Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur berdasarkan surat permohonan BPBD Kabupaten Jember berupa Peninjauan/Pemetaan dan Rekomendasi Retakan Tanah dengan nomor surat 800/489/416/2018 tanggal 6 Maret 2018. Hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut:

A. Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa

 1. Lokasi Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Rayap RT 02 RW 13, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis terletak pada koordinat 8° 05' 12.6" LS dan 113° 41' 28.8" BT. Gerakan tanah terjadi awal Februari 2018.

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah adalah jenis longsoran yang berada dibawah dan diatas saluran air irigasi dan pada tebing yang di atasnya terdapat pemukiman, dengan arah gerakan N 67° E (relatif timur).

3. Dampak gerakan Tanah

  • Longsoran merusak kebun buah naga dan materialnya sempat menimbun jalur jalan di bawahnya (pada saat pemeriksaan sudah dibersihkan).
  • 6 (enam) rumah yang berada tepat di atas gawir longsoran terancam. 

4. Kondisi daerah bencana :

  1.  Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang - terjal dengan kemiringan lereng 15 - 45°. Ketinggian lokasi ini terletak antara 450 - 525 m dpl.

  1. Geologi  

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana berupa breksi vulkanik, yang sudah mengalami pelapukan dengan tanah pelapukan pasiran berwarna coklat sampai coklat kekuningan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jember (Sapei dkk, 1992), batuan di daerah bencana termasuk ke dalam Breksi Argopuro (Qvab), berupa breksi gunungapi bersusun andesit, bersisipan lava.

  1. Keairan 

Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan mata air yang dialirkan, Sementara saluran irigasi berada di tengah lereng untuk mengairi ladang yang ada di sekitarnya. Saluran irigasi ini berasal dari sungai yang dialirkan ke saluran irigasi. Kadang-kadang dijumpai rembesan terutama disebabkan faktor morfologi (tekuk lereng). Perubahan morfologi yang ditandai oleh adanya tekuk lereng atau pemotongan topografi, akan menyebabkan pemunculan aliran air tanah dari dalam akuifer ke permukaan melalui rembesan.

  1. Tata guna lahan

Secara umum tata guna lahan di daerah sekitar lokasi bencana berupa pemukiman dan kebun campuran di bagian atas sampai bagian tengah, jalur jalan di bagian tengah dan kebun campuran di bagian bawah. Kebun campuran umumya berupa buah naga dan kebun kopi.

  1. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke dalam Zona Potensi Gerakan Tanah Menengah artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan serta gerakan tanah lama dapat aktif kembali..

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah bulan Februari 2018 di Kabupaten Jember, lokasi bencana terletak pada potensi Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Potensi menengah-tinggi berarti pada zona ini berpotensi menengah – tinggi untuk terjadi gerakan tanah terutama jika curah hujan diatas normal.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak. Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan breksi yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Saluran irigasi tersumbat oleh ranting-ranting, makanan ternak, dan material longsoran dari atas tebing sehingga air meluap dan menjenuhi lereng dan mengakibatkan longsor susulan pada lereng yang menampung saluran irigasi tersebut.
  • Debit air yang tinggi pada saluran irigasi sehingga sebaiknya aliran air pada saat musim hujan diatur biar tidak melimpas keluar saluran air.
  • Sifat tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros/sarang, kurang kompak, dan jenuh air.
  • Sistem drainase permukaan pada pemukiman yang kurang baik sehingga air hujan terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana, akibatnya terjadi erosi kemudian berkembang menjadi longsor.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah : 

Akibat curah hujan tinggi kandungan air dalam tanah meningkat, sehingga tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, akibatnya lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari kesetimbangan baru, maka terjadilah gerakan tanah. Karena kemiringan lereng curam dan tanah pelapukan yang terletak di atas breksi tuf, menjadikannya sebagai bidang gelincir. Dengan adanya bobot massa tanah tinggi dan kemiringan lereng terjal, mengakibatkan tanah mudah bergerak, sehingga terjadi gerakan tanah tipe longsoran pada sepanjang tebing yang di atasnya berada pemukiman. Salah satu longsoran ini menyumbat saluran irigasi, sehingga pada saat debit saluran irigasi meningkat air meluap dan menjenuhi lereng dan mengakibatkan longsor susulan pada lereng yang menampung saluran irigasi tersebut. Longsoran ini mengancam jalur jalan dan pemukiman yang berada di bawah badan jalan.

7. Rekomendasi Teknis :

Daerah ini masih berpotensi untuk terjadi longsoran terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan

  • Masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan yang berlangsung lama.
  • Pemukiman 6 rumah yang berada di tepi gawir longsoran, sebaiknya segera direlokasi jika tidak direlokasi dibuat tebing penahan lereng.
  • Menjaga debit air agar tidak terlalu tinggi pada saluran irigasi sehingga sebaiknya aliran air pada saat musim hujan diatur biar tidak melimpas keluar saluran air dan menjenuhi lereng.
  • Segera membersihkan saluran irigasi jika tertutupi oleh material longsoran (tanah, ranting, sampah, dll) agar aliran air lancar. Hal ini untuk mencegah terjadinya penyumbatan aliran yang bisa menyebabkan longsoran susulan.
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen saluran irigasi di atas lereng dengan saluran kedap air.
  • Untuk mengurangi kecepatan gerakan tanah, maka perlu tembok penahan tanah pada lereng di atas badan jalan, dengan pondasi disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan pipa pengering untuk membuang air permukaan.
  • Memasang rambu peringatan rawan gerakan tanah sebagai peringatan bagi pengguna jalan agar tetap waspada saat melintasi daerah gerakan tanah.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

B. Desa Arjasa

1. Lokasi Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dukuh Salak, Dusun Calok RT 03 RW 02, Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis terletak pada koordinat 8° 06' 5.5" LS dan 113° 43' 45.4" BT. Gerakan tanah terjadi awal Februari 2018.

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah merupakan gerakan tanah tipe lambat berupa rayapan dengan munculnya retakan memanjang pada tanah di lokasi kebun pepohonan Sengon yang berada di atas pemukiman Dusun Calok. Arah retakan 336°, dengan arah gerakan kisaran N 48° E sampai N 115° E, relatif ke arah timur laut- timur, lebar retakan mencapai 1 meter, kedalaman mencapai 1,5 meter, panjang retakan mencapai 373 meter.

3. Dampak gerakan Tanah

Retakan pada lokasi ini mempunyai potensi berkembang menjadi tipe longsoran cepat yaitu longsoran bahan rombakan yang mengancam pemukiman terdekat yang berjarak sekitar 75 – 100 meter dari retakan di Dukuh Salak, sebanyak 12 rumah. 

4. Kondisi daerah bencana :

  1.  Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 15 - 30°, pada lokasi kebun yang mengalami retakan kemiringan lereng sekitar 20°. Ketinggian lokasi ini terletak antara 220 - 300 m dpl.

  1. Geologi  

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana berupa breksi vulkanik, yang sudah mengalami pelapukan dengan tanah pelapukan pasiran berwarna coklat sampai coklat kekuningan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jember (Sapei dkk, 1992), batuan di daerah bencana termasuk ke dalam Breksi Argopuro (Qvab), berupa breksi gunungapi bersusun andesit, bersisipan lava.

  1. Keairan 

Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan air permukaan dan dari mata air. Rembesan atau mata air walaupun dalam debit kecil disebabkan faktor morfologi (tekuk lereng) dan faktor batuan. Perubahan morfologi yang ditandai oleh adanya tekuk lereng, menyebabkan pemunculan aliran air tanah dari dalam akuifer ke permukaan, baik secara melalui rembesan. Perlapisan antara batuan yang bersifat porous, seperti bahan-bahan piroklastis dengan batuan yang bersifat kedap air, dalam hal ini lava di bagian bawah yang relatif kompak, juga akan menyebabkan mengalirnya air tanah melalui batas perlapisan tersebut, dan muncul sebagai mata air kontak.

  1. Tata guna lahan

Secara umum tata guna lahan di daerah sekitar lokasi bencana berupa pemukiman dan kebun campuran di bagian atas sampai bagian bawah. Kebun campuran didominasi oleh sengon dan bambu.

  1. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke dalam Zona Potensi Gerakan Tanah Menengah artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan serta gerakan tanah lama dapat aktif kembali..

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah bulan Februari 2018 di Kabupaten Jember, lokasi bencana terletak pada potensi Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Potensi menengah-tinggi berarti pada zona ini berpotensi menengah – tinggi untuk terjadi gerakan tanah terutama jika curah hujan diatas normal.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Sifat batuan hasil pelapukan yang tebal dan bersifat poros/sarang, kurang kompak, dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan breksi dan lava yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air hujan terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah : 

Curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah, tanah menjadi jenuh air. Akibatnya bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun, dengan kelerengan agak terjal menyebabkan tanah tidak stabil dan mudah bergerak sehingga terjadilah rayapan berupa retakan-retakan pada tanah. Pada saat ini gerakan tanah berupa rayapan, namun jika retakan-retakan pada tanah masih terbuka maka jika dipicu curah hujan yang tinggi secara terus menerus memungkinkan terjadi perubahan gerakan tanah dari tipe lambat (rayapan) menjadi tipe cepat (longsoran). Rembesan pada bagian tekuk lereng juga muncul disebabkan oleh faktor tekuk lereng dan kontak litologi dengan tanah pelapukan.

7. Rekomendasi Teknis :

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, rayapan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan yang berlangsung lama. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat terutama di atas tebing yang sudah retak, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsoran cepat.
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Masyarakat hendaknya senantiasa mewaspadai rembesan-rembesan air yang muncul. Jika retakan bertambah lebar dan rembesan air disertai lumpur bertambah kencang debitnya maka masyarakat (penghuni 12 rumah) harap mengungsi ke tempat yang aman.
  • Saat ini respon penutupan retakan yang dilakukan BPBD Jember sudah bagus, namun perlu pemantuan perkembangan retakan pada saat setelah hujan
  • Pada saat ini pergerakannya masih lambat, namun ke depan perlu diwaspadai dan dimonitor ketika pohon sengon nanti dipanen/diambil kayunya.
  • Memperbaiki sistem drainase/pengarahan aliran air permukaan menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

arjasari Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di KP. Rayap, Desa Kemuning Lor dan KP Calok, Desa Arjasa

 

arjasari2

Gambar 2. Peta Geologi Regional Desa Kemuning Lor dan Desa Arjasa Kabupaten Jember

arjasari3

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan tanah di Kabupaten Jember.

 

arjasari4

Gambar 4. Peta Prakiraan terjadinya Gerakan tanah di Kabupaten Jember bulan Februari 2018

 

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN JEMBER, JAWA TIMUR

BULAN FEBRUARI 2018 

arjasari5
arjasari6
arjasari7

Gambar 5. Peta Situasi gerakan tanah di Kp./Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor, Kec Arjasa, Kab. Jember, hasil dari pemetaan menggunakan drone pada tanggal 22 Maret 2018

 

arjasari8

Gambar 6. Penampang A – B Gerakan Tanah di Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor, Kec Arjasa, Kab. Jember.

 

arjasari9

Gambar 7. Penampang C – D Gerakan Tanah di Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor, Kec Arjasa, Kab. Jember.

 

arjasari10

Gambar 8. Peta Situasi gerakan tanah di Dusun Calok, Desa Arjasa, Kec Arjasa, Kab. Jember, Jawa Timur,

hasil dari pemetaan menggunakan drone pada tanggal 23 Maret 2018

 

arjasari11

Gambar 9. Penampang Gerakan Tanah di Dusun Calok, Desa Arjasa, Kec Arjasa, Kab. Jember, Jawa Timur.

 

LAMPIRAN FOTO DESA KEMUNING LOR

arjasari12

 

Foto 1. Longsoran pada saluran irigasi di Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor, Kec Arjasa, Kab. Jember.

 

 

arjasari13

Foto 2. Longsoran pada saluran irigasi tersebut merusak kebun buah naga dan materialnya sempat menimbun jalur jalan di bawahnya (pada saat pemeriksaan sudah dibersihkan).

 

arjasari14

Foto 3. Pada saat pemeriksaan ditemukan material longsoran yang berpotensi menimbun saluran irigasi, agar segera dibersihkan untuk mencegah longsoran susulan akibat adanya penyumbatan aliran.

 

arjasari15

Foto 4. 6 (Enam) rumah yang berada tepat di atas gawir longsoran, disarankan agar direlokasi (foto dari atas menggunakan drone).

 

LAMPIRAN FOTO DESA ARJASA

 

arjasari16

 

arjasari17

Foto 5. Retakan memanjang dari Barat Laut ke Tenggara dengan arah pergerakan relatif ke arah Timur Laut- Timur di wilayah Kebun Pepohonan Sengon di Dusun Calok, Desa Arjasa, Kec. Arjasa, Kab. Jember.

 

arjasari18

 Foto 6. Lebar retakan mencapai 1 meter, kedalaman mencapai 1,5 meter.

 

arjasari19

Foto 7. Sebanyak 12 rumah berjarak sekitar 75 – 100 meter dari retakan di kebun atas. Retakan tersebut mempunyai potensi berkembang menjadi tipe longsoran cepat yaitu longsoran bahan rombakan yang mengancam rumah-rumah tersebut

 

 

arjasari20

Foto 8. Perlu diwaspadai rembesan/Mata air keruh yang muncul pada tekuk lereng, di bawah kebun yang mengalami retakan.

 

arjasari21

Foto 9. Kegiatan pemeriksaan gerakan tanah yang dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Kab. Jember dan pemerintah setempat.