Evaluasi Tingkat Aktivitas G. Gamalama Dalam Level Ii (waspada) Hingga 19 Desember 2016.

Hasil pemantauan kegiatan Gunungapi Gamalama di Kota Ternate, Propinsi Maluku Utara, periode Januari hingga 19 Desember 2016 sebagai berikut : 

I. PENDAHULUAN

  1. Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Maluku Utara. Secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara, sedangkan secara geografi puncaknya terletak pada 0o 48’ Lintang Utara dan 127o 19’ 30” Bujur Timur, dengan ketinggian 1715 meter di atas permukaan laut.
  2. Erupsi G. Gamalama umumnya mempunyai tanda-tanda yang mengawali letusan (precursor) yang sangat singkat. Kemunculan gempa-gempa vulkanik tidak banyak namun dapat diikuti oleh letusan yang bersifat freatik - freatomagmatik. Kemunculan gempa-gempa vulkanik umumnya diawali oleh aktivitas tektonik regional dan diikuti oleh kejadian gempa-gempa Tektonik Lokal. Karakteristik seperti ini juga teramati pada letusan G. Gamalama pada tahun 2003, 2011, 2014 dan 2015.
  3. Pada periode November - Desember 2014, terjadi beberapa kali gempa tektonik di kawasan Laut Maluku dengan skala mencapai 7,3 SR, tetapi hal ini tidak secara langsung memicu peningkatan kegempaan G. Gamalama.  Pada 18 Desember 2014 terjadi erupsi freatik pada pukul 22:41:18 WIT. Erupsi ini didahului dengan getaran Tremor menerus yang terekam sejak pkl. 22:09 WIT. Kolom letusan lk. 2000 m condong ke arah timur diikuti dengan hujan abu vulkanik tipis di beberapa lokasi di sekitar G. Gamalama.
  4. Tingkat aktivitas G. Gamalama dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) pada 18 Desember 2014 pukul 23:00 WIT. Kemudian diturunkan menjadi WASPADA (Level II) pada 10 Maret 2015 pukul 10.00 WIT.
  5. Selama tahun 2015 terjadi 2 (dua) kali erupsi, yaitu pada 16 Juli dan 8 September 2015. Pada 3 Agustus 2016 terjadi erupsi dari titik erupsi Desember 2014. Penyebaran material piroklastik letusan tahun 2015 dan 2016  masih berada di dalam radius 1,5 km yang sesuai dengan rekomendasi pada tingkat aktivitas WASPADA (Level II), sehingga tingkat aktivitasnya tidak dinaikkan.

 

 

II. HASIL PEMANTAUAN

1. Visual

Pemantauan secara visual aktivitas vulkanik G. Gamalama dilakukan dari arah Pos PGA Gamalama di Desa Sabia Belakang, Kota Ternate. Pengamatan secara langsung dengan menggunakan CCTV dapat dilakukan dengan baik ke arah kawah/puncak, walaupun terkadang tertutup kabut. Kawah utama/puncak teramati hembusan asap berwarna putih sedang hingga tebal dengan tinggi 5 - 200 m dari atas puncak. Rekahan timur teramati hembusan asap berwarna putih tipis-tebal dengan tinggi 5 - 250 m dari atas rekahan.

Pada tanggal 3 Maret terjadi kenaikkan tinggi hembusan asap dari rekahan timur menjadi 600 m, berwarna putih tebal, tetapi fenomena ini tidak diikuti dengan gejala kenaikkan aktivitas baik secara visual ataupun instrumental pada hari-hari berikutnya. Pada 3 dan 4 Agustus 2016 terjadi erupsi yang menghasilkan kolom letusan lk. 1000 m dari atas puncak. 

Pascaerupsi Agustus  hingga awal Desember 2016, pengamatan cuaca ke arah puncak/kawah tidak dapat dilakukan dengan baik karena umumnya tertutup kabut. Pada saat cuaca cerah, tidak teramati adanya hembusan gas baik dari kawah utama/puncak atau pun dari rekahan timur.  Grafik tinggi asap hembusan (dari rekahan timur laut) selama periode 1 Januari hingga 19 Desember  2016 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.

  

2. Kegempaan

Pemantauan kegempaan dilakukan dengan menggunakan 3 (tiga) stasiun seismik kontinyu yang dipasang di sekitar G. Gamalama. Rincian rekaman kegempaan selama Januari - Desember 2016 sebagai berikut: 

  • Januari 2016: 2 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 277 kali gempa Hembusan, 114 kali gempa Tektonik Lokal, 436 kali gempa Tektonik Jauh dan 2 kali Getaran Banjir. Terjadi 1 kali gempa Terasa dengan kekuatan II-III MMI pada tanggal 20 Januari. Tremor Harmonik terekam 79 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-3 mm.
  • Februari 2016: 5 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 289 kali gempa Hembusan, 221 kali gempa Tektonik Lokal, 483 kali gempa Tektonik Jauh dan 1 kali Getaran Banjir. Terjadi 3 kali gempa Terasa dengan kekuatan I-III MMI pada tanggal 24 Februari. Tremor Harmonik terekam 21 kali dengan amplitudo maksimum 1-2 mm.
  • Maret 2016: 19  kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 138 kali gempa Hembusan, 82 kali gempa Tektonik Lokal dan 312 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam 5 kali dengan amplitudo maksimum 1-2 mm. Terekam 2 kali Gempa Terasa pada tanggal 14 dan 30 Maret 2016 dengan skala MMI I-II. Getaran banjir terjadi sebanyak 5 kali.
  • April 2016: 10 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 162 kali gempa Hembusan, 34 kali gempa Tektonik Lokal, 396 kali gempa Tektonik Jauh dan 4 kali Teleseismik. Tremor Harmonik terekam 21 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-4 mm. Terekam 3 kali Gempa Terasa pada tanggal 5 dan 15 April 2016 dengan skala MMI I-II dan 6 kali getaran banjir.
  • Mei 2016: 3 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 37 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Tektonik Lokal, 129 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  8 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-2,5 mm. Pada tanggal 2 dan 3 Mei terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-6 mm, tetapi tidak disertai perubahan visual maupun kenaikkan kegempaan yang signifikan.
  • Juni 2016: 78 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 273 kali gempa Hembusan, 51 kali gempa Tektonik Lokal, 561 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  31 kali dengan amplitudo maksimum 1-4 mm. Terjadi 15 kali getaran Banjir/lahar dan 5 kali gempa Terasa dengan intensitas I-III MMI.
  • Juli 2016: 37 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 114  kali gempa Hembusan, 64 kali gempa Tektonik Lokal, 409 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  4 kali dengan amplitudo maksimum 1 mm. Sejak 14 Juli terekam getaran Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-11 mm. Terjadi kenaikkan amplitudo pada tanggal 15 hingga 18, 29 dan 30 Juli, tetapi tidak disertai perubahan visual maupun kenaikkan gempa-gempa vulkanik yang signifikan.
  • Agustus 2016: 72 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 19  kali gempa Vulkanik Dangkal (VB),  258  kali gempa Hembusan, 85  kali gempa Tektonik Lokal, dan 338  kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  39 kali dengan amplitudo maksimum 2-10 mm. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-1,5 mm.
  • September 2016: 11 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3  kali gempa Vulkanik Dangkal (VB),  119  kali gempa Hembusan,  1 kali gempa Low Frequency (LF), 50  kali gempa Tektonik Lokal, 410  kali gempa Tektonik Jauh dan 8 kali Getaran Banjir. Tremor Harmonik terekam  22 kali dengan amplitudo maksimum 1-7 mm. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-1,5 mm.
  • Oktober 2016: 25 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 2  kali gempa Vulkanik Dangkal (VB),  100  kali gempa Hembusan,  62 kali gempa Tektonik Lokal,  382 kali gempa Tektonik Jauh dan 6 kali Getaran Banjir.  Tremor Harmonik terekam  14 kali dengan amplitudo maksimum 1-4 mm.  Pada tanggal 8 dan 9 Oktober terjadi masing-masing 1 kali gempa Terasa dengan intensitas II MMI (tanggal 8) dan III MMI (tanggal 9). Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-2 mm.
  • November 2016: 26 kali gempa Vulkanik Dalam (VA),  1 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 75 kali gempa Hembusan,  50 kali gempa Tektonik Lokal,  372 kali gempa Tektonik Jauh dan 5 kali Getaran Banjir.  Tremor Harmonik terekam  58 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-5 mm.  Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-2 mm.
  • Tanggal 1-19 Desember 2016: 119 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 24 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 82 kali gempa Hembusan, 73 Tremor Harmonik dengan amplitudo maksimum 1,5-7 mm, 14 kali Getaran Banjir, 39 kali gempa Tektonik Lokal dan 276 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5 - 2 mm. Kejadian gempa vulkanik terbesar terjadi pada tanggal 10 (63 VA dan 21 VB). 

Rekaman kegempaan selama Januari hingga 19 Desember 2016  dapat dilihat pada Lampiran 1.

 

 III. EVALUASI

  1. Erupsi G. Gamalama umumnya mempunyai pola dimana rangkaian gempa Tektonik diikuti oleh kenaikkan gempa-gempa vulkanik sebagaimana yang terjadi pada Desember 2014 dan Juli 2015. Selain itu terdapat juga jenis erupsi yang tidak diawali dengan aktivitas tektonik, seperti yang terjadi pada 8 September 2015  yang merupakan ‘sudden magmatic pulse, dicirikan oleh intensitas letusan yang relatif kecil dan tidak didahului oleh peningkatan gempa-gempa Tektonik Lokal maupun Vulkanik sebagaimana pola umum yang terjadi pada letusan Desember 2014 dan Juli 2015. Diduga, erupsi yang terjadi pada 3 Agustus 2016 masih termasuk ke dalam jenis kedua (sudden magmatikc pulse).
  2. Hasil pemantauan pascaletusan 3 Agustus hingga Nopember 2016 umumnya kegempaan didominasi oleh Gempa Tektonik dan Hembusan. Gempa-gempa Vulkanik (VA dan Tremor) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan.
  3. Terjadi peningkatan gempa Vulkanik (VA dan VB) yang signifikan pada 10 hingga 12 Desember 2016. Grafik amplitudo seismik (Lampiran 3) menunjukkan fluktuatif dan pola kenaikan pada akhir periode tetapi tidak diikuti dengan adanya erupsi ataupun perubahan visual. Perlu diantisipasi kenaikkan Gempa Vulkanik ini secara dini karena berdasarkan pengalaman dapat diikuti terjadinya erupsi secara cepat meskipun tidak dapat dipastikan.
  4. Terjadi kenaikkan jumlah getaran Tremor Harmonik pada 18 dan 19 Desember 2016, diduga berkaitan dengan proses kenaikkan magma (gas, cairan) ke permukaan yang lebih dangkal pasca peningkatan gempa-gempa vulkanik pada tanggal 10-12 Desember 2016.
  5. Perlu diwaspadai kemunculan Gempa Tektonik Lokal karena kegempaan jenis ini dapat berkaitan dengan migrasi magma dari kedalaman yang meningkatkan stress/tekanan pada patahan-patahan (sesar) di sekitar gunungapi dan dapat diikuti oleh gempa-gempa Vulkanik dan dapat memicu terjadinya erupsi. Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang terjadi pada erupsi Desember 2014.

 

IV. POTENSI BAHAYA

  1. Awan panas, aliran lava, lontaran atau guguran batu (pijar), lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat berpotensi melanda kawasan dalam radius 2,5 km dari pusat erupsi.
  2. Aliran lahar/banjir dan kemungkinan perluasan awan panas dan aliran lava, hujan abu dan lontaran batu (pijar) berukuran lebih kecil, berpotensi melanda kawasan dalam radius 3,5 km dari pusat erupsi.
  3. Di musim penghujan perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya aliran lahar hujan. Kawasan yang berpotensi terlanda lahar hujan utamanya adalah kawasan yang dilalui oleh sungai-sungai yang berhulu di G. Gamalama.
  4. Mengingat sejarah letusan G. Gamalama yang sering diawali oleh kejadian gempabumi tektonik di Zona Punggungan Mayu atau Lempeng Laut Maluku, maka saat ini potensi bahaya G. Gamalama adalah kemungkinan terjadinya letusan freatik ataupun magmatik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
  5. Berdasarkan sejarah panjang aktivitasnya, daerah yang berpotensi terlanda bahaya letusan G. Gamalama tertuang dalam Peta Kawasan Rawan Bencana, dimana:

Hingga Desember 2016 masih terekam kejadian getaran banjir yang mengindikasikan adanya aliran rombakan batuan di lereng bagian atas G. Gamalama yang suatu saat dapat memasuki lairan sungai di bawah nya.

Peta Kawasan Rawan Bencana selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4. Penyebaran material batuan yang dihasilkan letusan 3 dan 4 Agustus 2016 yang membahayakan jiwa manusia masih berada di dalam radius 1,5 km atau masih di dalam rekomendasi pada tingkat aktivitas WASPADA (Level II).

  

V. KESIMPULAN 

  1. Berdasarkan analisis data instrumental dan potensi ancaman bahaya sebagaimana diuraikan di atas, maka tingkat aktivitas G. Gamalama hingga 20 Desember 2016 masih dalam Waspada (Level II).
  2. Jika terjadi peningkatan kegempaan yang lebih signifikan dan disertai dengan perubahan visual, maka tingkat kegiatan G. Gamalama dapat dinaikkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya. Hingga saat ini aktivitas G. Gamalama terus dipantau dan dievaluasi secara intensif untuk dapat diantisipasi sejak dini jika terjadi perubahan aktivitas

 

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Gamalama dalam tingkat aktivitas Level II (WASPADA) maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  2. Masyarakat di sekitar G. Gamalama diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Gamalama yang tidak jelas sumbernya, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah/Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kota.
  3. Pada musim hujan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai bahaya sekunder berupa ancaman aliran lahar.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan BPBD Kota Ternate tentang aktivitas G. Gamalama.
  5. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Gamalama di Jl. Sabia Belakang, Kecamatan Sangaji Utara, Kota Ternate Utara, Propinsi Maluku Utara atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 

 

Lampiran 1:

Grafik kegempaan G. Gamalama, Maluku Utara

Periode 1 Januari  - 19 Desember 2016

Gamalama 1 (201216)

Gamalama 2 (201216)

 

Lampiran 2:

Grafik tinggi asap hembusan G. Gamalama, Maluku Utara

Periode 1 Januari  - 19 Desember 2016

Gamalama 3 (201216)

 

Lampiran 3:

Grafik amplituda seismik G. Gamalama, Maluku Utara

Periode 20 Oktober - 19 Desember 2016

Gamalama 4 (201216)

 

Lampiran 4:

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Gamalama

Gamalama 5 (201216)