  

2.2 Instrumental

  1. Pada rentang waktu 25 – 31 Oktober 2015: terekam 49 kali Gempa Letusan dengan amplitudo maksimum 4 – 50 mm dan lama gempa 25 – 183 detik. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 – 41 mm (dominan 3 – 25 mm). 7 kejadian Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo maksimum 1 – 7 mm dan lama gempa 10 – 50 detik. 44 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplitudo maksimum 4 – 27 mm dan lama gempa 2 – 10 detik. 50 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo maksimum 4 – 32 mm, S-P 0,5 – 4 detik dan lama gempa 3 – 70 detik. 11 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo maksimum 1 - 18 mm, S-P 23 - 147 detik dan lama gempa 54 - 400 detik.
  2. 1 November 2015: terekam 9 kali Gempa Letusan dengan amplitudo maksimum 4 – 32 mm dan lama gempa 20 – 102 detik. 27 kali Tremor dengan amplitudo maksimum 1 – 14 mm dan lama gempa 99 – 5649 detik. 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo maksimum 2 - 10 mm, S-P 11 - 30 detik dan lama gempa 54 - 200 detik.
  3. 2 November 2015: terekam 10 kali Gempa Letusan dengan amplitudo maksimum 4 – 12 mm dan lama gempa 88 – 122 detik. 3 kali Tremor dengan amplitudo maksiumum 1 – 2 mm dan lama gempa 1660 – 3733 detik. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 – 23 mm (dominan 3 – 5 mm). 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo maksimum 4 mm, S-P 17 detik dan lama gempa 71 detik.
  4. 3 November 2015: terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 – 31 mm (dominan 8 - 13 mm).
  5. 4 November 2015: terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 3 – 40 mm (dominan 6 - 11 mm).
  6. 5 November 2015 hingga pukul 06:00 WITA: terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 5 – 48 mm (dominan 12 mm).

(terlampir di Gambar 2 dan 3)

 

 III. Evaluasi

  1. Tingkat kegempaan G. Rinjani setelah erupsi pertama tanggal 25 Oktober 2015 masih menunjukkan peningkatan terutama dalam amplitudo Tremor. Tremor menerus mulai terekam dari 2 November 2015 pukul 11:09 WITA hingga 5 November 2015 pukul 06:00 WITA. Hasil pengamatan langsung ke lapangan yang dilakukan pada 3 – 4 November 2015 menunjukkan bahwa tremor tersebut berkorelasi dengan erupsi yang terjadi secara menerus dari kerucut G. Barujari (Gambar 4).
  2. Secara visual aktivitas permukaan G. Rinjani setelah erupsi tanggal 25 Oktober 2015 teramati meningkat. Asap kawah teramati keluar secara menerus dengan tinggi maksimum 2000 m di atas G. Barujari.
  3. Secara visual teramati erupsi G. Barujari menghasilkan abu, jatuhan piroklastik yang jatuh di badan G. Barujari dan aliran lava yang mengalir ke arah timur laut kawah (Gambar 5 dan 6). Ancaman bahaya secara langsung berupa jatuhan piroklastik dan aliran lava masih berada di dalam Kaldera Rinjani.
  4. Hingga saat ini erupsi masih berpotensi berlanjut yang diindikasikan oleh terekamnya Tremor menerus.

 

IV.Potensi Bencana

  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Rinjani dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Barujari yang terletak di dalam Kaldera G. Rinjani.
  2. Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi G. Rinjani mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, hujan abu dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dan abu terletak di dalam kaldera, jatuhan abu juga dapat tersebar di sekeliling G. Rinjani tergantung pada arah angin.
  3. Ancaman bahaya secara tidak langsung berada di daerah utara G. Rinjani terutama di daerah aliran sungai Kokok Putih yang berhulu di area bukaan kawah. Erupsi di dalam kaldera dapat menyebabkan peningkatan muka air Danau Segara Anak yang selanjutnya berpotensi menyebabkan banjir bandang di Sungai (Kokok) Putih.

(terlampir di Gambar 7: Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani)

 

 V. Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka hingga 5 November 2015 pukul 06:00 WITA, G. Rinjani masih ditetapkan dalam tingkat aktivitas Level II (Waspada).
  2. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat aktivitas G. Rinjani.

  

VII. Rekomendasi

  1. Masyarakat di sekitar G. Rinjani dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan beraktivitas/berkemah di dalam Kaldera G. Rinjani dan di dalam radius 3 km dari kawah G. Barujari yang berada di dalam Kaldera G. Rinjani.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan iritasi mata.
  3. Masyarakat di sekitar G. Rinjani diharap tenang dan tetap waspada, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Rinjani.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Rinjani.
  5. Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Rinjani yang terletak di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 Rinjani1

Rinjani2

Rinjani3

Rinjani4

Rinjani5

Rinjani6

Rinjani7

 

 

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamannya kami ucapkan terima kasih.