Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Lahan Relokasi Di Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

Laporan  hasil  pemeriksaan  gerakan tanah dan  rencana tempat relokasi di Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Permohonan Kajian Geologi yang bernomor 360/09-BPBD/2018. Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut :

 I. KAMPUNG SUMBERAN, DESA METAWANA, KECAMATAN PAGENTAN

 1. Lokasi dan Dampak Gerakan Tanah:

  • Lokasi kejadian gerakan tanah yaitu pada koordinat 7° 19' 05.0" LS dan 109° 47' 38.4" BT. Kejadian gerakan tanah tipe rayapan ini menurut informasi dari pemerintah Desa Metawana diawali pada 2 tahun yang lalu dan semakin berkembang terus hingga pada bulan Desember 2017.
  • Dampak gerakan tanah di Kampung Sumberan, Desa Metawana, menyebabkan 14 rumah rusak sedang – berat, jalan kampung rusak dan 35  KK terancam. Atas dasar kejadian tersebut penduduk yang terkena dampak bencana gerakan tanah akan di relokasi, sehingga perlu kajian geologi terhadap rencana tempat relokasi yang akan dibangun.

 

2. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang-kuat dengan kemiringan lereng 20 - 35°.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana pada bagian bawah berupa perselingan serpih, napal dan batupasir gampingan (bagian dari Formasi Rambatan), secara setempat terdapat lapisan lempung abu-abu, lunak, gembur dan mudah membubur bila jenuh air. Pada lokasi ini juga terdapat perlapisan napal dan batupasir gampingan dengan arah jurus dan kemiringan N 155° E/ 40°. Napal bersifal pecah-pecah ketika kering. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (W.H. Condon, dkk., Puslitbang Geologi 1996), batuan penyusun daerah bencana di bagian bawah termasuk  Formasi Rambatan yang terdiri dari serpih dan napal dan batupasiur gampingan (Tmr). dengan tanah pelapukan dengah tebal ± 1- 2 meter.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunanakan air dari mata air. Ketinggian muka air tanah ± 5 m.
  • Tata guna lahan, Pada lereng bagian atas berupa pemukiman dan ladang dan kebun salak. Sedangkan lereng bagian bawah merupakan kebun salak, kebun campuran dan terdapat kolam kolam di bagian bawah pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerntanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menengah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah yang terjadi di Kampung Sumberan berupa gerakan tanah tipe rayapan disertai terbentuknya retakan dan nendatan, dimana gerakan tanah di daerah ini tersebar secara sporadis di beberapa lokasi. Panjang  dan lebar retakan sangat bervariasi dan tidak menerus, dengan panjang antara 10 m hingga > 20 m dan lebar retakan mencapai 5  – 15 cm, sedangkan penurunan (nendatan) antara  20  – 60 cm.  Arah gerakan tanah sangat bervariasi mengikuti arah lembah,  di bagian timur dan di bagian selatan yang terdapat 2 alur sungai kecil yang bermuara ke ke Sungai Tawana, dengan arah umum N 1050 E dibagian timur dan N 1340 E dibagian barat pemukiman.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Adanya bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan berupa serpih, napal serta lensa-lensa batulempung yang merupakan bidang gelicir gerakan tanah.
  • Kemiringan lereng sedang – curam dan perlapisan batuan yang searah dengan lereng.
  • Limpasan air hujan (run off) yang menyebabkan lapisan batuan/tanah pelapukan menjadi jenuh air dan mudah bergerak.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Tata guna lahan berupa ladang campuran dan kebun salak mengakibatkan tanah menjadi gembur dan sarang.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui retakan dan ruang antar butir tanah sehingga  jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Lapisan serpih, napal dan batupasir gampingan yang searah dengan kemiringan lereng menyebabkan potensi gerakan tanah makin tinggi serta sisipan lensa lempung abu-abu yang membubur karena jenuh air menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Karakteristik napal, serpih dan lapisan lempung tersebut menyebabkan gerakan tanah berupa rayapan.

 

6. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Masyarakat di Kp. Sumberan, Desa Metawana harus selalu meningkatkan kesiapsiagaan, bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan karena potensi terjadinya gerakan tanah masih tinggi.
  • Selalu memantau perkembangan retakan baik di sekitar pemukiman dan di lahan kebun salak yang berada diatas dan bawah pemukiman, dan jika terjadi perkembangan retakan, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar lokasi retakan.
  • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka pemukiman  di Kp. Sumberan yang terancam gerakan tanah harus segera dipindahkan (direlokasi) ketempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
  • Retakan yang sudah ada dan jika muncul retakan baru segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Mengeringkan kolam-kolam air yang berada di sekitar daerah bencana baik yang di dalam lingkungan pemukiman dan di luar area pemukiman.
  • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
  • Penataan drainase di sekitar pemukiman dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan seperti rumah kayu untuk mengurangi pembebanan pada lereng.
  • Lahan kebun salak dan campuran yang berada dekat dengan daerah pemukiman, sebaiknya mengkombinasikan lahan kebun tersebut dengan menanam pepohonan yang berakar kuat dan dalam untuk menambah stabilitas lereng.
  • Menanami lereng bagian atas, tengah dan bawah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu, jika terpaksa mengupas lereng maka harus memenuhi syarat teknis yang baik.
  • Untuk memperkuat lereng perlu dibuat dinding penahan lereng yang memenuhi syarat teknis
  • 14 Rumah yang rusak berat dan tidak layak huni harus segera direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.

 

A. Kondisi Rencana Tempat Relokasi 1 (Blok Sumber, Dusun Sumberan)
  • Daerah rencana relokasi secara geografi terletak pada koordinat 7° 19' 12.5" LS dan 109° 47' 37.1" BT. Luas tanah daerah rencana relokasi : ±  2.189 m2 dengan tata guna lahan kebun jagung yang dikelilingi oleh kebun salak.
  • Status tanah adalah tanah kas desa (bengkok kepala desa).
  • Pencapaian lokasi rencana relokasi dengan jalan setapak (lebar jalan 1 - 2 m) melewati kebun salak dengan kondisi jalan tanah, jarak dari rumah asal + 250 m yang berada di bagian selatan pemukiman yang lama.
  • Morfologi daerah calon relokasi berupa lereng sedang - agak curam  dari perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan 10 - 280. Dibagian selatan dan timur terdapat alur sungai serta di dalam calon lahan relokasi terdapat 2 buah kolam.
  • Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana pada bagian bawah berupa perselingan serpih, napal dan batupasir gampingan (bagian dari Formasi Rambatan) dengan tanah pelapukan dengah tebal ± 1- 2 meter.
  • Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunanakan air dari mata air. Ketinggian muka air tanah cukup dangkal ± 5 m.
  • Dari hasil pengamatan lapangan, di daerah tersebut terdapat tanda-tanda potensi terjadi gerakan tanah. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara,  Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), sekala 1 : 100.000, daerah rencana lahan relokasi termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan, lokasi ini tidak layak sebagai lahan relokasi, karena :
    • kondisi geologinya  berupa batulempung sehingga mudah runtuh jika terkena air dan berpotensi terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
    • Kemiringan lereng yang cukup curam 20° – 28° bagian bawah lahan relokasi.
    • Pada lokasi tempat relokasi ini terdapat 2 buah kolam air yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.

 

B. Kondisi Rencana Tempat Relokasi 1 (Blok Cacingan, Dusun Sumberan)
  • Daerah rencana relokasi secara geografi terletak pada koordinat 7° 18' 48.0" LS dan 109° 47' 44.0" BT. Luas tanah daerah rencana relokasi : ±  1.843 m² dengan tata guna lahan kebun palawija.
  • Status tanah adalah tanah kas desa (bengkok kepala desa).
  • Pencapaian lokasi rencana relokasi berupa jalan kampung (lebar 3 - 4 m) dengan kondisi jalan berbatu, jarak dari rumah asal + 550 m yang berada di bagian utara pemukiman yang lama.
  • Morfologi daerah calon relokasi berupa lereng landai - curam  dari perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan 8 - 30°. Dibagian timur laut terdapat sungai Tawana dan dan dibagian barat daya berupa alur sungai kecil.
  • Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana pada bagian bawah berupa perselingan serpih, napal dan batupasir gampingan (bagian dari Formasi Rambatan) dan dibagian atasnya berupa tanah pelapukan denga tebal ± 2- 3 meter.
  • Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunanakan air dari mata air.
  • Dari hasil pengamatan lapangan di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun baru. Hal yang perlu diantisipasi terhadap potensi gerakan tanah apabila tanah sudah dijadikan tempat relokasi adalah pada tepi jalan bagian selatan dan dindingperkebunan di bagian timur laut untuk di buat dinding/bronjong penahan lereng untuk mengantisipasi longsoran/tarikan dari lereng bagian bawah di lembah sungai yang bebatasan dengan kebun salak, di usahakan seminimal mungkin pengurugan tanah untuk keperluan tempat relokasi, dan pemotongan lereng jangan terlalu terjal. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara,  Provinsi Jawa Barat (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah rencana lahan relokasi sebagian besar masuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya Daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan daerah ini  (Blok Cacingan, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan) cukup layak untuk dijadikan sebagai lahan relokasi dengan syarat :
    • Pada tepi jalan bagian selatan dan dinding perkebunan di bagian timur laut lahan relokasi untuk dibuat dinding/bronjong penahan lereng untuk mengantisipasi longsoran/tarikan dari lereng bagian bawah di lembah sungai yang bebatasan dengan kebun salak.
    • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 150 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
    • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah).
    • Pada alur Sungai Tawana yang berada disebelah timur (sebelum jembatan dari arah hulu Sungai Tawana) dibuat cek dam sebagai antisipasi adanya aliran lumpur atau aliran bahan rombakan.
    • Perkebunan salak di bagian barat laut, utara, selatan dan tenggara lahan relokasi sebaiknya ditanami tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
    • Tidak mencetak kolam dan sawah pada lahan relokasi
    • Pemotongan tinggi lereng kurang dari 1,5 meter dengan perbandingan tinggi vertikal : jarak horizontal adalah 1 : 2
    • Pemukiman Jangan terlalu dekat dengan sungai/alur sungai, untuk menghindari erosi pada kelokan sungai.
    • Diusahakan seminimal mungkin pengurugan tanah untuk keperluan tempat relokasi
    • Pemukiman jangan terlalu dekat dengan tebing/lereng.
    • Disarankan dibuat rumah kayu (panggung) atau semi permanen
    • Masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.

 

LAMPIRAN

Metawana 1 (070518)

Gambar 1. Peta Lokasi gerakan tanah dan lahan relokasi di Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah

 

Metawana 2 (070518)

Gambar 2. Peta Geologi Regional Desa Metawana dan Sekitarnya, Kec. Pagentan, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah.

 

Metawana 3 (070518)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

 

Metawana 4 (070518)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah dan lahan relokasi 1 di (Blok Sumber, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan)

 

Metawana 5 (070518)

Gambar 5.  Penampang situasi gerakan tanah di Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan, Kab. Banjarnegara

 

Metawana 6 (070518)

Gambar 6.  Peta Situasi lahan relokasi 1 di Blok Sumber, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan

 

Metawana 7 (070518)

Gambar 7.  Peta situasi lahan relokasi 2 di Blok Cacingan, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan

 

Metawana 8 (070518)

Gambar 8.  Penampang situasi lahan relokasi 2 di Blok Cacingan, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan

 

Metawana 9 (070518)

Foto 1. Permukiman yang roboh akibat gerakan tanah tipe rayapan di Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan

 

Metawana 10 (070518)

Foto 2. Jalan di Kp. Sumberan yang mengalami penurunan dan pergeseran kearah timur/lereng bagian bawah.

 

Metawana 11 (070518)

Foto 3. Singkapan berupa serpih Formasi Rambatan yang merupakan batuan dasar dari pemukiman di Kp. Sumberan.

 

Metawana 12 (070518)

Foto 4. Perlapisan serpih napal dan batupasir gampingan yang di jumpai di alur sungai kecil bagian timur pemukiman Kp. Sumberan

 

Metawana 13 (070518)

Foto 5. salah satu kolam yang di jumpai di lereng bagian bawah dari pemukiman Kp. Sumberan.

 

Metawana 14 (070518)

Foto 6. salah satu rumah di Kp. Sumberan bagian barat yang mengalami pergeseran

 

Metawana 15 (070518)

Foto 7. Akses jalan menuju calon lahan relokasi 1 di Blok Sumber, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan.

 

Metawana 16 (070518)

Foto 8. lahan relokasi 1 di Blok Sumber, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan yang berada di tengah kebun salak dan memiliki kemiringan lereng 28°.

 

Metawana 17 (070518)

Foto 9. Rencana Lahan relokasi 2. Di Blok Cacingan, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan

 

Metawana 18 (070518)

Foto 10. Akses jalan menuju calon lahan relokasi 2 di Blok Cacingan, Kp. Sumberan, Desa Metawana, Kec. Pagentan yang berjarak ±600 meter dari pemukiman lama.

 

Metawana 19 (070518)

Foto 11. Koordinasi Tim Badan Geologi bersama Kepada Desa, Perangkat Desa Metawana dan Perwakilan dari Kecamatan Pagentan di Kantor Desa Metawana