Evaluasi Status Kegiatan Awas (level Iv) G. Sinabung Tanggal 27 Desember 2013 – 3 Januari 2014

 

Perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. 

  1. Pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 Nopember 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuasi. hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 Nopember 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB.

  1. PENGAMATAN

    1. VISUAL

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak 27 Desember 2013 adalah sebagai berikut :

  • Tanggal 27 Desember 2013; Cuaca cerah-berawan hingga mendung, angin tenang-perlahan ke arah Barat, suhu udara 16-240C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal, tinggi lk. 100-400 m. Kubah lava teramati dari Pos PGA G. Sinabung.

  • Tanggal 28 Desember 2013; Cuaca berawan-mendung hingga hujan dengan intensitas gerimis-deras, angin tenang-perlahan ke arah Barat dan Timur, suhu udara 17-240C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal tinggi lk. 200-400 m.

  • Tanggal 29 Desember 2013; Cuaca mendung-hujan, angin tenang-perlahan ke arah Timur, suhu udara 17-190C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal, tinggi lk. 300 m. Teramati dengan kamera thermal guguran ke arah Tenggara puncak G. Sinabung dengan jarak luncur mencapai 1 km. Teramati aliran lahar di alur guguran arah Tenggara puncak Sinabung melalui alur sungai dekat Desa Bekerah. Suara gemuruh terdengar dari Pos PGA Sinabung.

  • Tanggal 30 Desember 2013; Cuaca cerah-mendung hingga hujan dengan intensitas gerimis-deras, angin tenang-perlahan ke arah Timur, suhu udara 16-210C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal kecoklatan, tinggi lk. 500-4000 m. Teramati luncuran awan panas ke arah Tenggara puncak Sinabung sejauh 500 – 1500 meter. Teramati 8 kali letusan eksplosif dengan kolom asap lk 800-7000 meter. Teramati 3 kali guguran lava pijar sejauh 1000-1500 meter.

  • Tanggal 31 Desember 2013; Cuaca cerah-mendung, angin tenang-perlahan ke arah Timur, suhu udara 17-270C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal-abu-abu, tinggi lk. 150-3500 m. Teramati 14 kali luncuran awan panas ke arah Tenggara sejauh 500 – 3000 meter.

  • Tanggal 1 Januari 2014; Cuaca cerah-mendung, angin tenang-perlahan ke arah Baratdaya dan Timur, suhu udara 17-270C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal-abu-abu, tinggi lk. 500-3000 m. Teramati 21 kali luncuran awan panas ke arah Tenggara sejauh 500 – 3000 meter.

  • Tanggal 2 Januari 2014; Cuaca cerah-hujan sedang, angin tenang-perlahan ke arah Timur, suhu udara 17-260C, gunung jelas-berkabut, asap putih tebal-abu-abu, tinggi lk. 500-2500 m. Teramati 14 kali luncuran awan panas ke arah Tenggara sejauh 700 – 3500 meter.

  • Tanggal 3 Januari 2014 (hingga pukul 12:00 WIB); Cuaca mendung, angin tenang-perlahan ke arah Barat, suhu udara 160C, gunung jelas-berkabut. Teramati menggunakan Thermalcam tinggi asap lk. 1000-2000 m, luncuran awan panas 700-4000 meter ke arah Tenggara, dan guguran lava pijar sejauh 500-2000 meter ke arah Tenggara.

    2. KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan sejak tanggal 27 Desember 2013 adalah sebagai berikut :

  • Tanggal 27 Desember 2013; 24 kali Gempa Guguran, 55 kali Gempa Low Frequency (LF), 724 kali Gempa Hybrid, 56 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.

  • Tanggal 28 Desember 2013; 27 kali Gempa Guguran, 62 kali Gempa Low Frequency (LF), 638 kali Gempa Hybrid, 32 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 (satu) kali getaran banjir lahar selama 46 menit, dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.

  • Tanggal 29 Desember 2013; 46 kali Gempa Guguran, 29 kali Gempa Low Frequency (LF), 595 kali Gempa Hybrid, 18 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), 2 kali getaran banjir lahar selama 165-180 menit, dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.

  • Tanggal 30 Desember 2013; 8 kali Gempa Letusan, 151 kali Gempa Guguran, 15 kali Gempa Low Frequency (LF), 465 kali Gempa Hybrid, 16 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-5 mm.

  • Tanggal 31 Desember 2013; 49 kali Gempa Letusan, 88 kali Gempa Guguran, 43 kali Gempa Low Frequency (LF), 404 kali Gempa Hybrid, 55 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-5 mm.

  • Tanggal 1 Januari 2014; 36 kali Gempa Letusan, 153 kali Gempa Guguran, 28 kali Gempa Low Frequency (LF), 451 kali Gempa Hybrid, 38 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.

  • Tanggal 2 Januari 2014; 18 kali Gempa Letusan, 222 kali Gempa guguran, 19 kali Gempa Low Frequency (LF), 263 kali Gempa Hybrid, 21 kali Gempa Vulkanik Dalam, 1 (satu) kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-3 mm.

  • Tanggal 3 Januari 2014 (hingga pukul 12:00 WIB); 17 kali Gempa Letusan, 81 kali Gempa Guguran, 6 kali Gempa Low Frequency (LF), 229 kali Gempa Hybrid, 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan getaran Tremor menerus, amplituda maksimum 0,5-9 mm. 

Selama periode 27 Desember 2013 – 3 Januari 2014 (Lampiran 1) gempa Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi 0,5–9 mm. Rekaman kegempaan menunjukkan dominasi Gempa Hybrid yang berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava, dalam 8 hari terakhir total terekam 3769 kali atau rata-rata harian 471 kali. Gempa Low-Frequency (LF), yang diinterpretasikan adanya penambahan tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung menurun, terekam 257 kali Gempa Low-Frequency atau 32 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA), yang mengindikasikan adanya peningkatan tekanan akibat intrusi magma, berangsur-angsur meningkat dengan total terekam 242 kejadian atau rata-rata 30 kejadian/hari. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava, meningkat drastis sejak tanggal 30 Desember dengan total 792 kali atau sekitar 99 kejadian/hari. 


RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi yang meningkat sejak tanggal 28 November hingga 16 Desember 2013, kemudian energinya relatif menurun. Pada 16 Desember 2013 merupakan puncak nilai RSAM, yang dimanifestasikan oleh terjadinya erupsi efusif atau munculnya kubah lava di Kawah G. Sinabung (Lampiran 2). Walaupun RSAM menurun sejak 16 Desember, RSAM masih cukup tinggi selama periode 2013 – 3 Januari 2014 berasosiasi dengan pertumbuhan dan penghancuran kubah lava. Puncak-puncak RSAM pada periode 30 Desember 2013 – 3 Januari 2014 terkait dengan erupsi yang terjadi.

 


       3. DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

A. TILTMETER

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu : stasion Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung), stasion Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung).

                    Stasion Sukanalu

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu pada sumbu X dan Y dalam periode 1 Desember 2013 – 2 Januari 2014 menunjukkan beberapa kali deformasi inflasi dan deflasi. Pada periode 30 Desember 2013 hingga 2 Januari 2014 komponen X secara umum mengalami deflasi lk 30 mikroradian, sedangkan komponen sumbu Y (pada periode yang sama) secara umum inflasi lk 60 mikroradian (Lampiran 3). Deflasi pada komponen sumbu Y beberapa hari sebelum 30 Desember 2013 dan diikuti inflasi hingga 2 Januari 2014 berkaitan dengan pengosongan sebagian volume magma akibat keluarnya aliran awan panas dan guguran, serta proses pengisian kembali yang diimplikasikan oleh masih munculnya gempa-gempa hybrid.

Stasion Lau Kawar

 Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November) dalam periode 17 November – 31 Desember 2013 memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) maupun sumbu Y (radial) secara umum deflasi (Lampiran 4) dan sejak tanggal 24 November hingga saat ini komponen sumbu X cenderung berfluktuasi, sedangkan komponen sumbu Y terus menerus deflasi sejak tanggal 21 November menunjukkan penurunan nilai Y yang mengindikasikan adanya supply magma dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal. Stasion tilt Lau Kawar tidak beroperasi sejak 1 Januari 2014, disebabkan hilangnya daya akibat sel surya tertutup abu letusan.


 B. EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement) dilakukan dari Desa Sukanalu (SNB 1) terhadap dua reflektor, yaitu SNB 2 (elevasi 1436 m), SNB 3 (elevasi 1626 m) yang ada di lereng Timur G. Sinabung dan dari Lau Kawar (SNB 8) terhadap satu reflektor yang ada di dekat rekahan baru lereng utara G.Sinabung (SNB 9, elevasi 2097 m), dan satu reflektor baru SNB 7 (elevasi 1627) di daerah Sigarang (Lampiran 5).

Hasil pengukuran EDM dengan baseline SNB1 ke SNB3 dan SNB1 ke SNB2 pada periode tanggal 16-27 Desember 2013 menunjukkan pemendekan jarak yang mengindikasikan adanya inflasi kecil. Pada periode yang sama hasil pengukuran EDM dengan baseline SNB8 ke SNB9 menunjukkan jarak yang stabil. Sedangkan hasil pengukuran EDM dengan baseline SNB6 ke SNB7 menunjukkan jarak kearah kestabilan dari sejak pemasangan stasion beberapa hari sebelumnya.

Sejak letusan mulai terjadi pada 30 Desember 2013, pengukuran EDM tidak dapat dilakukan lagi karena lokasi pengukuran merupakan area terancam bahaya letusan.

C. GPS Kontinyu

Pengukuran GPS kontinyu dilakukan dengan memasang tiga stasion GPS di tubuh gunungapi, SKNL; GRKI; LKWR, dan satu stasion di Pos Sinabung (SNB). Pengamatan GPS (Lampiran 6) selama periode tanggal 13 Desember 2013 – 1 Januari 2014 menunjukkan terjadi pergeseran relatif ke arah timur-tenggara pada titik LKWR sebesar 0.84 cm (dx = -0.84 cm, dy = 0.06 cm). Titik GRKI mengalami pergeseran sebesar 0.48 cm (dx =-0.15 cm, dy = -0.46 cm) ke arah barat-baratlaut. Titik SKNL mengalami pergeseran sebesar 0.72 cm (dx = 0.55 cm, dy = -0.46 cm) ke arah baratlaut. Tanda minus untuk komponen x adalah ke arah barat, dan untuk komponen y ke arah selatan. Pergeseran vertikal untuk ketiga titik menunjukkan nilai negatif (deflasi) dengan nilai pergeseran -1.13 cm (LKWR), -0.46 (SKNL) dan -1.32 (GRKI).

Kondisi deflasi berkaitan dengan pembebanan oleh tubuh kubah lava dan pengosongan sebagian volume magma dalam bentuk guguran dan aliran awan panas.

 

4. SUHU AIRPANAS, FLUKS GAS SO2 dan ANALISIS KIMIA ABU LETUSAN

Hasil pengukuran fluks SO2 menggunakan Mini DOAS (Lampiran 7) menunjukkan nilai fluks SO2 menurun setelah pengukuran tanggal 4 Desember yang mencapai nilai tertinggi selama masa krisis (1328 ton/hari). Nilai fluks periode 21-27 Desember dalam kisaran 177-634 ton/hari. Pengukuran pada tanggal lainnya tidak dapat dilakukan karena cuaca kabut.

Pengukuran suhu mata airpanas secara kontinyu pada awal Oktober 2013 sampai 31 Desember 2013 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) yang berkisar pada 53,8-54,1 oC tidak menunjukkan banyak perubahan (Lampiran 7).

Nilai CO2 dan H2S tidak menunjukkan kecenderungan yang meningkat hingga 31 Desember 2013.

Pengukuran fluks SO2 dan suhu airpanas tidak dilakukan lagi sejak terjadinya letusan eksplosif yang diikuti aliran awan panas tanggal 31 Desember 2013, hal ini dikarenakan karena lokasi pengukuran merupakan area terancam bahaya letusan.

 

III. POTENSI BAHAYA

  • Erupsi masih berpotensi terjadi, yang menghasilkan material berukuran abu sampai lapili (berukuran 2-6 cm) yang ancamannya dapat mencapai radius 5 km serta dapat mengganggu kesehatan dan merusak tanaman di area terdampak.

  • Pertumbuhan kubah semakin intensif berpotensi menimbulkan awan panas yang dapat disertai longsoran dinding kawah yang mengancam ke arah Tenggara dan Timur. Letusan yang diikuti awan panas masih berpotensi terjadi disertai dengan lontaran material. Dampak bencana berupa awan panas dapat menjangkau jarak lebih dari 4 km.

  • Potensi longsor di lereng Utara (Lau Kawar) dan di sekitar puncak sebelah Selatan-Tenggara-Timur G. Sinabung masih tinggi. Pemicunya karena terdapat lubang tembusan fumarola baru yang diikuti beberapa kali terjadi longsor di lereng Utara, sedangkan pemicu di sekitar puncak sebelah Selatan-Tenggara-Timur adalah terdapatnya retakan-retakan yang memotong dinding kawah.

  • Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di puncak G. Sinabung.

 IV. KESIMPULAN

  • Kegempaan masih didominasi oleh Gempa Hybrid yang mengindikasikan masih tingginya tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava. Peningkatan jumlah Gempa Guguran berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava.

  • Data deformasi mengindikasikan adanya perpindahan tekanan dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal.

    Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung hingga tanggal 3 Januari 2014 pukul 12:00 WIB status kegiatan G. Sinabung masih tetap Awas (Level IV).

  • Jika terjadi penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya. Apabila aktivitasnya terus meningkat, maka daerah yang terdampak dapat diperluas sesuai ancamannya. 

 

V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status AWAS, maka kami rekomendasikan:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas pada radius 5 km dari Kawah Sinabung. Masyarakat di 17 Desa dan 2 Dusun yang tersebar dalam 4 Kecamatan yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Kuta Mbaru, Desa Temberun, Desa Tiga Nderket, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi, Desa Sukameriah, Guru Kinayan); Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber); Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem, Desa Sukanalu, Desa Kuta Tonggal, Desa Sigarang-garang, Desa Kuta Rakyat, serta Desa Kuta Gugung dan Dusun Lau Kawar) agar diungsikan.

  2. Masyarakat Kecamatan Naman Teran (Desa Kebayaken, Desa Naman dan Desa Kutambelin), yang terletak di timur laut dan berada di luar radius 5 km berpotensi terkena material jatuhan letusan. Desa Kuto Tengah, Desa Pintubesi, dan Desa Jeraya (Kecamatan Simpang Empat), yang terletak pada arah Tenggara bukaan kawah, dan berada di luar radius 5 km dari puncak berpotensi terkena awanpanas. Ke enam desa tersebut agar diungsikan.

  3. Sehubungan dengan meningkatnya intensitas curah hujan, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

  4. Masyarakat agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/ Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

  5. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo selalu berkoordinasi langsung dengan Pemerintah Kabupaten / Muspida Karo, BPBD Provinsi dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Sinabung.

  6. Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan Satlak PB Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.