Penurunan Status Gunungapi Agung, Bali

Penurunan status G. Agung berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental G. Agung, Bali hingga 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA sebagai berikut: 

I. Pendahuluan 

  1. Secara geografis, G. Agung terletak pada posisi koordinat 8.342° LS dan 115.508° BT. Puncak G. Agung berada pada ketinggian 3142 m di atas permukaan laut.
  2. Secara administratif G. Agung termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.
  3. Gunungapi Agung diamati secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem dan Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.
  4. Data pengamatan G. Agung diolah dan dianalisis oleh ahli gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengevaluasi aktivitas gunungapi serta mengestimasi potensi ancaman bahayanya sehingga menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi. 
  5. Sejarah perkembangan tingkat aktivitas gunungapi:
  1.  
    1. Pada 12 Maret 1963, terjadi erupsi aktivitas G. Agung dengan skala VEI 5 dengan tinggi kolom erupsi setinggi 8-10 km diatas puncak G. Agung dan disertai oleh aliran piroklastik yang menghancurkan beberapa desa disekitar G. Agung dan disusul oleh aliran lahar yang menewaskan setidaknya 1100 jiwa.
    2. G. Agung selesai bererupsi pada tanggal 27 Januari 1964 dan menyisakan kawah dengan diamater 500 m sedalam 200 m.
    3. Peningkatan jumlah gempa vulkanik dan tektonik lokal yang dimulai pada tanggal 10 Agustus 2017, kemudian disertai oleh munculnya solfatara pada tanggal 13 September 2017 membuat status G. Agung ditingkatkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada tanggal 14 September 2017.
    4. Peningkatan jumlah gempa vulkanik sangat intensif yang dimulai pada tanggal 14 September 2017, kemudian disertai oleh munculnya air ke permukaan yang mengindikasikan adanya gangguan hidrologis akibat pergerakan magma sehingga pada tanggal 18 September 2017 membuat status G. Agung ditingkatkan dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada tanggal 18 September 2017 pukul 21.00 WITA.
    5. Peningkatan jumlah gempa vulkanik yang signifikan dan analisis pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung kali ini mengindikasikan bahwa peningkatan amplitudo seismik yang terjadi terus mengalami percepatan yang semakin tinggi dan cenderung mengarah ke satu garis asymptote (erupsi/letusan), maka status G. Agung ditingkatkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) pada tanggal 22 September 2017 pukul 20.30 WITA.
    6. Penurunan jumlah dan amplitudo gempa vulkanik dan serta berkurangnya gempa terasa secara drastis membuat status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga) pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.
    7. Jumlah gempa vulkanik meningkat cukup signifikan pada tanggal 25 November  2017 atau kurang dari 24 jam sebelum terjadinya erupsi magmatik. Energi seismik teramati belum lebih tinggi dari pada saat kondisi Level IV (Awas). Hal ini tidak berarti bahwa potensi letusan lebih kecil, hal ini mengindikasikan bahwa sistem sudah relatif terbuka sehingga gempa-gempa yang berperan dalam membuka jalur ke permukaan jumlahnya tidak banyak. Pasca erupsi tanggal 25 November 2017, kemunculan gempa tremor semakin intensif. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka terhitung mulai tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status Gunungapi Agung ditingkatkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).

 

II. Hasil Pengamatan 

2.1 Visual dari Pos Pengamatan Gunungapi  

Pengamatan visual Gunungapi Agung selama status Awas (Level IV) dari periode Senin, 27 November 2017 hingga Rabu, 7 Februari 2018 (73 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 36.8 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan timur laut. Suhu udara sekitar 20 - 31°C. Kelembaban 62 - 94%. Tekanan udara 90 mmHg. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 4000 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga tebal. Kronologi letusan freatik sampai magmatik terpilih dari tanggal 21 November 2017 - 19 Januari 2018 sebagai berikut:

  • Pada tanggal 21 November 2017 mulai pukul 17:05 WITA teramati erupsi freatik pertama Gunung Agung yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 700 m di atas puncak.
  • Pada tanggal 25 November 2017 pukul 17:20 WITA mulai teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu-kehitaman dengan intensitas tebal dengan tinggi maksimum 2000 m di atas puncak. Pada malam hari teramati cahaya terang di puncak Gunung Agung. Cahaya ini kemungkinan besar merupakan manifestasi dari aktivitas lava pijar di kawah Gunung Agung. Fenomena ini menandai fase transisi dari erupsi freatik ke erupsi magmatik. Abu vulkanik jatuh utamanya ke arah barat-baratdaya ke Desa Menanga, Desa Rendang termasuk ke Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang yang berjarak 12.5 km dari puncak.
  • Pada tanggal 26 November 2017
    • Pukul 05.05 WITA erupsi magmatik teramati memiliki ketinggian 2000 meter di atas puncak dengan warna abu kelabu tebal. Abu menyebar ke arah tenggara dan timur jatuh paling tebal di Desa Sibetan (5 mm). Abu menyebar terjauh sampai ke Nusa Penida, Lombok, dan Sumbawa.
    • Kemudian intensitas erupsi abu mengalami peningkatan pada pukul 05.45 dengan ketinggian mencapai 3000 meter dari atas puncak, hingga mencapai ketinggian 3300 m pada pukul 11:00 WITA.
    • Terdengar dua kali suara dentuman dari kawah gunung agung di Pos PGA Agung Jarak 12,5 Km dari kawah disertai kilat pada pukul 20:51 WITA
    • Terekam tremor overscale menguat di stasiun PSAG dan beberapa stasiun lainnya mulai pukul 21:36 WITA
    • Terdengar satu kali suara dentuman dari kawah gunung agung di Pos PGA Agung Jarak 12,5 Km dari kawah pada pukul 22.51 WITA.
    • Sinar api di puncak semakin sering teramati dimalam hari dari CCTV di Bukit Asah.
  • Pada tanggal 28 November 2017
    • Periodeerupsi magmatik dengan eksplosivitas tertinggi selama krisis, teramati ketinggian kolom erupsi maksimum mencapai 4000 meter di atas puncak dengan warna abu kelabu tebal.
  • Pada tanggal 19 Januari 2018
    • Pukul 05.05 WITA erupsi magmatik berupa erupsi strombolian untuk pertama kalinya teramati dari cctv Bukit Asah dengan ketinggian maksimum material pijar setinggi 2500 meter dari atas puncak dan jatuh di sekitar kawah dengan jangkauan terjauh mencapai 1000 m ke arah Selatan dan Tenggara.

 

Secara visual, aktivitas permukaan seperti hembusan masih berlangsung dengan jumlah maupun ketinggian kolom asap berfluktuasi. Dalam dua minggu terakhir ini ketinggian kolom asap teramati berkisar 200 - 500 m di atas puncak. Angin dominan bertiup ke arah Timur dan Timurlaut (Gambar 1).

2.2 Penginderaan Jauh Satelit

 

Energi termal Gunung Agung mulai teramati setidaknya mulai 10 Juli 2017 dimana satelit ASTER TIR mengindikasikan adanya peningkatan jumlah area panas. Pada bulan Agustus dan September 2017, jumlah area panas di Kawah Gunung Agung meningkat cukup signifikan. Pada periode pemantauan selanjutnya, energi termal masih teramati berada pada tingkatan yang relatif sama hingga pertengahan Oktober 2017. Setelah itu, satelit TERRA/AQUA setidaknya sejak bulan Desember 2017 masih teramati anomali temperatur tinggi di kawah G. Agung dan berangsur turun hingga tidak terekam lagi dalam 3 minggu terakhir yang mengindikasikan penurunan suhu di permukaan kawah sehingga material lava yang terakumulasi semakin mengeras karena aliran lava yang naik ke permukaan berkurang (Gambar 4).

2.3 Visual dari Pesawat Tanpa Awak (Drone) 

Pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Agung pada saat krisis ini juga dilengkapi dengan penggunaan pesawat tanpa awak (drone) untuk dapat melihat lebih teliti aktivitas permukaan di Gunung Agung. Dari hasil pemantauan terakhir yaitu pada tanggal 14 Desember 2017 diperoleh informasi bahwa asap berwarna putih masih keluar dari Kawah Gunung Agung. Intensitas asap pada saat ini relatif jauh lebih rendah dari pada pemantauan sebelumnya. Tumpukan material berupa lava baru yang mengisi kawah termati dengan volume sekitar 20 juta m3 (sekitar 1/3 dari volume total kawah) dan sampai saat ini volume lava di permukaan masih relatif sama (Gambar 2).

 

III. Kegempaan dan Metode Seismik lainnya

 

3.1 Distribusi Gempa 

Rekaman kegempaan selama status Awas (Level IV) dari periode Senin, 27 November 2017 hingga Rabu, 7 Februari 2018 (73 hari) terekam 34 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 5 - 28 mm dan lama gempa 40 - 404 detik. 1408 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 2 - 28 mm dan lama gempa 4 - 200 detik. 4 kali gempa Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 3 - 22 mm dan lama gempa 80 - 1832 detik. 456 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 2 - 25 mm dan lama gempa 8 - 120 detik. 447 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 1.5 - 26 mm dan lama gempa 3 - 50 detik. 503 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 28 mm, S-P 1 - 4 detik dan lama gempa 5 - 90 detik. 42 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 3 - 30 mm, S-P 3 - 11 detik dan lama gempa 25 - 170 detik. 2 kali gempa Terasa dengan amplitudo 24 - 25 mm dan lama gempa 150 - 650 detik. 131 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 50 mm, S-P 10 - 82 detik dan lama gempa 35 - 340 detik. 8 kali gempa Harmonik dengan amplitudo 2.5 - 22 mm dan lama gempa 22 - 660 detik. Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 24 mm.

Kegempaan frekuensi rendah yang terekam mengindikasikan adanya aktivitas aliran magma di kedalaman dangkal menunjukkan trend menurun dalam satu bulan terakhir (Gambar 5). Demikian juga untuk kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi karena pergerakan magma cenderung fluktuatif. Amplitudo Seismik (RSAM) pada stasiun PSAG dan TMKS mengindikasikan dinamika aktivitas Gunung Agung dalam 2 minggu terakhir juga mengalami fluktuasi (Gambar 6).

 

IV. Deformasi 

4.1 Deformasi GPS 

Analisis data GPS Gunung Agung mengindikasikan tidak adanya deformasi yang signifikan pada periode 2012-2016. Inflasi (penggembungan tubuh gunung) mulai teramati pada periode Februari-Maret 2017, namun inflasi yang terjadi pada periode tersebut terjadi secara aseismik (tanpa diikuti peningkatan kegempaan). Pada periode April hingga pertengahan Agustus 2017, data GPS menunjukkan pola yang stabil. Pada periode 1 Agustus 2017 – 22 September 2017, inflasi kembali teramati secara konsisten dan menerus dengan kedalaman sumber tekanan lebih dari 15 km di bawah puncak dan penambahan volume kantung magma sebesar 40 juta m3.

Setelah itu pada periode 2 November – 4 Desember 2017 GPS mengindikasikan adanya deflasi di sumber yang dalam (14 km), namun pada sumber yang dangkal mengalami penambahan tekanan sehingga area Puncak Gunung Agung mengalami deformasi (uplift) hingga 6 cm diikuti erupsi pada periode 25 – 29 November 2017.

Pada periode 12 Januari – 2 Februari 2018 GPS mengindikasikan inflasi pada kedalaman 2 km dengan penambahan volume 0.14 juta m3 yang berpotensi untuk dierupsikan (Gambar 8).

 

V. Kimia Gas 

Konsentrasi gas magmatik CO2 pada pengukuran 22 Januari 2018 (25 ppmv) nilainya lebih tinggi dari pengukuran 19 Desember 2017 (20 ppmv) namun lebih rendah dari pengukuran 21 November 2017 (35 ppmv). Hal ini mengindikasikan masih adanya aktivitas magma dari sumber yang dalam meskipun belum signifikan. Konsentrasi gas magmatik SO2 relatif rendah nilainya (kurang dari 400 ton/hari), hal ini dapat dikarenakan pelarutan oleh air atau dapat pula karena suplai magma yang berkurang di kedalaman dangkal (Gambar 9). Rasio gas vulkanik CO2/SO2 yang merefleksikan intensitas aktivitas magmatik menunjukkan trend relatif menurun jika dibandingkan dengan periode November 2017

 

VI. Evaluasi

  1. Dalam kurun 1 (satu) bulan terakhir, secara visual teramati bahwa frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 (17 hari yang lalu). Ketinggian maksimum kolom erupsi dalam satu bulan terakhir adalah 2500 meter di atas puncak dimana terakhir kali terjadi pada 19 Januari 2018 (22 hari yang lalu).
  2. Volume kubah lava di permukaan kawah tidak mengalami perubahan signifikan yaitu masih sekitar 20 juta meter kubik atau 1/3 dari volume kosong kawah.
  3. Trend kegempaan sepanjang tahun 2018 cenderung menurun. Meskipun fluktuasi dimana sesekali masih terjadi peningkatan kegempaan vulkanik, namun jumlah dan energinya belum signifikan. Sehingga jika erupsi terjadi maka area terdampak diperkirakan lebih sempit dari pada erupsi November 2017.
  4. Kembang kempis tubuh Gunung Agung masih teramati oleh peralatan deformasi yang terpasang di sekitar Gunung Agung. Pengukuran GPS menunjukkan pola relatif stagnan, sementara itu pengukuran tiltmeter menunjukkan pola inflasi (penggembungan) dengan laju rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa akumulasi tekanan akibat pergerakan magma masih terjadi namun belum signifikan.
  5. Pengukuran gas magmatik mengindikasikan masih adanya dinamika pergerakan magma di kedalaman hingga ke permukaan sehingga potensi untuk terjadi erupsi masih ada. Namun demikian, konsentrasi gas magmatik CO2, yang merefleksikan kontribusi magma dari kedalaman, jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan dengan pengukuran yang dilakukan sebelum erupsi November 2017.
  6. Pemodelan data pemantauan Gunung Agung mengindikasikan bahwa volume magma yang bergerak di dalam tubuh Gunung Agung saat ini kurang dari 1 juta meter kubik, jauh lebih rendah dari volume magma pada periode September-November 2017 (sebelum erupsi) yang mencapai 40 juta meter kubik. Hal ini berimplikasi pada turunnya peluang untuk terjadi erupsi besar yang disertai Awan Panas maupun Guguran Lava.
  7. Data satelit merekam adanya penurunan energi termal di permukaan kawah Gunung Agung. Hal ini mengindikasikan berkurangnya laju aliran lava ke permukaan. Dengan kondisi ini maka kecil kemungkinan dimana kubah lava dapat memenuhi seluruh volume kawah dalam waktu yang singkat.
  8. Data satelit merekam adanya evolusi pada kubah lava berupa amblasan di tengah kawah maupun di beberapa titik di bagian Baratdaya permukaan lava. Hal ini dapat berkaitan dengan proses pengerasan material lava di permukaan. Implikasi pengerasan di permukaan dapat berupa penyumbatan aliran fluida ke permukaan sehingga akumulasi tekanan dapat terjadi dan diikuti erupsi seperti terjadinya erupsi Strombolian pada 19 Januari 2018 lalu dimana lontaran material pijar terlokalisir di dalam radius 2 km dari tengah kawah.
  9. Berdasarkan data pengamatan multi-parameter terkini maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung saat ini masih tinggi dan belum stabil dimana kejadian erupsi masih dapat terjadi sewaktu-waktu.

 

VII. Potensi Bahaya 

  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung.
  2. Jika terjadi erupsi pada saat ini maka potensi ancaman bahaya primernya dapat berupa lontaran material pijar, batu/kerikil, pasir maupun hujan abu lebat di sekitar kawah. Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat terpapar di area yang lebih luas bergantung pada arah dan kecepatan angin.
  3. Potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan dapat terjadi saat hujan deras tanpa sebelumnya diawali erupsi. Hal ini dikarenakan saat ini masih terpapar material erupsi. Area landaan aliran lahar hujan akan mengikuti lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  4. Hasil pemodelan potensi sebaran abu vulkanik di udara mengindikasikan bahwa abu vulkanik dapat tersebar jauh dari Puncak G. Agung Namun mengenai potensi gangguan abu vulkanik di udara bergantung pada arah dan kecepatan angin, sehingga pihak-pihak yang terkait keselamatan penerbangan diharapkan untuk adaptif sesuai dengan kondisi aktual.
  5. Potensi ancaman bahaya aliran piroklastik (Awan Panas) pada saat ini masih rendah karena tekanan yang terakumulasi di dalam tubuh Gunung Agung masih belum cukup kuat untuk melontarkan kubah lava yang ada di permukaan kawah.

 

VIII. Kesimpulan 

  1. Berdasarkan hasil analisis data visual dan kegempaan serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
  2. Meskipun status Gunungapi Agung telah diturunkan namun aktivitas vulkanik Gunungapi Agung belum mereda sepenuhnya dan masih berpotensi untuk terjadi erupsi. Oleh karena itu, seluruh pihak diharap agar tetap menjaga kesiapsiagaan.

 

IX. Rekomendasi 

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung (Gambar 10). Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  3. Mengingat masih adanya potensi ancaman bahaya abu vulkanik dan mengingat bahwa abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia, maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung agar senantiasa menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi ancaman bahaya abu vulkanik.
  4. Pemerintah Daerah, BNPB dan instansi/lembaga terkait lainnya agar terus menjaga komunikasi di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung sehingga proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terus terselenggara dengan baik.
  5. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar tetap mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  6. Seluruh pihak agar tetap menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  8. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta instansi/lembaga terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  9. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun  rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation)

 

LAMPIRAN

Agung 1 (100218)

Gambar 1. Pemantauan visual G. Agung sebelum, ketika, dan sesudah erupsi.

 

Agung 2 (100218)

Gambar 2. Visual G. Agung dengan menggunakan drone (kiri : kondisi kawah sebelum terisi material lava, 20 Oktober 2017, kanan : kondisi kawah setelah terisi material lava dengan volume 20 juta m3 atau 1/3 total volume kawah)

 

Agung 3 (100218)

Gambar 3. Tinggi asap G. Agung tanggal 1 November 2017 – 10 Februari 2018

 

Agung 4 (100218)

Gambar 4. Satelit TERRA/AQUA setidaknya sejak bulan Januari 2018 masih teramati anomali temperatur tinggi di kawah G. Agung dan berangsur turun hingga tidak terekam lagi dalam 3 minggu terakhir.

 

Agung 5 (100218)

Gambar 5. Grafik Kegempaan G. Agung hingga 10 Februari 2018 (atas; kegempaan dengan frekuensi rendah, bawah; kegempaan dengan frekuensi tinggi).

 

Agung 6 (100218)

Gambar 6. RSAM (atas) dan frekuensi dominan (bawah) dengan trend fluktuatif

 

Agung 7 (100218)

Gambar 7. Tilt radial stasiun PGBN yang menunjukkan inflasi sebesar 2-3 Mrad dalam 2 minggu terakhir.

 

Agung 8 (100218)

Gambar 8. Data GPS modeling yang menunjukkan penambahan volume kantung magma sebesar 0.14 juta m3 dengan sumber tekanan berada di bawah 2 km dari puncak.

 

Agung 9 (100218)

Agung 10 (100218)

Gambar 9. Data kimia gas  modeling yang mengindikasikan adanya  sedikit peningkatan injeksi magma dari sumber yang dalam. Konsentrasi gas magmatik SO2 relatif rendah nilainya (kurang dari 400 ton/hari), hal ini dapat dikarenakan pelarutan oleh air atau dapat pula karena suplai magma yang berkurang di kedalaman dangkal.

 

Agung 11 (100218)

Gambar 10. Peta perkiraan zona bahaya G. Agung sejauh 4 km