Peningkatan Aktivitas Gunung Kie Besi

Evaluasi aktivitas G. Kie Besi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, periode 1 Januari  hingga 7 Maret 2016 berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental sebagai berikut:

I. Pendahuluan

 

  1. G. Kie Besi terletak di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis puncaknya terletak pada 0º 19’ LU dan 127º  24'  BT dengan ketinggian puncak 1357 mdpl. G. Kie Besi merupakan gunung api strato yang memiliki 1 (satu) kawah utama.
  2. Karakter letusan gunungapi ini umumnya bersifat eksplosif (mengeluarkan bahan-bahan piroklastik seperti bongkahan batuan, lapilli dan abu vulkanik), efusif (mengeluarkan aliran lava), serta freatomagmatik (hembusan gas, abu, dan lava). Ketika terjadi letusan, biasanya G. Kie Besi bertipe Saint Vincent (tipe volcano) berupa letusan sangat dahsyat dan disertai dengan semburan awan panas secara radial melalui bibir kawah. Letusan besar terjadi terkahir kali pada tahun 1988.
  3. Pada 2 Juni 2009 terjadi peningkatan aktivitas vulkanik, sehingga tingkat aktivitas G. Kie Besi ditingkatkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Kemudian pada 16 Juli 2009 tingkat aktivitas kembali diturunkan ke Level I (Normal) karena tidak ada perubahan aktivitas vulkanik, baik secara visual maupun kegempaan.
  4. Pemantauan secara visual dan instrumental aktivitas vulkanik G. Kie Besi dilakukan dari Pos PGA Kie Besi di Kelurahan Tafaga, Kecamatan Moti, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

 

II. Hasil Pengamatan

 2.1 Visual

 

Selama Januari hingga awal Maret 2016 pengamatan visual ke arah G. Kie Besi dari Pos PGA umumnya tertutup kabut, pada saat cuaca cerah tidak teramati adanya hembusan asap dari arah kawah.

 

2.2 Instrumental

Kegempaan yang terekam selama periode 1 Januari hingga 7 Maret 2016 adalah sebagai berikut :

Januari 2016: terekam 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 28 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 15 Kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 230 kali Gempa Tektonik Jauh dengan 1(satu) diantaranya merupakan Gempa Terasa dengan intensitas I MMI pada 12 Januari 2016.

Februari 2016: terekam 19 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 16 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 28 Kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 380 kali Gempa Tektonik Jauh dengan 2 (dua)diantaranya merupakan Gempa Terasa dengan intensitas I MMI pada 18 dan 24 Februari 2016. Getaran Tremor terjadi 2 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-1 mm dan lama gempa 152-189 detik.

1-6 Maret 2016: terekam 15 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 4 Kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 40 kali Gempa Tektonik Jauh. Getaran Tremor terjadi 9 kali dengan amplitudo maksimum 1,5-10 mm dan lama gempa 292-4315 detik.

7 Maret 2016: terekam Getaran tremor menerus sejak pukul 06.55 WIT hingga saat ini, dengan amplitudo maksimum 2,5-11 mm.

Grafik jenis dan jumlah gempa harian selengkapnya selama kurun waktu 1 Januari - 6 Maret 2016 dapat dilihat pada lampiran 1.

 

III. Evaluasi
  1. Pengamatan visual menunjukkan tidak adanya perubahan tinggi asap hembusan gas yang melampaui dinding kawah. Hembusan gas hanya terbatas pada lantai dasar kawah berupa lubang-lubang tembusan solfatara intensitas lemah dengan tinggi asap lk. 50 cm dari atas lubang hembusan gas.
  2. Rekaman kegempaan menunjukkan bahwa gempa-gempa vulkanik (VA, LF dan  Tremor) terekam sejak awal Januari 2016 dan jumlahnya cenderung meningkat hingga awal Maret 2016.
  3. Amplituda maksimum dan durasi Getaran Tremor meningkat pada awal Maret 2016, mengindikasikan adanya aliran fluida yang bergerak mendekati permukaan. Adanya kejadian gempa LF sejak Januari 2016 juga mengindikasikan bahwa tekanan/ dorongan dari fluida dari dalam terhadap tubuh gunungapi semakin besar
  4. Selama 1 Januari - 6 Maret 2016, aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa Tektonik Jauh dan Tektonik Lokal. Hal ini dikarenakan lokasi G. Kie Besi yang berada di sisi timur punggungan Mayu, dimana seismisitas di punggungan Mayu dan sekitarnya sangat tinggi. Kejadian gempa terasa pada November 2015 diduga turut berperan pada peningkatan aktivitas seismik G. Kie Besi yang diindikasikan oleh peningkatan gempa Vulkanik Dalam (VA) dan Low Frequency (LF) pada bulan Januari 2016. Oleh karena itu, perlu diwaspadai kejadian gempa Tektonik Lokal (terutama Gempa Terasa) yang dapat menyebabkan kenaikan aktivitas secara cepat.

V. Potensi Bahaya

Potensi bahaya letusan G. Kie Besi saat ini adalah sebagai berikut:

  1. Awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), yang berpotensi melanda kawasan puncak dan sekitarnya hingga radius 2 km.
  2. Berkaitan dengan kejadian Gempa Tremor, jika terjadi letusan, maka kemungkinan bersifat magmatik, karena ada indikasi suplai magma yang relatif tinggi ditinjau dari jumlah Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang cenderung meningkat.

 

Potensi bahaya letusan G. Kie Besi dilihat dari sejarah panjang letusannya tertuang di dalam Peta Kawasan Rawan Bencana G. Kie Besi yang selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.

 

VI. Kesimpulan 

Berdasarkan  hasil  pengamatan  visual dan instrumental serta potensi bahaya letusannya, maka tingkat aktivitas G. Kie Besi dinaikkan dari NORMAL (Level I) menjadi WASPADA (Level II) terhitung sejak tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.00 WIT.

 

VII. Rekomendasi

Sehubungan dengan tingkat aktivitas G. Kie Besi WASPADA, maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat di sekitar G. Kie Besi dan pengunjung/wisatawan disarankan untuk tidak mendaki atau beraktifitas dalam radius 1,5 km dari puncak/kawah G. Kie Besi.
  2. Masyarakat di sekitar G. Kie Besi diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Kie Besi, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah/Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kabupaten.
  3. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halamahera Selatan tentang aktivitas G. Kie Besi.
  4. Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten agar selalu berkoordinasi dengan Pos Pengamatan  G.  Kie Besi di  Kelurahan Tafaga,  Kecamatan  Moti,  Kota Ternate atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 

 

Grafik kegempaan G. Kie Besi tanggal 1 Januari - 6 Maret 2016

KieBesi1 8-3

 

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Kie Besi

 

KieBesi2 8-3