Evaluasi Tingkat Aktivitas Siaga (level Iii) G. Sinabung Hingga Tanggal 20 September 2014

Perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

 

I. PENDAHULUAN

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU dan 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Namun, sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB tingkat aktivitas kegiatan G. Sinabung diturunkan dari tingkat aktivitas AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III).


II. PENGAMATAN

2.1 VISUAL 

Pemantauan secara visual dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak G. Sinabung. Hasil pemantauan secara visual dari tanggal 12 – 20 September 2014 adalah sebagai berikut:  

  • Tanggal 12 September 2014, cuaca berawan, angin tenang – perlahan ke arah timur – barat daya, suhu udara 17 - 25° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati hembusan asap putih tebal dengan tinggi 1000 m. Guguran lava dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 1500 m ke arah selatan, (sisi timur) sejauh 1500 m ke arah tenggara; dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 1000 - 1500 m ke arah selatan; dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 200 m ke arah tenggara.
  • Tanggal 13 September 2014, cuaca mendung – hujan, hujan gerimis - deras, angin tenang – perlahan ke arah timur, suhu udara 17 - 22° C, gunungapi tertutup kabut.
  • Tanggal 14 September 2014, cuaca mendung - berawan, angin tenang – perlahan ke arah timur, suhu udara 17 - 22° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati hembusan asap putih tebal – putih tebal kebiruan dengan tinggi 100 - 500 m. Guguran lava dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 700 m ke arah selatan, (sisi timur) sejauh 1000 m ke arah tenggara; dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 1000 m ke arah selatan; dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 300 m ke arah tenggara.
  • Tanggal 15 September 2014, cuaca cerah - mendung, angin tenang – sedang ke arah timur, suhu udara 17 - 24° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati hembusan asap putih tebal – putih tebal kebiruan dengan tinggi 200 – 500 m. Guguran lava dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 500 - 1000 m ke arah selatan; awanpanas guguran dari puncak sejauh 2500 m ke arah tenggara.
  • Tanggal 16 September 2014, cuaca cerah - mendung, angin tenang – sedang ke arah timur, suhu udara 17 - 23° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati hembusan asap putih tebal dengan tinggi 300 m. Guguran lava dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 1500 m ke arah selatan.
  • Tanggal 17 September 2014, cuaca cerah – hujan, hujan gerimis - deras, angin tenang – perlahan ke arah timur, suhu udara 16 - 23° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati hembusan asap putih tebal dengan tinggi 200 m. Guguran lava dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 1000 - 1500 m ke arah selatan; dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 - 700 m ke arah selatan.
  • Tanggal 18 September 2014, cuaca mendung - berawan, angin tenang – perlahan ke arah barat – barat daya, suhu udara 17 - 24° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut. Guguran lava dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 1500 m ke arah selatan, (sisi timur) sejauh 700 - 1500 m ke arah tenggara; awanpanas guguran dari dekat puncak (sisi barat) sejauh 2000 m ke arah selatan. 
  • Tanggal 19 September 2014, cuaca mendung - hujan, hujan gerimis-deras, angin tenang – perlahan ke arah timur, suhu udara 17 - 22° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut. Guguran lava dari dekat puncak (sisi timur) sejauh 1000 m ke arah tenggara.
  • Tanggal 20 September 2014 (hingga pukul 06:00 WIB), cuaca mendung - berawan, hujan gerimis-sedang, angin tenang – perlahan ke arah barat, suhu udara 17 - 18° C, gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati hembusan asap putih tebal dengan tinggi 100 m.

Sejak tanggal 30 Juni 2014, teramati jalur lava baru di atas bukit Uruk Tuhan di sisi tenggara lidah lava yang ada, dan saat ini material guguran yang menumpuk sudah melewati bukit Uruk Tuhan. Panjang lidah lava pada tanggal 14 Agustus 2014 adalah 2.904 meter dari puncak G. Sinabung. Pada pengukuran 6 September 2014 pukul 14:13 WIB adalah 2.915 meter (Lampiran 1). 

Sejak tanggal 17 Juli 2014, teramati asap putih kebiruan keluar dari kawah G. Sinabung bergerak menuruni lereng hingga pemukiman penduduk Desa Sukanalu dan Desa Sigarang-garang dan tercium bau belerang lemah. Asap putih kebiruan ini terkadang hilang dan muncul kembali. Asap putih kebiruan teramati paling jelas pada tanggal 18 Juli 2014. Pada periode 12 – 20 September 2014 teramati asap putih kebiruan pada tanggal 14 - 15 September 2014.


2.2 KEGEMPAAN 

Hasil rekaman kegempaan dari tanggal 12 – 20 September 2014 adalah sebagai berikut:

  • Tanggal 12 September 2014, terekam 111 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 7 – 110 mm dan lama gempa 25 – 225 detik, 40 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 7 – 25 mm dan lama gempa 7 – 35 detik, 2 kali gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 13 - 87 mm, S-P 53,5 - 86 detik dan lama gempa 150 - 200 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 88 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 13 September 2014, terekam 99 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 9 – 97 mm dan lama gempa 38 – 261 detik, 44 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 5 – 15 mm dan lama gempa 8 – 17 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 74 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 14 September 2014, terekam 110 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 9 – 110 mm dan lama gempa 40 – 213 detik, 58 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 15 mm dan lama gempa 5 – 33 detik, 1 kali gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplituda maksimum 115 mm, S-P 1 detik dan lama gempa 40 detik, 1 kali gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 100 mm, S-P 33 detik dan lama gempa 160 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 43 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 15 September 2014, terekam 114 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 9 – 112 mm dan lama gempa 48 – 1370 detik, 59 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 27 mm dan lama gempa 7 – 29 detik, 3 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 22 - 76 mm, S-P 1,5 - 2 detik dan lama gempa 10 - 17 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 54 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 16 September 2014, terekam 116 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 8 – 106 mm dan lama gempa 30 – 320 detik, 87 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 5 – 34 mm dan lama gempa 5 – 23 detik, 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 16 mm, S-P 1 detik dan lama gempa 11 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 38 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 17 September 2014, terekam 102 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 6 – 115 mm dan lama gempa 36 – 256 detik, 104 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 22 mm dan lama gempa 8 – 22 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 58 mm (dominan 2 – 3 mm).
  • Tanggal 18 September 2014, terekam 123 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 6 – 115 mm dan lama gempa 35 – 267 detik, 133 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 20 mm dan lama gempa 4 – 24 detik, 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 104 mm, S-P 1 detik dan lama gempa 25 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 43 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 19 September 2014, terekam 114 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 10 – 108 mm dan lama gempa 30 – 269 detik, 100 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 20 mm dan lama gempa 5 – 27 detik, 6 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 18-103 mm, S-P 1-3 detik dan lama gempa 12-26 detik, 1 kali gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 105 mm, S-P 23 detik dan lama gempa 152 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 42 mm (dominan 2 mm).
  • Tanggal 20 September 2014 (hingga pukul 06:00 WIB), terekam 19 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 11 – 90 mm dan lama gempa 30 – 175 detik, 33 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 5 – 20 mm dan lama gempa 5 – 13 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 38 mm (dominan 2 mm).

Selama periode 12 – 20 September 2014 gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Vulkanik Dalam (VA), Low Frequency (LF), Tektonik Lokal (TL), Tektonik Jauh (TJ), dan Getaran Tremor (Lampiran 2). Gempa Guguran yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava rata-rata terekam sebanyak 110 kejadian/hari, meningkat dari periode 5 – 11 September 2014 yang rata-rata terekam 96 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA), yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma, rata-rata terekam sebanyak 1 kejadian/hari, menurun dari periode sebelumnya. Gempa Low Frequency (LF), yang mengindikasikan adanya aliran fluida, rata-rata terekam sebanyak 75 kejadian/hari, hampir sama dengan periode sebelumnya. Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 1 - 88 mm (rata-rata dominan 2 mm).

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awan panas yang intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat, demikian juga dengan jumlah kejadian awan panas. Nilai RSAM pada periode 12 – 20 September 2014 tergolong rendah dan tampak stabil (Lampiran 3).


2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda Tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (03° 10' 41,8" LU; 98° 24' 20,8" BT, elevasi 1.626 m, lereng timur G. Sinabung) dan stasiun Lau Kawar (03° 11' 29,70" LU; 98° 23' 6,30" BT, elevasi 1.468 m, lereng utara G. Sinabung).

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu, pada periode 12 – 19 September 2014 sumbu X (tangensial) menunjukkan pola deformasi relatif konstan dan sumbu Y (radial) menunjukkan pola deformasi inflasi (Lampiran 4).

Untuk tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar dalam periode 12 – 19 September 2014 komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola deformasi deflasi dan sumbu Y (radial) memperlihatkan pola deformasi relatif konstan (Lampiran 4). 

2.3.2 EDM (Electronic Distance Measurement)

Pengamatan deformasi dengan EDM dilakukan dari SNB 1 (03° 10' 59,25" LU, 98° 25' 25,64" BT, elevasi 1.305 m) Desa Sukanalu, terhadap reflektor SNB 2 (03° 10' 42,50" LU, 98° 24' 50,50" BT, elevasi 1.436 m) dan SNB 3 (03° 10' 44,79" LU, 98° 24' 20,21" BT, elevasi 1.626 m) di lereng timur G. Sinabung, serta dari SNB 10 (03° 11' 44,06" LU, 98° 23' 13,02" BT, elevasi 1.432 m) Desa Lau Kawar terhadap reflektor SNB 11 (03° 10' 39,7" LU, 98° 23' 25,3" BT, elevasi 2.050 m) di lereng utara G. Sinabung.

Hasil pengukuran EDM dari SNB 1 ke SNB 2, dan SNB 1 ke SNB 3, pada periode 12 – 18 September 2014 menunjukkan jarak miring berfluktuasi (variasi < 5 mm). Pengukuran jarak miring dari SNB 10 ke SNB 11 yang dimulai lagi sejak tanggal 6 September 2014 hanya dapat dilakukan hingga tanggal 12 September 2014 karena kendala cuaca (Lampiran 5).

2.4 Fluks SO2 dan Suhu AIR PANAS 

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11 - 18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1.234 – 3.796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1.234 ton/hari. Pada periode 12 – 19 September 2014 fluks SO2 tidak dapat diukur karena kendala cuaca.

Suhu mata air panas diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 di daerah Payung (03° 07' 35,5" LU, 98° 23' 13,3" BT) kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung. Pada periode 12 – 18 September 2014 suhu mata air panas Payung berkisar antara 54,112 – 54,225° C. Selama bulan September 2014, grafik suhu mata air panas secara umum terlihat mendatar (Lampiran 6).

 

III. POTENSI BAHAYA
  • Erupsi bersifat eksplosif masih berpotensi terjadi namun ancamannya terbatas pada radius kurang dari 3 km.
  • Pertumbuhan kubah lava berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Kejadian guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas masih mengancam ke arah selatan dan tenggara sejauh 5 km.
  • Guguran lava pijar dan awan panas yang berasal dari dekat puncak di sisi timur aliran lava mengancam ke arah Desa Bekerah-Desa Simacem (sektor tenggara-timur).
  • Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
  • Mengingat alterasi yang cukup kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan, yang terbatas pada daerah sekitar lembah.
  • Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.
  • Pada aliran lava baru (2014) bukit Uruk Tuhan terjadi guguran lava disisi timur dan tenggara, menyebabkan menumpuknya material rombakan yang berpotensi menjadi lahar saat hujan lebat.

 

IV. KESIMPULAN

  • Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah disertai pertumbuhan lidah lava dan guguran lava pijar dari puncak, tengah dan ujung lidah lava, yang ancamannya ke arah selatan dan tenggara dalam radius < 5 km dari puncak.
  • Aktivitas vulkanik G. Sinabung masih berfluktuasi, berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi, dan fluks gas SO2.
  • Kegempaan masih didominasi oleh gempa Guguran, Low Frequency, dan getaran Tremor yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava atau lidah lava, yang mengindikasikan masih terjadinya tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung, serta berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava-lidah lava yang masih berlangsung hingga saat ini.
  • Data deformasi mengindikasikan adanya perpindahan magma dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal walaupun relatif tidak signifikan.
  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung maka sampai tanggal 20 September 2014 pukul 06:00 WIB tingkat aktivitas aktivitas G. Sinabung masih tetap SIAGA (Level III).

Pemantauan Gunungapi Sinabung dilakukan secara intensif dan menerus guna mengetahui kegiatannya. Evaluasi aktivitas G. Sinabung dilakukan setiap minggu dan tiap bulan. Pemahaman aktivitas G. Sinabung tentang ancaman erupsi dan pasca erupsi tetap dilakukan secara menerus melalui kegiatan sosialisasi

Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.

 

V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam tingkat aktivitas SIAGA, maka kami rekomendasikan:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius 3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km untuk arah selatan dan tenggara G. Sinabung yang merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.
  2. Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar tetap diungsikan.
  3. Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung yang berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Guru Kinayan); Kecamatan Naman (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar tetap diungsikan.
  4. Masyarakat yang tinggal di 4 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi); Kecamatan Naman Teran (Desa Sukanalu, Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat, Desa Kutagugung dan Dusun Lau Kawar), dan Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dapat kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan atap yang terkena abu vulkanik tebal/mengganti atap, serta melakukan kegiatan seperti biasa.
  5. Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar menyiapkan/menambahkan jalur evakuasi dari Desa Kuta Tengah yang jalurnya menjauhi daerah bahaya, sebelum masyarakat di Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dikembalikan dari tempat pengungsian.
  6. Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.
  7. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.
  8. Lokasi pemukiman yang berada di bukaan kawah sangat berbahaya jika kelak dikemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar, oleh karena itu :
  • Jangka Pendek : 

Merelokasi pemukiman dan aktivitas penduduk Desa Sukameriah, Desa Bekerah dan Desa Simacem ke lokasi yang aman.

  • Jangka Panjang 

Merelokasi pemukiman yang terletak di dalam radius 5 km (namun terletak di bukaan kawah, yaitu Desa Guru Kinayan, Desa Berastepu, Desa Gamber, dan Dusun Sibintun) ke lokasi yang aman.

9. Pihak Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

10.  BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo tetap Siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu G. Sinabung meningkat kembali dari tingkat aktivitas SIAGA menjadi AWAS.

11.  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

12.  Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.