Laporan Pemeriksaan Amblasan Tanah Di Kp. Legoknyenang, Desa Sukamaju, Kec. Kadudampit, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan permohonan BPBD kabupaten Sukabumi dan berita di media masa, bersama  ini kami sampaikan  laporan  hasil pemeriksaan lapangan  bencana gerakan tanah di RT.05/02 Kp. Legoknyenang, Desa Sukamaju, Kec. Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah berupa amblesan terjadi di RT.05/02 Kp. Legoknyenang, Desa Sukamaju, Kec. Kadudampit, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat mempunyai koordinat geografis 06° 52’ 26” LS dan 106° 54’ 53” BT, ketinggian 777,5 m. Amblesan ini sudah terjadi pada kamis 6 September 2018 pukul 11.30 WIB, dan terjadi kembali sekitar 4 meter arah tenggara dari lokasi lama pada minggu 28 April 2019 jam 04.00 WIB.

 

2. Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi, Morfologi pada daerah bencana secara umum berupa daerah perbukitan dengan kemiringan lereng yang sedang sampai landai (0-10°). Daerah bencana berada pada ketinggian 747 meter diatas permukaan laut. Pengamatan visual menggunakan drone memperlihatkan kelurusan antara lubang lama dan baru serta bekas-bekas lubang lama yang sudah menjadi lembah sungai. Hal ini memperlihatkan bahwa kejadian ini adalah perulangan kejadian-kejadian yang sama sebelumnya.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Gunungapi Gunung Gede (Situmorang dan Hadisantono, 1992), lokasi amblesan termasuk dalam Kelompok Batuan Aliran Lahar Garung (Gral). Aliran lahar Garung tersusun oleh endapan lahar berwarna kelabu, berukuran butir kerikil hingga bongkah andesit membundar tanggung 50% dalam massa dasar lumpur, berselingan dengan lapisan tipis endapan fluvial, aliran piroklastik dan jatuhan piroklastik. Sedangkan kondisi di lapangan, batuan penyusun di sekitar lokasi bencana merupakan endapan jatuhan piroklastik berwarna coklat muda hingga coklat tua. Batuan tersebut merupakan bagian sisipan dari Endapan Lahar Garung (Gral). Hasil pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana berupa tanah pelapukan material vulkanik (piroklastik) dari gununggede berwarna coklat terang sampai kemerahan dengan ketebalan lebih dari 12 meter.
  • Keairan, Kondisi keairan pada daerah bencana cukup melimpah dengan ditemukannya beberapa genangan air dan keadaan tanah yang lembah dan syarat air. Pada lokasi amblesan tanah dialiri oleh sungai kecil yang mengalir di bawah lapisan tanah (sungai lama) yang bermuara di lembah sungai Cigalunggung
  • Tata guna lahan, Lahan di daerah lokasi gerakan tanah pada umumnya berupa persawahan dan kebun campuran terutama kacang dan bawang. Pada lereng bagian atas bawah terdapat pemukiman dan bagian bawah terdapat jalan desa dan pemukiman padat penduduk yang berjarak sekitar 30 m dari lokasi amblesan tanah.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Bulan April 2019, daerah pemeriksaan termasuk dalam Potensi Gerakan Tanah Rendah. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Morfologi lubang amblesan lama berbentuk oval dengan dimensi panjang 6,5 meter, lebar 4 meter, dan  kedalaman 6 meter. Sumbu panjang bentuk ovalnya selaras dengan arah jalur sungai bawah permukaan. Terowongan tersebut berdimensi panjang ± 50 meter, dengan mulut terowongan (inlet) tinggi 3,2 meter, lebar 2,5 meter. Kedalaman pada ujung Barat Laut tempat masuknya air (inlet) 6 meter, sedangkan kedalaman pada ujung Tenggara tempat keluarnya air (outlet) ± 10 meter di bawah permukaan tanah.

Morfologi lubang amblesan baru berbentuk Elips dengan dimensi panjang 14,5 meter, lebar 8 meter, dan  kedalaman 12 meter. Sumbu panjang bentuk ovalnya selaras dengan arah jalur sungai bawah permukaan. Amblesan ini terlihat mulut terowongan (inlet) tinggi 60 cm, lebar 50 cm. Kedalaman pada ujung Barat Laut tempat masuknya air (inlet) 7 meter, sedangkan kedalaman pada ujung Tenggara tempat keluarnya air (outlet) ± 12 meter di bawah permukaan tanah.

Amblasan ini berdimensi luas 114,47 m2 (pengukuran dari drone) dengan bentuk elips memanjang barat laut - tenggara.

Dampak:

  • Area kebun amblas dan rusak
  • Sebagian badan jalan terancam

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah:

Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya amblasan di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kondisi geologi:
    • Tanah pelapukan yang bersifat porous berwarna kecoklatan yang menyerap air dengan cepat
    • Tanah pelapukan yang tebal hasil lapukan endapan piroklastik yang bersifat sarang dan mudah terkikis oleh air (pada produk jatuhan piroklastiknya).
    • Kontak antara tanah pelapukan dengan bagian bawahnya yang lebih segar sebagai jalur air
    • Adanya alur sungai di bawah permukaan  persawahan (terowongan sungai alami) yang mengerosi dinding terowongan
    • Jebolnya material longsoran yang menutup bagian inlet menimbulkan dampak  peningkatan debit air yang mengerosi dinding terowongan secara cepat
  • Morfologi:
    • Kemiringan lereng yang terjal sampai landau-curam (5-15o).
    • Tidak adanya saluran air permukaan untuk pembuangan air berlebih
  • Umum:
    • Tata guna lahan berupa persawahan memicu terjadinya infiltrasi air persawahan ke terowongan aliran sungai bawah tanah dan menjenuhkan tanah pelapukan penutup bagian atap terowongan yang akhirnya meningkatkan beban tekanan ke atap terowongan
  • Pemicu: 
    • Curah hujan yang tinggi dan peningkatan debit air permukaan yang meresap ke dalam tanah

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Kejadian amblesan tanah di kontrol  oleh keberadaan aliran bawah tanah yang mengalir di bawah tanah persawahan dan kebun. Proses geologi (erosi dan sedimentasi) yang telah berlangsung lama menyebabkan terjadinya longsoran dinding lembah sungai dan tanah ambles,

  1. Aliran air yang mengalir di bawah tanah persawahan dalam ruang dan waktu mengerosi bagian dinding dan atap terowongan sungai bawah yang dibangun oleh tanah pelapukan batuan gunungapi berupa endapan jatuhan piroklastik yang berupa tuff, kurang kompak, sarang, dan porous.
  2. Erosi pada dinding sungai pada pintu inlet dan dinding terowongan air bawah tanah yang terus menerus menyebabkan terjadinya genangan dan menghambat aliran air.
  3. Kejadian hujan deras yang terjadi setelah kemarau panjang sejak bulan Juni 2018 meningkatkan secara tiba- tiba debit air dan  tekanan air pada mulut terowongan (inlet) yang tertutup material longsoran.
  4. Jebolnya mulut terowongan menyebabkan terjadinya gerusan cepat memicuh peningkatan dimensi ruang rongga sungai secara cepat dan ditambah dengan  pembebanan pada atap terowongan karena infiltrasi dan penjenuhan mengakibatkan terjadi amblesnya tanah.

 

6. Rekomendasi Teknis

Keberadaan jalur aliran air di bawah tanah akan berpotensi menyebabkan kejadian tanah ambles berpotensi  berulang dan membesar jika terdapat akumulasi air yang cukup tinggi pada lubang atau jalur air tersebut terutama saat terjadi hujan deras dengan durasi yang cukup lama, maka ;

  • Segera membuat rambu – rambu peringatan rawan amblesan pada areal potensi terjadinya amblesan dengan lebar buffer minimal 20 m untuk menghindari potensi bahaya amblasan baik vertical dan horizontal.   (Gambar Peta Situasi).
  • Jika dijumpai pembendungan pada bagian inlet agar dilakukan pembobolan untuk normalisasi aliran air ke sungai terdekat dan menghindari terjadinya banjir bandang
  • Kendalikan aliran air agar lancar dan tidak mengerosi tebing sungai, melalui :
  1.  
    1. Pembangunan drainase aliran sungai dengan membuat gorong gorong yang kedap air  pada jalur air (terowongan) agar tidak mengerosi tanah di sekitarnya atau,
    2. Pembuatan saluran dengan penggalian lahan sawah di atas aliran sungai sehingga menjadi terbuka dan  membangun dinding penahan erosi disisi kanan kiri jalur sungai agar sungai  mengalir secara alami sesuai jalurnya yang bermuara di lembah sungai Cigalunggung.
  • Masyarakat dihimbau tidak mendekat, berkumpul dan juga melintas pada zona bahaya (warna merah) hingga dilakukan upaya mitigasi struktural oleh Pemerintah Daerah setempat.
  • Masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing informasi informasi dari sumber yang tidak jelas.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat setempat  maupun pengunjung untuk waspada dan mampu mengantisipasi potensi ancaman tanah amblas
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah atau BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Sukabumi 1 (090519)

Gambar 1. Peta Lokasi Pemeriksaan Amblesan Tanah Di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

 

Sukabumi 2 (090519)

Gambar 2. Peta geologi pada lokasi Pemeriksaan Amblesan Tanah Di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

 

Sukabumi 3 (090519)

Gambar 3. Peta BAHAYA Amblesan Tanah Di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

 

Sukabumi 4 (090519)

Gambar 4. Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2019 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

 WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI KAB. SUKABUMI APRIL 2019

Sukabumi 5 (090519)

Keterangan:

Sukabumi 6 (090519)

 

Kp. Legoknyenang, Desa Sukamaju, Kec. Kadudampit, Kota Sukabumi,

Sukabumi 7 (090519)

Foto 1. Deretan Lubang akibat amblasan tanah pada area kebun warga menunjukan adanya kelurusan dengan lubang yang lama menuju sungai utama

 

Sukabumi 8 (090519)

Sukabumi 9 (090519)

Foto 2. Inlet (atas) dan Outlet (bawah) aliran air bawah tanah

 

Sukabumi 10 (090519)

Foto 3. Kenampakan lubang amblasan seluas 114,47 m2

 

Sukabumi 11 (090519)

Foto 4. Koordinasi dengan Camat Kadudampit

 

Sukabumi 12 (090519)

Foto 5. Sosialisasi dengan media massa mengenai kejadian amblasan tanah di Kadudampit