Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir Provinsi Sumatra Utara

Laporan singkat hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara, berdasarkan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui surat nomor: B1970/BNPB/SU/PK.03.02/2018, tanggal 5 Februari 2018, perihal: Permohonan Tenaga Ahli untuk Kabupaten Samosir, sebagai berikut:

A. Kampung Hutabolon, Desa Sitamiang

1.    Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Kampung Hutabolon, Dusun 2, Desa Sitamiang, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara yang secara geografis terletak pada koordinat 020 29” 55.7” LU dan 0980 58” 35,7” BT. Gerakan tanah berupa abrasi pada danau terjadi setelah hujan deras yang berlangsung lama pada bulan Oktober 2017.

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa longsoran pada tebing danau dengan dimensi tinggi 1 – 3 meter, total tebing yang mengalami runtuhan sepanjang 109 meter. Jarak antara gereja dan danau yang mengalami runtuhan sebesar 5 – 8 m.

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah pada daerah ini menyebabkan:

  • 1 (satu) gereja terancam;
  • Jalan dan jembatan terancam;
  • 1 (satu) buah bangunan makam rusak.

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana

a.    Morfologi

Morfologi daerah bencana merupakan pesisir danau bagian timur dari Pulau Samosir dengan ketinggian 912 m dpl. Sedangkan pada sisi danau yang mengalami runtuhan terdapat gereja dan badan jalan kabupaten dengan lebar sekitar 4 meter.

b.   Geologi

Berdasarkan pengamatan dilapangan batuan di daerah bencana berupa endapan alluvium dengan ketebalan 1-3 meter, yang terdiri dari pasir kuarsa, pumice dan abu, dengan ukuran abu sampai kerikil.

c. Tataguna Lahan

Tataguna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng berupa pepohonan, dengan kerapatan tanaman kurang. Lereng bagian tengah berupa pemukiman dan jalan kabupaten. Gerakan tanah terjadi pada bagian bawah dekat danau yang merupakan gereja dan makam.

d.   Keairan

Kebutuhan air pada daerah bencana berasal dari air gunung yang terdapat di Sipolung, sebagian warga mengambil air Danau Toba untuk keperluan sehari-hari.

e.    Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

5.    Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Endapan alluvium yang tidak padu, mudah runtuh, belum terkonsolidasi dengan baik;
  • Erosi akibat pasang surut yang begitu cepat dan erosi pengaruh kelerengan menyebabkan tebing sungai di sekitar muara mengalami longsor;
  • Curah hujan yang lebat dan berlangsung lama sebelum dan pada saat kejadian.

6. Mekanisme Gerakan Tanah

Runtuhan tebing danau diawali oleh curah hujan yang tinggi yang menyebabkan air mudah meresap ke dalam batuan/tanah penyusun (yang tidak padu, belum terkonsolidasi dengan baik) mudah runtuh, ditambah oleh erosi air sungai yang tinggi pada lereng yang lebih terjal, sehingga menerjang dan menggerus muara sungai dan tepi danau. Pada saat bersamaan, karena faktor cuaca ekstrim mempengaruhi kecepatan angin dan gelombang kuat pada air danau sehingga air danau menerjang dan mengerosi tebing danau ini dan membuat runtuh tebingnya. Disamping itu pengaruh pasang surut juga menyebabkan longsoran tebing.

7.    Rekomendasi

Bangunan gereja, jalan dan jembatan masih dapat digunakan, untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah mitigasi sebagai berikut:

1.     Melakukan Kegiatan mitigasi struktural seperti:

  • segera secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah dan penahan gelombang, atau revetments (susunan dari batu-batu atau kayu yang menahan energi air masuk);
  • Penanaman pohon/tanaman yang akarnya dapat menahan erosi, memelihara dan melestarikan kawasan pesisir danau seperti tumbuhan, batu dan komponen sekitar danau;
  • Memasang rambu rawan longsor;

2.     Melakukan Kegiatan mitigasi non struktural seperti:

  • Membuat peraturan mengenai larangan kegiatan yang dapat mempercepat erosi, seperti penebangan pohon/tumbuhan penahan erosi, pertambangan pasir, pembuangan sampah, dll;
  • Melakukan sosialisasi ke lembaga dan masyarakat mengenal gejala dan mitigasi pergerakan tanah;

3.    Meningkatkan kewaspadaan pada saat terjadi hujan dengan durasi lama, serta melakukan pemantauan perkembangan pergerakan tebing;

4.    Perlu dilakukan pembatasan kendaraan yang melalui daerah bencana, agar tidak menambah beban jalan;

5.    Dilakukan penimbunan batu di bagian bawah jembatan untuk mencegah erosi pada pondasi jembatan;

6.    Perlu penambahan bronjong hingga kelokan sungai bagian selatan;

7.    Khusus untuk bangunan gereja sebaiknya digunakan untuk ibadah hari minggu saja, konsentrasi parkir di sebelah barat jalan.

B. Kampung Liangbolon, Desa Sitamiang

1.    Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Kampung Hutabolon, Dusun 1, Desa Sitamiang, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara yang secara geografis terletak pada koordinat 020 30” 37” LU dan 0980 58” 8,9” BT. Gerakan tanah terjadi setelah hujan deras yang berlangsung lama pada tanggal 2 Februari 2018, pukul 20.00 WIB.

2.    Jenis Gerakan Tanah

Gerakan tanah dengan jenis longsoran bahan rombakan terjadi pada puncak Bukit Liangbolon dengan dimensi tinggi bukit 30 m dan lebar mahkota pada bagian atas 5 m, bagian tengah 22 m, dan pada bagian bawah 30 m, arah longsoran relatif ke arah utara yaitu N 200 E. Material terbawa sejauh 36 m hingga mencapai tepi danau.

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah pada daerah ini menyebabkan:

  • 1 (satu) rumah dapurnya terkena material longsoran;
  • Kandang ternak tertimbun;
  • Jalan tertutup material longsoran selebar 3 meter.

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana

a.    Morfologi

Morfologi daerah bencana merupakan puncak dari Bukit Liangbolon (923 m dpl), dengan kemiringan lereng bawah 450 dan lereng atas 780, adapun lereng yang mengalami longsor berada pada lereng bagian utara bukit ini. Pada bagian atas lereng terdapat beberapa mata air.

b.   Geologi

Berdasarkan pengamatan dilapangan batuan di daerah bencana berupa tufa dengan warna fresh abu dan warna lapuk coklat dengan ketebalan 30 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sidikalang, Sumatra (Aldiss, dkk., 1983), daerah bencana tersusun oleh Tufa Toba (Qvt) yang berumur Kuarter, terdiri dari: tuf rio dasit. Struktur geologi akibat deformasi seperti patahan (sesar), dijumpai pada lokasi bencana berupa sesar naik.

c. Tataguna Lahan

Tataguna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng berupa pepohonan, dengan kerapatan tanaman kurang. Gerakan tanah terjadi pada lereng bagian tengah yang merupakan jalan kabupaten. Sedangkan pada lereng bagian bawah merupakan pemukiman yang dekat dengan danau.

d.   Keairan

Konsumsi keairan pada daerah bencana berupa air gunung yang terdapat di Simardalian, sebagian warga mengambil air Danau Toba untuk dikonsumsi. Terdapat beberapa mata air di bagian atas bukit yang mengalami longsoran.

e.    Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

5.    Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal;
  • Pengaruh struktur geologi berupa patahan yang berada pada lokasi bencana;
  • Batuan yang terkekarkan sehingga mudah runtuh;
  • Sistem drainase dan pengaturan air permukaan tidak baik;
  • Curah hujan yang lebat dan berlangsung lama sebelum dan pada saat kejadian.

6. Mekanisme Gerakan Tanah

Pengaruh struktur geologi berupa patahan yang berada pada lokasi bencana menyebabkan terjadinya bidang lemah diantara batuan sehingga air permukaan baik dari mata air dan air hujan masuk melalui rekahan-rekahan. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya pelapukan intensif sehingga air tertahan di tanah tersebut. Keadaan lereng yang terjal dan tidak stabil ditambah beban tanah dan batuan diatasnya yang menyebabkan terjadinya pergerakan tanah dan batuan (debris).

7.    Rekomendasi

Beberapa hal yang perlu direkomendasikan dari hasil pemeriksaan ini adalah:

  • Segera dilakukan pembersihan material longsoran yang menutupi badan pada jalan;
  • Pembuatan bangunan penahan lereng sekaligus untuk menahan runtuhan batu;
  • Penataan air permukaan di bawah lereng;
  • Perlu penataan mata air yang ada di atas lereng (makam) dialirkan menjauhi lereng dengan menggunakan saluran yang kedap;
  • Memasang rambu rawan longsor;
  • Perlu penambahan vegetasi berakar kuat pada lereng bagian atas;
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi para penduduk yang beraktifitas dan para pengguna jalan di lokasi bencana.

 

 

samosir

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah Desa Sitamiang, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara.

 

 

samosir2

Gambar 2. Peta geologi Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara.

 

samosir3

Gambar 3. Peta zona kerentanan gerakan tanah Provinsi Sumatra Utara.

 

samosir4

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah Di Dusun Hutabolon

 

 

samosir5

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah Di Dusun Liangbolon

 

 

FOTO LAPANGAN

samosir6

 

samosir7

Foto 1. Runtuhan material bahan rombakan yang mengancam gereja di pinggir danau.

 

samosir8

Foto 2. Bronjong yang sudah ada agar dilakukan penambahan hingga kelokan sungai bagian selatan.

 

samosir9

Foto 3. Endapan alluvium yang terdapat pada daerah bencana.

 

samosir10

Foto 4. Makam yang terdampak gerakan tanah.

 

samosir11

Foto 5. Rambu bahaya longsor sebagai upaya mitigasi awal yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Samosir.

 

samosir12

Foto 6. Sosialisasi hasil pemeriksaan gerakan tanah pada masyarakat, aparat desa dan BPBD Kabupaten Samosir oleh tim.

 

samosir13

Foto 7. Gerakan tanah berupa longsoran material bahan rombakan pada jalan di Kampung Liangbolon, Dusun 1, Desa Sitamiang.

 

samosir14

Foto 8. Daerah bencana di Kampung Liangbolon, Dusun 1, Desa Sitamiang disusun oleh batu tufa toba.