Peningkatan Tingkat Aktivitas G. Banda Api

I. PENDAHULUAN

Gunungapi Banda Api terletak pada posisi geografis 4°31’30” Lintang Selatan dan 129°52’17” BujurTimur. Puncak G. Banda Api berada pada ketinggian sekitar 641 m di atas muka laut. Secara administratif, gunungapi ini berada di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

G. Banda Api muncul dari ujung utara deretan gunungapi yang terletak pada Busur Dalam Vulkanik Banda (Inner Banda Arc). Busur tersebut terbentuk kira-kira 1,5 juta tahun yang lalu, mekanisme pembentukannya berkorelasi dengan interaksi antara lempeng utama (Pasifik, Indo - Australia) dan beberapa lempeng mikro serta pengaruh sesar transform Papua dan sesar-sesar lokal lainnya sehingga menyebabkan kompleksnya struktur geologi regional wilayah tersebut.

Sejarah letusan G. Banda Api yang tercatat sebanyak 20 kali dengan letusan terakhir terjadi pada bulan Mei 1988. Letusan utama terjadi pada tanggal 9 Mei 1988 pukul 06:30 WIT menghasilkan kolom letusan setinggi 3.000-5.000 m disertai lontaran batu/bom vulkanik berukuran besar. Letusan juga diikuti oleh aliran lava ke sektor Timur G. Banda Api (ke arah Banda Neira). Letusan umumnya berasal dari kawah puncak, menghasilkan lontaran material pijar dan aliran lava. Letusan pada tahun 1632, 1816 dan 1988 didahului dengan kejadian gempa-gempa terasa yang cukup signifikan. Pada 2 Mei 1988 tercatat 2 kali gempa terasa/hari namun sehari sebelum letusan GempaTerasa terjadi setiap beberapa menit. Erupsi terakhir pada Mei 1988 memberikan gejala pra-erupsi yang jelas baik dari segi kegempaan maupun visual.

 

II. DATA PENGAMATAN

a. Visual 

Hasil pengamatan visual ke arah puncak kawah Gunungapi Banda Api dari tanggal 28 Maret 2017 hingga 4 April 2017 pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan 2,2 – 2,6 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 26,0 – 41,9°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 25 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

b. Kegempaan

Hasil pengamatan kegempaan di G. Banda Api periode 28 Maret 2017 hingga 4 April 2017 adalah sebagai berikut:

  • Selasa, 28 Maret 2017, terekam 1 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 25,07 mm dan lama gempa 20,49 detik. 2 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 15,67 – 30,25 mm, S-P 1,1 – 1,95 detik dan lama gempa 12,93 – 17,8 detik.
  • Rabu, 29 Maret 2017, terekam 2 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 11,27 – 30,55 mm, S-P 0,73 – 1,55 detik dan lama gempa 9,82 – 14,76 detik. 1 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 16,36 mm, S-P 5,73 detik dan lama gempa 24,63 detik. 7 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 7,92 – 20,65 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 59,18 – 494,85 detik.
  • Kamis, 30 Maret 2017, terekam 1 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 34,14 mm dan lama gempa 22,44 detik. 4 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 10,37 – 29,3 mm, S-P 1,1 – 1,95 detik dan lama gempa 11,34 – 14,27 detik.
  • Jumat, 31 Maret 2017, terekam 2 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 4,31 – 7,43 mm dan lama gempa 140 - 197.31 detik. 1 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 30,67 mm dan lama gempa 13,88 detik. 8 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 16,98 – 31,85 mm, S-P 0,85 – 1,1 detik dan lama gempa 10,64 – 11,68 detik.
  • Sabtu, 1 April 2017, terekam 3 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 9,05 – 14,77 mm, S-P 1,1 – 1,35 detik dan lama gempa 11,68 – 11,93 detik. 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 26,87 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 85,11 detik.
  • Minggu, 2 April 2017, terekam 8 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 11,43 – 27,84 mm, S-P 1,03 – 1,26 detik dan lama gempa 10,23 – 14,44 detik. 1 kali gempa Terasa dengan amplitudo 35,12 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 77,1 detik dengan skala MMI II. 5 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 8,63 – 28,4 mm, S-P 11,38 – 11,72 detik dan lama gempa 54,1 – 183,44 detik.
  • Senin, 3 April 2017, terekam 8 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 16,48 – 27,08 mm, S-P 0,97 – 1,42 detik dan lama gempa 9,08 – 15,06 detik. 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 33,71 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 41,38 detik.
  • Selasa, 4 April 2017, terekam 3 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 32,66 - 36 mm dan lama gempa 21,08 – 32,29 detik. 30 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 15,91 – 35,58 mm, S-P 0,9 – 2,08 detik dan lama gempa 15,26 – 27,09 detik. 2 kali gempa Terasa dengan amplitudo 31,05 – 35,87 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 62,71 – 78,58 detik dengan skala MMI II.

 

III. EVALUASI

  1. Pengamatan visual selama periode 28 Maret – 5 April 2017 tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan baik dari sisi warna maupun ketinggian kolom hembusan asap.
  2. Peningkatan Gempa Vulkanik Dalam pasca terjadinya Gempa Terasa pada 4 April 2017 mengindikasikan adanya proses peretakan batuan akibat pergerakan magma (gas, cairan dan padatan batuan). Dari jumlah Gempa Vulkanik Dalam yang terekam selama periode 2 hingga 4 April 2017 menunjukkan bahwa proses ini berlangsung dengan cukup signifikan sehingga perlu dilakukan antisipasi terhadap kemungkinan kejadian erupsi meskipun tidak dapat dipastikan.
  3. Jumlah kejadian Gempa Vulkanik Dalam (Lampiran 2) sejak 1 Januari 2017 berfluktuasi dan menunjukkan pola kenaikkan sejak awal Maret 2017. Pada akhir periode terjadi kenaikan jumlah gempa Vulkanik dalam yang signifikan pasca kejadian Gempa Terasa. Demikian juga grafik Amplitudo Seismik (Lampiran 3) menunjukkan pola yang sama. Hal ini menandakan adanya suplai magma dari kedalaman menuju permukaan.
  4. Grafik frekuensi dominan gempa (Lampiran 4) menunjukkan bahwa sejak awal Maret 2017 hingga akhir periode pengamatan, kegempaan didominasi oleh gempa-gempa frekuensi tinggi (5-10 Hz) yang berkaitan dengan kejadian Gempa Vulkanik Dalam. Intensitas kegempaan pada rentang frekuensi ini mengalami peningkatan cukup signifikan dalam 3 hari terakhir ini.
  5. Stasiun pemantau seismik merekam kejadian Gempa Terasa di sekitar G. Banda Api dalam 3 hari terakhir ini, identik dengan precursor letusan G. Banda Api pada Mei 1988. Saat ini jumlah Gempa Terasa maksimum adalah  2 kali per hari. Meskipun jumlah Gempa Terasa belum signifikan namun hal ini perlu diwaspadai mengingat peningkatan kegempaan vulkanik sudah teramati sejak awal Maret 2017.
  6. Selain bersumber pada aktivitas tektonik, kejadian Gempa Terasa juga dapat mengindikasikan adanya pelepasan stress pada struktur di sekitar gunungapi yang dipromosikan oleh pergerakan magma dari kedalaman. Dalam beberapa kasus, kejadian Gempa Terasa ini terjadi pada saat magma mengalami perubahan fasa dari kompresi ke dekompresi secara tiba-tiba, dan perubahan volumetrik yang mengiringinya di dalam tubuh gunungapi kemudian mengganggu struktur tektonik di sekitar gunungapi, pada saat itulah Gempa Terasa terjadi.
  7. Meskipun letusan tidak dapat dipastikan, perlu dilakukan peningkatan intensitas dan kualitas pemantauan G. Banda Api demikian pula dengan peningkatan kewaspadaan masyarakat sebagai langkah antisipatif.

 

IV. KESIMPULAN

  • Berdasarkan hasil analisis pemantauan kegempaan dan visual, maka terhitung tanggal 5 April 2017 pukul 14:00 WIT, tingkat aktivitas G. Banda Api dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
  • Jika terjadi perubahan secara signifikan dari aktivitas vulkanik G. Banda Api, maka tingkat aktivitasnya dapat diturunkan/dinaikkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya

 

V. POTENSI BAHAYA
  • Mengingat sejarah letusan G. Banda Api yang beberapa diantaranya diawali oleh kejadian gempabumi terasa, maka saat ini G. Banda Api memiliki potensi untuk terjadi letusan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Meskipun demikian, kejadian letusan tidak dapat dipastikan kapan terjadinya.
  • Berdasarkan sejarah panjang aktivitasnya, daerah yang berpotensi terlanda bahaya letusan G. Banda Api tertuang dalam Peta Kawasan Rawan Bencana (Lampiran 5), dimana:
    • Awan panas, aliran lava, lontaran batuan (pijar), dan gas beracun berpotensi melanda kawasan dalam radius 1 km dari pusat erupsi.
    • Perluasan awan panas, surge, lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat, berpotensi melanda kawasan dalam radius 2 km dari pusat erupsi.
    • Aliran lahar, material jatuhan (hujan abu lebat dan lontaran batuan pijar) berpotensi melanda kawasan dalam radius 4 km dari pusat erupsi.
  • Berdasarkan sejarah letusan terdahulu, jika terjadi erupsi maka diperkirakan material letusan umumnya akan melanda area sekitar puncak G. Banda Api dan rekahan-rekahan kawah yang berarah Utara-Selatan.

 

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan peningkatan G. Banda Api menjadi Level II (Waspada), direkomendasikan sebagai berikut :

  1. Masyarakat dan pendaki/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius area 1 km dari puncak G. Banda Api untuk menghindari potensi ancaman jika terjadi letusan yang dapat berupa lontaran batu pijar, aliran/guguran lava, awan panas, dan/atau gas beracun.
  2. Masyarakat di sekitar G. Banda Api diharap tenang, tidak terpancing isu-isu letusan G. Banda Api. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan BNPB, Pemerintah Provinsi Maluku (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, tentang aktivitas G. Banda Api. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
  3. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi denganPosPengamatan G. Banda Api di Desa Dwi Warna, Kecamatan Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung (Telpon. 022-7272606).

 

 

LAMPIRAN

 

Banda Api 1 (050417)

Seismogram G. Banda Api dalam 24 Jam Terakhir.

 

Banda Api 2 (050417)

Grafik kegempaan G. Banda Api, 1 Januari – 4 April 2017.

 

Banda Api 3 (050417)

Grafik Amplitudo Seismik G. Banda Api periode 4 Februari – 5 April 2017.

 

Banda Api 4 (050417)

Frekuensi dominan gempa G. Banda Api periode 4 Februari – 5 April 2017.

 

Banda Api 5 (050417)

Lampiran 5. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Banda Api.