Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kec. Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  gerakan tanah di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi pada areal permukiman Kp. Benda RT 05/06 Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak yang secara geografis berada pada koordinat 106° 48' 31,5” ; -6° 54'  06" (Gambar 1).

Menurut keterangan penduduk setempat, gerakan tanah telah terjadi sejak bulan Juli 2019.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi di lokasi gerakan tanah merupakan pedataran di sekitar permukiman dan perbukitan dengan kemiringan agak landai sampai agak terjal ke arah lembah. Gerakan tanah terjadi pada lahan permukiman di sebelah selatan lereng agak terjal pada ketinggian 450-550 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi drr., P3G, 1998), daerah yang mengalami gerakan tanah tersusun oleh satuan Endapan Lebih Tua yang berasal dari Batuan Gunung Pangrango, lahar dan lava, basal andesit dengan oligoklas-andesin, labradorit, olivine, piroksen, dan hornblenda (Qvpo) (Gambar 2). Hasil pengamatan lapangan, lokasi gerakan tanah disusun oleh endapan piroklastik yang tersusun oleh batupasir mengandung tuf. Tanah pelapukan berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat - coklat terang dengan ketebalan lebih dari 4 meter. Struktur geologi terdekat adalah sesar mendatar di sebelah barat daya lokasi gerakan tanah yang berjarak sekitar 2,2 km. Lokasi gerakan tanah ini tidak dipengaruhi oleh sesar tersebut.
  • Keairan, Untuk kebutuhan air bersih di lokasi gerakan tanah, penduduk memanfaatkan air dari mata air yang berada di perbukitan. Menurut keterangan penduduk, sampai kedalaman 13 meter tidak ditemukan sumber air (ketika dilakukan pembuatan sumur gali). Sungai terdekat berada di sebelah utara lokasi gerakan tanah dengan jarak sekitar 400 m.  Terdapat juga saluran irigasi yang berjarak sekitar 100 m di sebelah utara lokasi gerakan tanah.
  • Tata guna lahan, Gerakan tanah terjadi pada lahan permukiman. Di sebelah selatan, lahan dimanfaatkan sebagai kebun palawija dan dijumpai juga tegalan. Di sekitar permukiman dan kebun banyak terdapat rumpun bambu.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah di Kecamatan Cibadak ini termasuk ke dalam zona gerakan tanah menengah (Gambar 3). Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Situasi Gerakan Tanah dan Dampak Bencana

Jenis gerakan tanah

Jenis gerakan tanah adalah retakan melengkung sepanjang 50 meter, lebar 20 – 22 meter dan panjang 17 meter dengan arah gerakan N 300 E ke arah timur laut. Retakan yang terbentuk memiliki lebar antara 5 – 50 cm dengan kedalaman 10 meter (Pengukuran dilakukan penduduk setempat dengan menggunakan bambu). Secara visual di lapangan terlihat bahwa retakan terbentuk dengan tidak disertai adanya penurunan (nendatan) pada bagian permukaan tanah yang letaknya mendekat ke lereng (Foto 1). Kondisi yang sama juga terlihat pada lantai rumah yang pada kedua sisi retakan tidak terjadi penurunan/nendatan (Foto 2).

Pada saat pemeriksaan tidak ditemukan retakan-retakan lain pada lahan permukiman di bagian atas atau selatan lokasi gerakan tanah dan lahan kebun di utara lokasi gerakan tanah. Ke arah timur dan barat lokasi gerakan tanah juga tidak ditemukan retakan-retakan pada permukaan tanah.

Dampak gerakan tanah:

  1. 2 (dua) unit rumah mengalami kerusakan dan tidak layak huni.
  2. Timbul kekhawatiran penduduk akan berkembangnya retakan menjadi gerakan tanah yang lebih besar.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah di lokasi ini terjadi pada musim kemarau, sehingga perlu diketahui kondisi bawah permukaan yang berpotensi menjadi faktor pengontrol/penyebab gerakan tanah tersebut. Survey bawah permukaan dengan menggunakan geolistrik menunjukkan terdapatnya kontak antara lapisan yang kering dengan lapisan yang lebih jenuh air (Gambar 5). Di bawah retakan pada kedalaman 6,5 meter terindikasi lapisan jenuh air yang berada di antara lapisan-lapisan yang lebih kering dengan arah vertikal. Kondisi ini memungkinkan terjadinya peluruhan secara vertikal ketika terjadi penurunan muka air tanah.

Kontak antara lapisan yang lebih kering dengan yang mengandung air terindikasi lagi pada kedalaman 14  meter di bawah retakan dengan bidang kontak yang lebih lebar. Kontak ini dapat berfungsi sebagai bidang lemah dan dapat berpotensi mengalami perubahan kedalaman akibat penurunan muka air tanah selama musim kemarau.

Radargram hasil pengukuran bawah permukaan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) di bawah lokasi retakan menunjukkan terdapatnya zona lemah berupa rekahan yang menerus sampai kedalaman 10 meter. Terdapat juga zona-zona lemah lainnya tetapi tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah (Gambar 6).

Berdasarkan pengamatan lapangan dan penyelidikan bawah pemukaan, gerakan tanah di lokasi ini disebabkan oleh interaksi kondisi tanah dan batuan penyusun serta perubahan kedalaman muka air tanah. Secara umum faktor penyebab gerakan tanah dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Batuan penyusun dan tanah pelapukan yang bersifat mudah luruh dan bergerak melalui rekahan atau retakan-retakan yang terbentuk.
  • Bidang lemah berupa kontak antara lapisan tanah penutup yang lapuk dan mengalami retakan selama musim kemarau dengan lapisan di bawahnya yang jenuh air (Gambar 5).
  • Perubahan kedalaman muka air tanah saat musim kemarau.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Musim kemarau yang berlangsung lama mengakibatkan permukaan tanah mengalami retakan. Seiring dengan musim kemarau yang terus berlangsung, terjadi perubahan muka air tanah, sehingga retakan yang terjadi semakin berkembang dan dalam. Menurut Budhu dan Shelke (2008), terjadinya retakan pada tanah permukaan dapat berhubungan dengan pernurunan muka air tanah.

Perubahan muka air tanah di bawah permukaan dan retakan yang terbentuk mengakibatkan terjadi penurunan gaya penahan pada lapisan tanah penyusunnya sehingga retakan-retakan tanah melebar akibat peluruhan secara vertikal. Hal ini ditunjukkan oleh permukaan tanah pada dua sisi yang mengapit retakan tidak terjadi penurunan/nendat. Kondisi ini juga ditunjukkan oleh penyebaran gerakan tanah yang tidak meluas ke lokasi lain di sekitar retakan. Musim kemarau yang terus berlangsung dalam waktu lama, mengakibatkan perubahan muka air tanah terus terjadi dan berpengaruh terhadap retakan dan terus melebar.

 

6. Rekomendasi Teknis
  • 2 (dua) unit rumah yang rusak agar direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
  • Mengingat indikasi keterdapatan lapisan yang jenuh air dan retakan yang terjadi, gerakan tanah berpotensi berkembang jika terjadi peresapan air yang tinggi pada musim hujan, sehingga disarankan untuk:
  • Segera menutup retakan  dan memadatkannya, serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan untuk mengurangi peresapan air,
  • Masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan mandiri terhadap perkembangan retakan. Jika terjadi perkembangan yang cepat agar segera melaporkan kepada aparat yang berwenang,
  • Jika retakan berkembang dengan cepat, penduduk yang tinggal di rumah-rumah yang berada di timur laut gerakan tanah agar mengungsi ke tempat aman dari gerakan tanah.
  • Melakukan penataan sistem aliran air permukaan dan limbah rumah tangga dengan sistem aliran drainase yang kedap,
  • Tidak membuat kolam-kolam penampungan air dan lahan basah pada bagian bawah dan atas yang mendekat ke lereng,
  • Menimbun galian atau lubang tampungan air pada lahan yang berada di utara retakan dan rumah yang rusak.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam,
  • Memelihara dan menanam tanaman berakar dalam dan kuat,
  • Ke depannya agar tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dan banjir bandang,
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dalam penangan bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Kab. Sukabumi 1 (151119)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan tanah di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

Kab. Sukabumi 2 (151119)

Gambar 2. Peta Geologi Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

Kab. Sukabumi 3 (151119)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

Kab. Sukabumi 4 (151119)

Kab. Sukabumi 5 (151119)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan tanah di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

Kab. Sukabumi 6 (151119)

Gambar 5. Penampang geolistrik di lokasi gerakan tanah Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat. Tanda panah merah menunjukkan titik retakan pada penampang geolistrik. Garis putus-putus merah menunjukkan bidang lemah yang mengontrol bertambahnya lebar retakan. Garis putus-putus hitam menunjukkan bidang lemah yang dikontrol oleh perubahan kedalaman muka air tanah di bawah retakan yang terbentuk.

 

Kab. Sukabumi 7 (151119)

Gambar 6.  Radargram GPR di Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak. Kab. Sukabumi. Retakan berada di atas zona lemah yang menerus sampai kedalaman 10 meter (kotak hijau). Terdapat  juga zona lemah di bawah permukaan (kotak kuning) tetapi tidak mengakibatkan terjadinya retakan pada permukaan tanah di atasnya

 

Kab. Sukabumi 8 (151119)

Foto 1 Retakan pada tanah permukaan. Tanda panah merah menunjukkan tidak terjadi penurunan/nendatan pada permukaan tanah di sisi kiri dan kanan retakan

 

Kab. Sukabumi 9 (151119)

Foto 2.  Retakan pada lantai rumah. Tanda panah merah menunjukkan tidak terjadi penurunan/nendatan pada permukaan tanah di sisi kiri dan kanan retakan

 

Kab. Sukabumi 10 (151119)

Foto 3.   Proses pengambilan data bawah permukaan menggunakan geolistrik

 

Kab. Sukabumi 11 (151119)

Foto 4. Proses pengambilan data bawah permukaan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR)

 

Kab. Sukabumi 12 (151119)

Foto 5.  Koordinasi dengan pihak BPBD Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cibadak, dan Desa Karang Tengah di kantor Desa Karang Tengah