Evaluasi Aktivitas G. Slamet Status Siaga (level Iii) Hingga Tanggal 20 September 2014

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Slamet di Provinsi Jawa Tengah.

 

I. pendahuluan

Gunungapi Slamet (G. Slamet) adalah gunungapi strato berbentuk kerucut dengan tinggi puncak 3432 mdpl. Secara administratif G. Slamet masuk ke dalam 5 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis puncak G. Slamet terletak pada posisi 7o 14’ 30” Lintang Selatan dan 109o 12’ 30” Bujur Timur.

Pada tanggal 10 Maret 2014 tingkat aktivitas G. Slamet dinaikan dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II). Kemudian pada tanggal 30 April 2014 tingkat aktivitas G. Slamet dinaikan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) dan tanggal 12 Mei 2014 diturunkan kembali menjadi Waspada (level II). Tanggal 12 Agustus 2014 pukul 10.00 WIB tingkat aktivitas G. Slamet dinaikan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Pemantauan secara kontinyu terus dilakukan dari Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, dengan menggunakan metoda visual, seismik, deformasi, dan geokimia.

 

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

  • Tanggal 13 September 2014, Cuaca terang angin tenang, Gunung tampak jelas- tertutup kabut. Pada saat cerah teramati hembusan asap warna putih tipis tinggi 50 - 200 meter condong ke barat.
  • Tanggal 14 September 2014, Cuaca terang, angin tenang - sedang. Gunung tampak jelas teramati hembusan asap warna putih tipis tinggi 50 meter condong ke barat.
  • Tanggal 15 September 2014, Cuaca terang, angin tenang – kencang dari timur. Gunung tertutup kabut, hembusan asap tidak teramati.
  • Tanggal 16 September 2014, Cuaca terang, angin tenang – kencang dari arah timur. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Pada saat cerah teramati hembusan asap warna putih tipis tinggi 50 meter condong ke barat. 
  • Tanggal 17 September 2014, Cuaca terang, angin tenang. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Pada saat cerah teramati 19 kali letusan warna kelabu tebal kehitaman tinggi 500-1200 meter condong ke arah selatan dan baratdaya. 7 kali sinar api tinggi 100-800 meter, 6 kali lontaran material pijar tinggi 200-500 meter dan terdengar 11 kali suara dentuman dengan intensitas sedang-kuat.
  • Tanggal 18 September 2014, Cuaca cerah, angin tenang. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Saat saat cerah teramati hembusan asap warna putih tipis – sedang tinggi 50-100 meter condong ke arah barat dan selatan, serta teramati asap Hembusan berwarna putih tebal dengan tinggi 25-100 meter. 1 kali Letusan warna kelabu tebal kehitaman tinggi lk. 500 meter condong ke arah barat. Terdengar 1 kali suara dentuman dengan intensitas sedang.
  • Tanggal 19 September 2014, Cuaca cerah-mendung, angin tenang. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Saat saat cerah teramati hembusan asap warna putih tipis – tebal tinggi 50-400 meter.
  • Tanggal 20 September 2014 (hingga pukul 06:00 WIB), Cuaca terang, angin tenang. Gunung tampak jelas – tertutup kabut. Saat saat cerah teramati hembusan asap warna putih tipis tinggi 50-100 meter.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan pencarian sebaran abu setelah letusan siang tanggal 17 September 2014, ditemukan abu vulkanik yang terbawa oleh angin sejauh lk. 20 km ke arah selatan dengan ukuran 0,1 – 0,2 mm.

 

2.2. KEGEMPAAN

  • Tanggal 13 September 2014, terekam 62 kali gempa Hembusan dengan amplituda 2-20 mm dan lama gempa 4-90 detik. 6 kali gempa Tremor dengan amplituda 3-35 mm dan lama gempa 44-950 detik.
  • Tanggal 14 September 2014, terekam 5 kali gempa Hembusan dengan amplituda 6-10 mm dan lama gempa 40-60 detik.
  • Tanggal 15 September 2014, terekam 30 kali gempa Hembusan dengan amplituda 2-10 mm dan lama gempa 10-35 detik.
  • Tanggal 16 September 2014, terekam 8 kali gempa Hembusan dengan amplituda 2-5 mm dan lama gempa 10-27 detik.
  • Tanggal 17 September 2014, terekam 30 kali gempa Letusan dengan amplituda 30-85 mm dan lama gempa 25-185 detik. 129 kali gempa Hembusan dengan amplituda 2-30 mm dan lama gempa 8-195 detik. 6 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplituda 5-35 mm dan lama gempa 15-535 detik.
  • Tanggal 18 September 2014, terekam 469 kali gempa Hembusan dengan amplituda 2-52 mm dan lama gempa 10-250 detik. 45 kali gempa Letusan dengan amplituda 20-75 mm dan lama gempa 20-250 detik. 2 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplituda 28-30 mm dan lama gempa 35-50 detik.
  • Tanggal 19 September 2014, Terekam 269 kali gempa Hembusan dengan amplituda 2-75 mm dan lama gempa 10-350 detik. 6 kali gempa Letusan dengan amplituda 32-60 mm dan lama gempa 25-40 detik. 34 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplituda 2-35 mm dan lama gempa 7-310 detik.
  • Tanggal 20 September 2014 (sampai pukul 06:00 WIB), Terekam 51 kali gempa Hembusan dengan amplituda 3-31 mm dan lama gempa 25-642 detik. 16 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplituda 2-28 mm dan lama gempa 15-335 detik.

Selama periode 13-20 September 2014, gempa yang teridentifikasi di stasiun seismik G. Slamet, terdiri dari gempa Letusan, gempa Hembusan, dan getaran Tremor. Pada periode sekarang, kegempaan G. Slamet didominasi oleh gempa Hembusan, Letusan dan Tremor(Lampiran 1).

Kenaikan nilai RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) pada Stasiun Cilik (CLK) G. Slamet yang signifikan mulai terlihat pada pertengahan Juli 2014, dan nilai RSAM tersebut masih terus meningkat hingga 13 September 2014 pukul 02:30 WIB, dan setelah itu terjadi penurunan secara signifikan. Pada tanggal 17 September 2014 mengalami peningkatan kembali hingga saat ini, hal ini disebabkan oleh intensifnya kejadian gempa hembusan dan gempa letusan (Lampiran 2).

 

2.3. DEFORMASI

Pengukuran deformasi G. Slamet dilakukan dengan peralatan EDM (Electronic Distance Measurement) dan tiltmeter. Titik reflektor EDM berada di Bukit Cilik (CLK) berjarak 5,5 km di utara puncak G. Slamet dan di Bukit Buncis (BCS) berjarak 6 km di baratlaut puncak G. Slamet, sementara titik referensi berada di Pos Pengamatan Gunungapi Slamet (sekitar 8,7 km di bagian utara puncak G. Slamet). Untuk stasiun tiltmeter berada di Bambangan (4,5 km di timur puncak G. Slamet) dan di Bukit Cilik (5,5 km di utara puncak G. Slamet).

2.3.1. EDM

Pengamatan deformasi EDM dilakukan dengan cara pengukuran jarak miring antara    POS-BCS dan POS-CLK. Beberapa kali pengukuran untuk POS-CLK tidak dapat dilakukan karena terkendala kabut. Hasil pengukuran menunjukkan dalam periode 13 – 20 September 2014, jarak miring relatif fluktuatif (kecenderungan inflasi pada awal periode, baik pada POS-CLK maupun POS-BCS, dan diikuti deflasi). (Lampiran 3).

2.3.2. Tiltmeter

Pada tanggal 14 September 2014 kembali dilakukan penggantian sensor tiltmeter Bambangan dengan maksud untuk meningkatkan kepekaannya. Sejak sensor diganti, hasil pengamatan tiltmeter kontinyu di stasiun Bambangan dari 14 - 20 September 2014 pukul 06:00 WIB, memperlihatkan grafik komponen sumbu Y (radial) menunjukkan kecenderungan peningkatan (inflasi), namun komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan kecenderungan yang sebaliknya (karena baru beberapa hari dipasang). Sedangkan untuk tiltmeter kontinyu stasiun Cilik, dari 29 Agustus – 20 September 2014 pukul 06:00 WIB pada komponen sumbu Y (radial), menunjukkan kecenderungan peningkatan (inflasi), namun komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan kecenderungan mendatar (Lampiran 4).

 

2.4. GEOKIMIA

Pemantauan geokimia berupa pengukuran suhu mata airpanas yang terdapat di baratlaut kaki G. Slamet (Guci) dan di selatan kaki G. Slamet (Batu Raden). Terdapat tiga lokasi pengukuran mata airpanas di Guci, yaitu di Pandansari, Pengasihan, dan Sicaya. Pada ketiga lokasi dilakukan pengukuran secara berkala dengan alat Thermokopel dan ditambah pengukuran suhu secara menerus dengan sistem datalogger (HOBO) sejak tanggal 20 Agustus 2014 di Pandansari. Dilakukan juga pengukuran mata airpanas Pancuran-7 di Batu Raden secara menerus dengan sistem datalogger (HOBO) sejak awal Mei 2014.

Hasil pengukuran mata airpanas secara berkala pada tiga lokasi di Guci pada tanggal 18 September 2014, suhu mata airpanas Pandansari terukur 43,9oC, Pengasihan 50,3oC, dan Sicaya 61,0oC. Suhu mata airpanas yang terukur pada periode 13 – 18 September 2014, suhu airpanas mempunyai kecenderungan mengalami peningkatan namun tidak signifikan. (Lampiran 5).

Hasil pengukuran suhu mata airpanas secara datalogger dengan alat HOBO pada mata airpanas Pandansari (Guci) 13 – 18 September 2014 pukul 11:02 WIB memperlihatkan pola kecenderungan meningkat namun tidak signifikan (< 0,3 oC), dan pada mata airpanas Pancuran-7 (Batu Raden) dari awal 13 – 15 September 2014 pukul 11:30 WIB, memperlihatkan pola kecenderungan stabil atau mendatar (Lampiran 6).

 

III. POTENSI BAHAYA
  • Erupsi masih berpotensi terjadi yang mengeluarkan material abu (berukuran < 2 mm) sampai lapili (berukuran 2 – 64 mm) dan lontaran batu pijar dengan ancaman di dalam radius 4 km dari pusat erupsi. Sedangkan sebaran material abu vulkanik bergantung pada besar dan arah angin di pusat erupsi.
  • Erupsi yang menghasilkan aliran lava dan awan panas berpotensi terjadi di dalam radius 4 km.
  • Potensi terjadinya lahar dapat berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Slamet.
  • Endapan material letusan yang ada di barat dan barat laut G. Slamet, dapat berpotensi lahar saat terjadi hujan karena bukaannya ke arah barat dan barat laut.

 

IV. KESIMPULAN
  • Berdasarkan analisis data pengamatan visual maupun instrumental, aktivitas vulkanik G. Slamet masih tinggi.
  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya, maka tingkat aktivitas G. Slamet hingga tanggal 20 September 2014 pukul 06:00 WIB tetap Siaga (Level III). 

Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Slamet secara signifikan, maka statusnya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya.

Sehubungan dengan status Siaga tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terus melakukan pemantauan secara intensif guna melakukan evaluasi aktivitas G. Slamet dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat.

 

V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Slamet dalam tingkat aktivitas SIAGA, maka kami rekomendasikan:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak G. Slamet dalam radius 4 km dari kawah aktif.
  2. Masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di daerah aliran sungai yang berhulu di G. Slamet, terutama sisi barat-barat laut G. Slamet (Kali Gung – Daerah Wisata Guci dan K Pedes – Ds. Sawangan) untuk menghindari bahaya lahar dari tumpukan material letusan di puncak G. Slamet saat hujan.
  3. Masyarakat di sekitar G. Slamet diharap tenang tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Slamet, dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
  4. Masyarakat yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) untuk selalu waspada dan mengikuti arahan dari BPBD setempat yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Slamet.
  5. Agar BPBD Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
  6. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Slamet.