Evaluasi Status Kegiatan Awas (level Iv) G. Sinabung Tanggal 10 – 17 Januari 2014

I. pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 Nopember 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuasi. hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 Nopember 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB.

 

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL 

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak 10 Januari 2014 adalah sebagai berikut :

 

  • Tanggal 10 Januari 2014; Cuaca mendung berawan, angin tenang-perlahan ke arah Timur dan utara, suhu udara 16-220C, gunung jelas-berkabut. Termati letusan  berwarna putih tebal – abu-abu dengan tinggi kolom asap lk 700-4000 meter tertiup angin Timur-Timurlaut.

Luncuran awanpanas lk1500-4500 meter ke arah Tenggara-Selatan.

  • Tanggal 11 Januari 2014; Cuaca cerah-mendung, angin tenang-perlahan ke arah Timur dan Timurlaut, suhu udara 16-260C, gunung jelas-berkabut, saat jelas teramati letusan warna putih tebal kecoklatan dengan tinggi kolom lk 200-5000 meter dan luncuran awanpanas sejauh 1500-4500 meter ke arah Tenggara..
  • Tanggal 12 Januari 2014; Cuaca mendung-berawan, angin tenang-perlahan ke arah Timurlaut-Tenggara, suhu udara 17-220C, gunung jelas-berkabut. Saat jelas teramati letusan warna putih tebal  hingga abu-abu tebal dengan tinggi kolom lk. 300-4000 m dan luncuran awan panas 500-3500 meter ke arah Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava pijar sejauh 2500 meter ke lereng Timur dan luncuran awan panas 500 m ke arah Tenggara.
  • Tanggal 13 Januari 2014; Cuaca cerah-mendung, angin tenang-perlahan ke arah Barat dan Baratdaya, suhu udara 16-230C, gunung jelas-berkabut saat jelas teramati letusan warna putih tebal dengan tinggi kolom asap lk. 300-1000 m dan luncuran awan panas 800-3500 meter ke arah Tenggara dan Selatan.
  • Tanggal 14 Januari 2014; Cuaca berawan-mendung, angin tenang-perlahan ke arah Selatan dan Baratdaya, suhu udara 15-240C, gunung jelas-berkabut, saat jelas teramati letusan asap putih tebal kecoklatan dengan tinggi kolom asap lk. 150-5000 m dan luncuran awan panas 500-4500 meter ke arah Tenggara - Selatan.
  • Tanggal 15 Januari 2014; Cuaca cerah-berawan, angin tenang-perlahan ke arah Selatan-Baratdaya, suhu udara 16-240C, gunung jelas-berkabut, saat jelas teramati  letusan dengan warna abu-abu tebal dan tinggi asap lk. 500-1000 m dan dari titik erupsi sebelah utara dengan tinggi lk 300 m, luncuran awan panas 1500-4000 meter ke arah Selatan-Tenggara, dan guguran lava pijar sejauh 1000-3000 meter ke arah Selatan-Tenggara.
  • Tanggal 16 Januari 2014; Cuaca cerah-berawan, angin tenang-perlahan ke arah Timur dan Tenggara, suhu udara 16-250C, gunung jelas-berkabut, saat jelas  teramati letusan dengan tinggi kolom lk. 1000-4000 m dan luncuran awan panas 1000-4500 meter ke arah Selatan. Guguran lava sejauh lk. 500-2500 meter ke arah Tenggara.
  • Tanggal 17 Januari 2014 (hingga pukul 06:00 WIB) ; Cuaca cerah-berawan, angin perlahan-sedang ke arah Timur-Tenggara, suhu udara 180C, gunung jelas - berkabut,  saat gunung tampak jelas teramati abu letusan, tinggi kolom lk. 1000 meter, luncuran awanpanas ke arah Selatan sejauh lk. 4000 meter. Guguran lava pijar  ke arah Tenggara sejauh 500-2000 m.

 

 2.2. KEGEMPAAN

 

Hasil rekaman kegempaan sejak tanggal 10 Januari 2014 adalah sebagai berikut :

  • Tanggal 10 Januari 2014; 38 kali Gempa Letusan, 34 kali Gempa Guguran,14 kali Gempa Low Frequency (LF), 2062 kali Gempa Hybrid, 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 3-30 mm.
  • Tanggal 11 Januari 2014; 31 kali Gempa Letusan, 214 kali Gempa Guguran, 24 kali Gempa Low Frequency (LF), 470 kali Gempa Hybrid, 23 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 3-30 mm.
  • Tanggal 12 Januari 2014; 21 kali Gempa Letusan, 204 kali Gempa Guguran, 13 kali Gempa Low Frequency (LF), 215 kali Gempa Hybrid, 19 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-4 mm.
  • Tanggal 13 Januari 2014; 10 kali Gempa Letusan, 199 kali Gempa Guguran, 24 kali Gempa Low Frequency (LF), 95 kali Gempa Hybrid, 33 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.
  • Tanggal 14 Januari 2014; 64 kali Gempa Letusan, 201 kali Gempa Guguran, 11 kali Gempa Low Frequency (LF), 201 kali Gempa Hybrid, 22 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-7 mm.
  • Tanggal 15 Januari 2014; 31 kali Gempa Letusan, 141 kali Gempa Guguran, 10 kali Gempa Low Frequency (LF), 95 kali Gempa Hybrid, dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.
  • Tanggal 16 Januari 2014 ; 57 kali Gempa Letusan, 238 kali Gempa Guguran, 4 kali Gempa Low Frequency (LF), 65 kali Gempa Hybrid, 71 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VB) dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 1-11 mm.
  • Tanggal 17 Januari 2014 (hingga pukul 00-06 WIB) ; 6 kali Gempa Letusan, 12 kali Gempa Guguran, 12 kali Gempa Hybrid , 4 kali Gempa Low Frequency (LF), 25 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan Getaran Tremor terekam terus menerus dengan amplituda 1-4 mm. 

Selama periode 10 – 17 Januari 2014 getaran Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi 0,5–30 mm, namun sejak tanggal 12 Januari 2014. Rekaman kegempaan menunjukkan dominasi Gempa Hybrid yang berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava, dalam 7 hari terakhir total terekam 3203 kali atau rata-rata harian 457 kali. Gempa Low-Frequency (LF), yang diinterpretasikan adanya penambahan tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung menurun drastis, total terekam 100 kali atau 14 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA), yang mengindikasikan adanya peningkatan tekanan akibat intrusi magma, masih tinggi dengan total terekam 241 kejadian atau rata-rata 34 kejadian/hari. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava, meningkat drastis sejak tanggal 30 Desember 2013, dan dalam 7 hari terakhir ini terekam  1231 kali atau sekitar 176 kejadian/hari. Letusan yang terjadi sejak tanggal 30 Desember 2013, semakin meningkat dan jumlah tertinggi pada tanggal 4 Januari 2014 sebanyak 69 kali dan tanggal 14 Januari 2014 sebanyak 64 kali. Total terekam 252 kali letusan. 

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi yang meningkat sejak tanggal 28 November hingga 16 Desember 2013, kemudian energinya relatif menurun. Pada 16 Desember 2013 merupakan puncak nilai RSAM, yang dimanifestasikan oleh terjadinya erupsi efusif atau munculnya kubah lava di Kawah G. Sinabung (Lampiran 2). Walaupun RSAM menurun sejak 16 Desember, RSAM masih cukup tinggi setelah tanggal 16 Desember 2013 – 5 Januari 2014 berasosiasi dengan pertumbuhan dan penghancuran kubah lava. Laju RSAM membesar sejak tanggal 6 Januari 2014 seiring dengan peningkatan jumlah gempa Hybrids.

  

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda tiltmeter dan GPS (Global Positioning System).

2.3.1 TILTMETER 

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu : stasiun Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung), stasiun Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung). Stasiun tilt Sukanalu hanya merekam data sampai 5 Januari 2014 karena adanya gangguan pada sistem daya akibat panel surya tertutup endapan abu letusan. Stasiun tilt Laukawar merekam data dengan baik hingga 17 Januari 2014.

2.3.1.1 Stasiun Sukanalu

Sejak tanggal 5 Januari stasiun Sukanalu tidak berjalan mengirimkan sinyal dikarenakan gangguan abu letusan pada sistem catu daya alat.

2.3.1.2 Stasion Lau Kawar

 

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November) dalam periode 10-17 Januari 2014  memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) relatif datar, sedangkan sumbu Y (radial) berfluktuasi sebesar 50-100 mikroradian dalam pola deflasi. Sejak 9 Januari hingga saat ini sumbu Y cenderung datar yang mengindikasikan tempat magma dalam terisi fluida/magma.

2.3.2 GPS Kontinyu

Pengukuran GPS kontinyu dilakukan dengan memasang tiga stasiun GPS di tubuh gunungapi, yaitu: SKNL, GRKI, LKWR, dan satu stasiun referens di Pos Sinabung (SNBG). Data GPS dari ketiga stasiun selama awal Januari 2014 mengalami kekosongan akibat gangguan daya karena panel surya tertutup abu letusan sedangkan stasiun SNBG dapat merekam data dengan baik hingga 8 Januari 2014. Data terakhir dari stasiun SKNL pada 8 Januari 2014, stasiun GRKI 2 Januari 2014 dan stasiun LKWR 17 Januari 2014. Hasil pengukuran baseline GPS Kontinyu tanggal 1 Desember 2013 – 17 Januari 2014 menunjukkan fluktuasi (Gambar 4)

 

 2.4. Fluks SO2 dan Suhu  AIR PANAS

 

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi yaitu 3542 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1234 ton/hari, namun pada tanggal 15 Januari 2014 nilai fluks SO2 meningkat kembali menjadi 3796 ton/hari. Masih tingginya nilai fluks SO2 mengindikasikan masih adanya suplai magma baru.

Suhu mata airpanas yang diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 sampai 8 Januari 2014 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) berkisar antara 53,8-54,1 oC atau tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (Lampiran 5).

 

III. POTENSI BAHAYA
  • Erupsi masih berpotensi terjadi, yang menghasilkan material berukuran abu sampai lapili (berukuran 2-6 cm) yang ancamannya dapat mencapai radius 5 km serta dapat mengganggu kesehatan dan merusak tanaman di area terdampak.
  • Pertumbuhan  kubah semakin intensif berpotensi  menimbulkan  awan  panas yang  dapat disertai  longsoran  dinding  kawah  yang  mengancam  ke  arah  Tenggara  dan  Timur. Letusan  yang  diikuti  awan  panas masih  berpotensi  terjadi  disertai  dengan lontaran  material.  Dampak  bencana  berupa  awan panas  dapat menjangkau  jarak lebih dari 4 km.
  • Potensi  longsor  di lereng  Utara  (Lau  Kawar)  dan  di sekitar  puncak  sebelah Selatan-Tenggara-Timur  G. Sinabung  masih  tinggi. Pemicunya karena terdapat lubang  tembusan  fumarola  baru  yang  diikuti beberapa  kali  terjadi  longsor  di  lereng Utara,  sedangkan  pemicu  di sekitar  puncak  sebelah  Selatan-Tenggara-Timur adalah  terdapatnya  retakan-retakan  yang  memotong  dinding  kawah.
  • Potensi terjadinya  lahar  masih  tinggi  yang  berasal  dari  endapan  abu/material erupsi  dan  curah  hujan  tinggi.  Lahar  berpotensi  terjadi  di  lembah-lembah  sungai yang  berhulu  di  puncak  G. Sinabung.

 

IV. KESIMPULAN

  • Kegempaan masih didominasi oleh Gempa Hybrid yang mengindikasikan masih tingginya tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava. Peningkatan jumlah Gempa Guguran berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava.
  • Data deformasi mengindikasikan adanya perpindahan tekanan dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal.
  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung hingga tanggal 17 Januari 2014 pukul 06:00 WIB status kegiatan G. Sinabung  masih tetap Awas (Level IV).
  • Jika terjadi penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya. Apabila aktivitasnya terus meningkat, maka daerah yang terdampak dapat diperluas sesuai ancamannya.

V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status AWAS, maka kami rekomendasikan:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas pada radius 5 km dari Kawah Sinabung. Masyarakat di 17 Desa dan 2 Dusun yang tersebar dalam 4 Kecamatan yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Kuta Mbaru, Desa Temberun, Desa Tiga Nderket, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi, Desa Sukameriah, Guru Kinayan); Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber); Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah,  Desa Simacem,  Desa Sukanalu, Desa Kuta Tonggal, Desa Sigarang-garang, Desa Kuta Rakyat,  serta Desa Kuta Gugung dan Dusun Lau Kawar) agar diungsikan.
  2. Masyarakat Kecamatan Naman Teran (Desa Kebayaken, Desa Naman dan Desa Kutambelin), yang terletak di timur laut dan berada di luar radius 5 km berpotensi terkena material jatuhan letusan. Desa Kuto Tengah, Desa Pintubesi, dan Desa Jeraya (Kecamatan Simpang Empat), yang terletak pada arah Tenggara bukaan kawah, dan berada di luar radius 5 km dari puncak berpotensi terkena awanpanas. Ke enam desa tersebut agar diungsikan.
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata.
  4. Bagi atap rumah masyarakat yang terkena dampak dari hujan abu vulkanik tebal, agar segera membersihkan atap bangunan, untuk mencegah robohnya atap  karena beban berat.
  5. Masyarakat yang terganggu akibat hujan abu vulkanik lebat terutama anak – anak dan masyarakat rentan lainnya di sekitar G. Sinabung, dapat diungsikan sementara hingga hujan abu lebat mereda.
  6. Sehubungan dengan meningkatnya intensitas curah hujan, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.
  7. Masyarakat agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/ Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.
  8. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo selalu berkoordinasi langsung dengan Pemerintah Kabupaten / Muspida Karo, BPBD Provinsi dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Sinabung.
  9. Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi dan Satlak PB Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.