Peningkatan Aktivitas Gunung Lokon

Hasil evaluasi aktivitas aktivitas G. Lokon di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara adalah sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

G. Lokon terdapat di Kota Administratif Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, dengan posisi geografi terletak pada 1021’30” Lintang Utara dan 124047’30” Bujur Timur dan tinggi puncaknya sekitar 1579 m di atas permukaan laut.

Periode erupsi G. Lokon terpendek adalah 1 tahun dan yang terpanjang adalah 64 tahun. Dinamika Tingkat Aktivitas Gunungapi Lokon dalam beberapa tahun terakhir ini dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:

  1. 10 Juli 2011, Tingkat Aktivitas Gunungapi Lokon ditingkatkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).
  2. 24 Juli 2011 pukul 22.00 WITA, Tingkat Aktivitas Gunungapi Lokon diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga).
  3. Pada periode Januari - Februari 2016 aktivitas G. Lokon cenderung mengalami penurunan, sehingga tingkat aktivitas G. Lokon diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak tanggal 5 Februari 2016. Tingkat Aktivitas Level II (Waspada) masih berlanjut hingga 8 Maret 2016 pukul 01.00 WITA.

  

II. VISUAL

Visual G. Lokon dalam periode 5 Februari - 7 Maret 2016 pukul 24.00 WITA dapat diuraikan sebagai berikut. Cuaca umumnya cerah hingga berawan serta hujan gerimis - deras. Angin bertiup lemah hingga kencang umumnya dari arah selatan, barat laut dan utara. Hembusan asap kawah teramati putih tipis hingga tebal dengan tinggi sekitar 25 – 200 meter di atas bibir kawah. Kondisi visual Gunung Lokon tanggal 7 Maret 2016 pada pukul 18.00 - 24.00 WITA, pada malam hari teramati Gunung tampak samar, asap kawah tipis, tinggi berkisar 25 meter. 

 

III. KEGEMPAAN

Aktivitas kegempaan dalam periode 5 Februari – 7 Maret 2016 dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Tanggal 5 – 8 Februari 2016, terekam 8 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 1 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 13 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB), 9 kali kejadian gempa Hembusan dan 1 kali gempa Tornillo. Geteran tremor vulkanik menerus masih terekam dengan amplitude maksimum 0.5 – 2 mm.
  • Tanggal 9 – 12 Februari 2016, terekam 8 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 8 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB). Geteran tremor vulkanik menerus masih terekam dengan amplitude maksimum 0.5 – 6 mm.
  • Tanggal 13 – 16 Februari 2016, terekam 13 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 1 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 22 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 6 kali kejadian gempa Hembusan. Getaran tremor vulkanik menerus masih terekam dengan amplitude maksimum 0.5 - 5 mm.
  • Tanggal 17 – 20 Februari 2016, terekam 23 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 1 kali gempa Tektonik Lokal (TL), 1 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 36 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 21 kali kejadian gempa Hembusan. Getaran tremor vulkanik menerus masih terekam dengan amplitude maksimum 0.5 - 6 mm.
  • Tanggal 21 – 27 Februari 2016, terekam 8 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 6 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 41 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB), 11 kali kejadian gempa Hembusan dan 1 kali gempa Tornillo. Getaran tremor vulkanik menerus masih terekam dengan amplitude maksimum 0.5 - 5 mm.
  • Tanggal 28 Februari – 6 Maret pukul 24:00 WITA, terekam 29 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 1 kali kejadian gempa Tektonik Lokal (TL), 5 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 98 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB), 5 kali kejadian gempa Hembusan (HB), 1 kali kejadian gempa Tremor Banjir dan 1 kali kejadian gempa Tremor Harmonik.
  • Tanggal 7 Maret hingga pukul 24.00 WITA, terekam 3 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 25 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 138 kali kejadian gempa Vulkanik Dangkal (VB), 23 kali kejadian gempa Hembusan. Getaran tremor vulkanik menerus masih terekam dengan amplitude maksimum 0.5 – 4 mm. 

Kegempaan G. Lokon dipantau secara menerus dengan menggunakan peralatan analog dan digital.

 

IV. POTENSI BAHAYA

Ancaman bahaya untuk saat ini dapat berupa letusan freatik (uap) secara tiba-tiba dan/atau letusan freatomagmatik-magmatik yang disertai lontaran material pijar berukuran lapili sampai bongkah maupun hujan abu lebat dengan atau tanpa diikuti aliran awan panas. Bila awan panas terjadi maka wilayah yang terancam berada di alur Sungai Pasahapen. Berikut ini adalah potensi ancaman bahaya letusan G. Lokon:

  • Lontaran material pijar dapat terjadi di dalam radius 2.5 km dari pusat erupsi di Kawah Tompaluan.
  • Hujan abu lebat dapat terjadi utamanya di dalam radius 2.5 km dari pusat erupsi di Kawah Tompaluan. Hujan abu dapat terdistribusi di luar radius 2.5 km dari pusat erupsi bergantung pada kecepatan dan arah angin pada saat kejadian erupsi.
  • Potensi lahar pada sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Lokon terutama pada musim hujan. 

 

V. EVALUASI

Aktivitas G. Lokon dalam periode tanggal 5 Februari 2016 hingga 7 Maret 2016 secara visual tidak menunjukkan adanya anomali ataupun perubahan-perubahan pada bagian kawah yang signifikan. Aktivitas saat ini didominasi oleh kegempaan hembusan dengan tinggi kolom hembusan maksimum mencapai 200 m di atas kawah.

Evaluasi data instrumental dalam periode tanggal 5 Februari hingga 7 Maret 2016 dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Statistika kegempaan menunjukkan bahwa kejadian erupsi selama periode September 2015 hingga 7 Maret 2016 tidak pernah terjadi. Jenis gempa vulkanik, terutama Vulkanik Dangkal (VB) mengalami peningkatan pada tanggal 6 Maret 2016 sebanyak 98 kali kejadian sesuai yang diperlihatkan pada lampiran grafik kegempaan. Dari perhitungan energi vulkanik menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik hingga 7 Maret menunjukkan adanya peningkatan, Kegempaan Tremor pun mengalami peningkatan dalam nilai amplitudo maksimumnya. Kegiatan vulkanik G. Lokon selama 5 Februari hingga 7 Maret 2016, dicirikan oleh terekamnya gempa Vulkanik Dangkal (VB) dimana jumlahnya berfluktuasi sehingga letusan freatik (letusan uap) memungkinkan terjadi secara tiba-tiba, terutama pada saat curah hujan cukup tinggi.
  • Seismogram stasiun EMP (Empung) dalam 24 jam terakhir menunjukkan adanya rekaman rentetan kegempaan yang didominasi oleh gempa vulkanik dangkal dengan karakteristik gelombang tiba/onset gempa yang semakin tegas dan amplitudo yang cenderung semakin tinggi. 
  • Amplituda seismik tidak secara jelas menunjukkan adanya peingkatan yang signifikan (lampiran grafik SSAM dan RSAM) pada tanggal 24 Februari hingga 7 Maret 2016 pukul 24.00 WITA.
  • Frekuensi dominan gempa-gempa yang terdeteksi pada periode 24 Februari hingga 7 Maret 2016 umumnya berada di atas 8 Hz (frekuensi tinggi). Secara fisis, aktivitas vulkanik dengan konten frekuensi tinggi mengindikasikan aktivitas peretakkan batuan (fracturing) di dalam tubuh gunungapi akibat meningkatnya tekanan magmatik/hidrotermal.
  • Deformasi dengan menggunakan metoda ungkitan (Tilting) untuk sumbu Y/radial (arah kawah) menunjukkan perubahan yang mengindikasikan terjadinya inflasi pada tubuh G. Lokon. Inflasi ini dapat terjadi karena peningkatan tekanan di bawah permukaan akibat pergerakan dinamika fluida magmatik/hidrotermal. Sementara untuk sumbu X/tangensial (tegak lurus kawah) tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. 

 

VI. KESIMPULAN
  • Hasil evaluasi data pengamatan visual, kegempaan dan deformasi dalam periode 5 Februari hingga 7 Maret 2016 menunjukan bahwa aktivitas G. Lokon mengalami peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu, Tingkat Aktivitas G. Lokon dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 8 Maret 2016 pukul 02:00 WITA. 

Pemantauan secara intensif terus dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas G. Lokon serta diseminasi informasi tentang ancaman bahaya erupsi G. Lokon secara rutin terus dilakukan dalam upaya mitigasi erupsi gunungapi. 

 

VII. REKOMENDASI

Berdasarkan evaluasi potensi ancaman bahaya dalam tingkat aktivitas Level III (Siaga), maka direkomendasikan :

  1. Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan melakukan aktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah Tompaluan (Pusat Aktivitas).
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).
  3. Mewaspadai potensi lahar pada sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Lokon terutama pada musim hujan.
  4. Masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti arahan Pemda serta tidak mempercayai isu-isu mengenai letusan G. Lokon yang tidak jelas sumbernya.
  5. Jika terjadi perubahan tingkat aktivitas G. Lokon, maka rekomendasi tersebut di atas akan ditinjau kembali.
  6. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tomohon diharapkan untuk dapat melakukan sosialisasi secara berkala kepada masyarakat yang bermukim di sekitar G. Lokon agar tetap siaga dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya erupsi.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan Satlak PB setempat dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Lokon.
  8. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Lokon (Telp. 0431-351076) di Desa Kakaskasen, Kota Tomohon, Sulawesi Utara atau dengan Badan Geologi-Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (Telp. 022-7272606).

 

LAMPIRAN

Lokon 1 (08-03-16)

Lokon 2 (08-03-16)

Grafik Gempa G. Lokon Januari 2015 – 7 Maret 2016 pukul 24:00 WITA

 

Lokon 3 (08-03-16)

Lokon 4 (08-03-16)

Seismogram Stasiun EMP

 

Lokon 5 (08-03-16)

Lokon 6 (08-03-16)

Lokon 7 (08-03-16)

Lokon 8 (08-03-16)

 

Lokon 9 (08-03-16)

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Lokon