Laporan Evaluasi Tingkat Aktivitas Gunungapi Bulan Maret 2017

I. PENDAHULUAN

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif besar dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Ketiga lempeng ini bergerak terus menerus. Proses penunjaman atau subduksi mengakibatkan pelelehan batuan kerak bumi, bagian batuan yang meleleh ini mempunyai berat jenis lebih kecil dengan batuan sekitarnya, bergerak mengapung menuju permukaan, dan kemudian membentuk gunungapi. Proses penunjaman dan pelelehan batuan kerak bercampur batuan mantel bagian demi bagian berjalan secara menerus mengakibatkan terjadinya erupsi secara periodik dari gunung api.

Di Indonesia tersebar sebanyak 127 gunung api (13% gunung api di dunia ada di Indonesia).  Gunung api tersebut membentuk busur kepulauan yang membentang dari ujung barat sampai timur, yaitu dari pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi bagian utara, dan Kepulauan Sangir Talaud. Sebanyak 76 gunung api dinyatakan sangat aktif ditandai pernah erupsi sejak 1600 sampai sekarang disebut sebagai Gunungapi Tipe-A, tiga diantaranya berada di bawah laut (Buana Wuhu/Sangir, Hobalt dan Emperor of China /Flores), hingga saat ini hanya 69 gunungapi dipantau secara menerus melalui 74 pos pengamatan gunungapi, sebagai salah satu mitigasi erupsi gunungapi. Erupsi gunungapi dapat menyebabkan bencana bagi penduduk di sekitarnya, hingga saat ini, tidak kurang dari 5 juta jiwa bermukim dan beraktivitas di sekitar gunungapi aktif, sehingga risiko terjadi bencana erupsi gunungapi di Indonesia sangat besar.

Gunungapi maret 1

Peta penyebaran gunungapi Indonesia

 

II. TINGKAT AKTIVITAS GUNUNGAPI MARET 2017 

Dalam Bulan Maret 2017 tercatat ada 1 (satu) gunungapi pada Level IV (AWAS), 15 gunungapi pada Level II (WASPADA) serta 51 gunungapi pada Level I (NORMAL). 

2. 1. TINGKAT AKTIVITAS LEVEL IV (AWAS)

2.1.1. G. Sinabung

G. Sinabung secara administratif terdapat di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, terletak pada koordinat Longitude 98.3920 dan Latitude 3.170 , tinggi puncak 2460 meter di atas permukaan laut.

Visual: Aktivitas gunungapi Sinabung selama Maret 2017 teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 1000 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal, kejadian guguran masih mendominasi arah luncuran ke tenggara-timur berkisar antara 500 – 2000 meter dan ke arah selatan-tenggara sangat jarang, jarak luncur sejauh 500 – 2000 meter, sedangkan erupsi teramati sebanyak 37 kejadian, tinggi kolom erupsi berkisar antara 500 – 3000 meter di atas puncak. Jarak luncur Awan panas guguran/Guguran maksimum 2500 meter ke arah selatan –tenggara.

Kegempaan: Selama Maret 2017 kegempaan didominasi oleh gempa Guguran dan Low Frequency masing-masing terekam sebanyak 2208 dan 878 kejadian perbulan, untuk gempa erupsi terekam selama Maret 2017 sebanyak 104 kejadian perbulan, rincian gempa selengkapnya adalah sebagai berikut:

Gunungapi maret 2

Tingkat Aktivitas : Berdasarkan data visual dan kegempaan selama Maret 2017 tingkat aktivitas G. Sinabung pada Level IV (AWAS). Selama bulan ini tidak tercatat adanya korban harta maupun jiwa.

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta di dalam jarak 4 km untuk sektor utara-timur G. Sinabung. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar.

 

2.2. TINGKAT AKTIVITAS LEVEL II (WASPADA)

Jumlah gunungapi pada Level II (WASPADA) dalam bulan Maret 2017 sebanyak 15 gunungapi, masih memperlihatkan aktivitas erupsi adalah G. Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara dan G. Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, sedangkan gunungapi lainnya belum menunjukan aktivitas peningkatan atau penurunan adalah G. Kerinci, G. Anak Krakatau, G. Semeru, G. Bromo, G. Rinjani, G. Lokon, G. Soputan, G. Karangetang, G. Gamalama, G. Sangeangapi, G. Rokatenda, G. Gamkonora, G. dan G. Marapi, dalam bulan Maret 2017 tingkat aktivitasnya masih Level II (WASPADA), tidak ada kejadian bencana yang mengakibatkan korban harta dan jiwa, kecuali di G. Lokon 1 (satu) orang meninggal di dalam kawah. 

Kronologi kejadian korban jiwa di G. Lokon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

(update terakhir 26 Maret 2017 pukul 22:00 WITA), Hasil koordinasi Badan Geologi-PVMBG melalui Pos Pengamatan G. Lokon dengan BPBD, SAR, POLRES, dan instansi terkait lainnya mengenai meninggal dunianya satu orang pendaki G. Lokon dapat dirumuskan sebagai berikut:

 1. Identitas Pendaki 

Pendaki G. Lokon pada 25 Maret 2017 pukul 15:00 WITA terdiri dari 6 orang berkelamin 3 laki-laki dan 3 perempuan dengan detail berikut ini: 

1.    MEGUMI RUNTU RUNTU, kelamin perempuan, umur 15 tahun, alamat Desa Karegesan Kec. Kauditan Kab. Minahasa Utara.

2.    MEGA KALANGI, kelamin perempuan, umur 15 tahun, alamat Desa Kawiley Kec. Kaudita Kab. Minahasa Utara

3.    TESA KALANGI, kelamin perempuan, umur 16 tahun,  alamat Desa Kawiley Kec. Kaudita Kab. Minahasa Utara

4.    ZAKLIN TATUDE, kelamin laki-laki, umur 17 tahun, alamat Desa Karegesan Kec. Kauditan Kab. Minahasa Utara

5.    IMANUEL KAUNANG, kelamin laki-laki, umur 20 tahun, alamat Desa Karegesan Kec. Kauditan Kab. Minahasa

6.    DAVID LAMBANAUNG alias PEKS (korban jiwa), kelamin laki-laki, umur 17 tahun, alamat Kel. Banjer Kec. Tikala Kota Manado

 

2. Kronologi Kejadian 

Sabtu, 25 Maret 2017:

Pukul 15:00 WITA: ke 6 orang melakukan pendakian G. Lokon. Setelah tiba di pinggiran kawah Tompaluan Gunung Lokon, salah satu dari mereka yaitu DAVID LAMBANAUNG turun ke kawah sedangkan lima orang lainnya hanya menunggu di pinggiran kawah. Beberapa saat kemudian cuaca di sekitar kawah mulai berkabut dan lelaki DAVID LAMBANANUNG tidak terlihat lagi oleh teman-temannya dikarenakan jarak pandang pada saat itu sangat pendek akibat kabut. Karena tidak terlihat lagi, teman-temannya berupaya memanggil lelaki DAVID LAMBANUANG dengan cara berteriak-teriak memanggil nama korban namun tidak ada jawaban dan cuaca pada saat itu mulai berkabut sehingga rekan – rekan korban langsung turun dari lokasi kawah Gunung Lokon untuk meminta bantuan. 

Pukul 22:00 WITA: Dilakukan pencarian terhadap DAVID LAMBANAUNG oleh personil Polres Tomohon, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tomohon dan Basarnas Propinsi Sulut. Namun, pada malam itu cuaca hujan dan berkabut sehingga pencarian DAVID LAMBANAUNG belum memperoleh hasil. Selama pencarian, koordinasi juga dilakukan dengan Badan Geologi-PVMBG melalui Pos Pengamatan G. Lokon untuk menginformasikan aktivitas vulkanik terkini.  

Minggu, 26 Maret 2017: 

Pukul 09:00 WITA: Kegiatan pencarian pendaki yang hilang dilakukan kembali oleh Tim Gabungan Basarnas Provinsi Sulawesi Utara, BPBD Kota Tomohon, Polres Tomohon, Koramil Tomohon, Polsek Tomohon Utara, Pemerintah Kelurahan Kakaskasen II, PMI, Sukarelawan, Keluarga dan Rekan-rekan korban yang dipimpin langsung oleh  Kapolsek Tomohon Utara AKP. B. DAMBE SH dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tomohon Drs. ROBBY KALANGI.

Pukul 11:30 WITA: Informasi dari tim SAR bahwa korban sudah terlihat berada di dalam Kawah Tompaluan (kedalaman sekitar 3-5 meter) di dinding kawah sebelah timur-timurlaut dalam posisi terlentang dan sudah tidak bergerak.

Pukul 12:20 WITA: Kordinasi Pos Pengamatan G. Lokon dengan Tim Gabungan yang akan turun ke dalam kawah. Koordinasi ini dilakukan agar Tim Gabungan mendapat informasi aktivitas vulkanik dari PVMBG saat melakukan evakuasi korban, sehingga dapat dilakukan langkah antisipatif jika aktivitas vulkanik mengalami peningkatan.

Pukul 15:30 WITA: Korban berhasil di evakuasi keluar dari dalam kawah ke permukaan (di atas kawah).

Pukul 17:15 WITA: Korban berhasil dievakuasi turun gunung dengan menggunakan tandu dan kemudian segera diberangkatkan (Ambulance) langsung ke RS. Prof. Kandouw Malalayang Kota Manado guna dilakukan pemeriksaan medis untuk di ketahui sebab korban meninggal dunia.

 

 3. Keterangan Badan Geologi-PVMBG 

  • Ke 6(enam) pendaki gunung tersebut di atas tidak melapor terlebih dahulu rencana pendakiannya ke Pos Pengamatan G. Lokon.
  • Badan Geologi-PVMBG telah secara rutin menyampaikan rekomendasi G. Lokon terhadap instansi terkait maupun masyarakat melalui surat maupun web/aplikasi. Rekomendasi G. Lokon dalam Tingkat Aktivita Level II (Waspada) yaitu agar masyarakat maupun wisatawan untuk tidak mendekati dan melakukan aktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan.
  • Dengan melakukan pendakian hingga ke bibir Kawah Tompaluan, ke 6 (enam) pendaki telah melewati batas aman wilayah yang direkomendasikan oleh Badan Geologi-PVMBG, yaitu 1.5 km.
  • Badan Geologi-PVMBG turut berduka cita atas jatuhnya korban jiwa di G. Lokon dan berharap agar hal ini menjadi pelajaran bagi masyarakat maupun pendaki lainnya agar terus berpegang pada Rekomendasi Badan Geologi-PVMBG yang dibuat melalui kajian ilmiah yang bertujuan untuk keselamatan bersama.

 

2.3. TINGKAT AKTIVITAS LEVEL I (NORMAL)

Jumlah gunungapi dalam Level I (NORMAL) sebanyak 51 gunungapi, selama bulan Maret 2017 belum menunjukan adanya peningkatan aktivitas baik visual maupun kegempaan, gunungapi yang termasuk dalam Level I (NORMAL) adalah seperti yang tercantum dalam tabel dibawah ini:

Tabel gununungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL)

Gunungapi maret 3

Selama bulan Maret 2017 tidak tercatat adanya korban jiwa dari pengunjung dan wisatawan

2.4.VOLCANO OBSERVATORY NOTICE FOR AVIATION (VONA)

Pengiriman data tinggi kolom erupsi untuk keselamatan penerbangan yang digunakan dalam jalur penerbangan dalam bentuk VONA terkirim sebanyak 54 VONA diantaranya:

  • G. Sinabung sebanyak 34 VONA
  • G. Dukono sebanyak 20 VONA
  • G. Ibu 2 VONA

  

2. KESIMPULAN
  • G. Sinabung pada Tingkat Aktivitas Level IV (AWAS) kondisi visual dan kegempaan masih tinggi, sehingga potensi ancaman bahaya erupsi G. Sinabung masih tinggi khususnya Awan Panas dan Guguran yang umumnya mengarah ke tenggara – timur, erupsi-erupsi masih berlangsung tiap hari. Tidak tercatat adanya korban harta maupun jiwa.
  • Gunungapi pada Tingkat Aktivitas Level II (WASPADA) sebanyak 15 gunungapi secara visual maupun kegempaan masih relatif tinggi, tidak ada kejadian bencana yang mengakibatkan korban harta dan jiwa, kecuali di G. Lokon terjadi 1 (satu) pendaki meninggal di kawah.
  • Gunungapi pada Tingkat Aktivitas Level I (NORMAL) sebanyak 51 gunungapi kondisinya belum menunjukan adanya peningkatan aktivitas, tidak ada kejadian korban dari pengunjung maupun wisatawan